Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Sampai di bandara



Raut wajah yang tiba-tiba berubah itu Ben sangat ingat jika itu terjadi perubahan setelah Baz mempertanyakan masalah kalung yang ia pakai. Entah kenapa Ben yakin jika Baz seperti tau mengenai kalung ini.


Lampu lalu lintas telah berubah warna menjadi hijau. Jadilah Ben menjalankan kembali mobilnya yang super keren dan cepat itu. Namun kedua pria itu masih nampak diam berjamaah. Keduanya belum terlibat obrolan lagi satu sama lain lagi. Mereka masih berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing.


Ah! Ben ingat! Melihat sweater dan juga menilai perawakan pria yang kini berada di sebelahnya, itu sangat cocok dengan pria yang Ben lihat terakhir kali bersama Rose. Yang bahkan telah berani memeluknya.


Ben sedikit menggeram, saat mengingat kejadian yang membuatnya menjadi sangat marah waktu itu. Tapi apakah benar itu benar-benar adalah dia?! Biar nanti Ben mencari tau seiring berjalannya waktu.


Sama halnya dengan Ben yang sudah mulai menebak-nebak, meskipun masih ragu untuk mengakuinya. Begitu juga dengan Baz saat ini. Ada rasa kecewa bergulir di dalam hatinya kini. Awalnya ia sempat begitu percaya diri jika kalung yang Rose beli adalah untuk dirinya. Dan karena memiliki inisial yang sama, maka pria itu jadi berpikir bodoh dan tidak terpikir lagi bahwa yang memiliki inisial 'B' bukan hanya dia seorang saja.


Bukan salah Rose jika wanita itu tidak menyebutkan jika dirinya sudah memiliki kekasih. Karena bahkan Baz tidak bertanya saat itu. Pikirannya yang sedang jatuh cinta telah dibutakan untuk berpikir menggunakan rasionalitas saja.


"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?", Ben lalu membuka suaranya. Nada bicaranya datar saja, tidak terlalu ramah, juga tidak memiliki niatan permusuhan di dalamnya.


"Mengapa saat awal kita bertemu kau tidak mengatakan bagaimana kondisi Victor yang sebenarnya kepadaku?", akhirnya Baz ingat apa tujuannya mengajak Ben bertemu saat ini.


"Apa maksudmu, kawan? Aku tidak mengerti?", Ben berpura-pura bodoh. Mengulas senyum palsu yang tidak tulus sama sekali.


"Jangan main-main lagi, Ben! Bukankah kondisi Victor sudah sangat parah saat ini? Itulah sebabnya dia menginginkan untuk bertemu dengan adiknya di sisa umurnya sekarang?", Baz menyandarkan punggungnya menanti jawaban dari Ben dengan penuh minat.


"Darimana kau tau tentang penyakitnya?", kecurigaan Ben makin menjadi saat pria itu ternyata mengetahui penyakit teman lamanya itu. Benar, Baz adalah pria yang bersama Rose kemarin. Darimana lagi pria itu tau jika bukan dari Rose. Hal ini semakin menjurus ke arah apa yang telah Rose ceritakan mengenai teman barunya. Dan berarti benar, jika Baz adalah orang yang telah berani memeluk wanitanya.


Untuk menutupi rasa cemburunya yang mungkin saja akan menggila, Ben mencengkeram dengan sangat erat kemudi di tangannya. Ia tak peduli jika kuku-kukunya hampir menancap masuk ke kulitnya.


"Apakah hal itu masih penting sekarang?!", Baz mencondongkan tubuhnya karena tidak setuju dengan pertanyaan yang baru saja Ben ajukan padanya. Ia merasa kondisi dan kesembuhan Victor lebih penting saat ini.


Sebenarnya kemana arah pembicaraan Ben saat ini?! Mungkinkah pria itu meminta sebuah penjelasan darinya perihal kejadian kemarin ia bertemu dengan Rose?! Tapi apa juga hubungan pria ini dengan wanita itu?! Entahlah,,, bahkan Baz tak mampu menerka-nerka saat ini.


"Baiklah, dengar! Kemarin aku mengalami sebuah kecelakaan, lalu ditolong oleh seorang wanita yang ternyata adalah adiknya Victor. Darimana aku tau, tentu saja aku sudah mengenal wajah wanita yang berulang kali aku targetkan menjadi sasaran balas dendamku yang salah tempo hari. Sayangnya, dia tidak mengenalku sama sekali. Dia bersedih saat itu, dan saat ku tanya, dia sendiri yang menjelaskan bagaimana kondisi Victor saat ini", pria itu menatap Ben dengan sangat serius saat menerangkan ceritanya. Jadilah ia putuskan untuk menjelaskan saja apa adanya pada pria itu.


"Lalu bagaimana?! Apakah sejak awal aku harus mengatakan bagaimana keadaan Victor yang sebenarnya kepadamu?! Lalu apakah dengan begitu kau akan percaya dengan semua bukti yang ku miliki, Tuan?! Jika aku mengatakan kondisi Victor sejak awal, bukankah itu lebih seperti aku mengemis sebuah belas kasihan untuk kesembuhan temanku itu?! Jangan kau kira aku tidak memikirkan ke arah sana! Aku hanya berada di tengah-tengah, di antara kalian yang memiliki masalah. Lalu,,, jika kau menjadi aku, apa yang akan kau lakukan sebenarnya?!", tiba-tiba Ben menghentikan mobilnya di pinggir jalan tol yang mulai padat.


Sudah emosi dirinya akibat kenyataan yang mengatakan bahwa pria yang bersama Rose adalah benar-benar orang yang kini duduk di sebelahnya. Lalu ditambah lagi tuduhan tidak berarti dari orang itu mengenai keputusan yang sudah ia pilih saat mengatakan yang sebenarnya untuk membuka mata orang itu lebar-lebar. Emosinya meluap-luap hingga saat ini Ben tengah membentak Baz balik sambil menatap lurus wajahnya.


Baz pun terdiam mendengar penjelasan Ben barusan. Memang benar! Memangnya dia bisa apa jika menempati posisi Ben saat itu. Ben jelas mengharapkan sebuah kepercayaan dari Baz. Bahwa pria itu akan benar-benar percaya semua ucapannya tanpa rasa curiga. Maka dari itu ia menyembunyikan masalah penyakit teman lamanya itu.


Lagipula, saat ini ia juga sudah mengetahui yang sebenarnya, bukan?! Kondisi sebenarnya dari penyakit Victor saat ini, ia akan segera memberitahukan hal ini pada adiknya itu. Bella sangat pantas mengetahui keadaan Victor sekarang.


"Maaf,, aku tidak berpikir sampai ke arah sana!", Baz kembali menyandarkan punggungnya dengan tubuh lemas.


Ya! Ben pasti sudah punya perhitungan sendiri mengenai hal apa saja yang akan dilakukannya. Menutupi penyakit Victor tidaklah salah. Yang salah adalah perbuatan balas dendamnya yang salah sasaran. Sehingga, baru mendengarkan hal seperti ini saja sudah membuatnya makin menyesal dan memiliki rasa bersalah yang mendalam.


***


Keduanya sudah tiba di bandara. Meski tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ben tetap mengantarkan Baz sampai di dalam. Pria bertopi koboi itu masih kesal sebenarnya. Tapi ia juga masih memiliki etika. Ia harus mengantar tamunya sampai benar-benar bisa hilang dari pandangan matanya.


"Apakah,, apakah kalung itu diberikan oleh orang yang spesial?", Baz menghentikan langkahnya tiba-tiba. Menundukkan kepalanya seraya bertanya.


"Ya!", Ben hanya menjawabnya dengan begitu singkat. Namun pria itu berada satu langkah di depan Baz karena ia menghentikan langkahnya belakangan. Baz jadi tidak tau bagaimana ekspresi Ben saat ini terhadap pertanyaannya.


Hah! Baiklah! Mungkin memang saat ini ia sudah kalah. Keberuntungan cinta tidak berpihak padanya. Seandainya ia yang lebih dulu bertemu dengan Rose,,, Yah, itu hanya seandainya. Ia berharap ia keberuntungan ada di pihaknya. Tulus dan pasrah Baz pun mengulas senyumnya.


"Ben!", Baz maju beberapa langkah melewati Ben. Ia menepuk bahu pria itu seraya berbalik ke arahnya.


Pria bertopi koboi itu tak menjawab, hanya memperhatikan tangan yang kini berada di pundaknya dengan tatapan dingin dan datar. Pertanyaan apa lagi yang akan diucapkan pria ini sebenarnya?!


"Jika Victor mengetahui bahwa ia telah memiliki seorang putra, apakah temanmu itu akan menerimanya?", ternyata Baz mengalihkan ke topik asal dan tidak mengungkit lagi masalah Rose dan dirinya.