Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Berkas penting



Di markas Harimau Putih, Relly tengah sibuk dengan beberapa hal di ruangan kerjanya. Seperti biasa, saat Ben tidak ada di markas, ia akan mendelegasikan seluruh urusan kelompok mereka kepada pria itu. Dan seperti sekarang ini, pria itu tengah berkutat dengan setumpuk berkas laporan kegiatan transaksi kelompok mereka selama beberapa waktu terakhir ini.


Tanpa sengaja satu tumpukan kertas jatuh tersenggol saat ia akan mengambil cangkir kopi yang berada di hadapannya. Sebuah foto juga ikut jatuh bersama tumpukan kertas itu. Itu adalah sebuah foto wanita berparas cantik. Sangat cantik bahkan bak seorang super model.


"Apa ini?", tangan Relly memungut tumpukan kertas itu dan juga fotonya.


Ia baca lembar demi lembar informasi yang terdapat pada beberapa halaman berkas itu dengan seksama. Lalu ia pandangi foto wanita cantik itu untuk beberapa saat. Matanya lantas langsung dipenuhi rasa kagum saat memandangi foto tersebut.


"Cantik sekali! Sayangnya kau sangat berbahaya!", puji Relly pada sosok di foto itu. Lelaki itu tersenyum penuh ironi.


"Kenapa berkas penting seperti ini bisa ada di mejaku! Seharusnya ini ada di meja Tuan Ben! Sebaiknya aku meletakkannya saja di sana. Takutnya ini adalah berkas yang penting!", pria itu pun beranjak dari tempat duduknya sambil membawa berkas tadi di tangannya.


"Apakah Tuan sedang mencari informasi mengenai kelompok mereka?! Kenapa aku tidak ingat, ya?! Tapi seingatku kelompok mereka tidak punya masalah dengan kelompok kita! Ah, yasudah lah! Lebih baik aku letakkan dulu saja di sana! Nanti saat Tuan kembali, aku akan menanyakannya!", gumam Relly sendiri sambil berjalan menuju ruangan bosnya.


Berkas itu bergerak ke depan dan ke belakang seirama dengan gerakan tangan Relly yang mengikuti langkah kakinya. Wajah wanita itu tertutup ibu jari Relly yang tengah memegangi berkas itu dengan erat.


"Gawat!", serunya dengan wajah panik. Dan tanpa sadar melemparkan berkas yang ia pegang ke meja bosnya begitu saja hingga foto wanita cantik terjatuh ke lantai.


"Bunga lilinya belum diganti! Sebentar lagi pasti Tuan akan meminta laporan apakah bunga ini sudah diganti atau belum! Ini benar-benar gawat!", satu tangannya menyentuh ujung kelopak bunga lili putih itu dengan gemetar. Baru kali ini ia harus repot karena sebuah bunga. Ia diberikan mandat yang sangat penting, bukan untuk mengurusi sebuah senjata khusus atau paling canggih misalnya, tapi ia diharuskan untuk mengganti setangkai bunga di meja kerja bosnya itu setiap hari. Kadang Relly bingung, dia ini asisten bos mafia atau seorang tukang kebun, sih!


Tidak mau repot sendirian, ia pun memerintahkan kepada bawahannya yang lain untuk segera mengganti bunga lli yang hanya setangkai ini.


"Biarkan saja, Tuan Relly! Tuan Ben tidak akan tahu jika bunganya tidak diganti! Bunga itu masih terlihat segar, kan?!", salah satu bawahannya memberi saran.


Sepertinya bukan hanya Relly saja yang malas untuk mengurusi masalah ini. Sepertinya para bawahannya pun merasakan hal yang sama. ia tersenyum kecut saat memikirkan bahwa dirinya ini memiliki pendukung.


"Kau pikir Tuan Ben bodoh?! Kau tahu kan jika Tuan sangat teliti! Dia pasti akan tahu jika bunganya tidak diganti! Cepat, lakukan saja yang ku perintahkan! Sebentar lagi Tuan pasti akan melakukan panggilan video untuk mengeceknya! Tamat riwayat kita semua jika Tuan masih melihat bunga yang sama!", dengan tegasnya Relly memperingati mereka semua. Bukan menakut-nakuti, tapi memang begitulah mandatnya. Setiap hari, ada ataupun tidak ada Ben di sana, setangkai lili putih itu harus diganti setiap hari.


Setelah melihat para bawahannya pergi, Relly mengembuskan nafasnya tak berdaya. Inginnya juga ia seperti itu, untuk apa mengganti bunga yang jelas-jelas masih terlihat segar. Sia-sia saja pikirnya! Tapi apakah bisa ia berkata demikian kepada bosnya yang seram itu?! Tentu saja tidak! Ben akan memberikan hukuman yang berat kepada mereka yang tidak menuruti perintahnya. Lalu, siapa pula yang mau dihukum oleh tuannya yang kejam itu?! Lebih baik melakukan hal konyol ini daripada dihukum yang hukumannya saja ia belum tahu!


Sibuk memikirkan pentingnya mengganti bunga lili itu, Relly sampai melupakan berkas penting yang tadi dibawanya. Ia baru teringat ketika tangannya tak sengaja menyentuh tumpukan kertas itu lagi. Lalu dengan acuhnya, ia hanya merapikannya dan meletakkannya di tumpukan berkas yang ada di meja itu. Bahkan Relly juga tidak melihat jika foto wanita cantik tadi, tidak ada bersama berkas yang baru saja dipegangnya.


***


Sementara di sebuah jalan raya, Ben sudah mengemudikn mobilnya kembali. Kali ini penumpang di mobilnya bertambah. Ada Bella dan juga Bervan sudah ikut bersama mereka. Karen tahu akan seperti ini, makanya ia membawa mobil milik Victor yang bisa menampung penumpangdan barang cukup banyak. Karena mobil yang dibawanya dari markas adalah mobil sport berwarna putih yang hanya bisa menampung dua orang saja di dalamnya.


Awalnya lelaki itu pikir akan menyenangkan dengan bertambahnya anggota keluarga. Apalagi ada Bervan yang memang sebenarnya Ben tidak memiliki pengalaman untuk bergaul dengan seorang anak kecil. Ia pikir akan seru ada bocah lelaki di sekitarnya.


Tapi kenyataannya adalah, anak kecil akan tetap menjadi anak kecil. Mereka cerewet dan berisik. Mendengar ocehan Rose saja kepalanya rasanya mau pecah, ditambah lagi dengan ocehan Bervan yang tiada hentinya. Mereka bahkan bernyanyi bersama di dalam mobil itu dengan suara yang kencang. Gendang telinga Ben rasanya sudah akana meledak sebentar lagi. Tapi ia tak berdaya, lelaki itu hanya menggertakan giginya sambil memperluas rasa sabarnya yang biasanya sempit.


Rose melirik ke samping, ke arah Tuan seramnya yang sedang mengemudi itu. Ia tertawa riang bernyanyi bersama Bervan. Tapi ia juga menyembunyikan senyum puasnya. Kapan lagi dia punya kesempatan untuk menyiksa kesabaran Tuan seramnya itu?! Rasanya sungguh sangat menyenangkan! Haha,,


***


Setelah puas bernyanyi bersama, akhirnya Bervan terlelap juga karena kelelahan. Anak kecil itu tidur pulas di pangkuan ibunya. Dan akhirnya Ben bisa mendapatkan ketenangan juga di dalam perjalanannya. Melihat wajah senang Tuan seramnya itu, Rose tertawa geli di dalam hati. Saat ini mereka masih di dalam perjalanan. Namun Ben telah menginformasikan jika lima belas menit lagi mereka akan sampai.


"Apakah kakakmu akan menerima kedatangan kami?", tanya Bella ragu setelah melihat Rose menolehkan kepalanya ke belakang.


Rose dapat melihat kebimbangan pada wajah wanita itu. Ia dapat mengerti hal ini. Mungkin jika dia yang jadi Bella pun akan merasakan hal yang sama. Meskipun sampai saat ini ia masih belum bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran kakaknya itu. Tapi Rose yakin, siapa juga yang tidak akan bahagia bertemu lagi dengan orang yang pernah mereka sukai. Apalagi hadir malaikat kecil di antara mereka. Entahlah, tapi saat ini Rose hanay bisa menghibur Bella terlebih dahulu.


Jika pun kakaknya itu tidak mau menerima kedatangan Bella dan Bervan, maka dia akan memaksa kakaknya itu sekuat tenaga. Ia pikir, kakaknya itu hanya memerlukan waktu untuk menerima semua kenyataan ini.


"Jangan khawatir berlebihan seperti itu! Tenang saja, kakakku tidak jahat seperti ibu tiri!", Rose menggenggam tangan Bella seraya tersenyum.


"Ya, benar! Tapi dia cerewet seperti ayah tiri!", Ben menimpali di tengah kegiatan mengemudinya.


Meskipun wajah pria itu acuh dan datar-datar saja, tapi ucapan pria itu sontak membuat Rose tertawa yang disusul oleh Bella.


"Benarkah? Ku pikir dia cukup dingin dan selalu terlihat keren!", ucap Bella masih tertawa. Ia tidak menyangka jika Victor yang ia kenal dikatakann cerewet oleh temannya. Karena Victor yang ia kenal cukup pendiam dan kalem. Makanya ia bisa sampai suka dengan pria itu.


"Ku pikir juga begitu, sih!", tambah Rose dengan wajah nyinyir. Jika diingat-ingat kakaknya itu memang agak cerewet. Dan hal itu membuat Bella semakin tertawa.


"Sebenarnya kalian itu sama saja! Kakak beradik cerewet! Jika sudah bersama dengan kalian, kadang kepalaku rasanya mau pecah!", tambah Ben dengan nada mengeluh. Ia juga melirik sinis pada wanita di sebelahnya.


"Jadi aku ini cerewet, hah?! Memangnya Tuan tidak sadar kalau Tuan itu juga cerewet?!", Rose berkacak pinggang dengan wajah kesal. Hey Tuan, tolong berkacalah! Sebenarnya siapa yang cerewet di antara mereka ini?!


"Memang benar kau cerewet! Kau saja yang tidka mau mengakuinya!", timpal Ben dengan wajah acuh khasnya. Ia tidak memperdulikan wajah kesal wanita itu.


"Kau yang cerewet!", seru Rose tidak terima.


"Kau!", jawab Ben tak mau kalah.


"Jelas-jelas kau Tuan, yang cerewet!", Rose mencibir bibirnya. Ia benar-benar kesal.


"Enak saja! Kau berkacalah! Kau yang cerewet, bukan aku!", pria itu tetap tidak mau kalah.


Rose masih berkacak pinggang. Ia menggertakkan giginya menahan kesal. Sebenarnya siapa yang seharusnya berkaca di sini?! Hey! Kenapa Tuan seramnya ini malahan membuatnya kesal terus, sih!


Melihat perdebatan yang belum selesai juga, Bella mengeraskan tawanya. Wanita itu benar-benar terhibur sampai ia melupakan sejenak rasa gugupnya karena sebentar lagi akan bertemu dengan orang itu.


"Mama!", suara parau Bervan pun membuat tawanya sedikit mereda. Tidurnya terganggu karena suara berisik dari para orang dewasa di dalam mobil itu.