Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Ditinggalkan seorang diri



🎶🎶🎶🎶


Dering ponselnya yang menghentikan langkah orang itu ke arah Rose berada. Ia melangkah mundur dengan ragu sambil menepis semua perasaannya yang mengganjal tadi. Orang itu pun melangsungkan pembicaraan lagi.


"Untung saja!", gumam Rose sangat pelan. Setelah mengusap dadanya dengan perasaan yang teramat lega.


Rose langsung memanfaatkan momen ini untuk membuka bagasi yang tepat berada di hadapan wajahnya itu. Ia mengambil momen yang tepat untuk membuka pintu bagasi itu agar bunyinya bisa bersamaan dengan bunyi pintu mobil yang akan dibuka oleh orang itu. Kemudian ia pun membaringkan tubuhnya miring di dalam sana, sambil terus memegangi pintu bagasi agar tetap terbuka sedikit dan tidak mengeluarkan bunyi. Juga supaya asupan oksigen di dalam ruangan sempit itu cukup selama perjalanan yang ia tidak tahu sampai berapa lamanya.


Begitulah bagaimana Rose bisa berada di dalam kotak sempit yang remang itu. Sebenarnya tubuhnya terasa sakit lantaran terus terguncang selama mobil itu terus melaju di jalanan yang tidak selalu rata permukaannya. Namun mau bagaimana lagi, ini adalah resiko yang harus ia raih demi bisa secepatnya menemui Tuan seramya itu.


***


"Papa! Kemana Bibi pergi? Aku ingin bermain dengannya!", tutur seorang anak kecil yang saat ini tengah duduk bersama dengan kedua orang tuanya. Bervan, sedang menghabiskan waktunya di halaman belakang bersama dengan Victor dan juga Bella.


Kedua orang dewasa itu saling memandang. Bella menggeleng pelan. Ia tidak ingin ayah dari anaknya itu memberitahukan yang sebenarnya. Katakan apapun, asal jangan mengatakan bahwa Rose tengah menghilang. Karena Bella menyadari jika putranya itu sangat menyayangi bibinya meskipun mereka baru saja bertemu. Jadi ia tidak ingin membuat putranya itu merasa khawatir. Sama seperti yang mereka berdua rasakan saat ini.


"Bibi sedang keluar mengunjungi temannya! Nanti juga akan kembali! Dan sudah pasti dia akan langsung mengajakmu bermain bersama!", Victor mencubit kecil dagu anaknya dengan gemas. Ia hilangkan segala prasangka yang ada di dalam hatinya agar putranya itu tidak menangkap apapun yang mencurigakan dari mereka.


"Baiklah!", seru anak kecil itu lemas. Ia agak kecewa, meskipun begitu ia senang karena nanti akan bermain lagi dengan bibi kesayangannya.


"Iya! Sekarang Bervan bermain dengan Mama dan Papa saja, oke!", bujuk Bella melihat wajah lemas putranya. Kemudian bermainlah mereka dengan berbagai mainan yang baru saja dibelikan oleh Paman Alex atas perintah Victor tentunya.


"Apakah sudah ada kabar dari Ben?", tanya Bella pelan ketika melihat putranya lengah dan sedng bermain asyik dengan beberapa mobil-mobilan di tangannya.


"Belum!", Victor pun menjawab dengan nada rendah yang sama. Ia juga tidak ingin suaranya terdengar oleh putranya.


"Dia pasti akan kembali secepatnya!", wanita itu mengelus dengan lembut lengan Victor seraya menampilkan senyum yang menenangkannya.


Lelaki itu membalas senyuman Bella dengan senyum tipis yang penuh harap. Entah mengapa ia merasakan sebuah firasat buruk terhadap adiknya itu. Tapi buru-buru ia sangkal perasaan dangkal tak berdasar itu. Ia tetap berharap Rose akan baik-baik saja.


Tadi, Bella bermaksud mengajak Rose ke halaman belakang untuk bermain bersama dengan mereka semua. Tapi wanita itu tidak menjawab ketukan pintu kamarnya. Bella membuka dengan hati-hati pintu kamar itu. Namun satu senti saja bayangan Rose tak ia temukan di sana. Bahkan di seluruh rumah setelah ia meminta bantuan dari semua orang untuk mencarinya.


Bella pun menyampaikan hal ini kepada Victor. Dan lelaki itu langsung tahu alasan adiknya pergi. Maka dari itu ia segera menghubungi temannya. Meskipun harus menunggu beberapa saat karena tak urung juga panggilannya dijawab. Jadi sekarang,, hanya Ben yang ia andalkan untuk bisa menemukan adiknya itu secepatnya. Semoga saja tidak terjadi sesuatu terhadap Rose! Victor selalu berdoa di dalam hati.


***


Melalui celah kecil yang selalu ia jaga, sinar mentari yang sudah tak begitu benderang menelusup ke dalam tempatnya bersembunyi saat ini. Rose melihat ke arah jam tangannya, sudah lebih dari satu jam mobil itu berkendara. Tidak tahu berada dimana ia saat ini. Bahkan markas yang dibicarakan saja ia tidak tahu sama sekali letaknya. Rose hanya berharap kepada pengemudi mobil ini saja bahwa ia akan sampai tepat di tujuan.


Tapi,, tak berapa lama mobil itu berhenti di sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Ia dapat melihat pemberitahuan di pinggir jalan raya dari celah bagasi yang terbuka. Beruntungnya mobil itu tidak berniat untuk mengisi bahan bakarnya. Karena wanita itu amat tidak tahan dengan bau menyengat yang dikeluarkan dari cairan penyulut api tersebut.


Mobil itu berhenti di sebuah lahan parkir di depan sebuah toko masih di komplek stasiun pengisian bahan bakar itu. Terdengar pintu mobil depan dibuka oleh si pengemudi. Rose pun mengintip ketika merasa langkah kaki orang itu semakin menjauh dengan membuka bagasi sedikit lebih lebar lagi.


"Toilet?!", gumamnya seraya memperhatikan tujuan orang itu berjalan.


Mendadak serangan alam datang. Ia pun diserbu oleh rasa ingin mendekat ke arah sana. Tiba-tiba ia tidak tahan lagi untuk buang air kecil. Huh! Beberapa kali ia membuang nafasnya lewat mulut sambil menilai situasi. Setelah dirasa aman, Rose keluar dari bagasi sempit itu. Berlalulah dia dengan cepat ke arah toilet wanita. Rasanya sudah tidak tahan lagi.


Sambil melaksanakan kegiatannya di dalam sebuah bilik, Rose terus merapalkan mantra di mulutnya supaya mobil itu tidak meninggalkannya. Karena bahkan ia tidak tahu dimana dirinya berada sekarang. Dan kemana arah tujuan selanjutnya. Buru-buru ia menyelesaikan hajatnya dengan perasaan gelisah. Bunyi kucuran air keran yang akan berakhir pun bergabung dengan bunyi pintu yang ditutup dengan keras. Wanita itu seperti mempunyai kekuatan super untuk melakukan sesuatu dengan kecepatan cahaya. Rose mempercepat langkahnya ke arah mobil itu lagi.


"Semoga masih ada! Semoga masih ada!", rapalnya terus menerus.


Entah bagaimana nanti ia akan ikut bersama mobil itu lagi. Jika beruntung dan orang itu belum kembali, maka ia akan bersembunyi lagi di dalam bagasi. Tapi jika kebetulan ia harus bertatap muka, maka nanti saja ia pikirkan alasan apa yang akan ia gunakan supaya orang itu mau menurutinya agar ia bisa ikut sampai ke markas juga bersamanya.


"Tuan! Tuan!", teriak Rose dengan tangan yang menggapai-gapai udara. Setengah berlari ia mengikuti laju mobil itu dari belakang.


Sayangnya,, ketika jarak Rose dan mobil itu hanya tinggal beberapa langkah saja, pengemudinya sudah masuk terlebih dahulu sambil sibuk melakukan panggilan di telinganya. Mobil pun berjalan sebelum Rose mencapainya. Pengemudi itu tidak menyadari kehadiran Rose sama sekali. Telinga dan matanya terlalu fokus pada apa yang ia kerjakan kali ini. Sehingga Rose harus tertinggal di tempat itu seorang diri.