
"Apa?", dengan sabar ia menunggu Rose menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.
"Tuan!", Rose mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah wajah pria itu. Tiba-tiba rasa gugup mengetuk pintu hatinya yang semula sudah mantap untuk mengucapkan kata-kata.
Ben masih menunggu, ia masih sabar menanti Rose membuka suaranya. Lengang mengisi waktu mereka untuk beberapa saat. Hingga akhirnya mereka hanya saling menatap bola mata satu sama lain. Pandangan mata mereka beradu hingga menjadi sangat intens.
Ada sesuatu yang berdesir singgah di lubuk hati milik pria itu. Entah apa karena dia sendiri belum bisa mencerna setiap tindakan yang ia ambil saat bersama dengan wanita yang tengah berdiri sambil menatapnya.
Sebuah dorongan kuat membuat Ben melangkahkan satu kakinya ke depan agar lebih dekat lagi dengan wanita itu. Tapi Rose yang termakan rasa gugupnya pun mundur satu langkah ke belakang hingga dirinya membentur body mobil.
Pandangan mata Ben seakan telah tersihir untuk mengarah ke bibir mungil merah muda yang sudah sejak tadi ia dambakan. Keinginannya untuk mencicipi bibir itu datang dengan kuat saat ini. Rasanya, Ben sangat ingin mengetahui bagaimana rasa bibir yang merekah itu. Apakah manisnya sama dengan bibir-bibir yang telah ia cicipi sebelumnya. Ben sangat penasaran dan matanya pun telah dipenuhi kabut. Kali ini keinginannya begitu kuat hingga ia akan tetap mendorong Rose kepadanya meski wanita itu menolak.
Ben telah mendekatkan wajahnya, lebih dekat, dan lebih dekat lagi. Tapi saat bibirnya akan sampai pada bibir Rose. Wajah wanita itu langsung mencelos ke samping. Wanita itu segera menundukkan kepalanya.
"Maaf, Tuan! Tapi aku,,, tidak pantas!", lirih terdengar suara wanita itu. Rose masih sedikit memikirkan bagaimana dirinya yang sudah pernah dilecehkan oleh pria lain. Ia masih merasa tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang luar biasa seperti yang Ben berikan padanya saat ini.
Meskipun ciuman pertamanya telah direnggut oleh Tuan Rogh saat itu. Tapi bukan berarti Rose tidak menginginkan hal-hal seperti itu, karena ia sendiri juga sering menonton film-film romantis. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga ingin melakukan hal-hal romantis seperti itu dengan pria yang disukainya.
Tunggu dulu! Apa mungkin dia telah menyukai Tuan itu?! Pria eksentrik teman lama kakaknya yang biasanya bertengkar dengannya?! Oh sungguh hati Rose bertanya-tanya. Tapi,, karena ciuman pertamanya bahkan telah direnggut paksa. Maka ia merasa memiliki trauma sendiri saat dihadapkan oleh situasi seperti ini lagi. Rose merasa jijik dan kotor sehingga dirinya tak pantas disentuh oleh pria lain lagi.
Dua jari Ben mengarahkan dagu Rose hingga wanita itu kini menatap wajahnya lagi. Ben menatap lebih dalam lagi ke arah kedua bola matanya. Mengorek setiap luka dan kenangan pahit yang wanita itu punya. Ben ingin menyapu bersih semua itu dari benak Rose. Bagaimana caranya?! Maka biar nalurinya yang bekerja.
"Jika kau masih merasa kotor, maka ijinkan aku membersihkannya", tutur Ben dengan begitu lembutnya. Nadanya tenang namun tetap berusaha membujuk wanita itu agar mau menuruti keinginannya. Keinginannya yang penuh damba kepada wanita yang berdiri di hadapannya.
"Tapi,,, ", Rose menggerakkan bola matanya ke arah lain agar tak bertemu pandang dengan pria itu. Rose terlalu gugup saat ini, hingga pria itu segera memotong ucapannya.
"Sssssttsh!", Ben mendesis seraya menempatkan jari telunjuknya di bibir Rose untuk menutup mulutnya agar tak terus berbicara.
Rose terdiam, ia menurut perintah. Kesempatan ini Ben buat untuk menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya. Ia mengusapkan ibu jarinya pada bibir manis merah muda itu. Lalu segera menempatkan bibirnya pada bibir lembut milik Rose.
Oh tidak! Otak Rose terasa berhenti bekerja. Tapi jantungnya kenapa dibuat bekerja keras. Berdegub kencang hingga terdengar sampai ke luar. Mata Rose terbuka lebar saat Ben baru saja menyentuhkan bibirnya kepada bibir Rose sendiri. Bibir pria itu terasa dingin dan lembut. Melihat Ben menutup matanya maka Rose pun segera menutup matanya. Ya, itu persis seperti yang pernah ia lihat di dalam film-film romantis itu.
Ben sedikit mengintip untuk melihat respon yang Rose berikan saat ia tengah mengecup bibir wanita itu. Dan Rose menutup matanya. Maka Ben melanjutkan aksinya. Ya ampun betapa manisnya bibir wanita ini. Sungguh sangat manis ketimbang wanita yang biasa ia sewa. Ya jelas saja berbeda, jika mereka ada karena uang yang mereka terima. Atau bahkan ada yang memberi dengan sukarela. Maka kali ini ia mendapat sebuah dorongan dari dalam hatinya. Maka rasa manis ini sangat khas dan seperti membuat pria itu ketagihan untuk memperdalam kegiatannya.
Ben yang sudah sangat berpengalaman tentu sudah lihai dalam melaksanakan kegiatan seperti ini. Tapi Rose yang tak berpengalaman, ia berusaha untuk mengimbangi kegiatan bibir pria itu meski masih sangat kaku. Ben tersenyum ditengah candunya terhadap bibir manis merah muda itu. Ia senang ternyata Rose menyambut dirinya.
Keduanya mulai berpikir di tengah otak mereka yang sudah berkabut oleh gairah. Perasaan apa ini sebenarnya yang sedang mereka rasakan saat ini. Hati berdesir, jantung yang berdegub kencang, keduanya merasakan hal ini. Namun Ben lebih pintar menyembunyikan wajah dan perasaannya.
Ben terus melancarkan aksinya dengan terus mengikuti perintah nalurinya untuk terus meresapi rasa manis yang khas dimana hanya Rose yang miliki. Benar, sekali merasakannya Ben sudah mulai memimpin dirinya ke dalam candunya bibir manis itu.
Rose mendorong dada Ben dengan kedua tangannya saat ia merasa mulai kehabisan nafas. Mereka saling menautkan kening mereka sambil berusaha memompa oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam rongga paru-paru masing-masing. Setelah sedikit menetralkan perasaan masing-masing, mereka menempatkan diri mereka pada situasi canggung. Karena bagaimanapun juga hal ini merupakan kali pertama bagi keduanya merasakan hal-hal aneh seperti ini.
"Maaf!", tutur Ben canggung sambil menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal.
"Emmhn! ,,, Tidak apa-apa, Tuan!", wanita itu juga masih sama canggungnya. Bahkan ia menjadi asal menjawab karena belum bisa berpikir dengan otaknya.
"Tidak apa-apa? Jadi aku boleh melakukannya lagi?!", Ben mengulang untuk memastikan bahwa pendengarannya tidaklah salah. Dan ia menyeringai setelahnya dengan pemikiran yang ia punya.
"Eh, bukan begitu! Enak saja! Tadi itu hanya kecelakaan. Tidak ada lain kali! Memangnya kau pikir kau siapa, Tuan! Main cium wanita sembarangan!", ucap Rose kesal seraya masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka.
brrak
Lalu wanita itu membanting pintu mobil dengan kerasnya. Bukannya karena kesal. Sebenarnya ia hanya sedang melarikan diri dari situasi canggung yang mereka hadapi. Karena di sana, Rose seperti sedang kehabisan nafas. Terlalu sesak ia rasa. Ditambah detak jantung yang tidak tau malu karena sudah berbunyi dengan keras. Hah, Rose ingin sekali menyembunyikan diri di dalam selimut tebal hingga Tuan itu tak dapat melihatnya.
Di luar sana, Ben sedang tersenyum puas. Puas karena Rose telah kembali ke dirinya seperti sebelumnya. Rose yang ceria dan pemarah. Tapi ia juga sempatkan menghapus sisa-sisa cumbuannya pada bibir wanita itu. Ben menyeka bibirnya yang masih basah akibat kegiatannya tadi. Pria eksentrik itu sungguh tak dapat melepaskan senyum di bibirnya
-
-
-
-
-
**sampe di sini dulu ya,, maaf kalo lama 🙏
Author nya harus perang sama mata yang udah ngantuk berat soalnya.. Maaf kalo kalian kurang puas sama bab ini ya ..hehe
author tebus di update berikutnya
jangan lupa like, vote sama komentarnya okeh😉
terimakasih 😘
nb: Buat yang masih bingung siapa Ana, baca novel pertama aku ya yang judulnya WANITA PERTAMA PRESDIR, semoga suka
keep strong and healthy ya 🥰**