Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Wanitaku



Sejenak Ben terdiam di tempat saat melihat Rose pergi sambil menangis. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan terhadapnya barusan. Mungkin ia memang sudah keterlaluan dengan tindakannya tadi. Ia juga merasa sudah terlalu keras pada wanita yang sebenarnya memiliki luka di hatinya. Satu tangannya berkacak pinggang, satu tangannya lagi mengusap wajahnya dengan kasar. Akhirnya ia menyadari Rose sudah pergi sedari tadi. Dan hanya menyisakan dirinya dan juga Manajer Toni.


"Hey, kau! Apa kau melihat kemana arah wanita itu pergi?", tanya Ben pada Manajer Toni dengan wajah frustasi.


"Saya tidak melihatnya, Tuan!", jawab Manajer Toni dengan jujur. Melihat tampang pria eksentrik yang tengah kusut itu sebenarnya membuat keringat dingin mengucur deras di balik pakaiannya.


"Hah!", ia mendesah dengan nafasnya yang terasa berat.


"Kita berpencar! Segera hubungi aku jika kau sudah menemukannya", perintah Ben langsung disambut sebuah anggukan oleh Manajer Toni.


Seperti ini juga bisa, mereka harus bergerak cepat. Di lantai ini, merupakan tempat yang berbahaya bagi seorang gadis berjalan sendirian tanpa seseorang yang mendampinginya. Apalagi Rose yang polos dsn tidak tau apa-apa tentang tempat ini, takutnya bertemu orang jahat dan memanfaatkannya.


Ben benar-benar merasa khawatir saat ini. Penyesalannya makin menjadi memikirkan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi. Di depan adalah sebuah persimpangan, maka Ben dan Manajer Toni memutuskan untuk berpisah di sana. Yang satu mengambil jalur ke kanan dan yang lainnya ke kiri. Mereka berdua terus berjalan sambil memasang indera pendengaran mereka takut-takut Rose telah diseret ke dalam salah satu ruangan.


Dan,,, akhirnya yang pertama menemukan Rose adalah Manajer Toni. Dari jauh ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Dan baru saja ia bertemu dengannya. Wajahnya menjadi panik hingga berwarna hijau ketika ia melihat wanita itu berada di tangan seorang pria paruh baya yang ia juga mengenalinya. Pria tua itu memang selalu haus akan wanita. Apalagi jika melihat wanita muda yang masih nampak fresh seperti ini, matanya serasa akan keluar untuk melahapnya langsung.


Tapi,, Manajer Toni tidak bisa membiarkan ini terjadi, karena wanita yang berada di tangan pria itu juga tak kalah pentingnya karena merupakan seseorang yang dibawa oleh pria paling mematikan yang ia kenal. Ben,, Benny Callary,, membawa sendiri wanitanya, lalu menunjukkan hal-hal seperti ini. Manajer Toni berasumsi jika wanita ini sangat penting bagi orang itu. Maka ia tak boleh membiarkan nyawanya terancam dengan tidak membiarkan wanita itu tergores barang sedikitpun.


Langkahnya dipercepat hingga berkali lipat. Ia bukan berjalan lagi tapi sudah berlari. Dalan hatinya ia berdoa semoga waktunya masih bisa untuk dirinya menyelamatkan Rose dari tangan pria tua itu. Saat jarak tinggal beberapa meter lagi, tangannya terulur ke depan bersiap menepuk bahu pria itu.


"Hentikan, Tuan!", pas sekali saat satu tepukan mendarat di bahu pria itu Manajer Toni berhasil menghentikan pria itu yang hampir melecehkan wanita milik Tuan Bennya.


Pria itu menoleh sambil mengernyitkan kedua alisnya. Wajahnya jelas kelihatan tidak suka. Terlihat jelas bahwa Manajer Toni telah mengganggu waktunya bersenang-senang saat ini


"Hey, Manajer Toni! Ada apa? Apa yang kau maksud dengan hentikan? Kau sekarang sedang menggangguku kau tau?!", pria paruh baya itu memperingati dengan nada yang tegas dan tidak suka.


"Saya mengerti jika Tuan Rin menginginkan seorang wanita maka saya akan mencarikan untuk Anda!", Manajer Toni masih berusaha untuk tetap sopan.


"Apa kau buta, hah?! Aku sudah menemukan mainan untukku sendiri!", serunya sambil menyentuh dagu Rose dengan dua jarinya. Wanita itu segera memalingkan wajahnya, saat tangan itu bergerak untuk membuatnya menatap ke arah pria paruh baya itu.


Rose masih berada di dalam dekapan pria paruh baya itu. Tangannya yang gemetar berusaha melepaskan cengkeraman tangan Tuan Rin pada pinggangnya. Mata Rose sudah berkaca-kaca. Ini sudah yang ke sekian kalinya ia menerima pelecehan seperti ini. Kejadian ini meninggalkan kenangan yang begitu buruk untuk dirinya.


"Tuan bisa memilih wanita mana yang Tuan sukai, aku akan mencarikannya untuk Tuan. Tapi saya mohon tidak dengan Nona ini!", Manajer Toni masih melakukan negosiasi.


"Memangnya kenapa dengan Nona ini?! Justru aku sangat menginginkan Nona ini. Karena sepertinya dia masih sangat polos. Pasti akan menyenangkan bermain-main dengannya, ya kan!", senyuman menggoda Tuan Rin lemparkan ke arah Rose yang segera membuang pandangannya makin menjauh.


Dalam hatinya sudah menjerit hingga kehabisan suara. Saat ini ia sungguh ingin ada Ben di sisinya. Rose sudah ketakutan setengah mati, hanya saja ia masih berusaha untuk menyembunyikannya dengan tetap diam. Meskipun sangat jelas bahwa tangannya sudah gemetar.


"Tidak bisa, Tuan! Untuk kali ini saya sarankan Tuan Rin untuk melepaskannya!", nada bicara Manajer Toni mulai tegas.


"Tapi aku menginginkannya! Dan kau tau tidak ada yang bisa mencegah keinginanku!", tatapan tajam Tuan Rin menusuk ke dalam mata Manajer Toni.


"Tapi Tuan, untuk kali ini saya mengatakan tidak bisa!", meskipun sempat takut menghadapi tatapan mengerikan itu tapi ia lebih takut orang yang membawa wanita itu. Pria itu jauh berkali lipat lebih berbahaya dibandingkan dengan Tuan Rin ini.


Ben datang dari arah belakang. Ia melihat pria paruh baya tengah membuat Rose di dalam dekapannya. Api di dalam hatinya berkobar besar. Matanya berubah kemerahan dengan amarah yang tak tertahankan. Ia segera menarik Rose dari tangan pria itu bersamaan dengan tendangan yang ia hadiahkan padanya.


"Hey kau! Siapa kau berani bertindak kurang ajar kepadaku?!", sambil berusaha berdiri mulutnya sibuk memaki.


"Dan,, apa yang kau lakukan?! Punya nyali kau rupanya berani mengambil wa,,, ", segera terpotong kembali ucapan Tuan Rin itu.


"Wanitaku!", satu tendangan melayang ke perut Tua Rin itu dengan mata Ben yang seakan siap menghujaninya dengan ribuan pisau di matanya.


"Di kota ini, jika aku sudah menyebutkan bahwa dia adalah milikku maka dia adalah milikku!", kedua pengawal itu membantu Tuan Rin berdiri lagi.


"Habisi dia!", sambil memegangi perutnya yang terasa sakit, sangat sakit, pria paruh baya itu memerintahkan kedua pengawalnya untuk menghajar pria yang telah berani melawannya.


Keduanya langsung menyerang bersamaan. Ben tak melepaskan dekapannya pada Rose. Sambil memegangi Rose dengan tangan kirinya, ia bergerak menghindari setiap serangan yang kedua pengawal itu berikan kepadanya.


"Dua mainan tak berguna!", Ben mencibir. Tatapannya telah berubah menjadi kejam dan keji. Auranya yang mendominasi membuat kedua pengawal itu surut nyalinya. Mereka mengakui bahwa pria ini memang bukanlah orang sembarangan. Buktinya sudah sampai melelahkan begini, tapi Ben belum mengeluarkan satu serangan pun kepada mereka berdua. Bahkan tangan yang satunya sibuk mempertahankan seorang wanita di sampingnya.


"Cepat habisi dia!", dengan tidak sabar Tuan Rin kembali memerintah. Pria paruh baya itu tidak terima sebuah kekalahan.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya