Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Pertemuan yang tidak disangka



Semua orang yang diangkut bersama dengan Rose kini sudah dinaikkan ke sebuah kapal besar. Meskipun nurani mereka menolak, namun mau tidak mau mereka harus menerima paksaan itu. Mereka didorong dengan paksa untuk berbaris rapi di atas dek kapal.


Dan Rose kini sedang menekan traumanya dalam-dalam. Ia harus membuat tubuhnya mau diajak bekerja sama. Karena jika sampai serangan paniknya datang, bukan rasa kasihan yang ia dapatkan. Mungkin sesuatu hal yang lebih buruk, Rose bisa perkirakan hal itu. Maka dari itu ia tak ingin lepas dari pegangan Robi dan ibunya.


Rose mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia tidak menyangka jika ada orang sebanyak ini tadi bersamanya. Ada lima baris memanjang, sedangkan setiap baris memiliki delapan sampai sepuluh orang di dalamnya. Termasuk dengan dirinya, berarti jumlah yang mereka tangkap tadi mencapai kurang lebih lima puluh orang. Rose mencengkeram pegangannya pada pakaian ibunya Robi semakin kencang.


Hingga pada akhirnya mereka dipisahkan menurut gender. Sedangkan untuk anak-anak, mereka masih digabungkan dengan para wanita. Sehingga sampai saat ini Rose masih memiliki rasa aman, meskipun hanya tinggal beberapa persen saja. Di setiap langkahnya, Rose berjalan dengan penuh kengerian dan kewaspadaan sambil menatap semua orang. Robi dan ibunya pun sampai iba melihat tingkah laku wanita itu saat ini. Yang mereka yakin jika Rose pasti memiliki sesuatu pengalaman buruk yang tak ingin dijelaskan kepada siapa pun.


Kapal yang mereka naiki baru berlayar tak berapa jauh dari dermaga. Malahan seperti sengaja orang-orang itu menghentikan laju kapan besar ini di tengah lautan. Dari apa yang mereka dengar, orang-orang itu seperti sedang menunggu sesuatu datang. Tak mempedulikan hal itu, ibunya Robi mengajak Rose dan anaknya untuk banyak-banyak berdoa demi keselamatan mereka semua.


***


Ketika senja di tengah laut yang harusnya dinikmati dengan perasaan haru dan hangat, saat ini Rose tengah menikmati langit jingga itu dengan perasaan takut. Pasalnya saat ini para wanita tengah dipanggil dan nantinya akan dipilih berdasarkan postur tubuh dan wajah yang mereka miliki. Bahkan ibunya Robi pun tak luput dari pandangan mereka semua.


"Kau maju!", perintah salah satu orang yang matanya berbalut kacamata hitam. Di tangannya ada senjata laras panjang, dan benda itulah yang ia digunakan orang-orang itu untuk memaksa siapa saja untuk mendorong ataupun melakukan apa saja yang mereka inginkan.


"Ibu!", Robi memeluk ibunya dengan begitu erat, tidak rela jika mereka dipisahkan begitu saja. Anak kecil itu bahkan sampai menangis histeris karena pria-pria berwajah kejam itu terus menarik ibunya meski ia sudah berusaha keras untuk menahannya. Dan begitulah senjata itu digunakan, kedua ibu anak itu ditodongkan senjata di kepala mereka. Sehingga mau tidak mau mereka harus dipisahkan dulu saat ini.


"Tenanglah, Robi!", Rose kemudian memeluk Robi untuk menenangkannya. Sebagai orang dewasa, Ia tentu tidak bisa terlihat lebih kalut dan payah ketimbang seorang anak kecil. Ia pun saat ini tengah berusaha menenangkan dirinya sendiri. Rose membelai kepala anak kecil itu dengan penuh rasa kasih sayang.


"Kembali! Dasar menjijikan!", seorang pria dengan kasarnya menendang ibu Robi ketika wanita itu berbalik untuk menghampiri Rose dan putranya. Orang-orang itu tidak senang dengan tampilan ibunya Robi yang kotor dan kumal. Bahkan wanita itu tercium bau tidak sedap dari tubuhnya. Sehingga buru-buru mereka merasa jijik dan mengusirnya.


"Ibu!", seru anak kecil itu tidak tahan dan segera menghampiri ibunya untuk ia dekap dengan begitu erat.


"Ibu tidak apa-apa, nak!", wanita yang kira-kira terpaut umur sepuluh tahun lebih tua itu lantas menerima pelukan anaknya. Kedua ibu anak itu larut dalam perasaan haru karena mereka tidak jadi dipisahkan. Barulah Rose bisa bernafas lega sekarang.


"Hey, kau, Nona!", namun tak bertahan lama perasaan nyaman itu hadir di sanubari mereka. Kenyataan yang mereka harus terima adalah bahwa kini Rose sedang dipanggil untuk maju.


Rose belum menjawab apa pun saat ini. Mendadak tubuhnya berubah menjadi patung dan tak dapat bergerak. Ia hanya saling bertukar pandang dengan ibunya Robi yang kini sudah memegangi pakaian yang Rose kenakan dengan sangat erat. Ia tidak rela dan tidak sanggup melihat Rose dibawa oleh mereka. Karena Rose wanita muda yang paling bersih dan paling cantik di antara mereka semua, jadi besar kemungkinan jika mereka akan membawa Rose pergi.


"Apakah kau tuli, Nona! Majulah selagi kami memintamu dengan cara halus!", salah satu di antaranya berteriak dengan nada tidak sabar. Jika seperti ini merupakan cara halus bagi mereka, lalu bagaimana dengan cara kasarnya?! Rose dan yang lainnya bergidik ngeri memikirkan hal ini.


"Ayo cepat, maju!", tak sabar, orang yang berteriak itu menarik lengan Rose hingga pegangan ibunya Robi terlepas dari pakaiannya. Rose terus menoleh dengan penuh harap pada ibu dan anak itu. Namun harapan yang ia rasakan nampak kosong. Hingga menerbitkan keputusasaan di dalam hatinya.


"Sepertinya kali ini kita bisa menyenangkan bos besar! Kita mendapat tangkapan emas hari ini!", ujarnya pada seseorang yang tengah duduk di tengah di antara mereka semua. Seorang pria yang kini tengah duduk dengan elegannya sambil menikmati kopi hitam di cangkirnya.


"Benar! Kita sungguh beruntung kali ini karena bisa mendapatkan wanita secantik ini!", Rose ditarik paksa kemudian dihempas sampai ia terduduk di pangkuan orang yang kiranya memiliki posisi di atas mereka semua. Dengan tatapan laparnya, pria itu menyisir wajah Rose dengan jari-jarinya.


Perasaan takut datang bagai ombak besar yang terjadi akibat badai. Di dalam hatinya, Rose saat ini tengah merasakan gelisah yang mulai melahap habis ketenangannya. Rose berusaha menyingkirkan wajahnya dari sentuhan jijik tangan kotor itu sambil memejamkan mata menahan ngeri.


Melihat penolakan Rose, semua lelaki berwajah kejam yang ada di sana malahan terbahak puas seakan menikmati ketakutan yang Rose hadirkan di wajahnya. Raungan mereka yang mengerikan membuat Rose segera bangkit dari pangkuan pria itu. Ia bergerak perlahan ke sudut sambil meringkuk takut.


"Di antara wanita yang pernah kita tangkap, menurutku Nona inilah yang paling cantik!", seseorang berseru penuh kebanggaan.


"Benar! Dan sepertinya Nona ini bukan berasal dari golongan mereka. Karena Nona ini terlihat bersih dan cantik. Tidak seperti mereka yang kotor dan bau!", ada rasa syukur sebenarnya di tengah kalimat-kalimat itu bagi mereka yang sama seperti Robi dan ibunya. Mereka semua jadi tak terlihat dibandingkan dengan Rose yang memang berbeda dengan mereka semua. Rose bagai berlian di tengah tumpukan kaca bekas yang sudah usang. Dia bersinar sendiri sedangkan yang lain nampak suram. Meskipun begitu, mereka jadi terselamatkan dari satu bahaya yang mereka tidak ketahui.


"Lalu, bos! Bisakah kita bermain dengannya, nanti? Sayang sekali jika kita tidak mencicipi wanita cantik seperti ini, kan!", ada tatapan buas dibalik kacamata hitam pria itu tatkala mengumandangkan peringatan keras yang langsung mengenai alam bawah sadar wanita yang mereka maksud.


Ia menyeka air mata yang mendadak mencair dari matanya, bercampur dengan keringat dingin yang terjun bebas dari dahi dan kepalanya. Jangan sampai ia terlihat terlalu lemah. Meskipun begitu, ia tidak bisa memungkiri jika saat ini ia ingin sekali berteriak, menjerit meminta tolong pada seseorang. Bagaimanapun juga dirinya hanyalah seorang wanita biasa. Rose sangat membutuhkan Ben saat ini. Ingin sekali Tuan seramnya itu muncul dan menyelamatkannya sekarang.


"Bawa dia! Suruh dia untuk membersihkan diri! Lalu siapkan pakaian yang paling seksi. Bos besar pasti akan senang dengan tangkapan kita kali ini!", perintah pria yang merupakan bos di antara mereka semua.


"Sedangkan untuk yang sudah kita pilih, pisahkan mereka di tempat berbeda!", tambahnya lagi sambil menyeruput kopi hitamnya.


Anak buahnya mulai bergerak menggiring beberapa wanita yang sudah mereka pilih sebelumnya. Sedangkan dua yang lainnya membawa Rose yang masih berusaha melawan dengan sisa kekuatan dan keberaniannya.


***


Keluar dari ruangan itu, Rose berpisah arah dengan barisan para wanita yang terpilih. Barisan terakhir mereka menoleh ke belakang, begitu juga dengan Rose. Mereka saling memandang dengan tatapan prihatin kepada satu sama lainnya.


Entah apa yang akan terjadi pada mereka. Hanya saja nasib Rose yang paling jelas buruknya di antara mereka. Neraka seakan sebentar lagi akan menelannya bulat-bulat. Wanita-wanita itu menatap penuh rasa iba.


"Jalan yang benar!", hingga salah satu pria bersenjata yang mengawal mereka semua menodongkan senjata dari belakang. Memaksa mereka untuk mengakhiri pandangan iba mereka pada Rose. Dan mulai memikirkan nasib mereka sendiri.


Rose pun menoleh ke depan lagi dengan sedih. Lengan kanan dan kirinya dipegang dengan kuat, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri sedikit pun. Rose mendesah pelan ke bawah. Ia pasrahkan nasibnya kali ini. Rose tundukkan terus kepalanya ke bawah menikmati perasaan putus asa yang mulai merajalela di dalam lubuk hatinya kini.


Larut dalam perasaannya sendiri, Rose tidak menyadari seseorang berjalan dari arah berlawanan dengan dirinya. Seorang pria yang berjalan mantap penuh emosi, kini tiba-tiba meragu dan memperlambat langkahnya. Ia memperhatikan wajah Rose lekat-lekat sambil memperpendek jarak mereka.


Pria itu adalah Eric Rogh. Teman sekolah Rose yang juga merupakan putra dari Tuan Rogh yang telah menorehkan luka mendalam pada diri wanita itu. Luka yang tak terlupakan bahkan hingga menimbulkan trauma yang belum tersembuhkan di diri wanita itu.


Siapa yang menyangka jika mereka akan dipertemukan lagi?! Dan siapa juga yang menyangka jika mereka akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini?! Eric masih belum percaya jika wanita yang dibawa oleh orang-orang itu adalah wanita yang selalu ia cari-cari selama ini.


Ia menoleh dengan pasti ketika berjalan melewati wanita yang sedang menundukkan kepalanya itu. Sedangkan dua pria di sebelahnya menundukkan kepala memberi hormat kepada dirinya meskipun tidak menghentikan langkah mereka berdua. Masih timbul keraguan di dalam hati Eric mengenai wanita yang baru saja ia lihat. Benarkah itu adalah Rosenya?! Benarkah itu adalah wanita yang selalu ia harapkan masih hidup?!


Demi untuk memastikan lagi bahwa penglihatannya tidak salah, Eric menghentikan derap langkahnya di lorong itu. Ia membalikkan badannya sambil menyipitkan mata.


"Tunggu sebentar!", serunya tegas kepada mereka.


"Ada apa, Tuan?", mereka segera berbalik lantaran tahu jika tidak ada orang lagi di lorong ini selain mereka sendiri. Rose tak ingin mengangkat kepalanya. Wanita itu seperti sudah tidak peduli lagi siapa-siapa saja yang berada di hadapannya saat ini. Karena yang ia tahu hanyalah masa depan suram yang menantinya. Ia terus menundukkan kepala dengan pikiran berkabut.


Eric berjalan selangkah demi selangkah sambil memperhatikan wajah itu terus menerus dengan seksama. Kelopak matanya bergerak-gerak memindai wajah itu. Hingga ia berhenti tepat di hadapan Rose, dan wanita itu masih belum mau mengangkat wajahnya juga.


Yang Rose perhatikan hanya sepasang sepatu


mengkilap berhenti tepat di depannya. Tapi ia tidak berpikir sama sekali untuk mengangkat kepalanya. Paling-paling orang itu hanyalah salah satu pria kejam dari kelompok mereka, begitu pikirnya.


"Ada apa, Tuan?", salah satu di antara pria yang membawa Rose bertanya lagi sebab Eric masih saja tak bergeming.


"Kalian mau bawa kemana wanita ini?", tanyanya sambil memiringkan kepala untuk memastikan sedikit lagi bahwa benar itu adalah Rose.


"Wanita ini akan kami berikan kepada bos besar!", jawab salah satunya dengan mantap. Mereka merasa bangga lantaran bisa memberikan hadiah bagus kepada bos besar mereka. Jarang-jarang mereka menemukan harta karun seperti ini.


Namun,, yang tidak mereka ketahui adalah, seperti ada sebuah guntur besar baru saja menyambar tubuh Eric hingga ia bergetar hebat di tempatnya.