Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Seperti pencuri



"Aku tau kau masih marah! Tapi jangan lupa tutup jendelanya! Kelelawar itu bisa masuk lagi kapan saja!", Ben memberikan saran tepat di depan pintu sambil tersenyum.


brrakk


Rose buru-buru menutup jendela kamarnya dengan keras, takut hal yang Ben bicarakan terjadi. Dan suara itu saja sudah cukup membuat pria itu makin melebarkan senyumannya.


Ben melihat dua tas belanja yang tadi tak sengaja terlepas dari tangannya, masih berdiri di lantai dengan wajah tak bersalah. Ia meraihnya dengan tatapan ragu. Lalu Ben memilih masuk ke dalam kamar di seberang kamar wanita itu.


***


Ben baru saja menyegarkan dirinya dengan mandi air dingin. Hanya cara ini yang ada dipikirannya sekarang untuk membuat dirinya dapat memiliki solusi supaya bisa mendapatkan maaf dari Rose. Ia telah menyakiti wanita itu begitu banyak. Jadi ia harus segera mendapatkan sebuah pengampunan dari wanita itu.


Ia masih bertelanjang dada dengan celana bahan hitam panjang. Duduk di pinggir ranjang, ia menatap ragu kedua bungkusan yang belum ia buka sama sekali. Ada sedikit rasa penasaran bergulir di dalam hatinya. Apakah ia intip saja benda apa yang berada di dalamnya?! Ben berpikir penuh keraguan.


🎢🎢🎢🎢


Tapi niatannya harus tertunda kala suara dering ponselnya terus bernyanyi di atas ranjang.


Pada layar benda pipih itu tertera nama Baz yang melakukan panggilan kepadanya. Ben mengernyitkan alis, menatap bingung layar pipih itu sebelum mengangkat panggilan orang tersebut.


"Halo", Ben yang pertama menyapa.


"Ben, bisakah kita bertemu sekarang? Ada hal penting yang harus ku tanyakan langsung padamu!", Baz tidak berbasa basi lagi dengan maksud dan tujuannya menelpon Ben malam ini.


"Aku juga memiliki urusan yang sangat penting sekarang! Sangat penting dan hanya aku yang bisa menyelesaikannya, tidak bisa diwakilkan", jadi menurut Ben saat ini masalahnya dengan Rose adalah sebuah prioritas. Jelas saja tidak bisa diwakilkan, mana ada permintaan maaf diwakili oleh orang lain! Yang ada, wanita itu pasti akan tambah kesal padanya.


"Benarkah?!", terdengar sedikit kecewa dalam suara yang Baz keluarkan.


"Ini mengenai Victor, Ben! Besok pagi aku sudah harus kembali ke negaraku untuk mengurus masalah di sana", Baz masih tetap tak mau kalah. Ia mendesak Ben dengan situasi yang ia punya.


"Begini saja, besok pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu di hotel untuk menuju bandara. Kita bisa sambil berbincang di perjalanan. Bagaimana?", Ben melakukan penawaran untuk masalah yang mereka punya. Untuk saat ini, sungguh Ben tak ingin menyia-nyiakan waktunya. Ia harus cepat menyelesaikan masalah ini dengan wanita di seberang kamarnya.


"Baiklah kalau begitu! Aku akan menunggumu besok pagi. Jangan sampai telat, kita harus benar-benar bicara", Baz mendesah. Ia merasa kalah dengan taktik yang ia punya. Pada akhirnya ia yang harus mengikuti aturan pria itu.


Setelah menutup sambungan telepon itu, Ben berpikir ulang untuk melihat isi kantung belanja itu. Ia urungkan niatnya, lalu memilih untuk mengambil pakaian yang ia tinggalkan di dalam lemari. Hanya sebuah kaus oblong berwarna hitam yang ia pilih. Cukup nyaman untuk ia gunakan malam ini. Meskipun yang ia sukai adalah setelan nyentrik dan topi koboinya, tapi apakah untuk tidur pun ia harus menggunakan pakaian dengan model yang sama?! Tentu tidak, bukan!


***


Saat ini di tangannya terdapat satu nampan penuh makanan dan dua kantung belanja yang menggantung di lengannya. Tadi saat ia turun, Victor menginfokan jika adiknya belum makan juga. Jadi dia berinisiatif untuk membawa makanannya ke atas saja. Mungkin Rose sedang kurang nyaman untuk makan di bawah sana.


"Rose, tolong buka pintunya! Aku membawa makanan untukmu. Kau belum makan malam sama sekali, kan?! Ayo keluar dan ambil makananmu!", Ben berseru agak keras tepat di depan pintu kamar wanita itu.


Hisshh!! Rose merasa telinganya hampir tuli mendengar teriakan Ben untuk yang ke sekian kalinya. Pria itu terlalu berisik dan tidak biasanya. Ia malas menemui pria itu lagi. Selain masih marah, ia juga masih menanggung malu untuk insiden kelelawar tadi. Mau ditaruh dimana harga dirinya ini?! Heh!! Tidak akan, Rose tidak akan membuka pintu kamarnya.


"Rose! Kau akan sakit nanti jika tidak makan sekarang! Ayo buka dulu pintunya! Kakakmu akan menghukumku jika kau tidak makan", membuat alasan palsu tidak dilarang kan dalam membujuk seseorang. Ben harap Rose akan luluh dengan ucapannya yang satu ini. Berharap wanita itu masih peduli terhadap dirinya.


"Masa bodoh! Itu urusanmu!", Rose berteriak sekencang-kencangnya dengan penuh emosi dari dalam kamar.


Wajah Ben masih tenang, namun matanya terbuka lebar mendengar teriakan Rose yang membahana di telinganya. Ya ampun, mau sampai kapan wanita itu marah padanya?! Ben mendesah sebentar. Walau bagaimanapun juga, kesalahannya memang tidaklah kecil, jadi wajar saja jika Rose masih memiliki perasaan kesal seperti ini padanya. Dan meskipun begitu, Ben tidak akan menyerah. Ia akan tetap berupaya untuk bisa mendapatkan pengampunan dari wanita itu.


"Rose! Maafkan aku! Maafkan aku karena telah menyakitimu! Aku akan terus meminta maaf sampai kau benar-benar mau memaafkan aku. Aku tau kesalahan yang telah ku buat sangat besar. Harusnya aku yang paling tau bagaimana kesedihan yang kau alami tentang kejadian seperti itu. Tapi,, tapi aku malahan melakukan hal yang makin membuatmu sakit hati. Aku tidak bermaksud melecehkanmu atau apapun itu. Sungguh Rose! Aku hanya,,, aku hanya,,, ", tiba-tiba pintu kamar dibuka. Dan Ben hampir tersungkur karena sebenarnya ia sedang menyandarkan keningnya pada daun pintu tersebut.


"Hanya apa?", wajah Rose begitu galak saat membuka pintu.


"Hanya,,, hanya,,,,", Ben meragu dengan apa yang ia ucapkan dengan mulutnya sendiri.


brakk


Pintu kembali ditutup setelah Rose mengambil nampan yang penuh berisi makanan dari tangan pria itu. Rose bertambah kesal karena pria itu malahan berkutat sendiri dengan pikirannya. Jadilah ia tinggalkan saja Ben yang sedang termenung. Tak lupa ia mendengus kesal pada wajah Tuan seram itu.


Ben mengangkat kepalanya tatkala pintu itu tertutup rapat kembali. Hah! Hatinya mencelos karena dia terperangkap oleh tindakannya sendiri. Diamnya saat Rose bertanya, pasti membuat wanita itu makin kesal. Dengan tubuh lunglai ia berbalik kembali menuju kamarnya. Pria yang selalu menang ini sedang dikalahkan hanya oleh seorang wanita. Untung saja tak satupun anak buahnya ada di sini. Jadi harga dirinya masih aman di depan mereka semua. Paling tidak masih ada satu hal yang membuatnya bisa tersenyum saat ini.


Tapi,,, ia urungkan niatnya untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Ide di kepalanya sedang berputar dengan sangat kencang saat ini. Sebelum ia menjadi lupa, sebaiknya segera ia tunaikan ide di kepalanya ini.


***


"Tuan, apa yang Anda lakukan?! Anda bisa jatuh jika tidak hati-hati!", Paman Alex yang biasanya tenang kini menjadi panik oleh tingkah Ben yang tidak biasa. Sedangkan Victor, ia duduk di kursi rodanya dengan dagu yang ia sanggah dengan satu tangan. Berpikir sebenarnya apa yang akan dilakukan teman lamanya itu.


Pria eksentrik itu sudah menimbang-nimbang, di bagian mana letak kamar wanita itu berada. Dan diperkirakan bagian jendelanya menghadap ke halaman belakang rumah ini. Kemudian tanpa bicara, pria itu mencari keberadaan tangga yang akan ia gunakan untuk memanjat. Jika dari pintu ia tidak dibukakan, maka masih ada jalan lain baginya untuk bisa masuk menemui wanita itu.


Ben sudah menyandarkan sebuah tangga pada dinding di bagian belakang rumah. Paman Alex dan Victor yang sejak awal curiga melihat gelagat aneh Ben pun menghampiri. Dan sekarang tugas pria paruh baya itu adalah memegangi tangga itu agar tetap seimbang.


Victor hendak bertanya, tapi melihat semangat yang membara pada mata temannya itu membuat ia menjadi urung. Nanti saja setelah masalah mereka selesai baru Victor akan bertanya. Lagipula melihat tontonan ini juga mengasyikkan pikirnya. Kapan lagi bisa melihat ketua geng mafia yang terkenal menyeramkan itu tengah bertingkah konyol layaknya seorang pencuri sedang memanjat dinding rumah targetnya. Haha


Ben sudah hampir sampai pada ujung tumpuan tangga lipat itu. Tapi ia masih belum juga mencapai jendela yang sekarang sedang terbuka. Ia berpikir sejenak, memperhitungkan jarak antara dirinya berada juga jendela kamar Rose yang paling dekat yang bisa ia capai. Sangat serius, hingga orang-orang yang berada di bawah menjadi penasaran.


"Apakah menurutmu itu akan berhasil?", Victor mengutarakan pertanyaannya saat Paman Alex menatapnya dengan wajah yang memiliki tanda tanya.


Setelah mendesah, Paman Alex pun menggeleng pelan sebagi jawabannya. Ia tidak tau jawabannya. Semua serba tidak terprediksi.


"Perlukah kita bertaruh?", Victor tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.


"Saya tidak berani, Tuan!", Paman Alex menundukkan kepalanya sopan.


"Hah! Kau benar-benar tidak seru, Paman!", Victor mendesah tapi melanjutkan senyumannya. Sungguh indah melihat wajah serius teman lamanya itu yang sedang berpikir keras. Bukan untuk menghabisi musuh-musuhnya, melainkan untuk mendapatkan hati seorang wanita.


"Hey, kau! Pegang ini baik-baik! Aku akan melompat!", Ben berseru pada Paman Alex di bawah.


Rose yang sedari tadi mendengar ribut-ribut kecil pada jendelanya pun mulai merasa penasaran. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mulai beranjak meninggalkan nampan makanan yang ia letakkan di atas ranjangnya itu. Alisnya berkerut dan bibirnya berkedut memprediksi apa yang terjadi di luar sana. Kakinya berjinjit juga dengan tatapan waspada.


Masih ada jarak sekitar setengah meter lagi antara kepalanya dan juga jendela itu. Ben sudah bersiap memasang kuda-kuda pada kakinya. Matanya penuh perhitungan dan tangannya terkepal penuh semangat dengan dua bungkusan yang masih bergelayut di sana.


hap


Ben mulai melompat dari tangga lipat itu. Tapi sayang, salah satu kakinya sempat tergelincir sehingga menyebabkan tangga itu terjatuh. Dan ia tidak bisa melompat dengan maksimal. Jadilah hanya satu tangannya yang bisa menggapai bingka jendela itu. Dan orang-orang yang berada di bawah tentu menjadi sangat panik saat ini.


-


-


**mohon maaf ya teman-teman cerita babang ben sama neng rose banyak liburnya πŸ™ niat ada, ide juga sudah ada, tapi sayangnya waktu yang ga ada,, sibuk ngurus anak jadi mata kadang udah kalah duluan buat nerusin nulis cerita ini πŸ˜…


semoga ke depannya aku bisa muasin kalian ya dengan update yang rajin lagi,, aku ga mau janji-janji,, aku cuma akan berusaha aja


terimakasih ya selalu nunggu ceritaku ini ya 😊


love u deh pokoknya 😘**