Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Kucing kecil yang menjijikan



Sudah hampir satu minggu baik Ben dan juga Rose tinggal di sini. Rose menempati kamar di lantai atas bersebelahan dengan kamar yang Ben tempati. Sedangkan Victor, sejak mobilitasnya dibatasi dengan penggunaan kursi roda, ia sudah memindahkan kamarnya ke kamar tamu yang berada di lantai bawah. Dan kamar utama yang biasa ia tempati merupakan kamar yang saat ini Rose pakai.


Selama waktu itu, selalu ada saja perdebatan di antara dua manusia itu. Keduanya sering kali terlibat konflik dan tak ada yang mau mengalah sedikitpun. Dan yang terhibur oleh pemandangan ini adalah Victor dan penghuni rumah lainnya. Mereka merasa rumah ini terasa hidup dan lebih hangat setelah kehadiran Ben dan juga Rose. Pertengkaran-pertengkaran kecil itu menghidupkan suasana rumah yang biasanya dingin dan hambar. Apalagi setelah penyakit Victor makin parah. Para pengurus rumah juga merasa senang, karena hal itu tuan rumahnya menjadi lebih ceria.


Dua hari yang lalu, dokter datang mengambil sampel jaringan milik Rose untuk mengecek tingkat kecocokannya dengan dengan milik Victor. Mereka sangat berharap bahwa itu akan memiliki tingkat kecocokan yang cukup tinggi, sehingga mereka bisa sesegera mungkin melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang kepada Victor. Rose sangat gembira, dan berdoa begitu banyak supaya hasilnya memuaskan.


Sedangkan kakaknya, pria yang ditetapkan sebagai pasien itu, malahan tersenyum pasrah. Entah kenapa instingnya mengatakan jika tidak ada harapan lagi baginya. Bukannya pesimis, hanya saja pria itu selalu mempercayai instingnya yang biasanya selalu benar. Victor sempat tersenyum kecut memikirkan hidupnya yang tidak akan lama lagi. Tapi melihat kegembiraan dan harapan Rose ia hanya bisa menyembunyikan hal itu dari adiknya.


"Apa yang kau pikirkan?", tanya pria bertopi koboi yang kini tengah duduk di sebelahnya. Melihat ke samping, temannya ia terlihat sedang tercenung akan sesuatu hal, maka Ben membuka suaranya.


"Rose!", jawab Victor singkat.


"Untuk apa memikirkan dia, adikmu sudah besar. Kau lihat sendiri bukan?! Dia bisa mengurus dirinya sendiri, bahkan melakukan banyak hal. Kau lihat sendiri, bukan?!", ucap Ben setengah kesal sambil lengannya menunjuk ke arah Rose yang sedang berkutat di dapur dengan wajah serius. Wanita itu bahkan tidak mengijinkan siapa pun untuk membantunya. Dan Ben entah kenapa terlihat kesal karena sikap sombong adik temannya itu.


Victor kembali menahan tawanya agar tak meledak. Setiap hari kegiatannya adalah seperti ini. Menahan tawa setiap kali Ben ataupun Rose mendengus kesal karena satu sama lainnya. Suasana rumahnya benar-benar telah menjadi hidup karena dua orang ini.


"Aku memikirkan kebahagiaan adikku, Ben!", Victor tiba-tiba serius.


"Setelah aku tiada nanti, siapa yang akan menjamin kebahagiannya, siapa yang akan melindunginya. Aku benar-benar tak berdaya saat ini!", Victor menundukkan kepalanya sambil menatap tangannya sedang memegang sebuah cangkir dengan gemetar.


"Hentikan!", Ben menghela nafasnya kasar. Ia tak ingin lagi mendengar kalimat-kalimat yang menyakiti hati dan telinganya. Karena bukan Ben sekali, untuk mengucapkan kata-kata yang melankolis nan romantis untuk menyemangati temannya itu.


"Tapi, instingku mengatakan bahwa ini tidak akan berhasil!", Victor kembali berbicara. Masih dengan suara yang sama, parau khas seseorang menahan tangisnya.


"Hentikan!", Ben sedikit menggeram. Suaranya sengaja ia tahan agar tak terdengar sampai ke telinga wanita yang sedang sibuk dengan kegiatannya.


"Jadilah lebih bersemangat jika kau ingin adikmu bahagia", Ben memperingati Victor dengan nada dingin nan tajam tapi tidak terlalu memberi tekanan.


"Kakak!", seruan Rose memecah suasana tegang di antara dua pria yang tengah bersitatap itu.


"Ada apa, Rose?", Victor menoleh dengan senyum ceria. Ia melupakan keadaan aneh tadi agar adiknya tidak curiga.


"Aku membutuhkan beberapa bumbu dan bahan sayuran. Aku keluar sebentar ya untuk membelinya?", tanya Rose dengan senyum manisnya berharap kakaknya akan setuju dengan idenya.


"Tidak!", jawab Ben tegas.


"Hey Tuan, memangnya kau kakakku? Aku kan bertanya pada kakak, bukan kepada dirimu!", seru Rose tidak terima.


Ben memalingkan wajahnya merasa benar dengan ucapan Rose barusan. Untuk apa juga dia yang menjawab. Sebenarnya Ben tiba-tiba merasa khawatir saja, instingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Hanya saja ia tak bisa mengatakannya langsung saat ini. Maka dari itu mulutnya refleks menjawab apa yang Rose katakan.


Victor melipat bibirnya untuk menahan senyuman yang akan terkembang. Ben dan Rose ini memang benar-benar bisa membuat suasana rumah menjadi hidup dan ramai. Tapi jawaban Ben seperti menyiratkan sesuatu pikir Victor. Benar juga, mungkin keamanan di luar tidak terlalu baik jika Rose keluar sendirian. Mengingat masih ada orang-orang yang mengintai dirinya sampai saat ini.


"Tulis saja daftarnya, nanti biar Paman Alex yang membelinya ya!", perintah Victor lembut tapi juga tak ingin dibantah.


"Tidak!", Rose berpura-pura kesal lalu membalikkan badan membelakangi mereka. Bibirnya ia sengaja kerucutkan, tapi ekor matanya seakan menunggu kakaknya mengiyakan permintaannya.


"Haah! Baiklah! Tapi biar Ben menemanimu ke sana", Victor menghela nafasnya sebelum mengalah dengan permintaan adiknya.


"Tidak!", seru Ben duluan.


"Ceh, sombongnya! Siapa juga yang mau ditemani olehnya", gerutu Rose dalam hatinya.


"Ti,, dak, kakak!", ucap Rose penuh penekanan sambil berkacak pinggang. Matanya menatap sebal ke arah Ben saat ini.


"Iya atau tidak sama sekali!", Victor memberikan pilihan dengan wajah santainya.


"Baiklah, ayo!", tiba-tiba Ben bangkit dan memberikan jawaban yang tak disangka-sangka.


Dengan cepat Rose memutar tubuhnya untuk memastikan bahwa ini bukanlah khayalan belaka. Tidak biasanya pria itu mau menuruti keinginannya. Biasanya apa yang ia ucapkan selalu bertolak belakang dengan apa yang pria itu inginkan. Mata Rose masih membulat tak percaya, lalu ia menatap kakaknya seakan bertanya. Kakaknya tidak menjawab, ia hanya mengedikkan kedua bahunya, isyarat bahwa ia pun tidak tau apa-apa.


"Dalam hitungan ketiga jika kau masih tetap di sana, maka tidak usah saja!", ucap Ben dingin. Pria itu sudah maju beberapa langkah ke depan.


"Kau mau kemana Tuan? Tadi kau bilang akan menemaniku belanja?", tanya Rose di sampingnya yang melihat arah langkah kaki Tuan itu malahan ke arah tangga.


"Kau ikut juga! Setelah ini baru kita berangkat ke sana!", kebiasaan baru Ben adalah menarik kerah baju Rose bagian belakang sampai wanita itu terbawa langkahnya yang panjang.


"Hey Tuan, lepaskan aku! Memangnya aku ini apa? Kucing kecil yang menjijikan atau apa? Lepaskan, ayo lepaskan!", Rose juga seperti biasa meronta sambil memegangi tangan Ben yang berada di belakang kepalanya. Sambil berusaha melepaskan tangan itu dari kerah bajunya.


"Kau lamban seperti keong!", sahut Ben acuh tak menghiraukan apa yang wanita itu ucapkan atau lakukan. Tangannya tetap mencengkeram kerah baju Rose, tak peduli wanita itu kesusahan berjalan saat menaiki tangga. Dan wanita itu sedang berusaha menaiki tangga dengan susah payah, menyeimbangkan diri agar tidak terjatuh sambil matanya melotot ke arah pria itu.


"Tunggu di sini!", Ben membiarkan Rose di luar kamarnya setelah melepaskan cengkeramannya pada kerah baju wanita itu dengan kasar hingga Ana sempat terhempas sedikit ke belakang.


"Dasar semena-mena!", sambil merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan Rose tak berhenti menggumamkan mulutnya kesal.


Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Rose sudah hilang kesabaran. Tangannya baru saja akan mengetuk pintu itu dengan keras bersamaan dengan wajahnya yang nampak kesal. Tapi,,, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Dan sosok pria itu keluar.


"Waaahhh!", tanpa sadar mulut Rose menganga lebar menatap pria itu dengan mata berbinar.


-


-


-


-


-


-


maaf ya baru sempet update πŸ™πŸ˜Š


diusahakan nanti malam update lagi ya


ditunggu aja,, oke


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


🌹wanita pertama presdir 🌹


karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti 😊


jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya 😁


love u teman-teman 😘


keep strong and healthy ya πŸ₯°