
Alis Rose berkerut dalam. Sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat kedua orang di hadapannya ini menjadi begitu kompak. Pertanyaan itu jelas langsung terbesit di benaknya.
"Biar aku saja! Aku yang tadi pertama bertemu dengan tamunya", ucap si pelayan teman Rose yang bernama Ara.
"Tidak, biar aku saja!", Bibi Maya menyambar nampan yang berada di tangan Ara.
"Tidak, Bibi! Biar aku saja!", Ara bersikeras menahan nampan yang ada di tangannya.
Kedua wanita itu saling berpandangan dengan tatapan penuh arti. Sesekali mereka saling menggeleng kecil dengan sambil mengernyitkan alisnya. Entah apa itu Rose tak terlalu ingin tau, pikirnya minuman itu harus segera diantarkan karena tamunya sudah menunggu lama.
"Yasudah, aku sajalah!", Rose mengambil alih nampan itu dengan paksa dari tangan kedua orang itu.
"Ja,,, ngan!", ucap Bibi Maya dengan suara yang makin melemah karena Rose sudah melangkah cepat keluar dari sana.
"Bagaimana ini Bibi? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Rose?", Ara benar-benar khawatir akan keselamatan temannya itu. Kejadian kapan hari antara Rose dan Ben sudah menjadi rahasia umum. Hampir seluruh pegawai villa itu mengetahui dan mendengar bagaimana seram dan kejamnya perlakuan Ben saat itu. Maka Ara yang saat itu tidak melihat langsung pun segera mengetahui bahwa tamu itu adalah pria seram yang berusaha menghabisi Rose pada saat itu, setelah melihat ekspresi ketakutan bercampur kekhawatiran pada mata Bibi Maya.
"Kita berdoa saja!", Bibi Maya berusia tetap tenang. Padahal di dalam hatinya itu sedang bergemuruh lantaran tak sanggup membayangkan hal buruk terjadi pada Rose seperti kejadian terakhir kali.
"Ayo kita susul dia!", ajak Bibi Maya yang sudah memulai langkahnya terlebih dahulu.
Langkah mereka berderap sangat bersemangat. Bukan apa-apa, tapi rasa khawatir mereka telah mencapai puncaknya. Mereka sangat menyayangi Rose seperti keluarga mereka sendiri, maka dari itu mereka akan berusaha keras untuk melindungi Rose yang merupakan keluarga yang mereka miliki di villa ini.
***
"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa Bibi Maya dan Ara bersikap aneh? Ada alasan apa sebenarnya? Aku sungguh benar-benar penasaran", gumam Rose sambil melanjutkan langkahnya membawa nampan itu ke arah ruang tamu.
Wanita cantik dengan seragam pelayan itu bersenandung ceria sambil membawa nampannya. Dan melodi yang menyenangkan itu tiba-tiba terhenti bersamaan dengan langkahnya. Minuman yang mengisi cangkir-cangkir yang ia bawa bahkan sempat bergoyang lantaran yang membawanya berhenti mendadak. Matanya menangkap sosok yang masih berdiam diri di benaknya. Masih hafal betul Rose siapa pria dengan topi koboi yang tengah melihat ke sekeliling ruangan itu.
deg
Tatapan mata mereka bertemu. Seperti biasa, Ben menatap Rose dengan wajah datarnya. Tapi memang pada dasarnya pria itu memiliki tatapan setajam pisau belati, otomatis tatapan itu segera menyerang pertahanan Rose yang semula riang dan ceria. Wanita itu kini tengah gemetar hebat. Tangannya, kakinya, tubuhnya, semua bergetar. Matanya awas menatap ke arah Ben, dan jelas ada rasa ketakutan di sana. Bibirnya membuka dan menutup dengan gemetar. Ia masih ingat betul kejadian kapan hari yang membuatnya hampir saja mati. Suaranya yang tersekat membuatnya tak dapat meminta pertolongan kepada siapapun. Rose ingin sekali menjerit dan kabur dari tempatnya berdiri. Tapi,, tatapan pria itu seperti magnet yang malah membuat kakinya bergerak maju tanpa sadar.
"Ro,, Rose!", seru Bibi Maya yang berakhir dengan panggilan lemah lantaran wanita yang ia panggil sudah berjarak sangat dekat dengan Ben dan Relly. Niatnya jika terkejar, ia akan menggantikan Rose mengantar minuman itu untuk tamunya. Namun nasib sial mungkin tengah menimpa wanita itu, mereka semua hanya bisa pasrah.
Rose sempat menoleh ke arah Bibi Maya dan juga Ara. Bahkan karena kisruhnya mereka berdua, beberapa pelayan lainnya tengah mengintip di berbagai sudut villa itu untuk melihat langsung bagaimana nasib Rose selanjutnya.
Masih dengan keadaan yang sama, tubuh gemetarnya berusaha bergerak dengan susah payah untuk meletakkan dua buah cangkir itu di meja. Bersamaan dengan itu pula, Bibi Maya berjalan mendekat ke arah mereka diikuti oleh Ara di belakangnya.
"Selamat siang, Tuan! Maaf jika saya lancang, seingat saya Tuan adalah temannya Tuan Ken, bukan? Tapi Tuan Ken tidak mengatakan akan datang ke sini. Jadi kalau boleh saya tau ada keperluan apa Tuan datang ke sini?", tanya Bibi Maya sopan. Tangannya yang menyilang di belakang membuat gerakan supaya Rose segera pergi dari sana.
"Ben! Namaku Ben!", ditanya apa Ben malah menjawab dengan menyebutkan namanya. Sebelum melanjutkan pembicaraan mereka, Ben ingin mereka tau dengan siapa mereka bicara. Tapi tatapan tajamnya, ekspresi dinginnya, membuat semua orang gagal paham jika belum mengenalnya.
"Baiklah, Tuan Ben! Apa ada yang bisa saya bantu?", dengan sabar Bibi Maya mengulang pertanyaannya. Toh dengan begini malah akan mengulur waktu, jadi Rose bisa dengan segera pergi dari ruangan ini.
"Aku mau dia!", sambil bersandar dan merentangkan satu tangannya ke atas sandaran sofa, Ben menunjuk Rose yang tengah mengendap-endap berjalan menjauhi mereka.
"Hey you!", seru Ben ke arah Rose yang tak menghiraukan panggilannya karena sedang asik melarikan diri.
"Hey you, yang sedang berjalan mengendap-endap ingin melarikan diri!", seruan Ben kini cukup jelas kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Dengan wajah polosnya, Rose menoleh ke kanan dan ke kiri. Hah, tak ada yang sedang berjalan mengendap-endap ingin melarikan diri seperti yang Ben ucapkan terkecuali,,,, kecuali dirinya.
Punggung Rose tiba-tiba menegang. Wajahnya kaku, tubuhnya kaku, bahkan sampai bibirnya pun kaku tak dapat berbicara. Dengan gerakan seperti robot, ia menoleh ke arah Bibi Maya dengan tatapan memohon.
"Bibi, selamatkan aku!", jeritnya dalam hati.
Bibi Maya menatap nanar ke arah Rose sambil mengedikkan kedua bahunya. Ia sendiri pun tak tau harus berbuat apa. Usaha yang terpikirkan sudah mereka jalani. Kali ini bila gagal pun ia belum memikirkan konsekuensi apa yang akan mereka terima dari tamu yang tujuannya itu masih menjadi misteri.
"Kau! Ke sini!", Ben menggerak-gerakkan telunjuknya supaya Rose kembali ke hadapannya.
Lagi, Rose memandangi Bibi Maya dengan tatapan memohon lalu bergantian ke arah Ara yang tak kalah gemetarnya dengan Rose saat ini.
"Tolong! Hentikan dia, Bi!", batin Rose memohon.
"Aku tak pernah mengulang perintahku.Tapi ini khusus untukmu,, ke,, si,, ni,,!", perintah Ben sambil menggeram. Ia merapatkan giginya pertanda bahwa kesabarannya mulai habis. Ya, Ben memang hanya mempunyai sedikit stok kesabaran dalam dirinya.
"Sekarang atau lehermu ingin merasakan hal yang sama seperti kapan hari?!", mata Ben mendelik bahkan hampir keluar. Ia sudah bangun dari duduknya, sabarnya sudah di ambang batas.
-
-
-
-
-
-
okeh, kisahnya Ben dan Rose segera dimulai,,jadi ikutin terus ya cerita ini,, dan maaf ya kalo updatenya masih sedikit-sedikit,, karena ceritanya Ana sama Ken beluk selesai di sana. Buat yang penasaran sama ceritanya Ana dan Ken bisa baca novel perdana aku yang judulnya "wanita pertama presdir" ya teman-teman 😊 karena di sana ceritanya Ben dan Rose dimulai
Jadi jangan lupa buat selalu dukung karya-karya aku ya dengan cara kasih like, vote sama komentar kalian.. okeh 😉
Love you teman-teman 😘
Keep strong and healthy ya 🥰