Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Masa lalu versi Bella - 4



Sudah hampir satu jam Bella berkumpul bersama dengan teman-temannya. Sesaat ia melupakan kesedihan dan kebimbangan yang sebelumnya membelenggu hatinya dengan begitu kuat. Mengobrol, bersenda gurau, bahkan saling menghina, semua gelak tawa itu sedikit banyaknya sudah menghibur lara di hatinya saat ini.


"Apakah kau tidak ingin minum?", tanya teman Bella yang berada di sebelahnya. Namanya Felisya.


"Ketahananku terhadap alkohol sangat rendah!", ujar Bella malu-malu pada Felysia.


"Kau takut mabuk? Ayolah satu gelas saja, bagaimana?", temannya itu terus membujuknya.


Ia berpikir sebentar. Dengan satu gelas ini saja sudah pasti dirinya akan mabuk. Itu terjadi karena memang dirinya yang jarang sekali menenggak minuman beralkohol. Tapi untuk malam ini, ia ingin membebaskan peraaannya walau hanya sejenak. Sudah sampai di sini, sayang sekali rasanya jika tidak ia manfaatkan momen ini untuk bersenang-senang selagi kakaknya berada jauh di luar kota.


"Kau juga!", Bella mengambil dua gelas yang berisi penuh dari meja di hadapannya. Lalu ia berikan yang satunya kepada temannya itu.


"Cheers!", dua buah gelas kaca ditabrakan dengan sengaja hingga menimbulkan suara dentingan yang khas.


Bella langsung menghabiskan minuman itu dalam sekali tenggak. Sedangkan temannya, Felysia itu meminum miliknya dengan perlahan. Wajah Bella segera memerah dan ia merasa kepalanya mulai berputar-putar.


"Kau sudah mabuk?", tanya Felysia mengejek ketahanan temannya itu. Ia menyenggol lengan Bella seraya menggoda.


"Tidak! Aku belum mabuk!", jawab wanita itu begitu percaya diri, walaupun sebenarnya ia sudah merasa kepalanya terasa pusing sekarang.


"Kalau begitu, ayo minum satu gelas lagi!", seru Felysia terus memprovokasi Bella.


"Tapi jika aku mabuk, kau harus bertanggung jawab membawaku pulang dengan selamat! Kakakku akan mencarimu jika aku pulang dalam keadaan tidak utuh!", guraunya yang sudah setengah mabuk.


"Tenang saja! Aku pasti akan bertanggung jawab!", Felysia menganggukkan kepalanya berulang kali dengan senyum santai.


Bella mencari-cari pelayan untuk minta dibawakan minuman lagi karena semua minuman di meja mereka sudah habis. Lalu ia melihat ada seorang pelayang yang kebetulan berjalan ke arahnya denagn sebuah minuman di nampannya. Ia tidak dapat menilai orang itu mencurigakan sama sekali karena pandangannya pun sudah mulai buram. Tapi ketika dia akan mengambil minuman dari pelayan itu, seseorang sudah menyambarnya lebih dulu dan langsung menenggaknya sampai habis.


"Hey, Tuan! Kau mengambil minumanku!", teriak Bella tidak terima dengan wajah galaknya yang sedang mabuk itu. Ia kesal karena minuman yang sudah dinantikannya direbut oleh orang lain. Ia mengacungkan jari telunjuknya, bermaksud ke arah wajah orang itu, namun nyatanya malah udara kosong di sebelah wajah orang itu yang ia tunjuk dengan jarinya. Saat itu ia masih belum menyadari siapa sebenarnya orang yang berada di hadapannya saat ini.


"Bella,, wajahnya ada di sini! Kau menunjuk apa sebenarnya?!", Felysia membenarkan posisi telunjuk Bella yang salah ke arah wajah orang itu yang tengah menundukkan kepalanya ke bawah.


Tiba-tiba saja pria itu mencengkeram bahu Bella. Ia masih menundukkan kepalanya. Orang itu seperti sedang membuat tubuhnya sebagai topangan.


"Kau tidak boleh mabuk! Jangan minum lagi! Dengar! Jangan minum lagi! Dan kau harus segera keluar dari sini! Mengerti!", orang itu sedikit mengguncang bahu Bella yang dipegangnya agar wanita itu menangkap apa yang diucapkannya barusan.


"Memangnya siapa dirimu berani mengaturku seperti itu, huh?! Sekarang aku senang karena kesedihanku seperti menghilang", Bella tersenyum tidak jelas sambil menghempaskan tangan orang itu dari bahunya. Wanita itu masih dalam kendali alkohol saat ini.


"Bellena Peterson! Apa kau pikir dengan begini masalahmu akan menghilang begitu saja, huh?!", orang itu memegang erat kedua bahu Bella dan mengguncangnya berulang kali dan berseru keras.


"Tentu saja! Setelah ini masalahku akan hilang semua! Semuanya,,, semua kenyataan yang aku ketahui tapi tak satu pun orang mau mendengarkan aku! Apa kau tahu, orang itu tidak bersalah! Dia tidak bersalah, tapi Kakakku tidak mau mendengarkan aku! Kakakku sudah termakan oleh kebenciannya! Jadi aku harus bagaimana?! Aku harus bagaimana?!", tiba-tiba Bella berteriak kencang dengan tatapan nyalangnya ke arah orang itu. Kepedihan dan kesedihan yang ia tahan selama ini, tumpah ruah begitu saja bersama air mata yang mengalir deras di pipinya. Kenyataan yang ia bicarakan tentu saja mengenai Victor yang memang sebenarnya tidak bersalah dalam kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya itu.


Tentu saja keributan yang terjadi di antara mereka menyebabkan teman Bella yang lain menjadi penasaran dan mendekat ke arah mereka. Tapip, melihat bahwa Bella dan orang itu sepertinya saling mengenal, jadi Felysia menenangkan teman-temannya bahwa semuanya masih baik-baik saja. Sehingga mereka semua kembali ke tempat semula sambil sesekali menoleh ke arah Bella.


Semua beban yang ia simpan dalam hati sejak tadi terkuak lagi gara-gara semua ucapan pria itu. Memangnya dia siapa?! Seperti tahu semua masalahnya saja. Rasa sakit dan amarahnya meluap karena konfrontasi orang itu. Ia lalu menangis sejadi-jadinya. Dan tak lama, ia merasakan kehangatan melingkupi tubuhnya. Orang itu memeluknya dengan begitu lembut. Meskipun begitu, saat ini Bella masih belum dapat berpikir dengan benar karena dirinya masih dipengaruhi oleh alkohol.


"Ingat! Jangan minum lagi! Dan cepatlah pulang! Kakakmu pasti sangat mengkhawatirkanmu!", orang itu lalu melepaskan pelukannya. Dan untuk terakhir kalinya orang itu membelai kepala Bella dan menghadiahkan satu buah kecupan pada dahi wanita itu. Sebuah kecupan yang mendalam seakan ia tidak akan bertemu dengan Bella lagi.


Lalu mereka benar-benar berpisah seperti sepasang kekasih yang baru saja memutuskan hubungan. Dan wanita itu masih setengah sadar saat memandang bayangan pria yang makin menjauh dari dirinya. Hingga ia pun terduduk dengan pandangan kosong di matanya.


"Bella,, Bella,, apa kau baik-baik saja?", tanya Felysia yang mulai merasa khawatir dengan keadaan temannya itu. Ia mengguncang-guncang bahu Bella supaya temannya itu mau merespon ucapannya.


"Fel, maukah kau membantuku?", tanya Bella masih dengan tatapan kosongnya.


"Katakan saja! Jika tidak sulit, mungkin aku bisa!", kemudian Felysia ikut duduk laigi di sampingnya.


"Simpan ini! Jika ada dua pria yang mencariku, katakan padanya jika aku sedang pergi ke toilet. Aku akan segera menghubungimu untuk gerakan selanjutnya!", Bella melepaskan sebuah benda berukuran sangat kecil dari balik tasnya. Lalu ia serahkan benda itu ke tangan Felysia.


Sebenarnya Bella tahu apa yang anak buah kakaknya itu lakukan. Meletakkan pelacak seperti ini di tasnya, sungguh perbuatan yang terlalu kentara. Sepertinya anak buah kakaknya itu kurang cerdas. Atau memang dirinya saja yang terlalu nakal?! Yang jelas saat ini, ia tidak bisa membiarkan dua orang pria itu mengejarnya.


"Baiklah! Jangan lama-lama! Cepat kabari aku!", ujar Felysia seraya menggenggam erat benda berukuran sangat kecil itu.


Bella segera beranjak dari sana. Ia tak menghiraukan semua pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya itu. Tapi di belakang ia mendengar jka Felysia mewakilinya untuk menjawab. Dan mengatakan alasan yang sama seperti apa yang ia perintahkan kepada temannay itu bahwa Bella sedang pergi ke toilet.


Dari tempat yang ramai hingga ke lorong-lorong yang sepi ia berjalan mencari keberadaan orang itu. Victor, ia harus bertemu dengannya malam ini! Terlebih dengan semua sikapnya yang sangat lembut kepada dirinya, Bella menginginkan sebuah penjelasan saat ini. Apakah benar jika pria itu juga menyukainya?! Perasaannya terlalu menggebu-gebu untuknya terus berusaha mencari orang itu.


Hingga ia sampai di suatu lorong dan melihat dari jauh jika Victor saat ini sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang dandanannya sangat mencolok. Bella mengamati dari jauh. Tapi karena ia merasa penasaran, maka ia berjalan mendekat dengan sangat perlahan untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Aku memerlukan wanita yang memiliki ketahanan yang bagus! Seseorang menjebakku dengan dosis yang sangat tinggi! Aku sudah tidak tahan lagi!", Bella membekap mulutnya terkejut dan tak percaya. Victor bermaksud menyewa seorang wanita bayaran. Bisa dilihat jika saat ini wajah pria itu sudah merah padam. Victor bahkan membuka beberapa kancing kemejanya karena merasa kepanasan. Bella marah, Bella kesal! Ia tidak bisa menerima hal ini begitu saja!


"Bagaimana jika denganku saja, Tuan!", wanita paruh baya itu menggoda Victor dengan menyentuhkan tangannya ke dadanya yang terbuka.


"Aku takut pinggangmu akan patah!", sahut Victor dingin.


"Huh!", wanita itu mendengus kesal. Tapi tak jauh dari sana, Bella yang masih mencuri dengar sedang tertawa senang.


Tak berapa lama datang seorang wanita mengenakan dress berwarna hitam dengan punggung dan dada yang hampir terbuka. Seperti hanya menutupi setengah tubuhnya saja. Bella semakin kesal melihat hal itu. Ia melihat Victor memberkan sejumlah uang kepada wanita paruh baya itu, lalu pergi bersama wanita seksi itu.


Bella berpikir dengan keras. Otaknya yang cerdas ia gunakan untuk mencerna semua situasi ini. Mendadak tubuhnya menegang. Apa jangan-jangan minuman yang tadi diminum oleh Victor sebenarnya adalah untuk diberikan kepadanya?! Lalu bagaimana jadinya jika dia yang meminumnya?! Sudah pasti seseorang berencana untuk menghancurkan hidupnya! Tapi siapakah orang itu?! Bella terus berpikir.


"Tapi daripada itu! Aku harus menyelamatkan orang itu dulu!", Bella bergegas mengikuti jejak langkah Victor bersama wanita seksi itu. Sembari berjalan, ia mengetikkan sebuah pesan kepada Felysia. Bella meminta temannya itu untuk pulang saja, dan mengatakan kepada teman yang lainnya jika Bella akan menginap di rumahnya karena terlalu mabuk. Jadi ia berpikir, ketika nanti anak buah kakaknya itu mencarinya, alat pelacak itu bekerja dan benar mengarah kepada rumah temannya itu. Dan beruntung Felysia mau membantunya.


Jadi tadi itu Victor berusaha menyelamatkannya kan? Jadi orang itu sangat peduli kepada dirinya, kan? Ini sudah menjadi bukti tambahan yang kuat jika orang itu juga menyukainya, sama seperti dirinya. Maka dari itu ia harus membalas budi dengan menyelematkan orang itu balik dari wnait tidak jelas yang disewanya. Bisa saja, kan wanita itu memiliki penyakit?! Daripada seperti itu, lebih baik Victor memakai dirinya. Ia tidak rela Victor bersama dengan wanita lainnya. Ini demi balas budi karena sudah berulang kali menyelamatkannya. Pertama dalam kecelakaan itu, lalu sekarang. Dan lagi sudah jelas jika mereka saling menyukai.


"Ini kunci kamarnya!", Bella sudah berada beberapa langkah di belakang Victor. Ia mendengar orang itu menyerahkan kunci kamar yang sudah ia sewa kepada wanita bayaran yang kini tengah memapah tubuhnya.


Bella dapat melihat jika tubuh Victor kian melemah. Jadilah ia mempercepat langkahnya untuk mendahului mereka berdua. Setelah agak jauh, lalu ia memutar arah dan berjalan ke arah mereka lagi. Dengan sengaja ia menabrakkan diri ke arah dua orang itu. Dan ketiganya pun jatuh tersungkur ke lantai.


"Ambil bayaranmu dan pergi!", ketika wanita bayaran itu hendak membantu Victor untuk berdiri, pertama ia mengambil kunci kamar yang ikut terjatuh ke lantai. Lalu Bella berbisik untuk mencegah wanita bayaran itu menyentuh Victor lagi, kemudian mengusirnya. Lantas ia tersenyum setelah melihat wanita bayaran itu benar-benar menurutinya dan pergi.


Dengan susah payah, Bella membawa Victor ke kamar yang sudah disewa oleh orang itu. Tubuh orang itu benar-benar berat sehingga Bella merasa kelelahan dan hampir habis tenaganya. Ia bermaksud merebahkan tubuh Victor di ranjang, tapi kenyataannya adalah mereka terlempar bersama ke ranjang itu tanpa sengaja. Dan tubuhnya pun sudah berada di bawah kungkungan tubuh orang itu.


"Maaf jika nanti aku menyakitimu!", pandangan mata orang itu kabur dan Bella dapat melihatnya. Orang itu pasti mengira jika wanita yang berada di bawahnya ini adalah wanita bayaran yang tadi bersamanya. Dan itulah yang membuat Bella kesal. Bahkan kepada wanita lain, dia masih bisa sopan!


"Tunggu! Tunggu dulu!", sejujurnya Bella sendiri sangat gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya. Ia menahan tangan Victor yang akan mulai membuka pakaiannya.


"Maaf tapi aku sungguh sudah tidak tahan lagi!", mata pria itu benar-benar berat dan suhu tubuhnya pun sudah sangat panas. Bella dapat merasakannya saat tangan pria itu mulai menjamah tubuhnya.


Ia menitihkan air matanya, ada perasaan bahagia juga karena akhirnya ia bisa melakukan hal ini dengan orang yang benar-benar ia sukai. Tapi juga ada rasa penyesalan karena ia pasti akan menutupi rahasia besar ini selama hidupnya.


"Bella!", rasa sakit yang ia rasakan ketika pertama kali Victor menggenjotnya, terasa hilang saat mendengar pria itu ternyata menyebutkan namanya. Di tengah setengah sadarnya orang itu, dia masih menyebutkan namanya. Titik-titik air mata kembali bergulir kala rasa sakit dan bahagia menjadi satu.


Efek obat yang masuk ke dalam tubuh Victor sangat luar biasa. Bella tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hidup yang ia miliki jika itu adalah dirinya. Maka dari itu, malam ini ia akan sukarela memberikan tubuhnya kepada Victor sebagai rasa terima kasih karena terus menyelamatkannya dari marabahaya.


***


Ketika pagi menjelang, mungkin Bella baru saja memejamkan matanya lantaran kinerja Victor yang luar biasa tiada henti, tapi ia harus segera meninggalkan tempat itu sebelum Victor bangun. Sakit tak tertahankan tentu saja ia rasakan di sana, karena ini adalah yang pertama baginya, dan Victor sudah melakukannya dengan sangat gila. Tubuhnya terasa remuk semua, dan ia bisa melihat banyak tanda merah di seluruh tubuhnya.


Sambil menahan rasa sakit, ia memunguti pakaiannya yang berserakan dan memakainya perlahan. Sesekali ia memandangi bercak merah bekas dirinya melepaskan momen pertamanya yang masih tertinggal di atas selimut. Karena semalam memang mereka pertama kali melakukannya dengan tergesa-gesa.


Setelah berpakaian, di kondisi tubuhnya yang lemas, ia menarik selimut yang masih menutupi tubuh telanjang Victor. Meskipun sudah melihat semuanya, tapi ia tetap saja malu saat melihat tubuh polos lelaki itu terbaring di atas ranjang. Lalu ia balik selimut itu agar noda merahnya tidak terlihat di mata Victor nanti. Dan ia tutupi lagi tubuh Victor yang masih polos itu sambil memalingkan wajahnya yang memerah.


Tak ada kertas yang ia miliki di tasnya. Tapi ia menemukan beberapa tisu di atas meja di seberang ranjang. Ia ingat ia memiliki sebuah pulpen di tasnya. Bella ingin meninggalkan pesan untuk orang itu sebagai kenang-kenangan.


*T*erima kasih!


Setelah berpikir beberapa saat dengan bijak ia meninggalkan pesan itu. Padahal ia ingin sekali menuliskan bahwa ia sangat menyukainya. Tapi untuk apa?! Bahkan semalaman, orang itu benar-benar tidak menyadari siapa yang sedang bersamanya. Jadi tidak ada gunanya untuk mengatakan kalimat manis itu.


Tapi dengan berterima kasih, paling tidak itu sudah sangat mewakili perasaannya saat ini. Meskipun ia tidak tahu akan bagaimana setelah ini, tapi benar adanya memang bahwa sebaiknya mereka tidak bertemu lagi. Kehidupan mereka terlalu rumit jika mereka jalani bersama. Maka dari itu Bella berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk menyukai orang itu.


Setelah keluar dari kamar, ia memberikan sejumlah uang yang cukup besar kepada manajer club malam itu. Dan sebenarnya itu adalah uang tabungannya sendiri. Ia meminta kepada manajer itu untuk menghapus semua rekaman cctv pada malam tadi. Jika ada yang tetap berusaha mencari tahu, Bella meminta agar manajer itu segera mengabarinya. Tidak ada satu manusia pun yang boleh tahu kejadian malam tadi.


#FLASHBACK OFF