
Sebenarnya indera pendengaran Rose sudah menangkap suara sirine mendekat. Dan benar saja benda kotak putih yang bergerak itu melaju ke arah mereka berdiri. Rose memprediksi bahwa itu akan menjadi ramai di lobby. Jadi ia akan mengambil kesempatan itu untuk menyelinap pergi dari pengawasan pengawal itu.
Benar saja, mobil ambulan itu membawa seorang korban kecelakaan yang mengalami luka parah. Beberapa saksi dan juga keluarga korban yang mengikuti di belakang mobil itu turut menghambur sehingga membuat suasana menjadi ricuh.
"Bawa aku pergi dari sini!", pinta Rose dengan nada yakin.
Baz membalas dengan anggukan kepalanya. Melihat keyakinan penuh yang Rose miliki di matanya, membuat pria itu tak ragu untuk mengabulkan permintaan yang Rose ajukan tadi.
Pria itu sengaja membawa Rose masuk ke dalam kericuhan tadi. Mereka berkamuflase di tengah riuhnya orang-orang banyak. Pengawal itu jadi kebingungan mencari-cari dimana posisi nonanya berada. Ia meraup wajahnya frustasi, karena kehilangan jejak nonanya itu. Apa yang harus ia katakan nanti pada bosnya. Sungguh tugasnya kali ini, ia tau jika nyawanya menjadi taruhannya.
***
Di sisi lain halaman parkir rumah sakit, Baz dan Rose telah berhasil menyelinap. Dan kini keduanya tengah bersembunyi di samping salah satu mobil yang terparkir di sana. Baz mengintip sebentar untuk menilik situasi. Ia melihat pengawal itu pergi ke arah lain dengan wajah frustasi.
"Aman?", tanya Rose khawatir. Ia tidak ingin keinginannya kali ini menjadi gagal.
"Aman!", jawab Baz lirih dengan anggukan pasti.
"Hah, Syukurlah! Tapi aku benar-benar berterima kasih padamu!", akhirnya wanita itu bisa menghela nafas lega. Ada sesuatu yang ingin sekali dia lakukan. Tapi rasanya tidak nyaman jika ada seseorang yang terus mengawalnya. Gerakannya tidak bebas nanti.
Rose mulai beranjak dari sana. Baz pun mengikutinya. Mereka berjalan beriringan meski Rose sebenarnya nampak acuh dan tidak peduli. Suasana hati Baz sudah lebih santai. Ia sudah tidak lagi terlalu terbawa emosinya yang begitu menyalahkan dirinya sendiri itu.
"Siapa namamu?", Baz memulai perbincangan.
"Heh?", Rose baru tersadar jika sebenarnya ia berjalan dengan seseorang di sampingnya. Saat ini pikirannya kembali larut dalam kesedihannya, mengingat betapa parah penyakit yang diderita kakaknya. Juga bagaimana buntu pikirannya menemukan solusi untuk kesembuhan kakaknya itu.
"Aku Rose! Dan kau?", wanita itu melanjutkan obrolan ini sambil menyembunyikan ekspresi sedihnya.
"Baz! Panggil aku Baz!", Rose mengangguk mendengar jawaban pria itu.
"Apa tujuanmu melakukan hal ini? Bukankah seharusnya itu adalah pengawalmu? Jika nanti kau bertemu dengan orang jahat, bagaimana? Siapa yang akan melindungimu?", segenggam rasa penasaran yang mengusik pikiran Baz utarakan dalam bentuk pertanyaan.
Memang aneh bukan, jika seharusnya seseorang merasa aman bersama dengan pengawalnya. Namun yang dilakukan Rose kali ini adalah melarikan diri dari pengawalnya itu. Dan Baz merasa pengawal itu tidak merepotkan sama sekali.
"Aku,,, aku hanya ingin sendiri!", seru wanita itu bernada lirih sambil memeluk map coklat yang sedari tadi digenggamnya. Gurat-gurat kesedihan yang berusaha ia sembunyikan tadi, kini terlihat samar-samar. Meski Baz tidak tau alasannya, namun ia turut menyesal.
"Untuk apa?", Rose memasang ekspresi kebingungan yang juga menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk menatap pria itu.
"Kau bilang ingin sendiri, lalu dengan kehadiranku saat ini pasti kau merasa terganggu, bukan! Maaf", pria itu memasang mimik polos nan memelas.
"Aku tidak pernah bilang begitu! Tapi ngomong-ngomong, apa kau tidak memiliki tujuan?", Rose merasa bingung sebenarnya dengan maksud pria itu. Ia tidak bisa menebak jalan pikirannya. Sejak awal,, ia memang merasa sikap Baz terasa agak aneh padanya.
"Ah ya! Aku lupa jika dompetmu hilang", dengan sangat menyesal Rose baru mengingat hal ini.
Pria itu tidak berkata apapun. Ia hanya mengangguk menjawab pernyataan Rose barusan. Segan Baz jadinya setelah mendengar ucapan Rose yang menyatakan bahwa wanita itu sedang ingin sendirian. Ia jadi merasa hanya seperti pengganggu saja baginya. Tapi entah kenapa, kakinya itu seakan menuntunnya untuk terus mensejajarkan dirinya mengikuti setiap langkah wanita itu. Baz tidak tau alasannya.
"Begini saja! Kupikir kau bukan orang jahat. Jadi bagaimana jika kita berteman sekarang. Dan kau bisa menemaniku hari ini jalan-jalan", melihat wajah pria itu yang polos namun misterius, Rose merasa mungkin keputusannya ini akan baik ke depannya. Memang aneh orang itu, tapi Rose tidak menangkap gelagat mencurigakan dari dirinya.
Memandangi senyum ceria itu saat mengatakan bahwa dirinya tidak jahat, sungguh seperti palu besar yang menghujam dadanya. Baz tersenyum ironi, menertawai dirinya sendiri pada bodohnya tindakannya dulu. Belum lagi baru saja wanita itu mengajaknya berteman. Sungguh penampakan Rose kali ini bagaikan malaikat baginya. Tapi,, setelah nanti Rose mengetahui bahwa dalang dari semua deritanya adalah orang yang sekarang berdiri di hadapannya. Akankah Rose masih ingin berteman dengannya?! Atau masihkah Rose mau untuk sekedar mengenalnya?!
Baz menghela nafasnya kasar, ia belum siap untuk menghadapi situasi rumit itu nanti. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menerima jabatan tangan Rose dengan wajah meragu. Untuk saat ini, biarlah untuk saat ini ia menikmati indahnya pertemanan ini.
"Teman!", ia sedikit menipiskan bibirnya menyambut uluran tangan wanita itu.
"Ya, teman!", Rose juga tersenyum. Sangat tulus dan anggun senyuman itu. Bahkan Baz merasa, ia ingin waktu berhenti saat ini. Ketika ia disajikan makhluk cantik luar biasa di hadapannya. Begitu berkilau dan menyejukkan hati.
"Hey! Bisakah kau lepaskan tanganku!", Rose menggoyangkan genggaman tangan mereka yang tak terlepas. Sehingga lamunan pria itu berakhir begit saja. Bayangan malaikat cantik di hadapannya, menjadi sirna.
"Emnh,, maaf!", segera Baz menarik tangannya yang tak melepaskan tangan Rose. Ia lalu menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi canggung luar biasa.
"Bagaimana jika kita mencari pakaian dulu untukmu? Kau terlihat berantakan dan,,, bau! Hehe", Rose terkekeh sambil mengibaskan telapak tangannya di depan hidung. Ia hanya berusaha jujur, bukan.
"Oh ya?! Hehe", tambah canggung lagi wajah pria itu saat ini. Mengingat bagaimana buruknya ia mabuk semalaman, juga saat ini ia yang tidak memegang uang sama sekali. Baz lupa memikirkan dimana hilangnya dompetnya. Ia telah larut tentang semua hal mengenai wanita itu. Meski Baz masih memiliki ponselnya saat ini, tapi ia jadi benar-benar melupakan hal itu.
"Lain kali, aku akan membayar semua hutangku padamu!", pria itu berbicara dengan sangat tulus.
"Ayolah! Sebagai teman, kau tidak perlu terlalu sungkan!", Rose mengibaskan tangannya di depan mengisyaratkan bahwa ini bukanlah masalah besar baginya. Dan ia tidak ingin pria itu terlalu memikirkan hal ini. Toh mereka sekarang adalah teman, bukan.
Berjalan beriringan kembali, mereka berbincang ringan. Tapi pikiran Baz masih tertinggal pada kalimat terakhir yang diucapkannya pada Rose. Dia memang memiliki banyak hutang dengan wanita itu. Meski Rose belum tau, tapi Baz benar-benar berjanji akan membayar semuanya sampai lunas. Meskipun pada akhirnya mungkin Rose akan membencinya kelak.