
brrakk
Tendangan yang cukup kuat hingga hanya dengan satu kali dorongan, pintu itu sudah terlepas dari engselnya. Segera Ben menerobos ke dalam sana sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Amarahnya segera memuncak kala ia melihat Rose yang sudah terjerembab di lantai dengan seorang pria di atasnya.
Secepat kilat Ben sudah berada di dekat Rose dan pria yang sedang berusaha melecehkannya. Dengan satu tendangan Ben berhasil membuat pria itu terjungkal hingga terlempar jauh ke lantai. Kekuatan yang Ben keluarkan saat sedang marah sungguh luar biasa. Kemudian keempat pria yang lainnya segera mengeluarkan pistol dari saku celananya. Dan,,,,
duarr
duarr
duarr
duarr
Mereka kalah cepat, Ben sudah melumpuhkan mereka terlebih dahulu. Pria eksentrik itu kembali menembak keempatnya tepat di kepala mereka. Tembakan Ben sangat akurat hingga keempatnya segera tersungkur ke lantai dengan darah yang mengalir deras dari kepala mereka yang dilubangi oleh timah panas.
Melihat hal itu, pria yang tadi melecehkan Rose berpura-pura pingsan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari sentuhan timah panas dari tangan Ben. Dia lupa tadi untuk memberitahu teman-temannya dan juga bosnya bahwa wanita itu sedang bersama seseorang yang sangat berbahaya. Dia bersama Benny Callary, sang Ketua Geng Mafia Harimau Putih. Sambil memejamkan mata, ia merutuki kebodohannya sendiri.
Dulu, beberapa tahun yang lalu. Saat menjalankan sebuah tugas dari bosnya. Ia sempat melihat langsung sosok Benny Callary sendiri karena tugas yang ia emban bersinggungan langsung dengan kelompok mafia yang diketuai olehanya. Meskipun mereka akhirnya kalah, tapi hal itu sangat berkesan baginya. Karena ia bisa melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri sosok Benny Callary. Sosok yang sangat sulit untuk ditemui. Maka sampai sekarang pria itu masih mengingat hal ini.
Tapi dengan bodohnya, kenapa dia bisa sampai melupakan hal yang begitu penting ini. Dengan hanya Ben seorang diri dan mereka yang hanya beberapa orang saja, jelas bukanlah tandingannya. Harus menambah sekitar puluhan orang lagi, itu pun harus melawan secara langsung jika ingin melumpuhkan seorang Benny Callary itu. Sudahlah, akhirnya ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja dulu. Aga bisa melaporkan hal ini kepada bosnya nanti.
Ben melempar pistolnya yang sudah kosong ke samping tanpa melihatnya. Karena matanya langsung tertuju kepada Rose yang sudah terduduk di lantai dengan wajah yang ia sembunyikan di antara kedua lututnya yang sedang dipeluk erat. Tubuhnya terlihat gemetar, terdengar isak tangis yang sangat pilu dari sana.
Ben seorang pria yang berdarah dingin dan tidak pernah berempati kepada siapapun kecuali Ana. Tapi kini entah mengapa jauh di dalam sana, di dalam dadanya, juga ikut merasakan sakit saat mendengar tangisan Rose yang memilukan itu. Ben merendahkan tubuhnya, setengah berlutut sambil menghadap ke arah wanita itu. Tangannya terulur perlahan untuk menyentuh kepala Rose bermaksud untuk memberi usapan di sana agar wanita itu menjadi sedikit lebih tenang. Ben tak mampu memikirkan apa-apa, jadi hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk berusaha menenangkan adik temannya itu.
Tapi,,, baru seujung kukunya saja yang menyentuh pucuk kepalanya, Rose langsung bereaksi dengan merangkak mundur ke belakang dengan wajah ketakutan. Air matanya jelas sudah banjir di wajahnya yang sangat kacau itu.
"Hey, tenanglah! Ini aku!", Ben menjauhkan uluran tangannya berusaha menjangkau Rose yang menatapnya dengan waspada.
"Ayo kita pulang! Hemnh", Ben mengulas senyumnya agar Rose mau mempercayainya. Ujung jemarinya bergerak mengajak Rose untuk pergi bersamanya.
Sejenak Rose terdiam, butuh beberapa waktu bagi wanita yang sedang amat shock itu untuk memindai siapa pria yang sedang berada di hadapannya ini. Rose menatap begitu waspada kepada Ben saat ini. Lalu air mukanya berubah seketika dan wanita itu langsung masuk beringsut ke dalam pelukan Ben hingga pria itu akhirnya terduduk di lantai.
"Tuan! Tolong aku, Tuan!", tangis Rose makin menjadi. Ia menjerit begitu keras di dalam pelukan Ben saat ini.
Dan teriakan itu sontak membuat pria yang sedang berpura-pura pingsan itu sedikit menggerakkan kakinya karena terkejut. Dan gerakan kecil itu tentu terlihat oleh mata jeli milik Ben. Segera ia merogoh sesuatu dari kakinya. Sambil mempererat pelukannya pada Rose, sebuah pistol ia keluarkan lalu ia todongkan ke arah pria tadi. Ia tak ingin Rose makin terkejut dan tertekan dengan hal ini.
duarr
Satu tembakan ia layangkan ke arah kaki pria itu. Yang otomatis menimbulkan sebuah jeritan kesakitan dari mulutnya. Darah mengalir membasahi celananya yang hitam pekat. Sambil meringkuk, sambil ia memegangi kakinya yang kesakitan.
Suara pria itu lantas membuat tubuh Rose kembali menegang. Ia ingat suara pria yang tadi berusaha melecehkannya itu. Mata Rose kembali memanas. Mencairkan air mata yang semula sudah hampir berhenti membanjiri wajahnya seperti tadi. Wanita itu kembali histeris sambil mencengkeram sweater yang Ben kenakan saat ini. Pelukannya makin kencang bersamaan dengan suara tangis yang makin tajam di telinga.
"Sudah berakhir! Ayo kita pergi dari sini!", ajak Ben seraya melepaskan pelukan Rose yang begitu erat padanya.
Tapi Rose menolak melepaskan pelukannya itu. Rose tak ingin ditinggalkan. Rose tak ingin sendirian. Saat ini yang ada dipikirannya adalah setelah Tuan ini melepaskan pelukannya maka ia akan pergi meninggalkannya sendirian. Wajah dan tubuhnya nampak gemetar.
"Tidak!", Rose menggeleng di bahu pria eksentrik itu.
"Percayalah padaku! Kita akan pulang, oke!", Ben mengusap lembut pucuk kepala Rose sampai ke punggungnya.
Setelah sampai di mobil, perlahan Ben menurunkan Rose dan meletakkannya di kursi samping kemudi. Lalu ia setengah berlari memutari mobil untuk masuk ke dalam. Tatapan Rose kosong saat ini meskipun tubuhnya sudah tidak gemetar lagi. Hanya saja tangannya masih mencengkeram kuat dress berantakan yang ia pakai sekarang.
Ben menoleh sebentar lalu membuang nafasnya kasar, ia hendak menjalankan mobilnya. Namun sebuah tangan menghentikan gerakannya. Tangan Rose terulur memegangi lengan Ben dengan kuat. Perlahan mereka menoleh bersama, Ben mengernyitkan alisnya menatap wanita itu dengan tanda tanya. Sedangkan Rose, saat menoleh air matanya sudah banjir ke seluruh wajahnya.
"Aku tidak ingin pulang, Tuan! Aku tidak ingin bertemu kakak!", kemudian tangisnya pecah. Hingga pegangannya pada lengan Ben pun makin kuat hingga menimbulkan bekas merah di sana. Rose seakan sedang menumpahkan emosinya saat ini.
"Tapi kakakmu akan khawatir jika kita tidak pulang!", entah bagaimana bisa seorang Benny Callary berucap lembut dengan nada membujuk. Ia bahkan sempat heran dengan dirinya sendiri. Tapi itu tidak penting, keadaan Rose lah yang paling penting saat ini.
"Justru kakak akan khawatir jika aku pulang dalam keadaan seperti ini!", tangisnya kembali nyaring di telinga lawan bicaranya. Rose sungguh tak bisa menahan sakit di dadanya saat ini. Harus mengulangi kejadian yang sama. Ini sudah kedua kalinya dirinya hampir dilecehkan oleh seorang pria. Dan kali ini cukup mengguncang jiwanya. Ia belum siap untuk bertemu dengan Victor. Kakaknya itu pasti akan sangat khawatir jika melihatnya dalam kondisi seperti ini. Ia tak ingin kakaknya mengetahui kejadian apa yang menimpa adiknya tadi. Biar Rose saja yang menanggung perasaan ini. Karena kakaknya sudah cukup terbebani dengan penyakit yang ia derita. Rose tak akan tega menambah beban lagi ke dalam hidup kakaknya.
"Baiklah! Apa maumu?", tanya Ben dengan sabar.
"Bawa aku pergi kemanapun untuk menenangkan diri. Baru setelah itu kita pulang", pinta Rose dengan bibir gemetar. Ia juga menarik tangannya dari lengan Ben. Nampak bekas merah itu kontras sekali dengan warna putih kulit Ben. Tapi pria itu tak mempermasalahkannya. Itu tak berarti apa-apa baginya.
"Baiklah!", tapi ia menoleh. Dan kembali melihat tangan Rose yang kembali mencengkeram pakaiannya yang berantakan di depan dada.
Secara impulsif Ben melepaskan sweaternya lalu ia menarik tubuh Rose untuk berhadapan dengannya. Dengan sabar Ben memakaikan sweaternya kepada Rose yang masih menatap kosong lurus ke depan. Jarak wajah mereka sangat dekat ketika Ben harus melakukan hal itu. Ia kembali menatap bibir mungil merah muda milik Rose. Menatapnya penuh damba. Ingin rasanya ia menyesap manisnya bibir ranum itu. Tapi,, segera ia tepis pikiran itu mengingat bagaimana kacaunya keadaan fisik maupun mental Rose saat ini.
Pandangan mereka sempat bertemu. Rasa ingin memiliki bibir itu kembali hadir. Karena bagaimana pun juga Ben masih lah seorang pria dewasa. Tapi melihat tatapan sendu milik wanita itu, Ben kembali tak tega. Seperti banyak kepedihan di dalam matanya. Kembali,, ia mendapatkan dorongan yang datangnya entah darimana hingga ia bertindak secara impulsif lagi untuk membawa Rose ke dalam pelukannya. Pria itu mengusap lembut rambut hingga punggungnya. Membiarkan wanita itu kembali menumpahkan perasaannya lewat jerit tangis nan pilu untuk beberapa saat lagi.
"Sudah! Ayo kita jalan sekarang!", setelah tangis Rose cukup reda. Maka Ben melepaskan pelukannya. Lalu memberikannnya sebuah kecupan singkat di pucuk kepala wanita itu. Hingga ia berakhir dengan memegang kemudinya.
Mobilnya sudah tancap gas dan pergi meninggalkan area itu. Tapi,,, pikirannya seakan masih tertinggal di sana. Dimana ia bisa-bisanya bertindak manis dan lembut kepada seorang wanita. Entah ini karena kemanusiaan atau apa. Tapi ia merasa melakukannya tulus dari dalam hatinya.
"Ini bukan diriku, sekali!", gumamnya dalam hati.
-
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ