Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Kau memang tampan



Sebenarnya kedua pengawal itu sudah tak memiliki nyali. Hanya saja mendengar bos nya memberi perintah maka mau tak mau mereka harus menurutinya, karena bagaimanapun juga mereka masih bekerja untuknya. Dengan nafas yang sudah terengah-engah, keduanya maju bersamaan. Memberi serangan langsung ke arah Ben yang masih dengan Rose di dalam dekapannya.


Ben menerima serangan itu. Ia tak lagi menghindar, yang satu ia pelintir tangannya ke belakang lalu menggunakan kesempatan ini untuk memberikan tendangan yang sangat kuat ke arah dada dan perut pengawal yang satunya. Setelah yang satu tersungkur, maka yang ia pelintir tangannya segera ia berikan juga tendangan dari belakang hingga pria itu terjerembab ke lantai. Keduanya merasakan kekuatan yang Ben berikan tidak main-main. Tubuh mereka serasa remuk dibuatnya. Mereka yakini bahwa Ben bukan orang sembarangan. Bahkan mungkin bukan lawan mereka. Sangat jelas, pria itu sangat santai menghadapi mereka berdua, padahal tangan yang satunya tak pernah melepaskan wanita itu dari dekapannya.


"Di dunia ini, jika aku sudah menyebutkan bahwa dia milikku maka dia adalah milikku", Ben membalas ucapan Tuan Rin dengan mata yang siap mengoyak seluruh tubuh pria itu.


Dan di sampingnya, wanita itu sempat tertegun dengan ucapan yang keluar dari mulut Ben barusan. Baru kali ini, untuk pertama kali baginya ada seseorang yang begitu melindunginya bahkan mengklaim dirinya sebagai milik pria itu. Entah apa yang Rose pikirkan, yang jelas hatinya merasa hangat hingga menjalar ke matanya. Kini, mata wanita itu terasa panas dan hampir menangis. Bukan karena sedih, tapi karena ada rasa bahagia tersendiri yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


"Beraninya kau! Memangnya kau pikir siapa dirimu berani melawan di daerah kekuasaanku!", dengan sedikit nyali yang ia punya Tuan Rin berusaha menyerang Ben. Tapi sayang, kekuatannya hanya bagaikan angin yang menerpa pria itu.


Ben segera mendorong pria itu lagi ke bawah. Sambil mengusap air mata yang menetes dari pipi Rose, kakinya ia gunakan untuk menginjak tangan Tuan Rin di bawahnya.


"Kau bahkan membuat wanitaku menangis!", ucap Ben dengan nada yang terdengar kejam namun tatapannya melembut ke arah wanita di hadapannya.


"Cih!", Rose ingin tertawa di tengah tangisnya. Apa-apaan pria ini?! Bahkan ia tidak tau alasannya menangis dan malah menindas orang seenaknya.


"Tangan yang mana yang sudah berani menyentuhmu?! Aku akan membuatnya menjadi tak berguna!", dari tatapan lembut kemudian berubah menjadi tatapan penuh amarah saat mengingat pertama kali Ben melihat Rose berada di dalam dekapan pria itu. Kakinya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tekanan, hingga pria itu menjerit kesakitan.


Kedua pengawalnya yang sedari tadi menuruti perintahnya itu, kini sedang saling merangkul sambil ikut merasakan nyeri yang diderita oleh bosnya. Bunyi tulang-tulang patah pada jemarinya, membuat keduanya bergidik ngeri sambil melihat ke arah tangan mereka sendiri.


"Katakan, siapa dirimu?", tanya Ben tanpa menyurutkan nada kejam pada pria yang masih tertelungkup di bawah kakinya.


"Aku?! Heh! Kau telah berani mengusik pria yang menguasai kota ini", pria paruh baya itu masih tak menyurutkan kesombongannya. Padahal keadaannya sudah kalah banyak sekarang.


"Hanya kota! Heh! Tikus sampah!", Ben berdecak seraya mencibir pria yang masih saja memancing kekesalannya. Tapi Ben makin penasaran dengan identitas orang itu. Ia masih ingin melihat sampai mana orang itu akan memperlihatkan kesombongannya.


"Beraninya kau!", kepala Tuan Rin berusaha menoleh ke atas ke arah Ben namun dengan cepat Ben menahannya dengan kakinya.


"Aku adalah Rin Tama. Ketua geng mafia Harimau Putih di kota ini! Dan kau sudah berani mengusik geng mafia ini, maka kau akan berhadapan dengan Ketua Geng kami yang sebenarnya!", seru Tuan Rin di bawah dengan begitu bersemangat sambil menyebutkan identitasnya yang terasa hebat.


"Heh! Menarik!", Ben lantas mengangkat kakinya dari tubuh pria itu. Ia memberi kesempatan kepada pria itu untuk melihat dengan jelas siapa orang yang tengah dihadapinya saat ini.


"Sebaiknya Tuan Rin segera meminta maaf!", Manajer Toni menengahi dengan memberi saran yang paling benar. Karena jika Tuan Rin masih bertahan dengan sikapnya maka bos bagi dirinya sendiri akan bertindak untuk menghabisinya.


Manajer Toni tau sendiri desas desus yang mengatakan bagaimana kejamnya Ben terhadap musuhnya. Dan kali ini, Manajer Toni melihat Ben sudah menganggap Tuan Rin sebagai musuhnya karena telah berani menyentuh wanita miliknya. Maka demi kebaikan bersama Manajer Toni menyarankan hal itu. Karena ia mengenal keduanya, Tuan Rin adalah tamu VIP nya yang sudah berlangganan selama bertahun-tahun lamanya. Sedangkan Tuan Ben sendiri adalah seseorang yang tidak bisa ia langgar perintahnya. Bahkan mendiang Tuan Danu sendiri yang berpesan untuk mengikuti apa saja yang dikatakan oleh orang ini. Karena beliau sangat mempercayai Ben seperti anaknya sendiri.


"Cih! Minta maaf kepadanya?! Memangnya dia pikir dia siapa?!", sambil memegangi telapak tangannya yang sepertinya patah Tuan Rin masih menampilkan kesombongan dan ketidaksukaannya kepada Ben.


"Apa pria bodoh ini benar-benar tidak tau siapa yang sedang dia hadapi?! Hey, Tuan! Taun ini adalah bos yang sebenarnya!", Manajer Toni mencibir dalam hati.


Pun sama halnya dengan yang tersirat di wajah Rose saat ini. Kali ini semuanya bagai lelucon di mata wanita itu. Dirinya sungguh ingin menertawai pria maniak yang berada di hadapannya itu.


"Heh! Benarkah?! Berarti kau sudah pernah bertemu dengannya?! Atau melihat wajahnya?!", Ben tersenyum miring dengan tatapan licik di matanya. Beraninya orang itu mengatakan hal-hal yang membuatnya muak. Jelas,, tak banyak orang tau siapa dirinya atau bahkan mengenali wajahnya. Tidak sembarang orang. Tapi melihat tikus sampah ini mengatakan bahwa ia mengenal dirinya, maka Ban makin ingin membuat pria itu terperosok ke dalam ucapannya sendiri.


"Tentu saja! Aku bahkan punya fotonya!", jawab Tuan Rin dengan begitu bangga hati ia mengambil sebuah foto di dalam dompetnya laku ia menjulurkannya ke hadapan Ben dan Rose di depannya.


"Tanggung sendiri nasibmu, Tuan!", gumam Manajer Toni pelan. Ia sudah membantunya tadi. Tapi sekarang pria bodoh itu malahan membuat nerakanya sendiri.


"Foto?!", Ben mengernyitkan alisnya saat Tuan Rin menunjukkan sebuah foto yang memang merupakan dirinya.


"Hey, lihatlah! Benar bukan yang orang-orang katakan bahwa aku memang tampan!", ucap Ben pada Rose seraya mengarahkan dagunya pada foto yang pria itu tunjukan.


"Ya,,ya,,ya! Kau memang tampan, Tuan!", agak malas tapi tetap saja Rose mengatakan itu sambil menahan tawanya. Ia pikir, sejak kapan pria menyeramkan yang sedang mendekapnya ini berubah menjadi konyol begini. Rose sedikit melupakan kesedihannya.


"Ya, bosku memang tampan!", masih dengan sikap angkuhnya. Tapi sejenak matanya langsung membulat besar saat ia menyadari ada sesuatu yang salah.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya