
Rose tengah mengguyurkan air dingin yang keluar melalui shower kepada tubuhnya. Ia memejamkan matanya menikmati sensani dingin yang menyergap sampai ke dalam tulang belulangnya. Wanita itu menatap pantulan dirinya pada cermin yang berada tepat di hadapannya. Rose memegangi bibirnya yang masih bengkak sisa kelakuan Ben tadi padanya. Dan karena hal itu pula membuatnya mengingat kejadian menyedihkan itu.
Rose menangis dalam diam. Air matanya sudah bercampur dengan air shower yang mengguyur dari mulai atas kepalanya. Sangat menyakitkan, sakit hatinya menerima perlakuan Ben tadi. Padahal hanya Ben yang tau kejadian buruk apa yang pernah menimpanya dulu, tapi mengapa pria itu malahan melakukan hal yang paling membuat Rose takut dan sedih?! Terus ia gunakan air yang keluar dari shower untuk menyembunyikan air matanya yang terus mengalir deras.
Setelah selesai meluapkan perasaannya, Rose pun mulai menuntaskan kegiatan mandinya. Kini wanita itu sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono berwarna putih yang membalut tubuhnya. Satu handuk kecil ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Rose memandangi wajahnya di depan cermin, sambil memikirkan sebenarnya apa yang terjadi pada pria itu. Pria yang biasanya lembut namun juga kadang mengesalkan tiba-tiba berubah menjadi monster yang tak ia kenal. Rose menyadari, perubahan seseorang pasti selalu memiliki alasan. Tapi apa alasannya???
Ah, ia ingat! Mungkinkah Ben cemburu saat memergokinya sedang berpelukan dengan Baz tadi?! Tapi untuk apa pula rasa cemburu itu?! Jika cemburu berarti suka, bukan?! Apakah mungkin Ben memiliki perasaan yang sama seperti apa yang ia rasakan pada pria itu?! Memikirkan begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya membuat wajah Rose memerah membayangkan tentang kemungkinan yang muncul.
Tapi tidak! Meskipun perasaan mereka sama, tapi ia bertekad untuk tidak akan dengan mudahnya memaafkan perlakuan Ben tadi padanya. Rose bersungguh-sungguh untuk tidak mudah luluh. Ia juga tidak munafik untuk mengakui bahwa ia pun merasakan getar yang berbeda saat Ben menyentuhnya. Tapi untuk kata maaf,,, itu tidak akan keluar dengan mudah dari mulutnya. Tergantung bagaimana usaha Ben nanti.
***
Ben membelah jalanan itu dengan tatapan tajamnya. Bebannya sedikit berkurang saat ia mendapat kabar bahwa Rose sudah sampai di rumah dengan selamat. Ia pikir, wanita itu akan melarikan diri lagi untuk menenangkan hatinya. Beruntung Rose memilih untuk pulang ke rumah. Jika sampai Rose menghilang dan itu karena dirinya, maka entah perasaan bersalah yang bagaimana yang akan timbul di dalam hatinya.
Matanya tak sengaja mendapati dua buah kantung belanja yang masih bersandar di kursi sebelahnya. Ia ingat tadi Rose membawa-bawa benda itu di tangannya. Wajahnya tak urung menjadi kesal karena ia berpikir bahwa itu adalah hadiah yang diberikan pria tadi kepadanya. Tapi iya juga, siapa pria itu tadi?! Ben tak dapat melihat wajahnya.
Namun pikiran warasnya menuntun Ben untuk berpikir positif. Kenapa sampai sekarang Ben tidak memikirkan untuk meminta penjelasan dulu dari Rose. Tentang mengapa dia kabur dari pengawalnya. Dan juga bagaimana Rose bertemu dengan pria itu. Pasti ada penjelasannya, bukan?!
"Hasil tes itu!", lalu Ben ingat mengenai hal penting yang satu ini. Ben jadi bertanya-tanya apakah semua ini terkait dengan hasil tes pencocokan sel sumsum tulang belakang yang membuat Rose sedih?! Makin besar rasa bersalah Ben jika itu benar. Mungkin saja Rose pergi untuk menenangkan diri. Karena seperti yang sudah terjadi sebelumnya, wanita itu selalu menyembunyikan rasa sakitnya dari orang lain dan memilih untuk membuat pikirannya tenang sejenak.
Ben memperdalam injakan gasnya. Menaikkan kecepatan laju mobilnya supaya ia bisa segera sampai di rumah Victor dan menebus kesalahannya. Ia sudah tidak bisa tenang sekarang, rasanya ia sudah sangat menginginkan sebuah kata maaf dari mulut wanita itu. Jika perlu ia akan berlutut di hadapannya.
***
"Kalian bertengkar?", tegur Victor dengan wajah santai sambil menikmati apel yang telah dikupas oleh Pama Alex. Namun pertanyaannya jelas terdengar serius sampai di telinga Ben yang baru saja sampai.
"Yaahhh,, kira-kira begitu!", Ben berusaha tenang. Ben merasa Victor tidak mengetahui apa-apa saat ini. Tapi masalahnya adalah jika dia mengetahui apa yang telah Ben perbuat pada adiknya itu. Sayang sekali Victor sedang sakit, jika sehat mungkin Ben akan dihajar habis oleh kakak dari Rose itu. Sehingga Ben pun enggan untuk membuka mulutnya.
"Aku tidak tau apa masalah kalian. Tapi sebagai temanmu dan juga kakak dari Rose, aku mohon jangan menyakiti adikku jika kau tidak benar-benar serius dengan perasaanmu. Jika yang kau inginkan hanyalah sebuah lelucon dan permainan, maka ubah targetmu. Jauhi adikku!", Victor tersenyum. Dalam senyuman itu menyimpan seribu arti. Memohon, meminta dan mengancam. Itu yang terdengar pasti dari mulut Victor.
Ben sempat terkejut saat mendengar ucapan Victor. Ia menelan salivanya dengan kesusahan. Pria itu merasa Victor seperti dapat membaca situasi saat ini. Dan Ben pun makin frustasi akan hal ini, karena makin dalam rasa bersalah yang ia rasakan.
"Rose belum turun sejak tadi. Ia bahkan belum makan malam! Ajaklah dia turun!", Victor kembali tersenyum bersamaan dengan lanjutan informasinya mengenai Rose untuk Ben.
"Emmh,,, baiklah! Aku akan mandi dulu. Lalu aku akan melihatnya", Ben beranjak dari sofa ruang tengah itu menuju tangga untuk mencapai kamar yang biasanya ia pakai.
"Apakah ini akan berhasil?", menaikkan kepalanya, Victor bertanya pada Paman Alex yang saat ini berdiri di sebelahnya.
"Saya tidak bisa menjawabnya, Tuan. Semua tergantung mereka berdua. Yang jelas provokasi Tuan sangatlah bagus", Paman Alex tersenyum dengan santun.
Tadi,,, Victor dan Paman Alex berdiskusi mengenai apa yang terjadi di antara kedua makhluk itu. Keduanya memiliki banyak spekulasi dalam perbincangan mereka. Jadi sebagai solusi Paman Alex menyarankan agar Victor memprovokasi Ben untuk menyadari bagaimana perasaannya terhadap Rose selama ini.
"Baiklah! Kita lihat nanti!", Victor kembali melanjutkan makan apelnya.
***
Ben sudah berada di lantai dua. Ia mendekat ke arah pintu kamar yang terlihat sunyi. Tangannya telah terulur untuk mengetuk pintu kamar itu. Namun hanya tinggal satu sentimeter lagi, ia urungkan niatnya. Ben menarik kembali tangannya ke bawah. Ia berbalik setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aaakkkhhh!!!", suara teriakan dari dalam kamar membuatnya segera berbalik kembali dengan wajah panik.
"Rose! Apa yang terjadi? Buka pintunya, Rose!", suara teriakan Ben beriringan dengan suara gedoran pintu yang pria itu lakukan dengan paniknya.
Rose yang saat ini wajahnya sedang ketakutan pun bercampur rasa terkejut. Suara pria itu tentu Rose sangat mengenalnya, dan tentu saja itu bukan suara kakaknya. Tapi bagaimana dengan keadaan saat ini, ia juga belum siap untuk menemui lelaki itu. Namun jika bukan pria itu lalu siapa lagi yang bisa ia mintai pertolongan?! Bercampur kesal dan takut, Rose pusing memikirkan hal ini. Hah, sudahlah! Ia izinkan saja pria itu masuk.
***
"Tuan! Sepertinya Nona Rose berteriak di atas", Paman Alex memberikan informasi pada Victor yang masih santai dengan apel yang ia tusuk dengan garpunya.
"Biarkan saja!", jawab Victor acuh namun masih ia sempatkan untuk tersenyum.
Paman Alex mengangguk, mengerti dengan maksud Tuannya ini. Bukan berarti Victor tidak peduli, tapi ia sangat tau situasi saat ini. Apalagi sudah ada Ben di sana. Pasti pria itu tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi pada adiknya. Meski sebenarnya Victor sendiri tidak tau apa penyebab Rose berteriak dari dalam kamarnya itu. Tapi yang Victor yakini adalah setelah ini hubungan kedua insan itu akan membaik. Jadi lebih baik ia lanjutkan saja menghabisi buah apel yang menggiurkan mulutnya ini.
***
brrak
Belum sempat Rose mempersilahkan Ben masuk. Pintu itu sudah ditendang dari luar. Berharap aksinya akan terlihat heroik, namun ternyata pintu itu sangat mudah dibuka. Mata Rose sedikit berkedut pada ujungnya, sungguh berlebihan pikirnya. Karena memang pintu itu tidak dikunci sebenarnya.
"Jaga matamu!", teriak Rose malu setengah mati. Ben pun langsung memalingkan wajahnya. Kedua orang itu jelas memiliki wajah yang sama merahnya.
Saat ini Rose sedang berdiri di atas tempat tidur. Tubuhnya meringkuk dengan tangan yang melipat di depan yang bermanfaat juga untuk menutupi wajahnya yang masih menyisakan gurat ketakutan. Nah, kakinya ini! Tanpa sadar kakinya juga meringkuk, sedikit menekuk lututnya sehingga belahan handuk kimono itu tersingkap dan menampilkan pahanya yang putih dan mulus.
"Aku tidak melihat apa-apa!", ucap Ben tiba-tiba dengan nada suara tidak bersalah.
"Diam!", teriak Rose dengan wajah panik.
Dan Ben pun terkekeh saat menangkap dengan ujung matanya bahwa wanita itu tengah membenahi bagian tubuhnya yang tadi sempat terbuka.
"Aaakkkhhh!", teriak Rose lagi sehingga membuat Ben panik dan segera mendekatinya.
"Ada apa? Kenapa berteriak seperti itu, membuat orang khawatir saja!", setengah mengomel tapi Ben juga khawatir mengapa Rose berteriak sampai seperti itu.
"Hiiihh!! Pergi sana! Hush,, hush!", tak menghiraukan suara Ben, Rose lebih memilih mengusir hewan terbang berwarna hitam yang terbang ke sana kemari pada langit-langit kamarnya.
"Jangan ke sini! Jangan ke sini! Jangan,, ", Rose pelan-pelan menghindar karena sepertinya kelelawar itu mulai terbang ke arahnya. Tapi ia tak menyadari jika pijakannya makin lama makin ke arah pinggir ranjang.
Ben menganggukkan kepalanya berulang kali. Ia mengerti situasinya sekarang. Pasti jendela yang terbuka itu yang menjadi sumber masalahnya. Dan melihat tingkah Rose yang sedang ketakutan dengan kelelawar itu sungguh menggemaskan. Tapi ia masih bisa sigap menangkap tubuh Rose yang mulai oleng di atas ranjangnya. Kaki wanita itu tergelincir dan akhirnya terjatuh di pelukan pria yang tidak ingin ia dekati saat ini.
"Kau pasti sedang mengambil kesempatan, kan!", wanita itu masih sempat mengomel sambil berusaha melepaskan diri dari Ben.
"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar saja!", dengan wajah memelas Ben melangkah ke arah pintu.
Satu
Dua
Tiga
Ben menghitung dalam hatinya.
"Tunggu!", Rose segera menyergap punggung pria itu sambil meringkuk ketakutan di sana.
Ben menyeringai, wajahnya puas mendapatkan hasil yang sesuai dengan pemikirannya. Idenya berhasil.
"Usir kelelawar itu dulu, baru kau boleh pergi dari sini", Rose masih mempertahankan arogansinya. Karena bagaimanapun juga Rose masih marah pada pria itu. Jadi, meskipun wanita itu membutuhkan bantuan Ben, Rose tidak ingin menurunkan harga dirinya.
"Aku tidak memerlukan izin siapapun untuk berada di kamar ini. Aku hanya kecewa saat ternyata kau malahan menuduhku mengambil kesempatan di saat seperti ini. Padahal aku sangat mengkhawatirkan dirimu", mata pria itu mengawasi gerak-gerik kelelawar yang sebenarnya sedang mencari jalan keluar itu.
"Lupakan saja apa yang aku katakan tadi! Sekarang,, sekarang bisakah kau mengusir kelelawar menyebalkan itu dari kamarku!", Rose sedikit merasa bersalah dengan apa yang ia ucapkan tadi pada Ben. Lalu ia menurunkan nada bicaranya menjadi lebih bersahabat, meskipun masih ada hawa arogansi juga di dalamnya.
Ben membalikkan tubuhnya sehingga kini mereka seperti tengah berpelukan karena Rose masih tetap dengan pose yang sama. Ia masih meringkuk ketakutan saat ini. Dan seakan tak peduli bagaimana posisi mereka saat ini.
"Tutup matamu!", Ben mendekap pinggang wanita itu sehingga tubuh mereka semakin merapat erat. Rose tersentak hingga membuka matanya. Tapi tangan hangat itu terasa benar-benar melindunginya. Pikirannya menjadi linglung saat ini. Sikapnya yang sebelumnya sedang marah pun ia abaikan sejenak. Yang terpenting saat ini adalah membuat kelelawar itu pergi dari kamarnya.
Dan Ben tidak bisa berhenti tersenyum mendapatkan hadiah seperti ini. Pelukan gratis dari orang yang sangat tidak ingin bersamanya. Andai saja waktu berhenti sekarang, hati pria itu sangatlah senang.
"Pegangan yang kencang!", perintah Ben sambil menahan senyumnya. Dan karena dalam kondisi takut, Rose jadi menurut saja. Jadilah mereka berpelukan erat sekarang.
Tapi ia masih sadar akan hal yang harus ia lakukan sekarang. Ben membuka topinya untuk ia gunakan mengusir kelelawar itu. Ia melakukan tour di dalam rumah itu dengan topi koboi yang sudah ia pegang di tangannya. Lalu ia mengibas-ngibaskan topinya ke atas untuk menggiring kelelawar itu keluar.
Tak butuh waktu lama kelelawar itu keluar melalui jendela yang terbuka tadi. Tapi Ben tetap melakukan hal yang sama dengan tangannya, mengibaskan topinya ke atas. Demi mendapatkan pelukan lebih lama pikirnya sambil tersenyum lebar. Apalagi wanita polos ini tidak menyadari triknya kali ini. Jadi ia nikmati saja pelukan hangat dan wangi strawberry khas dari rambut yang masih setengah basah milik wanita itu. Haha
Lama-kelamaan Rose menyadari ada yang aneh dengan suasana di kamarnya. Ia tak mendengar suara gaduh seperti saat kelelawar itu masih ada di dalam kamarnya. Dan lagi kenapa juga pria itu hanya diam di tempat sekarang?! Rose pun mengangkat kepalanya dan melihat keadaan sekitar. Hal yang membuatnya kesal adalah bahwa kelelawar itu sudah tidak ada. Dan yang lebih menjengkelkan adalah wajah licik pria itu yang tertangkap basah olehnya. Ternyata ia sedang ditipu sekarang. Heh! Lihat saja apa yang bisa dia lakukan!
"Aauuwww!", Rose menginjak kaki Ben dengan sekuat tenaga hingga pria itu menjerit kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Dasar tidak tau malu! Nyatanya kau memang mencari kesempatan, kan!", omel Rose sambil mendorong pria itu ke arah luar kamarnya.
"Jangan temui aku lagi! Aku masih marah!", ucap Rose cepat lalu menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Aku tau kau masih marah! Tapi jangan lupa tutup jendelanya! Kelelawar itu bisa masuk lagi kapan saja!", Ben memberikan saran tepat di depan pintu sambil tersenyum.
brrakk
Rose buru-buru menutup jendela kamarnya dengan keras, takut hal yang Ben bicarakan terjadi. Dan suara itu saja sudah cukup membuat pria itu makin melebarkan senyumannya.