
Pengalaman paling buruk selama hidupnya, dijual oleh ibu tiri pada pria tua, lalu hampir diperkosa pula oleh orang itu. Lalu tak ada satu pun yang dapat menyelamatkannya. Bahkan ia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Mengandalkan otak dan tenaga yang tersisa kala itu.
Jika saja mental Rose tidak sekuat baja, mungkin saat ini ia sudah mengalami depresi berat. Mungkin ia masih akan mengalami trauma yang berkepanjangan. Karena rasanya sangat sulit untuk menghilangkan kenangan itu di dalam alam bawah sadarnya. Kenangan pahit itu terlalu membekas hingga saat ini, bahkan ia tak tau sampai kapan.
Rose hanyut dalam perasaan sedihnya. Terbawa dengan alunan memori yang menyakitkan bagi jiwa dan raganya. Ia sampai lupa jika saat ini ia sudah berada di tengah orang-orang yang sangat peduli terhadapnya. Ada kakaknya yang sangat menyayanginya, lalu ada pula pria bertopi koboi yang sangat mencintainya. Ada mereka yang selalu siap sedia melindungi dirinya dari apa pun itu.
Akhirnya wanita itu pun menyeka air matanya yang tumpah lagi. Tersenyum penuh ironi karena ia telah merasa dunia benar-benar berputar. Kala itu tak ada yang berpihak padanya sama sekali. Dan kini ada orang-orang yang selalu mengkhawatirkan dirinya.
"Sudah selesai menangisnya?", Ben melepaskan pelukannya seraya bertanya.
Bukannya Ben tidak tau apa-apa atau pun tidak bisa bertindak apa-apa. Ia hanya membiarkan Rose sebentar dengan perasaannya sendiri. Barulah setelah wanita itu merasa lebih baik, Ben akan mengucapkan kata-katanya.
"Aku tidak menangis! Hanya terkena debu saja!", Rose kembali berkilah sambil terus mengusap air mata yang masih tersisa. Tapi kali ini tentu saja ia tau jika dirinya sudah tertangkap basah. Jadi berbohong pun tak ada gunanya. Jadilah kedua orang itu tertawa bersama.
"Sudah, jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu sedih! Pikirkan saja hal yang bisa membuatmu bahagia! Seperti aku contohnya!", dengan wajah yang begitu percaya diri pria itu menaikkan kedua alisnya secara bersamaan. Menjadikan dirinya sebagai perumpamaan.
"Cihh! Kau ini terlalu percaya diri, Tuan! Selalu begitu!", Rose menolehkan wajahnya. Berpura-pura muak, padahal tentu saja ia muak, walau hanya sedikit saja.
"Masih banyak hal penting lainnya yang harus kau pikirkan saat ini. Dan masih banyak yang harus kau pikirkan tentang apa yang akan kau lakukan setelah ini", Ben menasihati wanita itu dengan bijak. Dengan penuh kasih sayang, pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi telinganya.
"Ya, kau benar, Tuan! Tapi bagaimanapun juga beliau adalah ayahku. Kadang aku ingin ayah ada di sisiku", Rose menatap lurus ke depan. Pandangannya nanar memandangi dinding kosong yang ada di hadapannya itu.
"Apalagi dengan kondisi kakak yang sekarang. Beliau masih memiliki hak untuk tau apa yang terjadi dengan putranya. Meskipun hubungan mereka tidak terlalu baik", tambahnya lagi masih tak melihat ke arah pria yang ia duduki saat ini.
Ya, meskipun perasaannya sulit dijelaskan terhadap ayahnya saat ini. Tapi pria paruh baya itu berhak tau kondisi putra sulungnya yang sedang mengidap penyakit parah ini. Jauh dari anak-anaknya, ayahnya pasti sangat mengkhawatirkan mereka sekarang. Hati wanita itu tiba-tiba terasa resah memikirkan ayahnya di negara asalnya itu.
Ben, pria itu tak banyak memiliki pengalaman memiliki keluarga. Sejak awal dirinya hanyalah seorang yatim piatu yang besar di panti asuhan. Jadi saat mendengar keluh kesah kekasihnya yang merindukan ayahnya itu, Ben hanya bisa diam sambil terus mengusap-usap kepala wanita itu. Mencoba menghibur lewat tindakan saja menurutnya.
"Bicara tentang kakak, sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi? Tidak biasanya wajah kakak aneh dan lesu seperti itu", Rose memutuskan untuk melupakan kerinduannya tentang ayahnya itu. Pikirannya segera mengingat perihal wajah kakaknya yang tidak seperti biasanya saat tadi mereka berpapasan di ambang pintu.
"Hadiah apa? Aku tidak punya apa-apa saat ini!", Rose sebenarnya paham apa yang diinginkan pria itu. Tapi ia sangat malu untuk mengakuinya. Namun, wajahnya yang mulai memerah saja sudah membuat Ben tau jika kekasihnya itu mengerti dengan hadiah yang ia maksud.
"Jika kau pura-pura tidak tau, maka aku akan menghukummu lagi!", jangan coba-coba bermain dengan bos mafia ini. Selalu ada strategi di dalam otaknya.
Oh, tidak! Rose segera membulatkan matanya. Ia tidak ingin lagi dihukum seperti tadi. Telinganya yang tadi ditarik saja masih terasa sakit sampai sekarang. Jangan tambah lagi rasa sakit itu! Rose memandangi Ben dengan tatapan memohon. Namun yang ditatap malahan melengos, membuang tatapannya ke arah lain.
Itu pasti sengaja! Rose mengerang dalam hati. Kesal sekali tidak bisa menang dari pria ini. Tapi ia tidak ingin mendapatkan hukuman lagi. Jadi dengan terpaksa ia mendaratkan bibirnya pada pipi pria itu dengan cepat. Karena ia tidak ikhlas melakukannya. Rose lalu berdiri karena kesal, selalu dipermainkan oleh pria itu.
"Kau kesal?!", sudut bibir pria itu terangkat sebelah. Tak habis pikir, apanya yang disebut hadiah jika hanya sentuhan singkat di pipinya. Tidak masuk di dalam nilai kepuasannya sama sekali.
Lantas pria itu pun ikut berdiri, mensejajari wanita yang sedang melipat tangannya sambil merengut itu. Wanita ini benar-benar harus diberi pelajaran rupanya. Ben menyeringai diam-diam.
Dalam satu gerakan, Rose sudah berada di dalam dekapan pria itu. Ben mengeratkan pegangannya pada pinggang kekasihnya itu. Lalu, tak menghiraukan wajahnya yang masih terkejut, Ben langsung memegangi tengkuk leher Rose untuk segera memulai tindakannya.
Bibir pria itu pun akhirnya tertanam pada bibir Rose yang kebetulan saat itu sedang menganga karena rasa terkejutnya. Itu mempermudahnya untuk langsung ke permainan yang lebih basah dan panas.
Ben tak memberi jeda pada ciumannya. Ia terus menikmati bibir manis merah muda itu dengan rakusnya. Hingga Rose pun menerimanya. Akhirnya mereka terjerat dalam waktu yang lama. Hingga nafas wanita itu hampir habis, barulah permainan itu berhenti.
"Bernafaslah, Rose!", Ben menautkan keningnya ke kening Rose dengan lembut. Sama-sama menetralisir nafas mereka yang masih pendek.
"Kau yang terlalu serakah, Tuan!", Rose memperingati balik orang itu.
Keduanya sama-sama terkekeh setelah menyadari kelemahan mereka masing-masing. Rose yang selalu lupa untuk mengambil nafas di tengah permainan mereka yang sedang asyik-asyiknya. Dan Ben yang selalu saja tidak bisa sebentar jika bibir mereka sudah bersentuhan. Yah, yang penting keduanya saling menikmati, bukan?! Toh, rasanya makin nikmat karena mereka melakukannya dengan segenap cinta.
"Jadi ada apa dengan kakak sebenarnya?", sambil mengisi rongga dadanya dengan oksigen, Rose tak melupakan pertanyaan terakhir yang ia ajukan pada kekasihnya itu. Ia menatap Ben dengan penuh rasa penasaran.