
Dan dari pintu yang terbuka itu, ia melihat Rose berpapasan di luar kamar. Adik kakak itu terlihat berbincang sebentar. Lalu keduanya pun berpisah arah. Rose kembali ke arah kamar tempat dimana Ben berada. Sedangkan kakaknya itu dibantu Paman Alex menuju ke halaman belakang.
"Tuan, kau sudah sadar?!", dengan antusias Rose mendekat dari arah pintu.
"Ya! Seperti yang kau lihat! Aku sudah sangat segar bahkan, karena tadi tidurku lumayan nyenyak!", dengan santainya pria itu tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Syukurlah kalau begitu!", Rose mengelus dadanya merasa lega.
"Ap,, apa?? Tidur nyenyak? Apa maksudmu, Tuan?!", lalu setelah sadar, Rose pun melemparkan tatapan tajamnya ke arah pria itu.
Sambil menggeram marah, wanita itu mengepalkan kedua tangannya di samping. Seperti banteng betina yang marah, kepalanya maju terlebih dahulu sebelum tubuhnya. Rasanya Rose sudah siap untuk menyeruduk pria itu dengan kepalanya.
Bibir mengerucut ke depan, dengusan nafasnya yang kasar. Seperti nampak jelas bahwa Ben telah membuatnya amat sangat kesal.
"Kau pikir itu lucu, hah?!", langkah yang terburu itu berhenti tepat di pinggir ranjang. Niatannya untuk menyerang pria itu dengan kepalanya, tidak jadi. Pasti sangat sakit menyerang tubuh yang keras seperti batu itu. Rose masih lebih sayang dengan kepalanya.
Padahal tadi itu ia sudah sangat khawatir terhadap pria tu. Padahal ia sudah sangat merasa bersalah dan ia meletakkan semua kesalahan itu hanya kepada dirinya sendiri. Melihat pria tangguh itu tiba-tiba tak sadarkan diri membuat detak jantungnya melemah. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada diri pria yang sudah ia cintai itu.
Tapi kenyataan apa yang harus ia terima sekarang?! Nyatanya pria itu terlihat baik-baik saja. Bahkan seperti tidak terjadi sesuatu apa pun terhadap dirinya. Dan hal itu sungguh membuat Rose murka.
"Lalu kau pikir tindakanmu juga lucu, hah?! Memanjat pohon setinggi itu tanpa tau akibatnya! Apa kau tidak memikirkan apa resikonya jika kau jatuh dari ketinggian seperti itu?! Kau pikir lucu bermain-main dengan nyawamu sendiri?! Aku hanya melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan tadi!", segera Ben mengubah ekspresi acuhnya dengan wajah serius. Pria itu juga menegakkan punggungnya, melipat tangannya di depan dada, untuk lebih menegaskan keseriusan yang ia miliki dalam ucapannya.
Wanita yang sekarang berdiri di pinggir ranjang itu melepaskan kepalan tangannya. Serangan yang akan ia lancarkan malahan berbalik menyerang dirinya sendiri. Mendengar ucapan pria itu Rose pun menyadari kesalahannya. Ternyata ini memang dimulai dari dirinya. Kepala wanita itu akhirnya tertunduk lesu.
"Ini semua gara-gara mangga itu!", Rose bergumam pelan dengan wajah yang menghadap ke bawah itu. Ia melemparkan masalah ini pada buah yang sangat menggiurkan itu. Bibirnya mengerucut kesal.
"Hey, aku dengar!", sahut pria itu datar.
"Aku tidak mengatakan apa-apa!", Rose berkilah. Wanita berambut pirang itu mencoba untuk membela diri. Bola matanya bergerak ke samping dengan wajah polosnya.
"Jadi maksudmu aku tuli, hah?!", Ben mulai meninggikan suaranya.
Sudah seperti ini pun wanita itu seperti belum menyadari kesalahannya. Wajah polosnya itu seolah ia tidak merasa bersalah sedikit pun. Dan malahan terus menguji kesabarannya.
"Aku tidak bilang begitu, kan?!", wajah Rose menjelaskan ketidaksetujuan. Bibirnya makin mengerucut sekarang.
"Kau mencoba membodohiku! Hah!", Ben akhirnya menarik tangan Rose dengan sedikit kekuatan. Tapi wanita itu merasa ditarik dengan kencang, hingga ia pun terduduk di atas pangkuan Ben.
Sepertinya pria itu sengaja melakukannya. Wanita itu pasti tau jika kesabaran yang ia miliki sangat terbatas. Lalu bisa-bisanya sekarang Rose malahan menguji kesabarannya yang hanya sedikit ini. Lihat saja apa yang akan ia lakukan untuk memberikan hukuman agar wanita itu jera bertindak sesuka hati lagi.
"Auww! Auww! Sakit, Tuan! Ampun,, ampun! Tolong lepaskan tanganmu dari telingaku! Iya, iya aku mengaku salah! Aku salah!", mulut Rose meracau di antara rasa nyeri di telinga yang ditarik dengan kencang oleh Ben, dan juga permohonan ampun yang belum juga dikabulkan oleh pria itu.
Tiga detik, lima detik, dan ternyata setelah hitungan kesepuluh selesai barulah Ben melepaskan telinga Rose yang sudah sangat merah itu.
Dan Rose pun segera menggosok telinganya yang sekarang terasa panas dan perih. Pria ini memang kejam. Selalu kejam bahkan sejak mereka pertama kali bertemu. Waktu itu ia dicekik hingga hampir kehabisan nafas. Lalu sekarang telinganya ditarik sampai rasanya mau lepas dari sisi kepalanya. Oh Tuan, tolong kasihanilah dia sedikit saja!
"Awas saja jika sampai aku tau kau mengulangi hal seperti ini lagi!", ucap Ben tegas setelah menjauhkan tangannya dari telinga Rose.
"Sakit!", wanita itu merintih dengan bibir yang merengut ke bawah. Satu tangannya masih menggosok telinganya yang sakit. Tapi ia tetap mengangguk patuh. Ia tak ingin mendapatkan hukuman lagi dari pria yang kejam itu.
"Maafkan aku! Bukannya aku kejam! Tapi aku tidak suka melihatmu bertindak ceroboh seperti itu, Rose! Paling tidak harus ada aku di sana. Jadi aku bisa melakukannya untukmu, ataupun misalnya aku bisa menjagamu di saat kau menghadapi bahaya seperti tadi! Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada dirimu. Kau itu sudah menjadi salah satu orang yang paling penting di dalam hidupku.Jadi jangan lagi bermain-main seperti tadi, ya! Aku bisa gila, Rose!", Ben pun menjadi tidak tega saat melihat kerlingan air mata sudah menumpuk di ujung mata wanita itu.
Sepertinya memang kekuatannya agak keterlaluan saat menarik telinga Rose. Pasti wanita itu merasa sangat kesakitan sekarang. Buktinya saja, wanita itu sampai menahan tangisnya. Tapi itu ia lakukan juga karena Ben terlalu mengkhawatirkan wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu.
"Jangan menangis lagi, ya!", setelah mendengar penuturan Ben, air mata Rose malahan jatuh tiada henti. Melaju terus seperti tidak memiliki rem untuk menghentikannya. Dan hal itu malahan membuat Ben makin merasa bersalah.
Tangan pria itu mengusap wajah Rose yang basah. Mengeringkannya berulang kali hingga tidak ada lagi air mata yang jatuh ke pipi. Lalu direngkuhnya tubuh Rose ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku jika aku keterlaluan, ya!", lantas pria itu mengusap pucuk kepala Rose dengan lembutnya.
"Sebenarnya aku menangis terharu! Tapi,,, telingaku sakit juga! Lain kali jangan menarik telingaku lagi jika ingin memberiku hukuman!", Rose membalas pelukan kekasihnya sambil merajuk seperti anak kecil di dalam pelukan itu.
Hah, syukurlah! Ben merasa lega. Ia pikir Rose menangis karena ia telah benar-benar menyakitinya. Pria itu mengangguk sebagai jawaban.
"Aku senang kau sangat mengkhawatirkan aku sampai seperti ini! Rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak mendapatkan perhatian yang berlebihan seperti ini! Bahkan ayahku saja pun mungkin sudah lupa kapan terakhir kali beliau memberikan perhatiannya kepadaku!", tanpa sadar Rose jadi mengingat kenangan lama.
Hal-hal yang membuatnya selalu tersenyum ironi setiap saat. Bahkan di saat pertemuannya dengan ayahnya itu, tak ada sedikit pun kasih sayang seorang ayah ia rasakan.Apalagi saat itu ia paling membutuhkan sosok yang dapat melindunginya. Tapi kenyataan pahitnya adalah, ia hanya bisa menjerit di dalam hati, meneriakkan nama kakaknya yang saat itu ia tak tau dimana keberadaannnya.