
Ternyata di dalam kapal itu masih ada beberapa wanita yang bekerja untuk mereka. Semula Rose ngeri membayangkan jika orang yang akan mengurusnya masih para pria itu juga. Hingga ia dilempar kepada dua wanita yang bertugas untuk membersihkan dirinya dan mendandaninya, sepercik perasaan lega menguap di dalam hati wanita itu. Paling tidak ia belum tersentuh tangan kotor siapa pun sampai saat ini.
Rose pasrah dengan apapun yang orang-orang itu lakukan padanya. Dan sampai sekarang ia masih belum menyadari jika dirinya hanya mengenakan sehelai gaun merah tipis yang menampakkan jelas lekuk tubuhnya. Wanita itu menekuk lututnya, duduk meringkuk di ujung sebuah ranjang. Ia sembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya, sehingga rambut emasnya yang baru saja dicuci menjuntai ke bawah dan berkilau indah.
Wanita itu hanyut dalam lamunannya sendiri. Sesekali ia menarik nafasnya dalam-dalam untuk menahan tangis yang siap tumpah ruah membasahi seluruh wajahnya. Mungkin memang begini nasib yang harus dia terima. Dua kali dirinya masih terselamatkan dari ulah keji para pria tak tahu diri. Mungkin hanya segitu keberuntungan yang ia miliki. Dan saat inilah tiba waktunya hal yang sebenarnya tertunda, siksaan kejam lahir batin yang tak ingin ia rasakan sama sekali.
"Tuan!", desahnya sedih sangat merindukan orang itu. Dalam hatinya berharap jika Tuan seramnya itu akan segera datang untuk menyelamatkannya. Namun apakah itu bisa terjadi?! Rose merasa harapan hanya tinggal harapan.
"Maafkan aku, Tuan!", hingga ia tak bisa membendung lagi aliran panas yang berhulu dari matanya. Kemungkinan buruk yang akan terjadi, ia sangat benci memikirkan hal itu.
Padahal, hal yang paling berharga dan sangat ia jaga ini, ingin sekali ia berikan kepada seseorang yang amat ia cintai. Ingin sekali Rose melakukan hal itu dengan penuh perasaan dan cinta. Bukan seperti ini, bukan dengan cara seperti ini! Karena entah binatang buas mana yang akan mengambil mahkotanya malam ini. Rose menangis dalam keheningan kamar itu.
***
"Oh, Putraku! Tumben sekali kau datang menyusul ayahmu ke tempat seperti ini! Bukankah ini adalah salah satu pekerjaan Ayah yang kau benci?!", Tuan Rogh menyapa kedatangan putra tunggalnya dengan gaya ramah khasnya.
Pria paruh baya itu meminta dua wanita yang sedang menemaninya untuk menyingkir dengan sebuah bisikan. Kemudian ia merapihkan kemejanya yang terbuka semua kancingnya. Dengan malasnya dan ia pun menyisakan beberapa kancing di atas untuk tetap terbuka. Tuan Rogh kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Katakan! Ada keperluan apa kau datang ke sini? Apakah kau masih ingin bersikeras mencari calon istri kelimaku yang kabur itu?", Tuan Rogh menyeringai.
Ya, selama ini Eric tak henti mencari keberadaan Rose setelah berhasil dibebaskan sebagai tahanan rumah oleh ayahnya itu. Diam-diam ia mengerahkan orang dengan uangnya sendiri untuk mencari Rose. Namun hal itu segera diketahui oleh Tuan Rogh. Hingga penyamun wanita itu selalu mengikuti gerak-gerik anaknya, karena sejujurnya ia sendiri masih penasaran dengan wanita cantik yang bisa lolos dari tangannya itu. Dan bahkan berani melukai dirinya.
Eric menahan keterkejutan di matanya. Ternyata ayahnya mengetahui hal ini. Namun, apakah ayahnya itu mengetahui jika wanita yang sama-sama mereka cari ternyata ada di kapal ini?! Sebisa mungkin Eric berkompromi dan mencari tahu informasinya. Jika belum, maka ini bagus! Berarti dia harus menyelamatkan Rose dari tempat ini.
"Aku menyerah! Aku tak akan mencarinya lagi!", ucap Eric tegas menatap lurus wajah ayahnya.
Tuan Rogh menggelegarkan tawa puasnya mendengar hal ini. Ia seperti baru saja mendengar lelucon dari mulut putranya itu.
"Aku juga tak akan mengganggu semua urusan Ayah lagi!", lanjutan ucapan Eric membuat Tuan Rogh memusnahkan tawa di bibirnya. Ia kemudian menatap anaknya itu dengan wajah serius.
"Tapi biarkan aku memilih jalanku sendiri! Jangan paksa aku untuk mengikuti jejakmu!", Eric menundukkan sedikit pandangannya, menatap Tuan Rogh dalam-dalam.
Eric benci jika ia harus dipaksa terus-menerus untuk mewarisi semua bisnis gelap ayahnya. Penyelundupan obat-obatan terlarang dan minuman keras hingga perdagangan manusia. Semua dosa itu Eric tak mampu menanggungnya.
Dulu, ibunya yang merupakan istri pertama dari orang itu meninggal karena sakit-sakitan. Itu pun terjadi setelah mengetahui pekerjaan asli suaminya. Dan betapa bejatnya suaminya itu yang ternyata gila wanita. Setiap malam selalu berbeda wanita yang Tuan Rogh bawa ke rumah. Eric menyaksikan sendiri hal itu. Hingga di usianya yang baru menginjak sembilan tahun, ibunya harus pergi meninggalkan dirinya, bersama pria busuk yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Hingga saat ini Eric selalu memendam kebencian yang mendalam kepada ayahnya.
"Setuju! Tapi kau tak boleh mencampuri semua urusanku!", Tuan Rogh menarik dirinya bersandar ke sofa.
"Tenang saja! Tapi saat ini aku membutuhkan beberapa orang untuk apa yang akan aku lakukan di masa depan", samar-samar Eric mulai menyampaikan tujuannya pada Tuan Rogh.
"Ambil saja sesuka hatimu! Berapa pun yang kau inginkan! Termasuk wanita, jika memang ada wanita yang kau sukai, ambil saja! Aku di sini tidak kekurangan wanita sedikit pun!", ia akhiri ucapannya sambil tertawa. Kemudian wanita-wanita seksi tadi kembali ke rangkulan pria tua itu di kanan kirinya. Tuan Rogh tertawa penuh kebanggaan kepada dirinya sendiri.
"Termasuk wanita cantik yang sudah mereka siapkan untukmu! Apakah aku boleh mengambilnya?!", Eric memiringkan kepalanya sambil menunggu jawaban dari ayahnya itu.
***
Bagus! Eric bersemangat dalam hatinya sambil berjalan menyusuri lorong menuju ke sebuah arah. Ayahnya sendiri yang tidak keberatan dengan permintaan yang ia ajukan. Pria itu menyimpulkan jika sampai saat ini ayahnya itu belum mengetahui siapa sebenarnya wanita yang ia minta. Jadi ia berharap jika apa yang sudah dipikirkannya ini bisa berjalan sesuai rencana.
Sebab, apabila orang tua itu mengetahui identitas wanita itu, sudah pasti permintaannya ini akan ditolak mentah-mentah. Karena sampai saat ini,ia pun mengetahui jika ayahnya itu terang-terangan menyatakan masih mengingikan Rose kembali untuk ia jadikan istri. Dan Eric tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Biarlah wanita lain, ia tak peduli. Tapi ini adalah Rose, wanita yang ia sukai semenjak sekolah hingga sekarang. Wanita berhati mulia yang ia kenal itu tak akan ia biarkan masuk ke lubang neraka yang ia tahu.
Lagipula mana mungkin orang tua itu keberatan, sedangkan ia bisa memilih wanita atau gadis cantik mana pun ia suka untuk menemani malamnya. Eric tersenyum penuh makna sambil membawa langkahnya.
***
kriet
Suara deritan itu menandai jika seseorang sedang membuka pintu kamar yang sedang ia tempati. Punggung Rose menegang ketika ia belum juga merubah posisinya yang meringkuk di kepala ranjang.
Jantung wanita itu mendadak menjadi gesit berpacu di arenanya. Telapak tangannya ia rasakan mulai basah dengan keringat dingin akibat perasaan gugup dan ketakutan yang melanda. Rose pun semakin berpegangan erat pada kedua kakinya. Mimpi buruknya akan menjadi nyata!
Tubuhnya gemetar mendengar suara langkah kaki yang semakin tak berjarak dengannya. Semakin dekat suara itu, semakin hebat getaran di tubuhnya. Sampai tanpa Rose sadari, tubuhnya yang meringkuk itu bergerak ke depan dan ke belakang sendiri. Seperti sebuah gumpalan yang sengaja disenggol seseorang. Pada masa ini, Rose sudah tidak mampu menaklukan ketakutannya sendiri.
Lelaki yang kini berdiri tegap di hadapannya itu tengah memandangnya dengan tatapan sedih dan prihatin. Bagaimana bisa nasib wanita ini menjadi begitu malang seperti ini?!
Dulu, ia sangat bersyukur ketika mendengar berita bahwa Rose berhasil melarikan diri dari ayahnya. Namun ia juga khawatir, kehidupan apa yang akan wanita itu jalani di pelariannya. Akankah wanita itu menderita lagi?! Eric tak henti memikirkan Rose hingga kini.
Lalu sekarang, mereka dipertemukan dengan situasi macam ini. Sesungguhnya Eric penasaran bagaimana bisa wanita itu tertangkap dan mengalami ini semua?! Namun semua pertanyaan yang membludak di benaknya mesti ia kubur dulu untuk sementara waktu. Membebaskan wanita itu dari sini adalah tujuan utamanya. Eric mengingat hal itu.
"Jangan sentuh aku! Pergi! Pergi dari sini! Jangan sentuh aku! Pergi!", baru saja Eric menyentuh kepalanya, Rose sudah berteriak histeris sampai memejamkan mata. Wanita itu terlalu waspada sehingga tidak melihat bahwa yang datang adalah dirinya.
Tangan Rose terbuka untuk menyingkirkan apa saja yang mengenai tubuhnya. Ia memukul-mukul ke depan sambil terus mengencangkan suaranya. Untung saja Eric ingat untuk menutup pintu ruangan itu, sehingga gaduh di dalam sini agak teredam sampai keluar.
"Rose ini aku!", ia berbicara lembut.
"Kau? Siapa kau?!", Rose masih berteriak tanpa mau memisahkan kelopak matanya. Ia sangat takut untuk mengetahui wajah binatang yang akan memakannya malam ini. Rose benci melihat wajah bajingan itu! Ia masih berusaha meronta, agar tangannya bisa dilepaskan.
"Aku Eric! Eric teman sekolahmu dulu!", mendengar kelembutan suara pria itu, guncangan tangan Rose berhenti perlahan. Ia juga membuka matanya untuk memastikan.
"Eric? Eric? Eric!!!", semula Rose memindai wajah itu, takut jika semua ini adalah mimpinya saja. Kemudian ia berseru gembira lantaran ia bertemu dengan orang yang dikenalnya juga.
"Ya! Ini aku Eric!", hati pria itu pun ikut mengembang bersama dengan bola matanya yang melebar dan bersinar. Namun hal itu tak bertahan lama ketika Rose kembali mengubah ekspresi wajahnya.
"Eric?! Pergi! Pergi dari sini! Pergi dari sini!", teriak Rose saat ingatannya kembali dan menyadari siapa identitas Eric yang sebenarnya. Pria yang berada di hadapannya adalah putra dari pria tua bangka yang menjadi sumber traumanya ini. Rose kali ini mengubah tatapannya, antara marah dan ketakutan bercampur menjadi satu.
Jika ada Eric di kapal ini, diperkirakan orang itu ada di sini juga. Tidak! Rose tidak mau tertangkap lagi oleh orang itu! Rose tidak ingin kenangan pahit itu kembali terulang atau malahan semakin menjadi pahit dan tak pernah hilang. Rose tidak mau! Dia pun menggeleng keras sambil memandangi pria di hadapannya.
Ya, Tuhan! Eric menengadahkan kepalanya sebentar. Sungguh hatinya tersayat-sayat melihat hal ini. Wanita yang dia kenal ini dulunya adalah wanita yang ceria. Bagaimana bisa menjadi seperti ini, entah apa yang sudah dilewatinya?! Eric benar-benar merasa sedih kali ini.
"Tenanglah, Rose! Kau aman bersamaku sekarang! Aku akan menyelamatkanmu dari sini!", dengan gerakan lembut yang pasti, Eric menarik Rose ke dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu tenang sedangkan dirinya juga berusaha mengurangi kekalutan di dalam hatinya saat ini. Dengan penuh kasih sayang, Eric mengusap wanita yang sekarang sedang menumpahkan semua perasaannya itu dengan air mata.
"Apakah aku bisa mempercayai ucapanmu?", ketika wanita itu mulai tenang dan kembali ke akal sehatnya sedikit demi sedikit.
"Tentu saja! Tentu saja aku akan menyelamatkanmu! Aku akan membawamu pergi dari sini! Kau bisa mempercayai kata-kataku, Rose!", pria itu mengendurkan pelukannya untuk menatap Rose yang tengah berlinang air mata. Riasan matanya yang berwarna hitam pun luntur menjadi dua garis lurus membelah pipinya.
"Aku sangat takut, Eric! Aku sangat takut! Tolong bawa aku pergi dari sini secepatnya!", tutur wanita itu sambil mengangguk sedih. Ketakutan dan gugupnya telah menghilang beberapa persen saat ini. Entah ia bisa percaya kepada Eric atau tidak. Namun hanya Eric orang yang paling bisa ia percaya ketimbang siapa pun di kapal itu sekarang.
"Iya, tenang saja!", pria itu pun mengusap pucuk kepala Rose sambil meyakinkan wanita itu dengan tatapannya. Rose mengangguk lagi dengan patuh.
Mereka berdua lantas bangun dari tempat tidur itu dan berdiri. Kemudian Eric merasa ada yang salah pada situasi ini. Kedua telinganya kini memerah bersama dengan pipinya. Ia rasakan wajahnya mengalami kenaikan suhu.
Dalam kesunyian yang menyapa mereka berdua di ruangan itu, situasi seperti ini sungguh tidak baik untuk dua orang yang berbeda jenis kelamin. Terlebih dengan pakaian tipis yang Rose gunakan. Sungguh pemandangan itu bisa merusak iman Eric yang semula tak tergoyahkan. Sekarang, ketika berdiri, ia bisa melihat dengan jelas setiap belokan indah pada tubuh Rose. Belum lagi gaun malam itu tipis dan pendek. Dari ujung kaki hingga ke pahanya terekspos dengan jelas. Lalu Eric memalingkan wajahnya untuk menetralisir keadaan dirinya saat ini.
"Tunggu dulu! Kau tidak bisa pergi dengan pakaian seperti ini!", ucap pria itu sambil memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Rose melihat dengan jelas dirinya yang memalukan seperti ini.
"Oh?", Rose menilik tubuhnya dari atas hingga ke bawah. Akhirnya ia menyadari keanehan pria itu. Ternyata dirinyalah yang membuat wajah Eric terlihat bersemu. Buru-buru Rose menutupi dada dan pahanya yang terekspos jelas.
"Kau bisa gunakan ini!", awalnya ia melepaskan jaketnya untuk Rose kenakan, namun itu masih belum menutupi kaki Rose yang juga terlihat menggoda. Kemudian Eric menarik sprei ranjang itu, melipatnya menjadi dua, kemudian membungkus tubuh Rose sampai ke kepalanya. Hanya wajahnya saja yang ia sisakan. Rose terlihat seperti memakai jubah sekarang!
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?!", tangannya memegangi kain putih yang membalut tubuhnya saat ini sambil memandangi dirinya di pantulan kaca.
"Akan lebih berbahaya jika kau keluar dalam kondisi seperti tadi! Kau jangan memberi hadiah kepada mereka yang bahkan matanya saja begitu kotor!", ucap Eric serius seraya membenarkan kain yang menjadi tudung dan menutupi sebagian wajah Rose. Dengan begitu wajahnya tidak akan terlalu jelas terlihat oleh orang lain. Terutama ayahnya, jangan sampai orang itu mendapati bahwa wanita yang akan ia bawa adalah wanita yang sangat diinginkan ayahnya itu.
"Kita pergi sekarang!", Rose mengangguk menjawab dengan penuh keyakinan di matanya. Bagaimana pun juga ia memang harus cepat menghilang dari tempat ini.
"Eric!", Rose menahan tangannya ketika mereka hampir mencapai pintu.
"Ada apa?", pria itu menoleh dengan wajah serius.
"Bisakah kau menyelamatkan seseorang untukku? Mereka ibu dan anak yang sangat baik kepadaku! Aku merasa berat jika harus bebas sendirian!", mata polos Rose membuatnya tak bisa menolak.
Jika bisa, sesungguhnya Rose ingin sekali membebaskan semua orang di kapal itu. Namun situasinya tidak mendukungnya saat ini. Ia tidak bisa serakah sekarang, karena ia masih belum tahu seberapa besar kekuatan yang Eric miliki sehingga bisa membebaskannya dari tempat ini. Jika saja, jika saja Tuan seramnya yang melakukan, sudah pasti ia akan meminta hal ini tanpa ragu. Karena ia tahu jika Tuan seramnya yang hebat itu bisa melakukannya.
Memikirkan orang itu, Rose jadi tidak sabar untuk bebas dan segera bertemu dengannya. Rose sangat merindukan orang itu. Meskipun ia tahu konsekuensi apa yang akan diterimanya setelah mengetahui apa saja yang menimpanya. Tak apa, asalkan ia masih bisa bertemu lagi dengan orang itu, begitu saja Rose sudah merasa sangat senang.
"Baiklah! Kau tunggu di sini sebentar! Kunci pintunya! Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali aku memanggilmu dari luar!", Eric melepaskan pegangan tangannya pada wanita itu seraya memberikan pengarahan.
Sejujurnya ia sangat khawatir meninggalkan wanita itu sendirian. Namun akan lebih berbahaya lagi jika ia membawanya. Takutnya mereka berpapasan dengan ayahnya, sehingga usahanya sampai sejauh ini akan sia-sia. Dan ia kembali tidak bisa menyelamatkan wanita itu. Jadi lebih baik Rose menunggunya saja di dalam.
Mengenai perkara orang-orang yang Rose minta, itu bukanlah hal yang sulit. Lagipula ayahnya sudah memberinya kebebasan untuk mengambil siapa saja yang ia mau.
***
Benny Callary, buru-buru mengerahkan semua sumber dan kekuatan yang dia miliki untuk mencari keberadaan kekasihnya yang menghilang. Semua rekam jejak menjadi informasi penting baginya. Ketika petang barulah dia mengetahui kemana arah orang-orang yang telah membawa pergi kekasihnya itu. Lengkap, berikut dengan identitas mereka.
"Kita harus sampai di sana secepat mungkin!", dengan tidak sabar pria itu memerintahkan Relly untuk menambahkan kecepatan kapal cepat yang mereka naiki saat ini. Karena begitu tahu posisi Rose yang berada di tengah lautan saat ini. Ben tak dapat berpikir lebih tenang lagi. Ia semakin mengkhawatirkan wanita itu.
Belum lagi orang-orang yang membawanya pergi merupakan kelompok lokal yang bekerja sama dengan geng mafia dari luar negeri untuk melakukan perdagangan manusia secara ilegal. Ben tidak ingin kehilangan jejak wanita itu, ia tidak ingin sesuatu yang buruk sampai menimpanya.
Pria gagah itu saat ini sedang memegangi topinya yang diterpa angin laut yang teramat kencang. Kapal cepatnya memimpin beberapa kapal serupa yang berisi anak buahnya. Dalam hal ini ia tak dapat bergerak sendirian, untuk menghindari beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Makanya ia bersiap dengan para bawahan yang masing-masing dilengkapi dengan senjata. Beberapa di antaranya juga mengalungkan senjata laras panjang juga senjata berat di tubuh mereka. Jika perlu, Ben akan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya untuk menemukan wanitanya. Termasuk menghancurkan sebuah kapal sekali pun. Itu bukan hal sulit baginya.
Kapal cepat yang mereka naiki bergerak dengan gesit membelah lautan yang bergelombang di bawah langit yang sudah berubah gelap. Ada sebuah kapal kecil yang bergerak dari arah berlawanan, namun mereka melewatinya begitu saja. Tak ada yang menyadari siapa saja yang ada di kapal kecil itu,, kecuali Relly. Namun ia mengusir keraguannya saat ini, sehingga matanya fokus lagi ke depan menuju sebuah titik kapal yang semakin terlihat jelas.