Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Kucing kecil kelaparan



"Sudah! Ayo kita jalan sekarang!", setelah tangis Rose cukup reda. Maka Ben melepaskan pelukannya. Lalu memberikannnya sebuah kecupan singkat di pucuk kepala wanita itu. Hingga ia berakhir dengan memegang kemudinya.


Mobilnya sudah tancap gas dan pergi meninggalkan area itu. Tapi,,, pikirannya seakan masih tertinggal di sana. Dimana ia bisa-bisanya bertindak manis dan lembut kepada seorang wanita. Entah ini karena kemanusiaan atau apa. Tapi ia merasa melakukannya tulus dari dalam hatinya.


"Ini bukan diriku, sekali!", gumamnya dalam hati.


***


"Hey, apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi sekarang?", Ben membuka obrolan karena sedari tadi mereka hanya diam.


"Hey, aku bertanya. Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi sekarang?", masih berusaha sabar. Ben kembali bertanya karena Rose masih diam.


"Hey, apa kau tidak mendengarku? Aku bertanya,,,, ", pria yang batas kesabarannya sedikit itu mulai menaikkan intonasinya. Tapi ia urungkan untuk menyelesaikan kalimatnya lantaran orang yang ia ajak bicara malahan tertidur pulas di sampingnya.


Terdengar nafasnya yang mulai naik turun dengan teratur, tapi kadang tersendat seakan wanita itu masih menangis di dalam mimpinya. Sungguh, Ben ingin sekali mendekap tubuh wanita itu untuk menenangkannya. Entah pikiran dari mana, tapi itulah yang ia pikirkan saat ini. Mendengarkan pilunya Rose menangis tadi, bahkan sampai saat ini, tiba-tiba hatinya pun ikut teriris.


Apa yang Rose alami barusan pasti sangat mengguncang jiwanya kini. Tapi rasanya tangisan Rose lebih memilukan lagi untuk menghadapi masalah yang seperti ini. Tidak, bukannya Ben bermaksud menyepelekan masalah ini. Namun ia merasa bahwa ada banyak pilu dan sakit yang wanita itu rasakan sebelumnya, hingga bahkan di dalam tidurnya pun ia masih menangis.


"Tidak! Jangan,, jangan! Tolong lepaskan aku! Aku tidak ingin menikah dengan pria tua itu!", Rose mengigau sambil terisak keras. Di dalam mimpinya, Rose sedang berhadapan dengan Nyonya Mira dan saudara tirinya Mirabeth. Mereka menarik-narik tangan Rose untuk membawanya kepada Tuan Rogh di depan sana. Dan Rose mencoba meronta-ronta untuk melepaskan diri. Lalu tiba-tiba situasi berubah menjadi saat dirinya akan dilecehkan oleh pria tua busuk itu di dalam mobilnya. Selepas itu situasi kembali berubah saat tadi ia hampir dilecehkan oleh pria tak dikenal yang mengaku musuh kakaknya. Di kehidupan nyata, tangan dan kaki Rose mendorong-dorong serta menendang udara seperti sedang meronta-ronta.


Mimpi apa Ben semalam hingga bisa berubah drastis seperti ini. Ia menggelengkan kepalanya sendiri, menatap sendu wajah gadis yang sedang larut dalam mimpinya itu. Ia segera menepikan mobilnya karena khawatir dengan keadaan wanita itu.


"Hey! Bangunlah! Ada apa denganmu? Ayo bangun!", Ben akhirnya mengguncang kedua bahu wanita itu untuk menyadarkan dari mimpi buruk yang sedang dialaminya.


"Rose!", ia sedikit membentak saat memanggil namanya agar Rose segera membuka matanya.


"Hah!", benar saja mendadak mata Rose terbuka lebar lalu terengah-engah seperti akan kehabisan nafas.


"Tuan!", wanita itu langsung menari Ben dan meringsek masuk ke dalam pelukannya. Ia mencengkeram pakaian yang Ben kenakan dengan kuat. Tubuhnya bergetar hebat, bahkan tangisannya lebih pilu dari sebelumnya.


"Aku tidak mau! Tidak! Aku tidak mau!", Rose meracau di tengah tangisannya sambil menggelengkan kepala. Ia terlalu histeris saat ini.


Ternyata pilu itu menusuk sampai ke dalam jantung hati Ben. Sakit itu Ben pun ikut merasakannya. Ben, dia dengan kedua tangannya mendekap erat tubuh wanita itu dengan penuh perasaan.


Hey, ini benar-benar bukan dirinya. Ben mengumpat di sisi lain hatinya. Tapi sisi yang satu lagi juga berteriak untuk menenangkan kepiluan yang mendera wanita yang kini makin kencang tangisannya.


"Tenanglah! Ada aku di sini bersamamu! Jadi jangan takut lagi, ya!", Ben merayu dan membujuk wanita itu terus menerus, berulang kali sampai Rose mau berhenti dari tangisannya.


Oh, sungguh ini bukan dirinya! Sejak kapan toleransi kesabarannya pada seseorang menjadi meningkat seperti ini?! Sebenarnya Ben sangat penasaran akan hal ini. Tapi,,, ia bisa mengesampingkannya, nanti saja ia mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Sekarang yang Ben ingin tau adalah,,, hal apa yang telah dilalui oleh Rose sebelumnya hingga ia mengigau seperti itu. Menikah apa? Pria tua apa? Sepertinya Ben benar-benar melewatkan semua informasi tentangnya saat mencari tau dimana lokasi Rose berada pada saat itu.


Suara tangisan mereda, hanya sesekali terdengar tarikan nafas yang teratur di barengi dengan suara khas seseorang setelah habis menangis. Ben mengendurkan pelukannya. Ternyata Rose kembali tertidur, sepertinya ia cukup lelah menangis barusan. Perlahan Ben meletakan kembali tubuh Rose untuk bersandar di kursi penumpang di sebelahnya. Lalu ia lajukan lagi mobilnya ke suatu tempat yang mungkin bisa menenangkan guncangan yang saat ini tengah Rose rasakan.


"Relly!", sahutnya setelah panggilannya tersambung. Tadi ia segera merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.


"Kirim semua informasi tentang Rose Benneth kepadaku. Jangan ada yang terlewat meski satu titik pun. Secepatnya, mengerti!", kali ini ia memainkan peran sebagai seorang bos dalam nada bicaranya. Bosa yang arogan dan tak terbantahkan.


Ia letakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Kemudian kakinya menginjak gasnya lebih dalam hingga mobilnya pun melaju dengan lebih kencang. Ia menatap lurus ke depan dengan pisau runcing di ujung matanya yang siap membelah jalanan.


***


Desir pasir dan angin yang semilir membangunkan seorang wanita dari tidurnya. Rasanya ia sangat lelah, baik tubuhnya maupun pikirannya. Entah sudah berapa lama dirinya jatuh ke dalam alam bawah sadarnya. Yang jelas, saat ia sudah selesai mengerjapkan matanya hari telah menjadi senja. Terlihat dari semburat jingga yang menghiasi langit kala itu.


Ia menggeliat, melenturkan otot-ototnya yang terasa kaku karena tidur dalam posisi yang tidak nyaman dalam satu waktu. Ia juga menggerak-gerakkan wajahnya yang terasa kaku. Lalu ia menyadari bahwa ia sepertinya telah menangis terlalu lama hingga wajahnya terlihat kacau dan berantakan saat ia melihatnya dari spion di sampingnya.


"Baguslah jika kau sadar!", suara angkuh itu membuat Rose menoleh ke samping. Ia baru menyadari jika memang masih ada satu makhluk lain bersama dengan dirinya.


"Cekk!", Rose berdecak kesal lalu mencibir ke arah pria yang menurutnya selalu menyebalkan.


Dimana pun dan dalam kondisi apapun juga pria itu selalu menyebalkan. Angkuh sekali seperti dewa. Tapi kenyataannya kan memang dia seorang dewa, dewa pertempuran jika sudah masuk ke dalam medannya. Rose saja yang belum mengetahui hal itu. Ia masih menatap sinis ke arah Ben. Hingga,,,


kruuk,, kruuk,, kruuk


Suara perutnya membuat harga diri Rose jatuh seketika. Sontak ia langsung merutuki kebodohan tubuhnya itu yang tidak mengerti akan situasi dan kondisi. Tapi,, matanya memang segera menangkap sesuatu yang menggugah seleranya. Sebuah bungkusan makan cepat saji terpampang di depan matanya saat ini.


"Makanlah atau air liurmu akan segera membanjiri mobilku!", ucap Ben dengan wajah tenang dan santai. Tapi ya memang pembawaannya yang seorang ketua geng mafia itu, jadi apapun yang dilakukannya tetap saja terlihat menjadi angkuh dan arogan menurut Rose tentunya. Hah, masa bodoh! Bagi Rose mengisi perutnya lebih penting saat ini.


Seperti kucing yang kelaparan, Rose langsung menyambar satu bungkusan itu. Membukanya dan langsung melahap satu set hamburger berukuran sedang dalam dua kali gigitan dan ia juga menghabiskan sebungkus kentang goreng di sebelahnya. Juga beberapa kali tegukan minuman soda itu. Tak lupa ia sempatkan untuk bersendawa setelah mengakhiri semua sesi makanannya itu.


"Cekk! cekk! Kau sudah seperti tidak makan selama lima hari!", Ben menggeleng terus selama menonton Rose makan. Nafsu makan wanita ini ternyata besar juga, untung Ben sudah memakan bagiannya. Jika itu masih ada di sana juga, mungkin Rose tanpa basa basi akan memakannya juga.


"Hey, Tuan! Menangis juga butuh tenaga, kan! Aku belum makan lagi sejak tadi pagi, dan itu juga hanya dua helai roti. Kau lihat, sekarang bahkan sudah sore! Sebenarnya makanan yang tadi kau belikan bahkan belum cukup untuk mengisi perutku yang kosong tadi!", gerutunya seperti anak kecil.


"Cihh! Kau akan menguras uangku jika makanmu banyak begitu!", Ben berdecak namun ia tak dapat menahan senyumnya.


"Hey, Tuan! Aku tau uangmu sangat banyak. Jadi jangan terlalu pelit padaku! Termasuk senyummu itu, jangan pelit juga untuk tersenyum. Jangan lupa itu!", telunjuk Rose menunjuk-nunjuk udara. Berkata pada Ben sudah seperti ibu guru saja. Karena tadi ia melihat Ben yang berusaha menahan lengkungan di bibirnya terbentuk.


"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sudah bisa tersenyum sekarang?", Rose seketika diam. Ia lalu menundukkan kepalanya dalam. Ia kembali teringat kejadian apa yang telah menimpanya tadi.


-


-


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya ๐Ÿฅฐ