
"Titiknya terus bergerak, Tuan! Dan sepertinya kita harus berjalan kaki mulai dari sini!", Relly menghentikan laju mobilnya di tempat terakhir Rose dan yang lainnya dibawa pergi. Hanya saja ia dan Ben belum mengetahui hal ini. Lelaki itu melihat jika titik berkedip itu terus bergerak melalui gang kecil di depan mereka.
Tak perlu banyak bicara lagi, Ben segera turun dari mobil seraya menyambar benda pipih miliknya. Relly pun menyusul kemudian dengan gerakan yang efisien. Sebentar Ben memperhatikan arah titik itu bergerak, mendadak ia menoleh ke samping dengan wajah seriusnya.
"Kau terlalu dekat!", tegurnya pada Relly yang saat ini tengah mencondongkan tubuhnya untuk ikut melihat kemana titik itu pergi. Sayangnya hal itu membuat Ben risih karena tubuh mereka nyaris bersentuhan. Asistennya ini kenapa suka sekali menempel kepadanya! Ia ini masih laki-laki normal, pikirnya. Ada sentuhan jijik di wajah pria bertopi koboi itu saat memandang asistennya.
"Aku hanya penasaran, Tuan!", Relly pun mundur satu langkah dengan sedikit ngeri. Tuannya ini suka sekali menindasnya, meskipun itu hanya sebuah kata-kata. Apakah ia semenjijikan itu?! Relly meringkuk menyedihkan.
Ben meliriknya sekilas dengan ekspresi tak peduli. Kemudian ia angkat kakinya untuk melangkah mengikuti arah bergeraknya titik berkedip itu. Kecepatannya sangat pelan, sehingga ia merasa bisa mencapainya dengan cepat.
"Tunggu aku, Tuan!", teriaknya pada Ben yang sudah memulai dengan langkah-langkah lebar. Lengkung bibir pria itu tertarik ke bawah. Dengan sedih ia berpikir jika tuannya itu sungguh sudah tidak membutuhkannya lagi. Meski begitu, Relly tetap berlari membuntuti pria yang selalu memakai topi koboi sebagai mahkotanya.
***
Mereka sudah menelusuri gang kecil itu selama beberapa saat. Titik bergerak itu pun kini hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat mereka berdiri. Ben dan Relly sama-sama mengedarkan pandangan di sekitar sana. Dimana hanya ada berderet rumah kontrakan yang terlihat sepi. Dan juga beberapa anak muda yang sekarang sedang berkumpul dengan suara ramai.
Ben dan Relly sama-sama tertarik untuk mendekat ke arah mereka. Dan niatan itu semakin kuat kala Ben melihat tas yang biasa Rose bawa ada pada tangan salah satunya. Wajah Ben seketika menggelap. Sedangkan Relly sedang menimbang sesuatu saat ini. Jika dilihat dari jarak dan arahnya, benar jika titik bergerak itu datang dari arah para anak muda itu.
Sebelum Relly bicara dengan maksud untuk memberitahukan apa yang ia pikirkan ini, bosnya itu sudah mengambil langkahnya terlebih dahulu. Ben sudah berjalan ke arah mereka dengan tangan terkepal. Melihat seakan ada aura hitam yang mengelilingi tubuh bosnya itu, Relly merasakan firasat buruk datang. Namun ia tetap mengikuti langkah bosnya itu di belakang.
"Berikan tas dan ponsel yang ada di tangan kalian!", Ben berhenti tepat di hadapan keempat anak muda itu. Ia menundukkan kepalanya sambil bersuara rendah. Lantaran topi koboinya, wajah Ben yang melihat ke bawah jadi tak terlihat. Sebenarnya saat ini sosoknya terlihat mengerikan bagi yang sudah mengenal lama siapa dirinya. Jika sudah mengetahui identitas pria itu, begitu mendengar suara mencekam yang ia keluarkan, pasti akan memilih untuk mundur dan melarikan diri. Sudah pasti nyawa mereka tidak akan selamat sampai di sini.
"Hey, pria aneh! Mudah sekali kau bicara! Cari sendiri dengan usahamu! Ini adalah barang kami!".
"Beraninya meminta seperti anak kecil saja!".
"Lihat saja topi anehnya itu! Gayanya seperti preman, padahal mungkin saja dia orang gila!".
"Pantas memang jika menyebutnya gila! Karena sudah berani meminta kepada kita!".
Keempat anak muda yang kisaran umurnya masih belasan tahun itu menertawakan Ben tiada habisnya. Yang memegang tas malahan sengaja mengalungkan tas itu di pundaknya. Dan yang memegang ponsel Rose malahan mengantunginya di saku celana. Mereka tertawa dengan gembira seraya mencela pria di hadapan mereka.
"Kalian,, ", Relly geram bosnya dihina seperti itu. Sayang sekali anak muda ini belum mengenal siapa mereka sebenarnya. Yang ia yakini, begitu tahu pasti keempat bocah itu pasti sudah kencing di celana saat ini. Ia ingin maju untuk memberikan pelajaran pada keempatnya, namun segera tangan Ben menghadang tubuhnya. Yang Relly pikir jika saat ini bosnya sedang begitu sabar.
dorr
dorr
dorr
dorr
"Aku sedang terburu-buru! Dan tidak sedang ingin bermain!", ucap Ben dingin setelah melepaskan pelurunya tepat di depan kaki keempat orang itu satu persatu.
Siapa bilang dirinya ini sedang sabar?! Ben hanya sedang menahan diri untuk beberapa saat saja. Sejujurnya ia juga sudah gatal untuk merampas saja tas dan ponsel milik Rose. Karena itu hanya sebuah pekerjaan yang mudah jika hanya menghadapi empat coro ini saja. Hanya seperti menjentikkan jarinya saja.
Keempatnya berjingkat dengan ekspresi terkejut yang konyol. Mereka tidak menyangka jika orang yang berada di hadapan mereka akan begitu serius. Kemudian salah satu di antaranya kembali mengeluarkan suara, " Halah! Paling itu hanya senjata angin biasa untuk menakut-nakuti kita!".
"Diam! Jika kau masih sayang dengan mulut kotormu itu!", bentak Relly yang kini sudah merubah wajahnya dalam mode serang. Ada beberapa persen wajah mengerikan Ben yang Relly miliki ketika pria itu mulai serius dan marah. Namun begitu saja sudah membuat keempatnya berpikir dalam hati masing-masing.
"Banyak bicara!", tiba-tiba salah satu anak muda itu maju untuk menyerang Relly. Tubuhnya condong ke depan sambil membawa kepalan tangan di samping telinganya.
Relly hanya bergeser satu langkah di detik terakhir, sehingga orang itu meleset dan terus maju hingga ia mengerem langkahnya sendiri kemudian berbalik. Bagaimana bisa begitu?! Dia keheranan sendiri!
Melihat temannya gagal melayangkan sebuah serangan, salah satunya lagi mencemooh diam-diam jika temannya itu payah. Lalu ia ikut maju untuk menunjukkan kemampuannya. Kali ini ia menyerang dengan sebuah tendangan menyamping. Namun tetap saja, Relly melakukan hal yang sama. Ia menghindar pada detik terakhir, sehingga kaki anak muda itu tidak jadi mengenai perutnya.
"Kau yang lakukan! Aku lelah!", Ben mundur satu meter dari tempatnya semula. Ia menemukan tempat yang nyaman untuk duduk merehatkan tubuhnya. Ia duduk sambil memperhatikan Relly dengan malas dan memainkan pistol miliknya yang isi pelurunya tinggal setengah.
Sambil meladeni keempat anak muda itu, Relly mendesah tak berdaya. Darimananya pula bosnya itu merasa lelah?! Padahal sedari tadi dia juga yang menyetir mobil. Bosnya itu tidak melakukan apa-apa yang berat sama sekali. Berkelahi pun kini ia yang meladeni keempat bocah itu! Tak ingin mendebat bosnya yang istimewa itu, Relly akan memberikan pelajaran kepada keempat bocah yang terus saja menyerangnya namun tidak pernah kena.
"Satu menit! Kau tahu kan kalau waktu kita tidak banyak!", Ben berbicara sendiri sambil mematik api ke ujung rokok yang sudah ia sematkan pada bibir menawannya. Di tengah itu semua, ia berpikir keras kemana wanitanya itu pergi.
"Sekarang giliranku yang menyerang!", pria itu menunjukkan seringainya yang berkilau. Ekspresi Relly kini berubah semakin kejam.
Sebenarnya keempat orang itu sudah mulai kelelahan karena sudah sejak awal mereka terus bergerak tanpa henti. Namun mereka tidak bisa berhenti sampai di sini untuk menyerah begitu saja. Rasa penasaran mereka terus meningkat lantaran Relly belum tumbang juga padahal mereka sekarang berempat. Mereka pun maju untuk menyerang pria itu secara bersamaan.
"Heh!", Relly menyentil hidungnya dengan ibu jari sambil mencemooh mereka dan menyeringai. Ketika keempatnya maju, Relly segera melompat sambil berputar seraya mengangkat kakinya setinggi dada. Ia berputar ke belakang sehingga tendangannya mengenai keempat orang itu tepat di wajahnya.
Dan mereka semua seketika tumbang, seperti daun kering yang berguguran ke tanah. Harus mereka akui jika tendangan Relly sangat kuat. Masih beruntung jika leher mereka tidak patah. Keempatnya saling memandang, dengan tatapan yang mereka sendiri tahu artinya.
"Lima belas detik lagi!", teriak Ben sambil mengepulkan gumpalan asap rokok ke atas kepalanya.
"Ayo maju!", sekali serangan lagi, Relly yakin bisa membuat mereka semua terkapar tak berdaya. Dengan gaya menantang ia mengajak keempat orang itu untuk bangun dan menyerangnya lagi.
Keempat pemuda itu bangun, kemudian mereka maju bersamaan. Relly sudah memasang kuda-kudanya untuk kembali membuat mereka tumbang. Tapi siapa sangka dengan apa yang anak muda itu lakukan.
"Apa yang kalian lakukan?!", Relly mundur satu langkah dengan wajah bingung.
Kenyatannya adalah, begitu keempat anak muda itu maju, mereka langsung duduk bersimpuh di hadapan Relly sambil meminta ampun. Mereka bersujud sambil berusaha menarik-narik ujung celana lelaki itu. Bahkan salah satu di antaranya sudah memerah matanya, sedikit lagi bocah itu akan menangis. Dan hal itu membuat Relly bingung sekaligus jijik. Makanya ia mundur sambil memandangi bosnya meminta pendapat. Tapi Ben hanya menatapnya sekilas, kemudian kembali menikmati rokoknya lagi dengan wajah acuhnya.
"Ini tas dan ponsel yang Tuan-tuan minta! Kami belum mengambil satu sen pun uang yang berada di dalamnya!", masih dalam kondisi bersimpuh, mereka menyerahkan tas dan ponsel milik Rose. Meskipun dengan tangan gemetar.
Mereka sepakat untuk menyerah karena mereka meyakini hal yang sama. Bahwa mereka telah mengusik orang yang salah. Jika Relly yang mereka hadapi saja bisa begitu kuat dengan gaya santainya. Maka bisa dijamin jika orang yang menembakkan pistolnya ke arah mereka adalah orang yang lebih kuat dan merupakan bos dari orang yang mereka hadapi. Kedua orang itu bukan sama sekali lawan mereka. Keempatnya menyadari hal yang sama Jika mereka masih sayang dengan nyawa mereka. Keempat bocah itu tidak mau timah panas milik Ben sampai menembus ke dalam tubuh mereka nanti.
"Katakan! Dari mana kalian mendapatkan tas dan ponsel ini?", tanya Relly seraya menyambar kedua benda itu bersamaan dengan kedua tangannya.
Mulanya tak ada yang ingin bicara lebih dulu karena mereka merasa takut. Mereka takut untuk sekadar membuka mulut mereka. Keempatnya saling sikut saling menuntut untuk membuka suara. Hingga Ben bangkit barulah salah satunya mau berbicara. Aura yang Ben memiliki terlalu kental untuk mereka takuti.
"Kami menemukannya di selokan di pinggir jalan raya, Tuan! Tidak ada siapa-siapa di sana, jadi kami berinisiatif untuk mengambilnya!", salah satunya berbicara dengan tangan gemetar di samping. Ia mengikuti gerak tangan Ben yang sedang mengambil tas dan ponsel itu dengan binar rasa gugup di matanya.
"Katakan dengan benar!", melihat Ben tidak bereaksi namun wajahnya kian menggelap, Relly pun kembali memastikannya lagi.
"Benar, Tuan! Kami tidak berbohong!", yang satunya lagi membantu temannya berbicara.
"Sebelumnya kami mendengar jika ada segerombolan orang yang datang untuk menangkap para tunas wisma! Orang-orang itu sudah datang beberapa waktu ini!", yang lainnya menambahkan dengan informasi yang ia miliki. Semoga saja bermanfaat dan dapat membantu menyelamatkan nyawa mereka.
Ben di sebelah Relly tengah meneliti barang apa saja yang berada di dalam tas wanitanya itu. Memang benar jika anak muda itu tidak mengambil uang Rose sama sekali karena masih terdapat beberapa lembar uang pecahan besar di kantung tas selempang itu. Ben juga memasukkan benda pipih milik kekasihnya itu ke dalam tasnya.
"Benar, Tuan! Kami tidak mengambil uang di dalam tas itu sepeser pun!", namun yang terlihat di mata mereka adalah bahwa Ben tidak mempercayai ucapan mereka tadi dan sedang memeriksa tas itu kembali. Sehingga mereka kembali bersuara dengan nada takut-takut untuk meyakinkan.
"Kau tahu kemana mereka membawa orang-orang pergi?", tanya Ben tanpa melihat ke arah empat anak muda itu. Tangannya masih sibuk merogoh sesuatu di dalam tas milik Rose. Wajah acuhnya malahan membuat keempatnya membeku dan kesulitan bicara. Sungguh aura yang menakutkan untuk dijangkau. Mereka semakin gemetar tatkala Ben mengambil pistol di saku celananya. Yang ternyata pria itu maksudkan untuk ia masukkan ke dalam tas juga.
"Mengganjal!", keluh pria itu disusul helaan nafas keempat orang di bawah kaki Relly. Ia barusan merasa pistol di kantung celananya itu membuat dirinya menjadi tidak nyaman saat mendudukkan diri. Jadi ia memilih untuk memasukkan pistolnya ke dalam tas saja untuk sementara.
Relly yang berada di sebelahnya pun ikut menghela nafas dengan tingkah bosnya yang sudah ia ketahui sejak lama. Mungkin ia sudah terbiasa dengan tingkah tak terduga bosnya itu. Namun tidak dengan anak-anak itu. Ia tahu dengan melihat wajah keempatnya yang terlihat pucat tadi.
"Tidak menjawab?! Hem?", Ben mengangkat wajahnya untuk melihat wajah mereka satu persatu. Sambil berpikir kemungkinan apa yang terjadi pada wanitanya itu.
"Jawab, Tuan! Saya akan menjawab!", seru salah satunya sambil maju setengah langkah dengan lututnya. Anak muda itu pun menampakkan jelas kegugupannya saat ini. Meskipun begitu ia tetap harus buka mulut demi keselamatan mereka semua.
"Aku pernah mendengar jika orang-orang itu pergi ke arah pelabuhan!", lanjutnya lagi sambil berharap nyawa mereka diampuni. Kemudian ia mundur lagi sambil memejamkan matanya erat, menelan ketakutan yang melanda dirinya.
"Ampuni kami, Tuan! Kami sudah mengatakan yang sejujurnya kepada Tuan-tuan!", seru mereka khawatir dan ketakutan ketika melihat Ben kembali memasukkan tangannya ke dalam tas. Mereka pikir, setelah mereka memberikan informasi mereka akan segera dihabisi.
"Bagi rata dengan temanmu!", mereka terkejut ketika Ben menepuk kepala salah satu dari mereka dengan beberapa lembar uang yang ternyata Ben ambil dari dalam tas milik Rose. Tak tanggung-tanggung, Ben mengambil semuanya.
"Imbalan karena telah memberikan informasi kepada kami!", Ben lanjut pergi setelah bocah itu menerimanya. Relly kemudian menyusul langkah bosnya itu seraya mendesah berkali-kali. Tingkah laku bosnya itu memang selalu membuat orang terkejut. Masih untung mereka tidak mengalami serangan jantung.
Sedangkan yang ditinggalkan, keempat anak muda yang wajahnya terlihat biru di pipinya. Saat ini mereka sedang menganga sambil menatapi punggung Ben dan Relly yang semakin menjauh. Mereka kembali saling memandang. Pikir mereka kembali sama. Orang yang mereka sebut orang aneh dan gila, sepertinya memang seperti itu kenyataanya. Yang mereka pikir jiwa mereka akan melayang, tetapi mereka malahan diberi uang. Benar-benar tidak dapat disangka! Kemudian mereka bersorak kegirangan sebentar, karena harus kembali merasakan sakit di pipi sebab tendangan Relly tadi.