
Ben juga menghentikan langkah kakinya dan memposisikan diri di samping wanita itu. Matanya bergerak mengikuti arah dimana mata wanita itu kini tengah berada.
Hamparan bintang itu dan juga sinar rembulan yang kian cantik karena kilaunya, mereka berdua hanyut dalam kuasa Tuhan yang sangat indah itu. Beberapa kali Rose menghembuskan nafasnya yang berat. Perasaannya yang tadi kacau dan carut marut di depan, kini hadir lagi mengisi dadanya yang semula sudah mengembang. Ujung matanya mulai basah, bulu mata lentiknya mulai berhias buliran air mata di ujungnya.
Semua kejadian yang menimpanya, terasa amat berat untuk ia terima. Itu yang lubuk hatinya rasakan sebenarnya. Hanya saja tak ada satu orangpun yang mengetahuinya termasuk keluarganya sendiri. Jangan tanya ayahnya, Tuan Benneth itu malahan terlihat seperti tak menyimpan peduli kepadanya selama ini. Kakaknya, apa yang harus ia harapkan lagi. Bahkan kakaknya sendiri sedang menanggung beban parahnya penyakit yang dideritanya. Terutama, jangan bicarakan lagi dua wanita sialan yang telah masuk ke dalam keluarganya dan telah mencoba merusak hidupnya. Rasanya Rose ingin menghukum keduanya saat mengingat senyum terakhir mereka ketika Rose dibawa pergi oleh Tuan Rogh yang berakhir dengan usaha melecehkannya.
Rose masih manusia biasa, ia bukan dewa. Siapa bilang ia tidak merasa tertekan, siapa bilang dia mudah melupakan semua hal yang terjadi. Itu tidak sama sekali. Rose juga memiliki ingatan yang kuat. Dan otomatis semua kenangan pahit itu masih terekam jelas di dalam otaknya. Tapi yang sebenarnya ia lakukan adalah untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Rose tak ingin merepotkan orang lain, sehingga ia sudah terbiasa memendam semuanya sendirian.
"Kau menangis?", pertanyaan itu membuat Rose harus berhenti dari lamunannya. Ia tertegun sejenak saat mengetahui pipinya telah dibanjiri air mata. Lalu ia melirik sekilas dan melihat bahwa Ben tengah menoleh ke arahnya dan tengah menatapnya dengan seksama.
"Ah tidak! Aku hanya kelilipan!", dengan gerakan cepat ia menyapu air matanya dengan telapak tangannya yang bersih sambil terkekeh sedikit.
"Sepertinya kau kelilipan batu karang, jadi air matamu keluar begitu banyak", sindir Ben dingin. Ia jelas-jelas melihat wanita itu menitihkan banyak air mata saat matanya terpejam.
"Hey, Tuan!", Rose protes sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hey, kau!", Ben menyerukan namanya tapi wajahnya kini sudah menghadap ke depan lagi.
"Ya!", ia menjawab dengan santainya dan ikut memandang lurus ke depan lagi. Memandangi temaramnya lautan yang berhias sinarnya rembulan.
"Berapa banyak topeng yang kau miliki?", tanya Ben tanpa memandangnya.
"Ya?", Rose bingung dengan maksud pertanyaan yang Ben ajukan sampai ia menoleh dan mengerutkan alisnya dalam.
"Berapa banyak topeng yang kau miliki untuk menutupi semua kenangan pahit yang kau punya dengan senyum ceriamu?", kali ini Ben menoleh dan memberi tatapan yang begitu dalam pada Rose.
"Sampai dimana sakit yang bisa kau tahan sendirian?", lagi pertanyaan muncul dari mulut pria yang biasanya terkenal dengan sikap acuhnya.
"Apa maksud ucapan Tuan, aku tidak mengerti!", Rose tersenyum getir sambil membuang pandangannya ke arah lain. Ia menghindari tatapan mata pria itu agar Ben tak dapat membaca matanya yang tengah berbohong saat ini. Rose sebenarnya tau arah pembicaraan ini, kemana tujuan Ben mengucapkan pertanyaan-pertanyaan yang menyesakkan hatinya itu. Tapi ia tepis dan ia hindari karena ia sendiri enggan untuk membahas ini ke permukaan. Untuk apa, efeknya hanya akan membuatnya makin sedih saja. Ia lebih suka memendamnya untuk dirinya sendiri.
"Aku tau semua yang terjadi padamu!", seruan Ben lantas membuat wajah Rose yang semula masih santai kini menjadi tegang bahkan bola matanya kini membesar. Detak jantungnya dipaksa berhenti. Dan dadanya tiba-tiba menjadi sesak. Semua? Semua itu berarti semua kisahnya di negara asalnya, kan. Dadanya naik turun dengan cepat berusaha memompa oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam rongga dadanya yang sesak.
Pikiran rasional wanita itu mulai bekerja. Wajahnya tidak setegang semula, ia juga beberapa kali mengedipkan matanya. Kini Rose sudah lebih tenang. Ya, wajar bagi seorang Tuan di sampingnya ini menjadi tau semua tentangnya. Ia lupa, jika pria ini bukanlah pria sembarangan. Dia adalah orang besar, jadi untuk menemukan informasi tentang dirinya yang bukan siapa-siapa pastilah sangat mudah baginya. Hanya saja, ada perasaan tidak nyaman dalam diri wanita itu ketika mengetahui ada orang lain yang juga tau apa saja yang telah menimpanya.
"Memangnya apa saja yang terjadi padaku, Tuan?! Kau ini terlalu serius. Semuanya hanya masalah kecil, bukan?!", Rose mencoba tertawa untuk menutupi perasaannya.
"Masalah kecil?! Lalu kenapa kau menangis begitu keras dan sampai mengigau seperti tadi? Kenapa? Katakan kenapa?! Bukankah itu karena kau begitu ketakutan karena tindakan pelecehan yang mereka lakukan padamu, iya kan?!", Ben meluap emosinya saat mendengar wanita itu masih saja menyangkal dengan perasaannya.
"Berbagai?! Berbagi dengan siapa, Tuan?! Sejak wanita itu dan anaknya hadir di dalam keluargaku, diri ini sudah terbiasa menanggung semuanya sendirian. Bahkan ketika kakak pergi dan ayah mengacuhkan aku, lalu kepada siapa lagi aku harus berbagi?! Semua penderitaan ini, semua yang ku alami, aku sudah terbiasa menyimpan semua perasaanku sendiri. Lalu untuk semua yang telah aku lalui dan atas tindakan bejat pria tua busuk itu, apakah aku juga harus memberitahu kakakku yang umurnya entah sampai kapan?! Apakah aku juga harus menambah bebannya lagi setelah apa yang ia derita?! Katakan, Tuan! Katakan! Jadi kepada siapa aku harus berbagi? Jika bisa maka aku ingin. Tapi di dunia ini siapa lagi yang tulus kepada diriku ini?! Setelah semua yang ku hadapi, aku tidak bisa percaya pada seseorang begitu saja saat ini. Setiap orang memiliki niatannya sendiri, maka dari itu aku hanya bisa menjaga diriku sendiri, menjaga perasaanku sendiri", emosi Rose meluap tiba-tiba. Batinnya serasa sudah terprovokasi oleh bujukan yang Ben berikan. Semua keluhnya ia tumpahkan sambil memandang Ben dengan penuh amarah. Kenapa pria ini malah memancing dirinya untuk mengatakan semua ini? Kenapa?
"Ya, kau benar! Kau ingin tapi kau merasa tidak mungkin! Lalu bagaimana dengan aku? Bisakah kau mempercayaiku?", Ben maju satu langkah mendekati tempat Rose berdiri.
Sejak awal tujuan Ben mengucapkan kata-kata ini adalah supaya wanita itu mau membagi beban dan perasaan yang ia derita kepada dirinya. Sejak ia yang ikut merasakan pilunya saat wanita itu menangis, batinnya selalu meronta ingin sekali melindungi wanita ini. Hatinya tergerak untuk ingin ikut merasakan apa saja yang sudah wanita itu alami selama ini.
"Kau?!", Rose tak memundurkan langkahnya. Ia menatap dalam manik mata hitam legam milik pria itu. Pertanyaan itu ia ajukan untuk dirinya sendiri. Bisakah ia mempercayai pria ini? Atau yang lebih tepat adalah, bisakah dirinya dipercayai untuk hal ini? Dalam rangka apa pria acuh dan dingin ini memintanya membagi beban yang ia derita selama ini? Rose memandangi Ben dengan tatapan menelisik.
"Ya, aku! Bisakah kau mempercayaiku untuk membagi bebanmu kepada diriku?! Hey, aku tau kau tak akan sekuat itu untuk mampu menanggung semua lukamu dalam waktu lama", tanya Ben sambil menatap mata Rose lekat-lekat.
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ