
prraang
Jendela kaca itu pecah akibat tangan seorang pria yang dengan sengaja menghantamnya. Ben, pria eksentrik yang selama ini memendam perasaannya kepada seorang Ana yang tak lain adalah putri dari mantan bos mafia sebelumnya itu, kini ia sedang melampiaskan amarahnya lantaran kabar yang baru saja ia dengar. Foto-foto bertebaran di lantai, itu foto-foto Ana dari saat pertama kali bertemu dengan Ken, di minimarket, di club malam, di jalan saat Ken membuntuti Ana hingga akhirnya mereka dekat dan resmi menjadi kekasih.
Hati mana yang tak terluka melihat orang yang dicintainya malahan dekat dengan pria lain. Sekeras-kerasnya hati yang Ben miliki, dia juga masih seorang manusia, nyeri dan perih benar-benar melanda di dalam sana. Hancur sudah semua harapan dan rencananya membina sebuah hubungan dengan wanita yang telah ia sukai semenjak wanita itu masih remaja.
Darah berceceran mengenai lantai dan beberapa foto Ana. Pria yang tangguh itu, meski kelihatannya prima secara stamina, namun sangat terlihat bahwa kini dirinya tengah amat rapuh. Sorot matanya terisi oleh kepedihan yang mendalam. Selama ini wanita yang datang dalam hidupnya, hanya sekedar untuk pemenuhan kebutuhan biologisnya saja. Ben masih laki-laki normal tentunya. Namun hatinya, hatinya selalu penuh oleh sosok Ana. Tak ada satu wanita pun yang pernah sekedar singgah dalam hatinya.
Saat ini ia menderita karena dilema yang harus ia hadapi. Tidak mungkin Ben menghancurkan kebahagiaan Ana yang nampak jelas di matanya. Sejak dulu, sejak Tuan Danu memutuskan untuk meninggalkan Harimau Putih, Ben juga memutuskan untuk menjaga Ana dari jauh. Ia sangat menyayangi Ana dan sebagai alibi, ia selalu mengatakan bahwa Ana bagaikan adiknya sendiri. Ana sangat bahagia saat ini, karena ia juga tau jika Ken adalah laki-laki pertama yang dicintainya. Bisa saja, Ben menghancurkan hidup Ken dengan menjentikkan jarinya, lalu merebut Ana ke sisinya. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan, lantaran kasih sayangnya yang berlebihan kepada Ana. Ia tak ingin kelak Ana akan membencinya.
"Tuan!", Relly yang merupakan asisten setianya menyentuh salah satu bahu Ben dengan maksud menyadarkan tuannya itu untuk berhenti melukai diri sendiri seperti ini. Relly adalah saksi betapa Ben sangat mencintai Ana. Dan saat ini, ia menjadi saksi betapa tuannya itu hancur karena patah hati. Pria gagah ini yang biasanya selalu menghancurkan orang lain, nyatanya sedang dikalahkan oleh sesuatu yang namanya cinta.
"Sudah cukup, Tuan!", tegurnya lagi saat dirasa ia tak mendapat jawaban dari tuannya.
"Diam!" bentak Ben penuh amarah.
"Tinggalkan aku sendiri!", perintahnya lirih.
"Tapi Tuan,,,,,", Relly masih khawatir jika tuannya itu akan terus melukai dirinya sendiri sehingga dapat membahayakan nyawanya. Jelas itu sangat terlihat dari sorot mata Relly yang dipenuhi gurat kekhawatiran.
"Aku bukan ingin mati, Relly!", Ben memperingati Relly untuk menuruti saja apa yang ia perintahkan. Ben sendiri tau apa yang harus ia lakukan. Saat ini ia ingin menumpahkan seluruh emosinya. Ia tak ingin jika saat nanti bertemu dengan Ana lagi, malah wanita yang ia cintai itu yang menjadi pelampiasan kemarahannya saat ini. Ben sangat menyayangi Ana, apapun yang terjadi.
"Baiklah! Saya akan menunggu di luar, jika Tuan membutuhkan sesuatu Tuan bisa langsung memanggil saya", Relly pamit lalu keluar dari ruangan itu.
Sudah dua jam Ben bergelut dengan perasaannya sendiri. Lebih tepatnya ia tengah meredam perasaannya saat ini. Setelah ia merasa cukup tenang, Ben membuka pintu ruangan itu dan langsung mendapati Relly tengah berdiri siaga di sana. Ben tidak terkejut, ia sangat tau selain setia, Relly juga salah satu orang yang paling peduli terhadapnya.
"Bawakan kotak obat!", perintah Ben padanya dengan ekspresi datar.
Dengan sigap Relly pergi dan kembali lagi dalam waktu yang tak sampai lima menit. Kinerjanya sungguh efisien, itu yang Ben sukai dari dirinya. Relly masuk ke dalam ruangan yang telah porak poranda, matanya melebar namun ia tak ingin berkomentar.
"Apa sebegitu dahsyatnya amarah seseorang jika sudah patah hati?!", gumam Relly dalam hati.
Ben sudah duduk di sofa panjang yang sudah sobek di sana-sini. Kedua tangannya ia ulurkan ke depan mengarah kepada Relly. Kedua punggung tangannya mengeluarkan darah yang tak sedikit, tapi ekspresi yang Ben tunjukkan seakan ia hanya mengalami luka gores yang tak berarti. Relly sudah membuka kotak obat itu dan akan memulai membersihkan luka-luka di tangannya.
"Ini akan sakit, Tuan!", Relly memperingati tuannya itu karena lukanya tidak kecil.
"Ehmmm", Ben hanya menggeram setuju dengan wajah yang seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.
Dengan telaten Relly mengobati luka tuannya, lalu di balutnya luka itu dengan perban. Ben menggerakkan kedua tangannya yang sudah dibebat kain putih sambil bergumam tidak jelas.
"Rapih sekali perbannya! Kenapa tidak sekalian saja kau buat pita di kedua tanganku! Mungkin aku akan jadi terlihat manis!", gerutu Ben sambil memperhatikan tangannya yang kanan dan yang kiri.
"Aku akan melepaskannya! Tapi sebelum itu aku harus memastikan dulu orang seperti apa yang akan mendampingi adikku!" ucap Ben lagi saat Relly masih terkekeh dengan ucapan Ben sebelumnya. Mendengar hal itu, wajah Relly berubah serius lagi.
"Saya akan mempersiapkan semuanya!", Relly mengangguk mengerti apa yang harus dilakukannya setelah ini.
Sebagai seorang Ketua geng mafia yang besar, kehadiran Ben selalu disembunyikan. Ia jarang sekali terang-terangan datang ke tempat umum. Lebih seringnya ia bertemu langsung dengan kliennya di tempat yang acak, atau mereka cukup berkomunikasi lewat sambungan telepon. Jika banyak mata yang mengetahui identitas Ben sebagai ketua geng Harimau Putih, tentu itu akan membahayakan nyawa dirinya maupun orang-orang yang berada di dekatnya. Hal itu juga yang membuatnya enggan mengenal wanita, ia tak ingin merasakan kehilangan. Karena menurut salah satu blog yang pernah ia baca, kehilangan adalah sumber dari sebuah kehancuran hidup jika kau tak mampu menanggungnya. Maka dengan kalimat itu yang terngiang di benaknya, Ben lebih memilih menjaga Ana dari kejauhan. Ia juga tak ingin Ana, wanita polos yang sangat dicintai oleh ayahnya itu terlibat ke dalam dunianya yang kejam dan kelam.
***
Dua hari berlalu, kini malam telah lewat menuju dini hari. Suara deru mobil memasuki sebuah mansion mewah yang sekarang tengah Ben sewa sebagai tempat tinggalnya sementara selagi ia memantau Ana di kota ini. Biasanya Ben akan berpindah-pindah karena ia tak ingin terdeteksi oleh siapapun. Kali ini, untuk beberapa waktu ini ia memilih mansion mewah ini untuk melihat dari kejauhan bagaimana Ana bahagia.
Ben membenarkan posisi topi koboinya saat ia keluar dari mobilnya. Wajahnya datar, tapi setelah sekian lama bersama dengan bosnya, Relly sedikit paham apa yang sebenarnya berada pada sorot matanya. Kesedihan, luka, namun juga ada kelegaan di sana. Seperti biasanya, Relly enggan bertanya. Ia akan mendengarkan jika bosnya mulai bicara. Tapi jika bosnya belum membuka mulutnya, maka Relly juga akan tetap menutup mulutnya sendiri.
Ben terus berjalan hingga melewati ruang makan, lalu naik tangga dan berjalan menuju kamarnya. Saking setianya, Relly terus mengekorinya di belakang. Tepat saat Ben menghentikan langkahnya untuk membuka kenop pintu, Relly menubruk punggungnya di belakang.
"Maaf Tuan!", mohon Relly sambil menundukkan kepalanya.
"Ah, aku lupa! Ternyata kau masih hidup rupanya!", Ben memijit keningnya kecil.
"Maaf Tuan, aku tidak melihat jalan", Relly menundukkan kepala sebentar sebagai tanda permintaan maaf.
"Aku ingin mandi! Kenapa kau mengikutiku sampai ke sini?! Apa kau ingin mandi bersamaku?", tanya Ben dengan wajah yang amat santai.
"Pertanyaan macam apa ini boss?! Jelas aku masih normal! Lebih baik aku mandi dengan kambing betina!", gerutu Relly dalam hati.
Tadi, Ben baru saja mengunjungi Ana di club malam miliknya. Niatnya hanya bertemu Ana, namun ternyata ia bisa sekaligus bertemu dengan Ken, pria yang dicintainya. Ben telah menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang itu saling mencintai. Ia akhirnya bisa bernafas lega karena telah mempercayakan Ana kepada orang yang tepat. Ben tak pernah salah menilai orang, apalagi dilihat dari sorot matanya pada Ana, Ben dapat menilai bahwa Ken tak main-main dalam mencintai adiknya itu. Tapi tetap saja, hatinya masih terkoyak menyaksikan secara langsung kemesraan wanita yang ia cintai dengan pria lain. Segera Ben sadar, ia memang harus segera memulihkan hatinya.
Relly mengangguk mengerti, ia paham apa yang tuannya pikirkan saat ini. Perasaan patah hati siapa yang bisa menanggungnya dengan sukarela? Bahkan pria kuat pun bisa lemah. Begitulah tuannya saat ini, tapi Ben jelas tak ingin menunjukkan kepada siapapun sisi dirinya yang satu ini. Bahkan kepada Relly pun.
Ia masih menunggu pintu kamar itu ditutup, lalu ia bisa beranjak ke kamarnya sendiri yang berada tak jauh dari tangga.
"Jadi kau mau mandi bersamaku?", Ben mengeluarkan kepalanya, hanya kepalanya saja. Melontarkan pertanyaan sepele yang sontak membuat Relly mengangkat kepalanya.
"Tentu saja tidak, Tuan!", Relly langsung mengibaskan tangannya di depan dada. Menolak pertanyaan Ben mentah-mentah.
"Lalu kenapa kau masih di situ?", Ben mengisyaratkan dengan dagunya supaya Relly segera pergi dari hadapannya.
"Baik, Tuan!", Relly segera angkat kaki dari sana tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Kenapa dia buru-buru sekali? Padahal tadi aku serius bertanya. Jika dia pergi bagaimana aku menggosok tubuhku?! Apa dia tidak tau jika tanganku masih sakit!", gerutunya sendiri dengan ekspresi manja sambil mendudukkan diri di tepi ranjang.
"Dasar tidak peka!", umpatnya lagi kepada Relly yang tidak tau apa-apa sama sekali. Umpatan itu lebih terdengar seperti Ben mengumpat kepada kekasihnya, bukan kepada asistennya.
***
Waktu berlalu begitu saja, banyak kejadian terjadi belakangan ini. Dimulai dengan kecelakaan yang menimpa Tuan Danu dan sekretarisnya Risa. Hingga yang paling mengguncang dirinya adalah saat Ana mengalami kecelakaan dan sempat koma. Ben hampir hancur dibuatnya ketika menyadari Ana tak kunjung siuman selama beberapa hari ini. Dan saat Ana terbangun, orang pertama yang dicarinya tetaplah Ken yang ia cintai. Ia meneguk sendiri rasa sakit hatinya, tapi ia juga tak akan membiarkan Ana jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam. Tekadnya untuk membahagiakan Ana sudah sangat kuat, apalagi sebelumnya ia juga telah berjanji pada Tuan Danu untuk menjaga dan melindunginya.
Beberapa hari Ana tinggal bersamanya, kesehatan Ana makin membaik. Hanya saja wajah Ana terus murung, lantaran ia sangat merindukan kekasihnya itu. Lalu tiba-tiba mereka mendapat kabar bahwa Tuan Danu telah wafat. Dikala dunia menyadari bahwa Ana telah meninggal sebelumnya, maka saat ini Ben yang akan melindunginya sementara. Ben benar-benar melihat kepedihan dalam hati Ana. Ia tak sanggup lagi melihat kesedihan yang datang berlarut-larut pada adik kesayangannya ini. Lalu Ben sudah memutuskan untuk melakukan apapun yang dapat membantu Ana membalaskan dendamnya.
Lalu saat ia membantu mempertemukan Ana dengan Ken secara diam-diam. Pria tidak tau malu itu, tiba-tiba melontarkan permintaan yang membuat mereka menganga. Awalnya pria itu tidak menyetujui Ana untuk membalaskan dendamnya dengan rencana yang telah mereka susun, tapi akhirnya Ken setuju dengan satu syarat, yaitu menikah dengan Ana keesokan harinya. Takdir terasa telah tersusun rapih bagi sepasang kekasih ini. Ben sudah terbiasa menekan perasaannya sendiri terhadap Ana. Saat ini yang paling penting adalah kebahagiaan adik tersayangnya.
***
Di hari pernikahan Ana, buket bunga yang dipegangnya itu membuatnya berpikir sejenak sambil menyeruput minuman yang berada di gelasnya. Ia telah duduk di kursi santai sambil menikmati sepasang pengantin baru yang tengah bercanda ria di pelaminan sana.
"Aku juga ingin bahagia seperti Ana", gumamnya sendiri dalam hati.
"Aku tau kau sangat mencintainya, kan?!", suara pria paruh baya yang berada di sebelahnya membuatnya menoleh.
"Matamu sangat jelas saat menatap Ana, hehe!", Tuan Reymond meneguk minumannya lalu terkekeh riang.
"Ana sudah bahagia, bung! Lihatlah! Sekarang saatnya kau yang mencari kebahagiaanmu sendiri", saran Tuan Reymond sambil menatap lurus ke depan. Ia bukannya tidak tau apa-apa. Selain sebagai pengacara keluarga Tuan Danu, ia juga merupakan sahabatnya. Tuan Reymond tau mengenai Ben yang sudah menyukai Ana sejak dulu. Namun ia tak berhak ikut campur dalam urusan itu. Ia hanyalah orang tua yang dapat memberikan saran sebijak mungkin untuk kaum muda penerus mereka kelak.
"Ya, kurasa begitu!", jawab Ben singkat. Sedikit bibirnya melengkung lalu tersamarkan dengan gerakan gelas yang akan menempel ke bibirnya.
-
-
-
-
-
-
**Maaf ya baru sempet update,,
Weekend kemarin author agak sibuk,, sekali lagi mohon maaf ya teman-teman βΊοΈ
Oke, sekarang sudah waktunya semangat update lagi. Tapi maaf untuk bab satu ini, author masih flashback tentang Ben dan Ana.. tapi untuk bab berikutnya author sudah mulai menyajikan cerita tentang Ben dan Rose.. bagaimana mereka bertemu lagi, tunggu kelanjutannya ya teman-teman π
Buat yang penasaran, atau belum baca cerita tentang Ana, bisa kalian baca di novel pertama aku yang judulnya "wanita pertama presdir", kalian bisa cari di profil aku..
Jadi tetep aku ingetin buat dukung karya-karya aku ya teman-teman dengan kasih like, vote sama komentar kalian okeh.. love u always, guys π
keep strong and healthy ya teman-teman π₯°**