Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Ditolak (TAMAT) SEASON 1



Rose kembali pulang keesokan harinya. Relly mengantar mereka sampai ke rumah. Meskipun harus berat hati karena matanya lagi-lagi harus tersakiti oleh kemesraan pasangan kekasih itu. Begitu pun nuraninya yang semakin kencang berdoa dalam hati pada Tuhan, meminta diturunkan jodoh untuk dirinya sesegera mungkin.


Victor yang begitu mengkhawatirkan adiknya itu pun bisa bernafas lega pada akhirnya. Begitu pun dengan Bella dan juga Bervan yang sudah sangat merindukan bibinya yang paling ia sayangi. Hanya saja, Ben dan Rose menyembunyikan masalah Tuan Rogh dan juga traumanya, untuk masalah itu mereka sengaja melewatkannya karena tidak ingin membuat Victor merasa khawatir.


Dan yang disesalkan adalah, bahwa mereka tidak dapat bertemu dengan Eric untuk mengucapkan terima kasih. Setelah orang itu pergi diam-diam, batang hidungnya tak nampak sampai Rose pulang dari rumah sakit.


Namun, sedikit banyaknya Rose dapat mengerti. Mungkin saja Eric sedang berkutat dengan perasaannya sendiri setelah mengetahui tentang serangan panik yang kemarin dideritanya. Eric merupakan pria baik, Rose sudah lama mengenal orang itu. Jadi mungkin saja, Eric merasa bersalah atas tindakan Tuan Rogh terhadapnya.


Tidak apa-apa, lain kali jika Tuhan mempertemukan mereka lagi, Rose akan berterima kasih padanya. Tentu saja harus ada tuan seramnya itu di sisinya, karena jika dia bertemu seorang pria di belakang lelaki itu, entah hukuman apa yang akan diberikan kepadanya. Hih! Rose meringis ngeri memikirkan hal itu.


***


Waktu berlalu hari demi hari. Victor baru saja menjalani operasi penyangkokkan sel sumsum tulang belakang yang didonorkan oleh putranya sendiri, Bervan. Semua merasa lega karena operasi tersebut berjalan dengan lancar. Maka saat ini, hanya proses pemulihan yang dibutuhkan oleh ayah dan putra itu. Terutama bagi Victor yang sudah lama duduk di kursi roda. Ia harus menjalani beberapa terapi agar bisa bergerak seperti sedia kala.


"Terima kasih karena kau dan Bervan telah memberikan kehidupan baru untukku!", ucapnya lembut dari tempat tidur putihnya pada Bella yang saat ini sedang duduk di pinggir ranjang itu.


Victor menatap putranya yang saat ini tengah tertidur nyenyak di tempat tidur rumah sakit yang ia pesan untuk ditempatkan di sisinya. Ia tak ingin jauh-jauh dari putranya itu. Ia ingin selalu menatap wajah malaikat yang telah menyelamatkan nyawanya dan sudah memberikan keluarga yang lengkap kepada dirinya. Saat ini, Bervan adalah segalanya. Dan juga Bella tentunya.


"Ya! Aku pun berterima kasih karena kau datang di hidupku kala itu. Lalu memberikan hadiah terindah di dalam hidupku!", keduanya saling menatap untuk beberapa saat sambil menyunggingkan senyum mereka perlahan.


Benar! Bella tidak pernah menyesal sedikit pun perihal pertemuan dirinya dengan lelaki itu. Bahkan meskipun ia harus mengandung dan melewati itu semua seorang diri, Bella tidak pernah menyalahkan Victor sedikit pun. Karena itu memanglah pilihan yang ia buat sendiri.


Dan yang terpenting sekarang adalah bahwa ia dipertemukan kembali oleh takdir dengan pria itu. Sehingga impian putranya untuk memiliki keluarga yang lengkap pun bisa terwujud.


***


Dua bulan berlalu,


Saat ini seseorang dengan gaun putih selutut tengah melihat ke arah cermin. Memeriksa riasan di wajahnya sampai memperhatikan sanggul di kepalanya. Rambut emasnya yang bergelombang di gulung ke atas dan disisakan beberapa helai di sisi telinganya. Cantiknya wanita itu bagai seorang putri. Sebab mahkota kecil yang menghiasi kepalanya telah menambah pesona cantiknya siang ini.


"Apakah aku sudah terlihat cantik?", tanya Rose manja pada pria di sebelahnya.


Pria bertopi koboi yang juga pada momen kali ini mengenakan setelah jas lengkap tak henti memperhatikan wanita itu. Rose yang tak henti-hentinya merasa gugup dengan penampilannya kal ini. Sedangkan pria bertopi koboi itu merasa tak peduli, karena menurutnya apapun yang Rose kenakan dia tetap terlihat cantik.


"Ahhh!", tiba-tiba Rose berseru sambil berjalan mengelilingi pria itu. Ben menatapnya sedikit curiga. Bola matanya bergerak mengikuti kemana wanita itu pergi.


"Tuanku,,, uupss!", ketika dia sadar telah salah bicara, Rose menghentikan langkahnya sambil menutup mulutnya rapat-rapat.


"Sepertinya kau senang sekali menerima hukuman?!", sedangkan Ben sudah memelototinya sekarang.


"Lidahku terpeleset tadi!", Rose meringis sambil berkilah. Pria itu memicingkan matanya dengan ekspresi tak percaya.


"Begini!", menyatukan jari telunjuk dan ibu jari dair kedua tangannya, Rose memperhatikan tampilan Ben saat ini seperti sedang memotretnya.


"Waahhh,,, kau tampan sekali, Ben!", ucap wanita itu dengan gembira.


"Matamu saja yang tidak memperhatikan! Aku memang selalu tampan!", kata lelaki itu sombong. Tapi ia memalingkan wajahnya dengan cepat sebab ia merasa wajahnya menghangat sekarang. Ia senang usahanya tidak sia-sia untuk menyenangkan mata wanita itu.


Dalam acara penting ini, lelaki itu memang mempersiapkan dengan khusus penampilannya. Ia singkirkan kemeja pantai yang biasanya ia gunakan. Tentu saja pada momen kali ini ia harus terlihat resmi. Hanya saja, ia tidak bisa menyingkirkan topi koboi yang sudah menjadi jati dirinya. Pria itu akan tetap memakainya kemana pun ia pergi, kecuali tidur. Lagipula dengan topinya ini, penampilannya semakin terlihat keren, kan!


cup


"Apapun yang kau kenakan, aku suka!", di kala pria itu tengah melamun, Rose mengecup pipinya. Wanita itu tidak tahan melihat ketampanan Ben yang tidak ada tandingannya ini menurutnya.


"Ayo! Acaranya akan segera dimulai!", Rose pun mengulurkan tangannya pada pria itu.


"Kita harus pergi sekarang! Kenapa melamun saja?!", ia terkekeh pelan melihat wajah tuan seramnya kebingungan. Lucu dan menggemaskan mengetahui tuan seramnya itu juga bisa tertegun dan malu seperti dirinya.


"Baiklah! Ayo!", sebenarnya Ben ingin sekali mencium wanita itu hingga mereka kehabisan nafas. Bisa-bisanya ia dibuat terlihat bodoh seperti ini?!


Namun, ada momen penting yang tak dapat mereka lewati. Jadi Ben mengalah dulu! Tapi nanti ia akan memberikan hukumannya kepada wanita itu. Lelaki itu pun menyambut uluran tangan Rose, kemudian mereka berjalan bersama sambil tersenyum riang.


***


Ben dan Rose berdiri bersisian. Di depan mereka ada Bervan yang sudah terlihat tampan mengenakan setelan resmi juga. Ughh, rasanya Rose ingin sekali mencium pria kecil yang tak kalah tampan dari kekasihnya itu. Tapi melirik Ben, ia tahu jika bahkan orang itu akan cemburu kepada seorang anak kecil sekali pun. Niatnya ini pun ia urungkan.


Beberapa langkah ke depan, Bella dengan gaun pengantinnya yang indah beserta penutup kepala, sedang memeluk lengan Victor yang pada kesempatan kali ini mengenakan setelan putih-putih. Mereka berdua sangat cantik dan tampan. Sungguh pasangan yang serasi. Mata Rose terlihat bersinar takjub melihat pasangan ini.


Ya, hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi Victor dan Bella. Karena mereka akan mengikat janji suci. Mengikat hubungan seumur hidup dan berjanji untuk setia dalam keadaan susah maupun bahagia.


Rose, Ben dan Bervan yang bertindak sebagai pengiring pengantin pun mengantar pasangan itu sampai di altar. Kemudian mereka duduk pada deretan kursi paling depan. Sambil menunggu kesempatan Bervan membawakan cincin untuk ibu dan ayahnya, anak kecil itu duduk bersama dengan Baz yang pasti harus datang pada pernikahan adiknya tersayang ini.


Acara pernikahan ini sengaja dibuat sangat sederhana karena permintaan pengantin. Hanya keluarga inti saja yang hadir, sedangkan Bella memang sudah tidak memiliki orang tua. Lalu Victor, ia enggan untuk menghubungi ayahnya meskipun Rose sudah membujuknya. Pasangan pengantin itu ingin memiliki momen pernikahan yang khidmat dan sakral. Sehingga yang lain tak berdaya untuk memberi saran lebih jauh. Terserah mereka saja, asal mereka bahagia!


Di sini tentunya yang sangat senang adalah seorang rupawan yang terlihat tampan meskipun ia masih kecil sekarang. Bervan sangat bahagia karena pada akhirnya ibu dan ayahnya telah resmi menikah. Dan mereka benar-benar menjadi keluarga yang lengkap secara hukum. Tak ada yang dapat menyangkal hal ini sekarang. Ia pun sudah bisa menjawab pertanyaan teman-temannya jika ada yang menanyakan keberadaan ayahnya. Sekarang ia sempurna bersama ibu dan ayahnya.


Bervan sudah mengantarkan cincin pernikahan. Setelah pasangan pengantin itu saling memasangkan cincin, Victor pun membuka penutup kepala Bella. Wajah mereka sama-sama bersemu saat keduanya saling menatap.


"Aku mencintaimu, Bella!", bisik Victor di hadapan wajah wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Dua orang itu kemudian tak ragu untuk maju, namun wajah mereka terlihat-malu. Mereka saling menatap dengan penuh cinta. Terlalu lama menunggu, akhirnya Bella yang mengambil inisiatif untuk mencium suaminya terlebih dahulu.


Semua yang ada di sana bersorak bahagia kemudian. Pun sama dengan Ben dan Rose yang saling menatap dalam diam dan kebahagiaan. Baz pun lega, balas dendamnya yang salah telah berakhir. Ia sudah melakukan kepada orang yang sudah semestinya membayarnya.


Dan bertambah lega karena semua orang yang terlibat sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Sambil menutup mata Bervan dengan tangannya agar tak melihat adegan dewasa ibu dan ayahnya itu. Baz memandang kebersamaan Ben dan Rose yang terlihat serasi dan penuh cinta. Ia bersyukur meskipun sedikit penyesalan karena ia tak memiliki kesempatan untuk memiliki tatapan penuh cinta itu.


Baz memandang ke langit. berharap cinta untuknya akan segera datang kembali. Sebelum itu, biar ia simpan cinta ini hanya untuk dirinya seorang.


***


Acara pernikahan Victor dan Bella pun telah usai. Acara tersebut dilangsungkan di salah satu hotel yang menghadap persis ke arah pantai. Itu adalah permintaan mempelai wanita. Sedangkan menurut Victor, dimana pun tak masalah asalkan pengantin wanitanya adalah Bella.


Jadi saat ini mereka semua sedang mengganti pakaian lalu beristirahat. Mereka semua akan menginap di hotel malam ini. Barulah kembali keesokan harinya agar tidak terlalu lelah. Tetapi dua orang itu sedang asik menikmati pemandangan senja dikala yang lainnya mengistirahatkan badan mereka.


Di pesisir pantai yang damai, Ben dan Rose berjalan sambil bergandengan tangan. Merek berdua masih mengenakan pakaian yang sama saat menghadiri pernikahan Victor dan Bella tadi.


Tapi sekarang, Rose melepas sepatu hak tingginya supaya bisa menikmati bulir pasir dengan telapak kakinya secara langsung. Rasanya nyaman sekali! Lalu dengan setia, pria bertopi koboi itu menenteng sepasang sepatu cantik itu di tangan yang satunya. Mereka berjalan sambil bercengkrama dengan riang.


"Tiba-tiba kau jadi ingat saat pertama kali kau mengajakku ke pantai!", Rose menghentikan laju kakinya lalu diikuti oleh Ben. Ia menunduk mengambil sebuah batang kayu yang basah terkena air laut.


Ben melepaskan tangannya yang menggenggam tangan wanita itu sejak tadi. Ia belum merespon ucapan Rose, namun lelaki itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia letakkan sepatu Rose di pasir sambil terus memperhatikan apa yang wanita itu lakukan.


"Ku rasa mulai dari situ aku mulai menyukaimu, Ben! Kau telah menyentuh dasar hatiku yang suram!", kata Rose tanpa melihat ke arah Ben. Sedangkan tangannya sedang sibuk membuat sebuah tanda hati besar. Kemudian ia menuliskan nama mereka di dalamnya.


"Terima kasih, Ben! Karena kau sudah datang di hidupku! Meskipun pertama kali aku benar-benar takut padamu!", Rose berdiri di hadapannya. Berkata dengan tulus lalu tiba-tiba tertawa ketika mengingat bagaimana pertemuan mereka. Ia kira ia akan mati karena Ben mencekiknya sangat kuat.


"Rose!", seru Ben tiba-tiba juga terdengar ragu. Namun wanita itu seakan sedang asik dengan khayalannya sendiri sehingga tidak mendengarkannya.


"Rose!", ia mengencangkan suaranya. Mungkin terlalu kencang sampai Rose terkejut dan berhenti dari lamunannya.


"Ya!", wanita itu tersentak kaget.


"Aku sudah memikirkan ini sejak lama!", mendadak lelaki itu berlutut di hadapannya. Membuat Rose bingung dan kehabisan kata-kata.


"Aku mencintaimu, Rose! Aku yakin kau tahu itu! Tapi hidupku tidak mudah, selalu ada bahaya yang menanti. Dan aku tidak ingin kehilanganmu! Maka dari itu aku ingin menempatkan dirimu untuk selalu berada di sisiku!", Ben merogoh saku jasnya untuk mengambil sesuatu.


"Rose, maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku dan kita akan menghabiskan hidup kita bersama sampai menua nanti?", Ben membuka kotak kecil yang digenggamnya. Sebuah cincin berlian bermata satu langsung mengkilap terlihat di mata wanita itu.


Rose yang semula tersenyum pun mengubah wajahnya menjadi serius. Ia menghela nafas panjang sebelum melangkah mendekati pria itu.


"Maaf, Ben! Aku tidak bisa!", Rose menutup kotak cincin itu dengan mantap. Membuat Ben terbelalak kaget lalu berubah kecewa.


Lelaki itu menundukkan kepalanya, sambil berpikir apa yang salah dengan dirinya. Padahal semua ini sudah sesuai rencana. Tempat yang indah, momen romantis, semua sudah sesuai dengan apa yang dikatakan Relly. Padahal mereka juga saling mencintai. Menurut asistennya itu, kemungkinan besar ia akan diterima. Tapi apa yang salah dengan semua ini sehingga Rose menolaknya?!


Sambil menunduk ia melirik ke samping dengan wajah seram. Ini semua karena ia mendengarkannya. Dan ia ditolak juga tentu karena Relly. Awas saja kau, Relly!


Dalam bayang-bayang, Relly yang bersembunyi di balik pohon pun merasakan krisis. Ia melihat dengan teropong kecilnya jika bosnya itu dalam mode membunuh melalui tatapannya. Pikir Relly apa yang salah?! Tapi melihat kotak cincin itu ditutup oleh Nona Rose, ia jadi mengerti situasinya. Dalam hal ini bukan lagi salahnya, ia sudah memberikan saran yang terbaik. Mengenai diterima atau tidak itu bergantung pada mereka sendiri. Tapi ia sangat tahu jika nyawanya terancam sekarang. Ia menurunkan teropongnya sambil bergidik ngeri.


"Bukan karena aku tidak mencintaimu, Ben! Tapi aku ingin menjadi lebih kuat dulu. Kau adalah pria hebat. Makanya aku ingin ketika kita bersanding nanti, aku merasa pantas untuk melakukannya. Tidak untuk saat ini, karena aku masih seorang wanita yang ceroboh dan selalu membuat masalah. Aku tahu bahwa tidak ada yang dapat menandingimu, tapi paling tidak biarkan aku menjadi lebih kuat dan terlihat hebat, sehingga kau tak perlu selalu menjagaku. Mungkin saja aku bisa membantumu!", jelas Rose panjang lebar dengan tatapan yakin.


"Tapi aku tidak membutuhkan hal itu. Aku hanya ingin kau selalu di sisiku. Aku bisa melindungimu, Rose!", seru Ben tidak setuju dengan pendapat kekasihnya itu. Lagipula ia tidak ingin wanitanya terluka. Biar saja ia yang berdarah-darah, karena setelah itu ada orang yang dapat merawat lukanya.


"Aku tahu, aku mengerti! Tapi tolong hargai keinginanku! Setelah aku menjadi lebih kuat nanti, ayo kita hidup bahagia selamanya!", Rose maju lebih dekat. Menyentuh wajah kekasihnya untuk meyakinkan dan menenangkan melalui tatapan matanya. Senyumnya pun membuat hati Ben luluh.


"Baiklah kalau begitu! Aku sendiri yang akan melatihmu! Aku akan membuatmu kuat secepat mungkin, karena aku sudah tidak sabar untuk menikahimu!", Ben ambil tangan Rose untuk ia cium.


"Terima kasih karena telah mengerti aku!", ucap Rose tulus seraya tersenyum.


Ben mengangguk. Ia tahu jika suatu hubungan mengenai kompromi dari dua orang. Rose adalah kekasihnya bukan bawahannya yang selalu mengikuti perintahnya. Jadi hanya kepada Rose dia akan berkompromi selama hidupnya.


"Kalau begitu hibur aku karena kau sudah menolak lamaranku!", mendadak lelaki itu pun merajuk.


Lagi-lagi! Rose menggeleng pelan sambil menipiskan bibirnya. Lelaki ini selalu saja merusak suasana. Tapi ia sangat tahu apa yang paling diinginkan lelaki itu. Rose menciumnya. Mengalungkan kedua tangannya, kemudian menikmati indah cinta mereka bersama.


Di balik pohon, Relly kembali mengeluarkan teropongnya. Ia mendesah, sangat lega karena paling tidak bosnya itu tidak bertengkar dengan nonanya. Ia kemudian membanting teropongnya itu dengan kesal. Sambil berlalu pergi, ia terus mengomel sendiri.


"Lama-lama aku bisa buta!", ia hentakkan kakinya dengan keras saat meninggalkan tempat persembunyiannya. Kesal rasanya jika harus selalu melihat adegan mesra itu. Sakit matanya! Sakit!


Adegan ciuman kedua insan itu nampak indah bagai siluet di sore hari. Indah cinta mereka menjadi sempurna dengan latar lautan yang megah dan juga jingganya senja.


TAMAT


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA SELAMA INI YA TEMAN-TEMAN 🙏😊


SAMPAI JUMPA DI SEASON SELANJUTNYA YA 😁