Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Apakah kau mencintaiku?



"Kau duluan!", pinta Ben lembut sambil menipiskan bibirnya. Ia hanya merasa jika wanita ini yang harus pertama kali menumpahkan seluruh beban di hatinya.


Rose terdiam lagi sebentar. Ia mengambil nafas dalam-dalam untuk membuat persiapan dengan hat dan pikirannya. Ia lalu menatap pria itu tajam.


"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, Tuan?! Apakah kau tau bahwa tadi itu sangat berbahaya?! Bagaimana jika kau sampai jatuh ke bawah?! Bagaimana jika aku tak sempat menggapai tanganmu dan kau langsung terjun bebas ke tanah?! Apakah kau tidak sayang dengan nyawamu sendiri?! Kau bahkan belum mendapatkan maaf dariku! Apakah kau sudah tidak membutuhkan maafku lagi?! Bagus kalau begitu, enyah saja dari kehidupanku kalau begitu! Sehingga kau tidak bisa menyakitiku lagi!", akhirnya semua yang tertahan di dalam hati, Rose bisa melupakannya dengan penuh emosional. Air mata yang semula hanya menggenang di pelupuk mata pun, kini tak malu-malu lagi untuk meluncur di sekitar wajahnya yang putih.


"Rose!", pria itu meninggalkan dua bungkusan yang ikut selamat dengannya tadi. Lalu bergerak dengan cepat untuk menghambur ke pelukan Rose. Menenangkan wanita itu dengan sentuhan lembut pada punggungnya. Usapan demi usapan telapak tangan hangat untuk meredakan emosinya.


"Aku belum siap jika kau pergi meninggalkan aku, Tuan! Aku belum siap! Hanya kau, hanya kau yang sangat mengerti aku. Dan hanya dirimu tempat aku berkeluh kesah. Tidak mungkin hal itu ku lakukan pada Kakak, karena hanya akan membuatnya semakin cemas pada diriku saja", Rose menumpahkan semua perasaannya pada bahu pria itu.


Ucapan Rose barusan lantas malahan seperti pedang panjang yang menghunus tepat langsung ke jantungnya. Bagi Rose ia adalah orang yang dapat dipercaya, orang yang dapat diandalkan. Tapi apa yang ia lakukan padanya?! Yang Ben lakukan tadi sore itu malahan membuatnya sakit yang sangat parah.


"Kau yang paling tau apa yang aku takutkan, Tuan! Kau yang paling tau bagaimana sedihnya aku saat harus mengingat dan mengalami hal buruk seperti itu lagi. Tapi mengapa, mengapa kau malahan membuatku menjadi semakin buruk?! Kau yang bilang akan membersihkan diriku yang kurasa kotor. Kau yang bilang begitu! Tapi kenapa kau malahan membuatku semakin merasa kotor, Tuan?! Kenapa?!", tangisan pilu yang sudah ia keluarkan tadi saat mandi kini harus ia keluarkan lagi. Rose menjerit dengan begitu lirih sambil memukuli bahu pria itu pelan. Sakitnya sangat sakit, kini sedang ia luapkan agar pria itu mengerti apa yang telah Ben lakukan tadi padanya sungguh mengiris hati.


"Maaf! Maafkan aku! Sungguh, maafkan aku, Rose!", ucap Ben lirih sambil mempererat pelukannya pada Rose. Ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher wanita itu sambil membenamkan penyesalannya pula yang begitu dalam.


"Kau jahat, Tuan! Kau jahat! Kau telah membuatku kembali merasa kotor. Aku menjadi kotor lagi sekarang karenamu, Tuan! Karena dirimu!", inilah puncak tangisan Rose yang begitu kencang. Terisak dengan keras dengan debit air mata yang makin deras mengguyur bahu Ben yang kini menjadi basah kuyup.


"Tidak Rose! Kau tidak kotor! Kau tidak kotor sama sekali. Aku yang kotor, pikiranku yang kotor. Pikiranku terlalu berkabut tadi. Hatiku terbakar emosi saat melihat kau bersama seorang lelaki. Apalagi kalian sampai berpelukan seperti itu. Hatiku terasa diremas oleh amarah yang akhirnya menaungi otak dan akal sehatku. Maafkan aku Rose, maafkan aku!", Ben pun meluapkan perasaannya. Perasaannya bersalah yang begitu besar dengan penjelasan mengapa ia melakukan hal itu kepada Rose tadi.


"Dengar Rose! Kau masih Rose yang kau kenal. Kau adalah Rose yang masih murni dan suci. Yang kotor adalah diriku, aku! Aku yang telah berpikiran sempit dan malahan menyakitimu. Dan sekarang, aku mohon tolong ampunilah aku. Ampunilah akan atas perlakuanku padamu tadi, Rose. Maafkan aku!", Ben melepaskan pelukannya. Lantas ia menangkup kedua pipi Rose yang banjir sehingga wajah mereka saling berhadapan.


"Aku tidak kotor?".


"Ya!".


"Ya!".


"Aku masih suci?".


"Iya Rose, iya! Kau masih bersih dan suci. Jadi jangan berpikiran seperti itu lagi", Ben mengangguk untuk yang kesekian kalinya.


"Lalu apa kau cemburu?", setengah menangis Rose mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi tersangkut di tenggorokannya. Sejak Ben mengatakan sesuatu di depan pintu kamarnya, ada sesuatu hal yang Rose tangkap. Dan ia membutuhkan kepastian dari mulut pria itu sendiri.


"Aku,,,", Ben segera membuang pandangannya ke arah lain. Menghindari kontak mata langsung dengan wanita itu. Tapi memang itulah yang belum Ben temukan jawabannya sedari tadi. Jika ada Ana mungkin ia akan berkonsultasi dengannya mengenai masalah ini. Tapi situasi sekarang terlalu mendesak dan membuatnya harus segera berpikir.


"Apakah kau mencintaiku?", Rose memberanikan diri untuk mempertanyakan hal ini.


Semua yang mereka alami berdua. Semua hal manis yang mereka punya berdua. Apakah itu hanya semu atau memang murni dari perasaan yang sama yang mereka miliki?! Ataukah mungkin hanya Rose yang memiliki hal ini?! Perasaan yang ia yakini bahwa ini adalah perasaan jatuh cinta. Lalu perasaan sakit hati yang berlebih karena orang yang menyakitinya adalah orang yang ia cinta. Rose meyakini hal ini pada dirinya. Tapi bagaimana dengan pria itu?! Apakah pria itu merasakan hal yang sama dengan dirinya?! Rose sangat ingin mengetahui hal itu.


Ben menjatuhkan tangannya yang tiba-tiba terasa lemas. Pertanyaan yang Rose ajukan benar-benar di luar dugaan. Pria ini, pria yang belum jelas mengerti apakah itu cinta, sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sudah sangat lama saat ia harus mengingat bagaimana rasanya saat merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kali dengan Ana. Dan sisanya, yang ia ingat adalah perasaan untuk terus menjaga dan melindunginya. Seperti itu yang ia mengerti.


Dan ah ya! Ben ingat, ia juga pernah merasakan tidak suka dan sangat marah saat mengetahui bahwa Ana telah memilih pria lain untuk ia cintai. Tapi ia tidak tau apakah nama emosi itu. Apakah itu yang dinamakan cemburu?! Apakah itu karena dulu Ben begitu mencintai Ana sehingga ia cemburu mengetahui Ana telah mencintai pria lain?! Lalu perasaan yang sama ini apakah memiliki nama yang sama?! Jadi ia cemburu saat melihat Rose dengan pria lain?! Jadi benar bahwa ia mencintai wanita itu?!


Terlalu lama berkutat dengan seribu pertanyaan yang menyeruak memenuhi benaknya, Ben bahkan tak sadar bahwa dirinya saat ini telah digiring ke arah pintu kamar. Tatapannya yang kosong membuat Rose kecewa. Ia membawa tubuh pria itu berdiri dan membimbing langkahnya menuju keluar. Tak ada gunanya ia berbicara dengan pria itu lagi.


Tubuh tegap pria itu sudah berdiri di luar pintu kamarnya. Rose berbalik dan masuk sedikit hingga kemudian akan menutup pintu tanpa melihat wajah pria itu lagi. Hatinya benar-benar kecewa saat pria itu malahan diam saja.


"Tunggu!", Ben telah mengangkat kepalanya lalu menggunakan tangannya untuk menahan daun pintu yang akan tertutup itu.