Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Tidak disambut



Mobil yang Ben kendarai akhirnya memasuki halaman rumah Victor. Jantung yang semula degubnya sudah mulai normal kembali, kini mulai berdetak tak karuan lagi. Telapak tangan Bella berkeringat, dia gugup tapi wanita itu berusaha menutupinya dari putranya itu. Ia tidak ingin membuat Bervan khawatir.


"Mama, kita sudah sampai?", tanya anak kecil itu dengan tatapan polosnya. Bervan menengadah, memandangi ibunya itu ketika mobil sudah benar-benar berhenti.


"Iya, Sayang! Kita sudah sampai!", Rose langsung menjawab dengan begitu riangnya sembari menoleh ke belakang.


Bella bisa menghela nafas lega karena pertanyaan putranya itu sudah dijawab oleh Rose terlebih dahulu. Ia hanya ikut tersenyum mengiyakan jawaban yang Rose berikan. Dan mata putranya itu pun sekarang terlihat berbinar sangat bahagia. Seperti memang anak kecil itu juga sangat menantikan hal ini.


Melihat keceriaan yang ada di mobil itu, Ben pun tidak berdaya. Ikut bergabung dengan tawa mereka, tentu saja tidak mungkin. Memangnya dia ini pria macam apa ikut bergabung dengan pembicaraan para wanita! Pria itu pun memilih untuk segera keluar mobil pertama kali. Kemudian menyusul Rose setelahnya. Wanita itu kemudian dengan semangatnya membukakan pintu untuk Bella dan Bervan.


"Ayo Bervan, kita turun!", ajak Rose pada keponakannya yang tampan itu.


Bervan mengangguk setuju dan menerima uluran tangan tantenya itu. Kemudian Bella keluar paling terakhir dari mobil.


"Hey, Tuan! Keluarkan dulu kopernya dari dalam bagasi! Apakah kau tega membiarkan kami para wanita yang membawanya?!", Rose lalu memanggil Tuan seramya yang sudah melangkah lebih dulu ke arah teras rumah. Ia berdecak kesal karena Tuan seramnya itu selalu saja tidak peka. Masa iya, harus dia dan Bella yang membawa koper berat itu sendiri!


Sebelum memutar tubuhnya, Ben memutar bola matanya malas. Benar kan apa yang tadi dia bilang! Wanita itu memang cerewet! Sebenarnya ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya, tapi ada empat koper besar di dalam bagasi itu. Makanya sekarang Ben bermaksud untuk memangil Paman Alex supaya bisa membantunya. Ia hanya malas saja banyak bicara. Lebih baik langsung bertindak saja, pikir pria bertopi koboi itu.


"Ayo kau bantu aku!", kebetulan saat ia akan berbalik, Paman Alex keluar dari pintu rumah. Kedua pria berbeda umur itu lantas berjalan beriringan menuju ke bagian belakang mobil.


Melihat Ben dan Paman Alex mulai menurunkan koper-koper milik Bella dan Bervan pun, Rose mengembangkan senyum puasnya. Wanita itu bahkan memamerkan senyum bangganya kepada Bella yang sebenarnya kehilangan kata-kata.


"Ayo kita masuk!", ajak Rose pada Bella dan Bervan kemudian. Wanita itu menggandeng tangan keduanya di kanan dan kiri. Melenggang bersama dengan perasaan riang sambil mengayunkan tangan mereka secara bersamaan.


Bella melirik Rose dari samping. Benar apa yang kakaknya itu katakan, adik dari Victor ini memang adalah orang yang sangat menyenangkan. Ia dan putranya bahkan disambut dengan tangan terbuka. Rose bahkan kelihatan sangat bahagia menyambut kehadiran mereka berdua. Dan hal itu membuat hati Bella benar-benar terharu karenanya.


Tapi ada hal yang membuat hati wanita itu berdenyut. Ia tersenyum pahit kala menyadari orang itu bahkan tidak menyambut kedatangan ia dan putranya. Victor tidak terlihat batang hidungnya sedikit pun sejak ia menginjakkan kaki di halaman rumah ini. Bella jadi merasa sedih dan mulai berpikir. Mungkinkah pria itu tidak menerima kehadirannya sejak awal?! Wanita itu pun menipiskan bibirnya pasrah dengan keadaan yang akan ada di depan nanti.


"Mama, sebentar lagi kita akan bertemu Papa!", suara nyaring Bervan menuntaskan lamunannya. Membuat Bella harus memaksakan senyumannya itu kepada putranya.


"Iya, Sayang!", ia mengelus pucuk kepala Bervan yang masih setinggi pinggangnya itu.


"Papamu pasti akan sangat senang bertemu dengan pria kecil yang tampan dan pintar seperti dirimu, nanti!", Rose mengusap-ngusap dagu Bervan kecil dengan wajah gemasnya.


"Dimana Kakakku, Paman?", tanyanya kemudian pada Paman Alex yang akhirnya sampai di belakang mereka. Saat ini, mereka semua sudah berada di ruang tengah.


Rose mempersilahkan Bella dan Bervan untuk duduk dulu. Dan meminta Paman Alex untuk membuatkan sesuatu. Sedangkan koper yang ada, dibariskan dulu di dekat sofa. Ben yang datang terakhir, lalu membariskan koper yang ia bawa itu bersama yang lainnya. Ia pun menghempaskan tubuhnya ke sofa tunggal yang masih kosong di sana.


"Sebentar, aku akan mencari Kakak dulu! Buatlah dirimu senyaman mungkin! Anggap saja rumah sendiri!", ucap Rose seraya tersenyum. Ia mengusap punggung tangan Bella mengusir kecanggungan yang ada.


"Tante, bolehkah aku ikut!", Bervan menahan tangan Rose ketika wanita itu baru saja berdiri. Mata polosnya menatap Rose dengan penuh harap.


"Tentu saja! Ayo!", wanita itu segera menggenggam tangan Bervan. Anak kecil itu melambaikan tangannya kepada ibunya dengan riang lalu ikut melangkah bersama dengan Rose.


Bella tersenyum tak berdaya melihat punggung putranya yang semakin menjauh itu. Ia mengedarkan matanya ke sekeliling bagian rumah yang dapat dilihatnya. Ia tersenyum tipis, jadi begini tempat yang ditinggali oleh orang itu! Meskipun seorang lelaki yang tinggal di sini, tapi ia merasa suasana rumah ini hangat dan nyaman untuk ia tinggali bersama dengan putranya.


"Semua ini berkat wanita cerewet itu! Setelah kedatangannya, rumah ini menjadi lebih hidup! Entah aura apa yang dimilikinya! Karena, saat pertama kali aku datang, aku merasa rumah ini begitu suram! Apalagi hanya seorang yang sedang sakit yang menempatinya! Aku sempat berpikir rumah ini bahkan seperti tak berpenghuni! Tapi setelah Rose datang, rumah ini terasa hidup dan benar-benar menjadi sebuah rumah. Hangat dan nyaman untuk ditinggali!", tutur Ben panjang lebar membicarakan Rose yang sedang tidak ada di sana. Memang benar, sekarang ia merasa seperti sudah memiliki rumah yang sesungguhnya berkat wanita itu dan juga ide Victor tentunya.


"Aku yakin Tuan tidak pernah mengatakan hal ini di depan Rose, kan?!", Bella menipiskan bibirnya menahan senyuman lebar yang siap terkembang.


"Huh! Bisa besar kepala dia nanti jika aku terus memujinya!", Ben menggerakkan bola matanya ke samping dengan wajah acuh khasnya.


"Kelihatannya Tuan sangat mencintai Rose, ya!", Bella menutup mulutnya yang sedang tertawa ringan. Sangat mudah ditebak jika pria ini sesungguhnya begitu banyak menyukai wanita itu.


Dan sekarang ia pun jadi tahu siapa rival yang kakaknya itu maksud. Ternyata orang ini! Memang benar tidak ada celah bagi kakaknya itu melanjutkan perjuangannya untuk mengejar Rose. Karena ia sendiri bisa melihat jika keduanya ini memiliki perasaan yang sama besarnya meskipun tadi mereka sempat beradu mulut lama. Itu hanya bumbu di antara hubungan kedua orang itu. Malahan, Bella merasa gemas dengan hubungan mereka berdua.


Ben tak menjawab dengan kata-kata yang jelas. Tapi kedua alisnya terangkat secara bersamaan sebagai jawaban. Wajah pria bertopi koboi itu terlihat memerah. Sebenarnya cukup canggung dan malu juga baginya untuk mengakui perasaannya itu terhadap Rose. Meskipun begitu, di dalam hati ia memang sudah sangat jatuh cinta kepada wanita itu. Ia memalingkan wajahnya yang sekarang terasa menghangat. Ia tak tahan ditatap seperti itu oleh Bella. Jelas sekali jika tatapan Bella itu sedang berusaha untuk membuatnya semakin malu saja.


"Lucu sekali!", gumam Bella sambil menahan senyum lebarnya. Ia menutup mulutnya dengan kepalan tangan, agar tidak terlalu kentara bahwa ia sedang menertawai pria itu.


"Mama! Lihat, aku bersama Papa!", seruan yang begitu bersemangat datang dari arah belakang Bella.


Dia yang semula sedang tertawa pun segera tertegun untuk beberapa saat. Lalu perlahan ia beranikan diri untuk menolehkan kepalanya.