
"Hei, Tuan!", teriak Rose karena kali ini layarnya yang berubah gelap. Tapi setelah memastikan, sambungan teleponnya ini masih terhubung. Maka ia mengulangi lagi panggilan kencang itu pada Ben.
"Ya, ya, ya!", Ben terlalu terkejut sampai ponselnya hampir lepas dari tangannya. Tadi ia sedang berkonsentrasi untuk mengendalikan juniornya agar menurut dan tidur kembali.
"Kau sudah pakai baju?", tanya Ben seraya membenarkan posisi ponselnya ke hadapan wajahnya.
"Yaahh,,, kenapa sudah?", ia memasang wajah kecewa saat sudah menatap ke arah layar ponselnya.
"Hey, kau ini kenapa jadi mesum begini, Tuan!", Rose mendekatkan wajah kesalnya ke arah layar.
"Kau duluan yang menggodaku, kan! Tadi kau mengangkat telepon hanya memakai handuk saja. Lalu sekarang kau sengaja memamerkan bibirmu itu untuk apa?! Jika bukan untuk menggoda diriku, kan?! Padahal aku tidak berpikiran macam-macam awalnya", Ben menganggukkan kepalanya berulang kali dengan wajah dan tatapan setenang mungkin. Ia tak ingin Rose menyadari dirinya yang juga gugup saat menatap bibir mungil merah muda itu.
"Awalnya?! Jadi maksudmu sekarang kau sedang berpikir macam-macam? Hah?!", nafas wanita itu pendek-pendek menahan kesal di dadanya. Pria ini sungguh tak tau malu. Pria itu berpikiran mesum ia tak peduli, tapi jika dirinya yang dijadikan objek maka ia akan menjadi marah karena hal ini.
"Aku juga tidak bilang begitu", sahut Ben lagi dengan santainya. Ia memamerkan senyumannya yang menjengkelkan itu.
"Jika kau ada di sini pasti aku sudah memukulmu sekarang!", ucap Rose geram sambil menunjukkan bogemnya ke layar.
"Heh! Memangnya kau berani?", Ben menaikkan salah satu sudut bibirnya. Sungguh wajahnya tengah meremehkan nyali wanita itu.
"Berani!", sahut Rose dengan begitu bersemangat.
"Yakin berani?", Ben mendekatkan wajahnya ke layar ponsel dan mengubah ekspresinya menjadi serius dan seram yang menjadi ciri khasnya.
"Ti,, tidak! Hehe", nyali perempuan itu seketika menciut kala Ben mengubah mimik wajahnya.
Ben tersenyum puas seraya menjauhkan kembali wajahnya dari layar. Ia mendengus sejenak mengejek nyali wanita itu yang hanya seujung kuku.
"Ah ya, ada apa Tuan meneleponku?", Rose baru ingat pertanyaan apa yang harus ia utarakan saat ini. Ia mengubah ekspresi takutnya menjadi wajah penasaran.
"Tidak ada apa-apa!", singkat Ben begitu saja.
"Lalu?", Rose menggeleng kecil sambil menaikkan kedua bahunya. Ia amat bingung jadinya. Pria ini memang suka sekali menjadi tidak terduga.
"Memang tidak ada apa-apa! Memangnya aku perlu alasan apa untuk menghubungi dirimu?", Ben mengangkat kedua alisnya malah melempar balik wanita itu dengan pertanyaan.
"Emmhh,, maksudku! Ku pikir ada hal penting yang ingin Tuan sampaikan kepadaku", begitu jawab Rose dengan wajah polosnya.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu? Apa ada hal yang ingin kau sampaikan kepadaku?", lagi-lagi Ben menjawab ucapan Rose dengan pertanyaan.
"Emmhh,,, apa ya?", Rose terlihat berpikir sambil memutar bola matanya ke arah atas.
"Tidak ada!", jawabnya lalu dengan cepat. Sepertinya tidak ada hal penting yang harus ia sampaikan kepada Tuan seram itu, sejauh ini semuanya berjalan lancar-lancar saja menurutnya.
"Sayang sekali,,,", pria itu memasang wajah menyesalnya dengan wajah berkerut dan satu tangan yang menyanggah dagunya.
"Padahal aku punya hal penting yang ingin disampaikan kepadamu!", tambah pria itu sambil memajukan tubuhnya ke arah layar. Wajahnya sudah berubah serius saat ini.
"Apa? Apa?", tanya Rose tidak sabaran. Ia sudah diselimuti rasa penasaran sekarang. Mungkinkah Tuan seram itu akan membahas mengenai masalah penculikannya?! Atau siapa dalang di balik penculikan itu?! Atau mungkin Ben sudah tau siapa musuh kakaknya yang ingin membalaskan dendamnya?! Rose sudah tak sabar, bahkan ia juga ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. Bermaksud supaya ia dapat memperjelas pendengarannya nanti.
"Ap,, apa?", Rose ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Ckk!", Ben berdecak. Ia kesal karena ia harus mengulangi kalimat yang sebenarnya membuat lidahnya menjadi kaku.
"Aku merindukanmu!", ucapnya lalu dengan wajah kesal. Dan sambungan telepon itu pun terputus. Layar ponsel wanita itu telah kembali ke layar utama.
Beberapa saat wanita itu masih mematung dan masih menatapi layar ponsel yang sudah berubah hitam semua. Lalu kesadarannya pun kembali. Ia juga telah menggunakan otaknya untuk mencerna kalimat yang Ben ucapkan tadi.
"Aaawww!", ia mencubit lengannya sendiri dengan sangat kuat.
"Ini bukan mimpi? Jadi benar ini bukan mimpi?", intonasi suara Rose makin meninggi dan wajahnya pun berubah menjadi sangat antusias.
"Aaaaaakkhhhh! Ini gila,,, ini gila!", teriak Rose begitu senangnya sambil memukul-mukul udara di samping tubuhnya. Hingga tanpa sadar ponselnya terpental ke atas ranjangnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?", Rose kali ini yang kalang kabut mencari-cari ponselnya sambil berpikir keras.
Ah, dia mendapatkan ide.
ting,,,
Sebuah pesan masuk pada ponsel milik Ben.
Aku juga merindukanmu, Tuan
pesan dari : Wanita milikku
"Aaaaaakkhhhh", sekarang giliran pria itu yang berteriak histeris.
Rose tidak tau saja jika sejak tadi Ben sedang mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu. Lidahnya begitu kelu saat ia harus mengulangi kalimat yang sama. Bukan apa-apa, dadanya terlalu mengembang hingga hampir meledak oleh detakan jantung yang tak kunjung mereda. Ia terlalu gugup dan bahagia. Hal itu terjadi secara bersamaan. Ia tak dapat mengendalikan dirinya hingga memilih untuk mengakhiri panggilan sebelum Rose melihatnya bertingkah lebih bodoh lagi.
Ben memejamkan mata sambil menengadahkan kepalanya. Bibirnya melengkung sempurna. Bahkan dari auranya saja terpancar bahwa ia sedang bahagia. Ia meremas dadanya tepat di bagian yang terdapat jantungnya. Jantung yang sedang memompa begitu cepatnya hingga wajahnya memerah.
"Tuan! Apakah Tuan baik-baik saja?", Relly mendobrak pintu secara tiba-tiba. Menghadirkan wajahnya yang ekstra khawatir dengan nafas yang putus-putus.
Tadi ia baru saja akan beranjak dari depan ruangan bosnya. Lalu tiba-tiba ia mendengar suara Ben berteriak. Pikirannya kalut, ia berpikir telah terjadi sesuatu pada bosnya itu. Maka ia putuskan untuk mendobrak pintu untuk mempermudahnya prosesnya memasuki ruangan itu. Tapi,,, sebenarnya juga pintu itu tidak dikunci, sih. Mungkin untuk menambah kesan heroik, ya. Tapi benar, jika ia sangat-sangat khawatir pada bosnya.
"Ya,, aku baik-baik saja!", Ben menoleh dan menjawab dengan wajah polos tak berdosa.
"Ada apa denganmu?", justru Ben yang bingung melihat tingkah Relly yang menurutnya aneh. Mendobrak pintu tiba-tiba, lalu bertanya seakan ada apa.
"Heh??", Relly meringis mendengar setiap kata yang keluar dari mulut bosnya. Apa-apaan ini?! Tidak ada apa-apa?! Dan sekarang ia jadi malu sendiri dibuatnya, karena telah membuat sebuah kehebohan yang tak jelas.
"Tapi tadi,,, ", sebelum Relly melanjutkan kecurigaannya yang mengarah pada saat Ben berteriak maka pria itu sudah mengucapkan alibinya.
"Aku berteriak karena melihat kecoa! Hih, dia sungguh menggelikan", Ben bergidik di tempatnya dan masih memasang wajah polosnya.
"Kecoa?!", Relly mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Kemungkinan ada kecoa mungkin saja iya. Tapi untuk takut pada makhluk terbang menjijikan dan kecil itu Relly kenapa ragu ya untuk percaya, ya.