Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Masa lalu versi Bella



Di dalam pesawat yang mengapung di udara itu, Bella tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun. Perasaannya terlalu gugup, apalagi waktu demi waktu malahan mendekati ia akan bertemu lagi dengan orang itu. Yang bisa menenangkannya hanyalah wajah damai si kecil yang sedang tertidur lelap di sampingnya saat ini. Tak ada kekhawatiran sedikit pun dirasakan Bervan. Hanya saja anak kecil itu pun sempat merasakan gugup seperti ibunya. Hingga ia tidak mau disuruh tidur lantaran saking senangnya ia akan bertemu dengan ayah yang belum pernah ia lihat sejak ia lahir ke dunia ini.


"Sepertinya Tuhan sangat menyayangimu, Sayang!", ia usap dengan begitu lembut pipi yang kenyal dan menggemaskan itu.


Lalu pandangan matanya ia alihkan ke arah luar jendela. Dimana gumpalan awan putih dengan berbagai bentuk membentang sepanjang pandangan matanya. Saat ini Bella seperti sedang menyaksikan kilas balik di tahun itu melalui awan beserta langit yang membentang luas di matanya.


#FLASHBACK ON


Ini adalah cerita tentang masa lalu dari pandangan Bella, dari apa yang wanita itu alami.


Hatinya dibuat ngilu dan bersedih saat ia mendengar kabar bahwa supir pribadi kakaknya itu memilih untuk mengundurkan diri dengan alasan ada keperluan yang mendesak dan mengharuskannnya kembali ke keluarganya. Bella murung untuk beberapa waktu karena tidak bisa melupakan sosok kalem tapi tampan yang biasanya selalu ada di belakang jejak kakaknya itu.


Pagi itu Bella berencana pergi kuliah, tapi mobil yang biasa mengantarnya sedang masuk bengkel untuk perawatan rutin. Jadilah Tuan Ander menawarkan diri untuk mengantarkan putrinya itu pergi ke kampus. Dan akhirnya mereka pun berangkat bersama.


Bella ingat apa yang dikatakan ayahnya kala itu dalam perjalanan mereka.


"Pekerjaan Ayah memiliki resiko tinggi. Jadi,, apapun yang terjadi pada Ayah nanti, kau harus tetap rukun dengan kakakmu! Ayah percaya, kakakmu itu pasti bisa menjagamu dengan baik! Dan ingat, jangan percaya kepada siapa pun. Karena di dunia ini telalu banyak manipulasi!", tiba-tiba saja Tuan Ander menyelipkan kalimat-kalimat serius di antara perbincangan ringan mereka. Dia seperti memiliki firasat tentang dirinya sendiri.


"Ayah ini bicara apa, sih?! Seperti sedang mengucapkan selamat tinggal, saja! Aku dan kakak masih berharap Ayah memiliki umur panjang, jadi Ayah bisa melihat kami menikah dan memiliki cucu-cucu yang lucu untuk Ayah!", Bella memeluk lengan ayahnya dan menggesek-gesekkan kepalanya manja. Sejujurnya ia merasa pilu mendengar ayahnya berkata seperti itu. Ia masih ingin hidup berpuluh tahun lagi lamanya dengan ayah tercintanya itu. Tapi ia sembunyikan perasaannya itu dengan sikap manja yang biasa ia tunjukkan kepada semua orang.


"Jika kau masih seperti ini, siapa juga yang mau menikahimu nanti?!", Tuan Ander mengacak-acak rambut putrinya itu seraya tersenyum.


"Putri Ayah ini cantik! Tentu saja banyak yang akan mengantri untuk daftar menjadi calon suaminya!", Bella menengadahkan kepalanya, menatap ayahnya dengan sedikit kesombongan yang menggemaskan.


"Kau sudah berpikir sampai ke arah sana, memangnya putri Ayah ini sudah selesai kuliahnya?! Hem!", Tuan Ander menjauhkan kepala putrinya itu agar ia bisa melihat wajah cantik yang sangat mirip dengan mendiang istrinya itu.


"Tenang saja, Ayah! Sebentar lagi juga akan selesai! Putrimu ini, kan, sangat pintar!", kembali Bella menempelkan kepalanya ke lengan ayahnya itu.


Tiba-tiba teras sundulan pada mobil mereka dari mobil yang berada di belakang. Sundulan itu pelan, jadi hanya menimbulkan sedikit guncangan. Meskipun begitu, Tuan Ander tetap berpegangan pada kursi di depannya untuk berjaga-jaga.


"Maaf, Tuan! Apa Tuan dan Nona baik-baik saja?", tanya supir mereka khawatir.


"Ayah tidak apa-apa?", Bella juga mengkhawatirkan Tuan Ander karena tadi ayahnya itu melindunginya dengan memeluknya erat-erat.


"Tidak apa-apa! Sepertinya dia tidak sengaja! Ayo, fokus menyetir lagi!", dengan murah hatinya Tuan Ander memaafkan begitu saja kelakuan mobil di belakang mereka meskipun belum tahu motif yang sebenarnya.


Dua kali


Tiga kali


Baik Bella maupun supir itu tak habis pikir dengan sikap baik yang masih bisa diperlihatkan kepada mereka meskipun sudah diperlakukan seperti ini. Jika saja ia sendiri yang mengalami hal ini, mungkin ia sudah memberhentikan mobil itu dan memaarahi pengemudinya habis-habisan. Tapi karena ayahnya sudah berkata begitu, maka ia tidak bisa apa-apa lagi, dan hanya bisa menuruti saja kehendak ayahnya itu.


Tapi baru selesai Bella dengan pemahamannya sendiri, tiba-tiba saja mobil mereka mendapatkan benturan yang sangat keras dari arah belakang. Ia sempat melihat mobil yang di belakang merek berputar ke arah lain, sedangkan mobilnya sendiri berputar dan berguling.


Bella sempat berteriak karena kejutan yang begitu mendadak ini. Hingga akhirnya ia sempat tak sadarkan diri saat mobil mereka sedikit lagi menabrak truk yang sedang terparkir di jalan tol itu. Jadi Bella tidak mengetahui jika saat itu ayah dan juga supir mereka terhantam keras dan terjepit hingga akhirnya mereka tak sadarkan diri dan mengeluarkan banyak darah dari kepala hingga ke tubuhnya.


Tapi tak lama, ia merasa sudah berada di luar mobil dan sedang dipeluk oleh seseorang. Tangan hangat orang itu menepuk-nepuk pipinya agar ia sadarkan diri. Suaranya yang besar menggema di telinganya, berusaha terus memanggil namanya. Mata Bella saat itu terlalu berat, tubuhnya pun terlalu lemas untuk menjawab panggilan orang yang ia rasa adalah seorang pria. Dan lagi ia seperti mengenali suara itu. Tapi sayang, belum sempat Bella memastikan lagi siapa orang itu sebenarnya, ia pun kembali tak sadarkan diri. Wanita itu tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.


***


Bella kembali membuka matanya saat ia merasa di tangannya sudah tertancap jarum infus dan bunyi sirine mobil ambulans mulai pergi menjauh. Dirinya saat itu tengah terbaring di sebuah ranjang dan didorong masuk ke sebuah ruangan.


Wanita itu belum bisa memastikan dengan jelas sedang dimana mereka berada saat ini. Tapi, lagi-lagi suara pria yang tadi ia dengar kembali mengusik indera pendengarannya. Dan ternyata itu adalah Victor. Pria itu sedang berdiri untuk melakukan registrasi. Dan Bella dapat mendengar pria itu menyebutkan nama kakaknya sebagai keluarga yang harus dihubungi. Ia mendengar Victor seperti sedang menyebutkan angka-angka yang kiranya itu adalah nomor telepon kakaknya.


"Ayah! Dimana Ayah?", dia bertanya sendiri di tengah kondisi lemah dirinya saat ini.


Tapi lalu matanya mulai berkaca-kaca saat sosok bersimbah darah terbaring di ranjang yang mirip dengan dirinya kini sedang didorong cepat melewati ranjangnya.


"Cepat! Cepat! Korban dalam keadaan kritis!", seorang perawat berseru agar orang-orang mau memberi jalan kepada rombongan mereka.


"Ayah!", Bella berseru pelan, bahkan hampir tak bersuara sambil terus didorong oleh beberapa perawat lainnya.


Akhirnya ia ingat apa yang baru saja di alaminya. Hatinya sakit, teramat sakit melihat kondisi ayahnya yang seperti itu sedangkan dirinya jauh lebih baik, bahkan hampir baik-baik saja. Kenapa tidak dirinya saja yang mengalami luka parah seperti itu?! Kenap harus ayahnya?!


Bella mengulurkan tangan, menggapai bayangan ranjang ayahnya yang mulai bergerak menjauh. Bersama dengan air matanya yang berderai, ia berdoa dan berharap, bahwa ayahnya itu akan baik-baik saja.


-


-


-


**maaf teman-teman,, kemarin itu aku ga update karena lagi kecapean 🙏


sekali lagi aku mohon maaf ya atas keterlambatan update nya🙏😊**