
"Apa tujuanmu sebenarnya, Tuan? Apakah kau diperintahkan oleh kakakku untuk memancing aku agar mau mengatakan semua ini?", tatap Rose tajam kepada pria yang masih berdiri tegak di hadapannya ini.
"Jadi kau berpikir begitu?", tatapan Ben tentu tidak kalah tajam dengan yang Rose miliki. Dagunya naik seakan menantang dengan apa yang mereka pikirkan masing-masing.
"Lalu apa tujuanmu, Tuan? Motif apa yang kau miliki untuk ikut campur urusanku?", Rose juga menaikkan dagunya tanpa melepas tatapan tajamnya. Ia sangat menantikan jawaban apa yang akan Ben keluarkan.
"Tujuan? Jadi kau mau tau tujuanku?", Ben menyipitkan matanya dan mulai maju satu langkah lagi mendekati wanita itu.
"Ya! Apa tujuanmu?", sahut Rose yang tak bergeming dari tempatnya.
"Karena aku peduli padamu!", Ben memegang kedua bahu Rose cukup keras bahkan lebih seperti mencengkeramnya.
"Sshh,,, sakit!", wanita itu mendesis kesakitan karena cengkeraman Ben di bahunya.
"Maaf aku terlalu emosional! Tapi aku memang peduli padamu!", ia mengendurkan pegangannya pada bahu Rose lalu menatap dalam bola mata perak milik wanita itu.
"Peduli?", Rose bergumam sambil menundukkan wajahnya. Ia melepaskan tangan Ben di bahunya lalu mundur satu langkah ke belakang.
Peduli? Benarkah ada orang yang benar-benar peduli terhadapnya? Pantaskah ia dipedulikan oleh orang lain? Rose meragukan dirinya sendiri, ia merasa tak pantas mendapatkan kepedulian dari orang lain karena ia sadar betapa hina dirinya saat ini.
"Lalu haruskah aku percaya bahwa kau benar-benar peduli padaku? Memangnya siapa aku? Siapa juga dirimu? Untuk apa kau mempedulikan diriku yang hina ini?!", bentak Rose yang sudah terlalu emosional. Lagipula bagaimana dirinya harus mempercayai ucapan pria itu?! Bahkan mereka baru saja saling mengenal.
"Rose Benneth! Apa yang kau ucapkan barusan?!", teriakan Ben begitu menggelegar dan ia pun mencengkeram satu lengan Rose dengan begitu kencang. Ia sudah bersabar sejak tadi untuk membujuk wanita yang berada di hadapannya ini untuk mau membuka sedikit saja hatinya, untuk membagi sedikit saja sakit yang dirasa dari dalam hatinya. Ia sudah sangat amat bersabar. Dan semua orang tau bahwa toleransi kesabarannya tidaklah banyak.
Rose membelalakkan matanya. Ia benar-benar terkesiap saat ini. Setelah sekian lama, setelah selama ini mereka berkomunikasi, baru kali ini Ben menyebutkan namanya, bahkan dengan sangat lengkap. Mata Ben yang mulai memerah, dan juga hembusan nafas yang pendek-pendek, terlihat sekali bahwa pria itu sedang marah. Rose mulai takut dan gemetar, ia tau siapa pria yang berada di hadapannya ini. Dan ia juga sudah tau bagaimana reaksi pria ini jika sudah dimakan oleh amarah.
"Jangan katakan dirimu seperti itu lagi! Kau tidak hina sama sekali. Kau masih utuh, kau masih suci!", melihat Rose yang sedang meringis menahan sakit cengkeraman tangannya, maka Ben pun menghempas tangan itu dengan kasar. Lalu ia berucap sambil menoleh ke arah depan.
"Tidak, Tuan! Aku memang hina dan kotor!", ucap Rose lirih sambil menundukkan kepalanya bersamaan dengan air matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ben tak menjawab lagi. Rasanya ia sudah terlalu banyak bicara, ia sudah lelah saat ini. Tapi dengan rahang yang mengetat dan nampak jelas di pipinya, yakinlah bahwa pria itu sudah kehilangan kesabarannya. Ia mendengus sebelum akhirnya menyambar tangan Rose dan membawanya pergi dari sana.
Ben terus menarik tangan wanita itu dengan kasar. Matanya benar-benar seperti tatapan seorang pembunuh, begitu tajam seperti memiliki ribuan pisau di dalamnya. Mereka sampai di depan mobil, Ben membuka pintu lalu melemparkan Rose begitu saja ke dalam hingga wanita itu terjerembab di kursinya. Tapi Ben tak peduli, ia masih diliputi amarah saat ini. Lalu ia membanting pintu dengan keras hingga orang yang berada di dalamnya menjadi tersentak saking kagetnya. Pria itu membuka pintu untuknya sendiri lalu membanting lagi pintu di sisinya. Tanpa bicara lagi, Ben tancap gas meninggalkan area pantai itu dengan wajah yang sulit dibaca.
***
Lengang dan hening selama perjalanan itu. Rose tidak tau kemana pria ini akan membawanya pergi, yang jelas ini bukan arah ke rumah kakaknya berada. Tapi ia juga enggan untuk bertanya. Apalagi dilihatnya Ben sedang menyetir dengan wajah yang begitu menyeramkan. Rose tak ingin mencari masalah lagi untuk sementara ini. Hingga ia memilih untuk memejamkan matanya sejenak, sebelum ia mengetahui kemana tujuan pria itu membawanya.
***
Mobil itu berhenti di sebuah area parkir club malam. Itu club malam milik Ana, Dragon Night. Ben menoleh ke samping dan mendapati bahwa wanita itu sedang tertidur pulas di kursinya. Ben berdecak, bagaimana bisa wanita ini selalu lengah? Bagaimana jika bukan dirinya, bagaimana jika pria lain yang sedang bersamanya? Akankah wanita ini masih utuh setelahnya?! Ia mengeluh mengatakan bahwa dirinya hina dan kotor, tapi dia sendiri tidak bisa menjaga dirinya sendiri agar tidak menjadi hina dan kotor. Ben sungguh kesal memikirkan hal ini.
Ia pun keluar, memutari mobil kemudian membuka pintu dimana wanita itu berada. Ben memijit kepalanya yang sudah pusing dengan tingkah Rose sejak tadi. Jadi, bagaimana sekarang dia harus membangunkan wanita ini?! Harus dengan cara yang kejam kah? Atau harus membangunkannya secara perlahan?! Baiklah, begini saja,,,,
"Bangun! Kita sudah sampai!", ia menarik tangan wanita itu dengan kasar. Kesabarannya belum pulih sepenuhnya. Terlebih lagi ia masih kesal saat ini.
Susah payah Rose membuka matanya. Setelah menguap beberapa kali dan menggeliat, akhirnya kesadarannya sudah kembali. Sambil mengerjapkan matanya ia menoleh ke arah seseorang yang sepertinya sedang menatapnya tajam.
brrak
Ben membanting pintu yang baru saka dibuka tepat di sebelah Rose. Wanita yang sedang bersandar pada dinding pun begit kaget karenanya. Ia sampai mengelus dadanya yang masih reda dari rasa keterkejutannya. Rose mengedarkan pandangan ke segala arah. Ini area parkir yang sangat luas. Tapi ini dimana, dari tempatnya sepertinya ini bukan tempat yang baik untuk dirinya.
"Ini dimana, Tuan? Dan untuk apa kau membawaku ke sini?", tanya Rose sambil menatap Ben dengan hati-hati.
"Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana wujud wanita yang kotor dan hina yang sebenarnya!", pria itu kembali menarik tangan Rose dengan kasarnya ke arah dalam club itu.
"Duduk!", perintah Ben saat mereka sudah berada di depan bar.
"Lihat dengan seksama, bagaimana sebenarnya wanita yang kau sebut hina dan kotor?! Apakah kau termasuk di antara mereka?", pria itu menatap ke arah seorang tamu yang sedang bercumbu dengan salah satu pelayan club malam itu. Bahkan secara terang-terangan tanpa ada rasa malu di depan orang-orang banyak.
Rose mengikuti arah pandangan mata Ben. Ia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Biasanya ia hanya akan melihat adegan-adegan panas itu di dalam film saja. Bukan secara langsung seperti ini. Lalu dengan sendirinya ia menyapu pandangan ke sekitar area club di lantai bawah ini. Banyak juga pemandangan serupa yang membuat matanya jengah.
Tapi Rose menyebut dalam hati, bahwa bisa sajakan jika mereka merupakan sepasang kekasih. Tapi baru berhenti berucap dilihatnya seorang pria mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya setelah ia mencumbu wanitanya. Lalu keduanya berpisah begitu saja. Rose benar-benar membuka matanya. Apa maksud Ben dengan wanita hina dan kotor itu adalah mereka?
Belum selesai Rose berkutat dengan pikirannya, Ben datang menghampirinya setelah ia pergi sebentar dan entah kemana.
"Ikut aku!", tangannya kembali ditarik oleh pria itu. Mungkin saat ini pergelangan tangannya sudah memerah karena ditarik secara paksa sejak tadi. Tapi Rose sungguh penasaran akan dibawa kemana lagi dirinya kali ini.
-
-
-
-
-
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya