
Tubuh tegap pria itu sudah berdiri di luar pintu kamarnya. Rose berbalik dan masuk sedikit hingga kemudian akan menutup pintu tanpa melihat wajah pria itu lagi. Hatinya benar-benar kecewa saat pria itu malahan diam saja.
"Tunggu!", Ben telah mengangkat kepalanya lalu menggunakan tangannya untuk menahan daun pintu yang akan tertutup itu.
"Bisakah,,, kau ulangi pertanyaanmu lagi?", pria itu bertanya dengan tatapan yang begitu mendalam. Bagai lautan misteri, bola matannya menenggelamkan Rose dalam kebisuan.
Rose enggan menjawab. Mengulangi pertanyaan yang telah ia telan mentah-mentah ke dalam tenggorokannya, sungguh ia tak bisa mengeluarkan suara untuk mengatakan hal itu lagi. Jika memang pria itu tidak mau menjawab, maka sebaiknya dia enyah saja dari hadapannya. Biarkan Rose menenangkan diri dan memberi waktu untuk menstabilkan hatinya saat ini.
"Hey kau! Aku mencintaimu!", seru Ben saat pintu itu tinggal sedikit lagi menjadi rapat. Wajahnya tegang dan kedua tangannya terkepal. Ia ingin menahan pintu itu agar tidak menutup, tapi ia tidak memiliki kekuatan. Jadilah suara itu yang keluar untuk membuat pintu itu terbuka.
Sebenarnya sangat lengket kalimat itu di tenggorokannya. Kalimat itu tidak mau ia keluarkan dengan mudahnya. Dan lagi butuh keberanian yang berlebih untuk seorang Benny Callary menyatakan perasaannya untuk yang pertama kali. Dulu,,, kala ia memiliki perasaan seperti ini kepada Ana, tak pernah ia utarakan sedikitpun pada wanita yang kini sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
Bagi Ben, lebih mudah mengahadapi musuh yang licik seperti apapun. Memikirkan strategi, menodongkan senjata dan membantai semuanya. Itu sudah di luar kepalanya. Tapi untuk menghadapi seorang wanita yang sedang marah, apalagi menyatakan cinta yang dirasa tabu baginya, itu hal yang paling sulit yang bisa ia kerjakan semasa hidupnya ini.
Di balik pintu kamar itu, Rose mematung di tempat. Sekujur tubuhnya terasa lemas saat mendengar sebuah pengakuan yang terdengar samar di telinganya. Tangan yang masih memegangi kenop pintu juga terasa lemas, hingga tanpa sadar tangannya terlepas dari sana. Lalu dengan sendirinya pintu itu tertutup.
ceklek
Jika Ben lemas saat melihat pintu itu malahan tertutup rapat. Lain halnya dengan Rose yang sedang terperanjat. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil membelalakkan matanya. Salah! Harusnya ia membuka pintu itu dan melakukan sesuatu. Wanita itupun bergegas membukanya.
Dilihatnya Ben sedang tertunduk dan sudah berbalik ke arah pintu kamarnya. Rose mengajak kakinya untuk berlari. Segera ia mendapatkan pria itu dan mendekapnya dari arah belakang. Membenamkan wajahnya pada setengah bagian punggung pria itu.
"Aku mencintaimu!", lirih Rose bergumam di belakang punggungnya.
Ben makin menundukkan kepalanya untuk melihat sepasang tangan yang tengah melingkar di sekitar pinggangnya. Perlahan tangannya menyentuh punggung tangan yang lembut itu. Lalu memegangnya kemudian dengan gerakan cepat Ben menarik tangan itu hingga si empunya berputar tubuhnya.
Saat ini mereka sudah saling berhadapan. Namun sayangnya Rose memilih untuk menundukkan kepalanya. Ben melepaskan pegangannya pada tangan Rose lalu beralih dengan memegangi kedua bahunya dan sedikit meremas dengan kelembutan. Pria itu maju satu langkah, dan Rose mundur satu langkah pula. Satu langkah lagi dan lagi dengan ragu hingga punggung Rose membentur pintu kamar milik Ben.
Pria itu tak ragu dan tetap melanjutkan langkahnya. Terdengar, detak jantung mereka saling bersautan. Bertalu-talu dengan irama cepat yang sama. Jarak mereka tinggal selangkah, namun Ben memilih untuk menautkan keningnya pada kening wanita itu.
"Katakan sekali lagi!", setengah berbisik Ben meminta di depan wajah Rose yang kini sudah mulai memerah.
Rose menggeleng kecil dengan wajah merah yang menggemaskan. Ia tidak mau. Itu sudah sangat memalukan baginya tadi. Seketika nyalinya menciut untuk mengutarakan perasaannya lagi. Wanita itu menggigit bibir bawahnya sambil menahan gugup yang kini menyerangnya.
"Katakan sekali lagi!", bisik Ben lagi seraya mengangkat dagu Rose dengan dua jarinya. Dan wanita itupun masih menggeleng dan sekarang memejamkan matanya karena tak berani menatap mata pria itu.
cup
"Aku mencintaimu!", Rose merespon dengan matanya yang terpejam. Hatinya yang sudah membuatnya berani mengatakan ini lagi.
cup
"Katakan lagi!", bisik Ben lagi setelah memberikan kecupan keduanya. Kalimat itu seakan telah menjelma menjadi candu bagi indera pendengarannya. Ia ingin terus mendengarnya dari mulut wanita ini.
"Aku mencintaimu, Tuan! Aku mencintaimu!", kali ini Rose beranikan diri untuk membuka matanya. Menatap lekat bola mata hitam yang jernih itu. Berucap lirih dan penuh kelembutan.
Ben tak kuasa lagi mendengar kalimat itu. Hatinya luluh lantak dan ia menjadi tak sabar untuk memeluk dan mendekap tubuh wanita itu dengan begitu erat. Seolah ia tak akan melepaskan wanita ini, seolah ia tak akan membiarkan wanita ini pergi. Ia tak ingin kehilangan atau bahkan jauh dari wanita itu saat ini.
"Aku mencintaimu, Rose! Aku telah jatuh cinta padamu!", Ben berucap perlahan dan penuh seksama seraya membenamkan wajahnya pada leher jenjang milik Rose. Ia hirup aroma strawberry yang masih tertinggal dengan rakusnya.
Tangan wanita itu masih menggantung di samping saat tubuhnya di terjang oleh pelukan yang menghangatkan tubuh dan hatinya ini. Lalu kalimat itu masuk mengusik rongga telinganya. Dan seketika itu juga kedua tangan Rose naik dan membalas pelukan Ben. Rose memeluk dan menyentuh punggung luas pria itu.
"Aku juga mencintaimu, Tuan!", Rose berucap dengan suara bergetar. Bibirnya tersenyum dengan mata sendunya.
Sebutir cairan bening turun tanpa Rose sadari. Tangis haru ia rasakan saat ini. Perlakuan Ben sore tadi, meskipun menyakitkan baginya, tapi jika disambut dengan perasaan yang seperti ini, maka Rose bisa memaafkannya. Rasa sakitnya terbayar dengan perasaan bahagia dimana perasaan mereka ternyata sama. Ternyata mereka saling mencintai saat ini.
cekrek
Sebuah suara jepretan kamera membuat telinga keduanya terusik dan terpaksa melepaskan pelukan mereka. Ben dan Rose menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Dan raut wajah mereka pun langsung berubah. Rose menjadi sangat malu dan memilih untuk menyembunyikan diri di belakang tubuh kekar milik Ben. Sedangkan pria itu kini berwajah gelap. Matanya menyipit tapi siap mengiris seluruh wajah orang itu.
"Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Victor, permisi!", Paman Alex segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Lalu membungkuk hormat dengan wajah tak bersalah.
"Ya ampun, Kakak!", Rose makin malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menggeleng di dalamnya.
Rasanya ia ingin sekali memarahi kakaknya itu sekarang juga, tapi mau bagaimana perasaannya sedang campur aduk sekarang. Apalagi ia menjadi tidak enak hati pada Tuan seram itu. Padahal ini adalah momen yang sangat membahagiakan, tapi langsung dirusak begitu saja oleh perintah konyol kakaknya itu.
"Katakan pada Tuanmu, jangan ganggu kami!", Ben menguarkan aura dinginnya saat memberi perintah itu. Paman Alex yang tadinya sudah akan menuruni tangga pun berhenti dan ia sempatkan menoleh. Pria paruh baya itu tak menjawab tapi hanya mengangguk lalu melanjutkan lagi langkahnya ke lantai bawah.