Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Strawberry cheese cake



"Siapa?", tanya Ben datar. Ia tak berpikir apa-apa karena saat ini pikirannya sedang tertuju pada orang yang menantinya.


"Aku!", seseorang menerobos masuk pintu ruangan itu. Orang itu tak lain adalah Baz Peterson.


"Kau!", seru Ben yang dengan sigap segera mengubah ekspresinya menjadi serius. Ia menatap lurus ke arah wajah Baz Peterson itu dengan matanya yang tajam. Berani sekali orang ini datang ke sini langsung, bahkan sepertinya dia hanya membawa dirinya sendiri. Menurut penilaian Ben saat ini, sepertinya orang itu telah membuat sebuah keputusan. Ben tersenyum samar bahkan hampir tak terlihat menyadari bahwa rencananya berhasil.


"Siapkan jamuan untuk tamu jauh kita, Relly!", perintah Ben seraya bangkit dari duduknya mendekat ke arah Baz berdiri. Relly yang diberi perintah pun segera keluar dari ruangan itu.


"Aku yakin kau ke sini bukan hanya untuk berdiri kan, Tuan!", ucap Ben acuh namun masih sempat menyematkan senyum datarnya sembari menggiring Baz ke sofa.


"Panggil aku Baz saja. Aku tidak ingin suasana ini menjadi sangat kaku bagi kita", Baz mulai mendudukkan diri di sana sambil merentangkan salah satu tangannya. Ia juga berusaha membuat dirinya terlihat santai dengan menyandarkan punggungnya di sofa itu. Meski sebenarnya hatinya sudah sangat menggebu-gebu untuk mengorek semua informasi yang diinginkannya.


"Baiklah, itu mudah! Kalau begitu kau juga harus memanggilku Ben saja", Ben pun mengikuti gerakan Baz dengan menyandarkan dirinya di sana. Keduanya duduk berhadapan dengan wajah yang sulit dibaca. Tatapan mata mereka menyiratkan isi hati mereka masing-masing.


"Oke!", jawab Baz santai tapi wajahnya tetap dibuat datar.


Relly masuk, ia membawa sebuah nampan dengan dua gelas minuman dan dua piring strawberry chees cake di atasnya. Melihat hal itu, sudut bibir Baz berkedut. Ia tak menyangka jika ketua geng mafia yang terkenal seram itu menyukai hal-hal manis seperti ini. Bahkan pria itu juga memajang vas bunga kecil di mejanya. Ah ya, sampai sekarang Ben masih memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan setangkai lili putih di ruangannya, semenjak pertama kali Rose memberikan bunga itu kepadanya saat itu. Baz tidak tahan untuk tidak tersenyum, jadi dia memilih untuk berdehem untuk menyembunyikan senyumannya yang sedikit mengembang. Pria ini memiliki banyak kejutan, pikirnya.


"Boleh aku mencicipi kuenya?", tanya Baz yang tangannya sudah akan mencapai piring kue itu.


"Silahkan saja! Tapi jika kau ketagihan jangan ambil punyaku!", dengan waspada Ben menjauhkan piring miliknya dari jangkauan pria di depannya.


Ya ampun, Baz ingin sekali memukul pria ini. Dimana letak wibawa orang itu sebagai ketua geng mafia ternama, hanya karena urusan sepiring kue sepertinya mereka bisa mulai bertarung karenanya. Begitu prediksi Baz ketika melihat tatapan sengit Ben kepadanya.


Ia memotong sebagian kecil kue di depannya, lalu dengan percaya diri ia memasukkan potongan itu ke dalam mulutnya. Dan ah,,,, mata Baz segera membulat dengan ekspresi puas di wajahnya.


"Ini benar-benar enak!", Baz tida bohong. Bukan demi sopan santun atau basa-basi, tapi kue yang ia coba barusan memang sangat enak. Segar dan creamy, begitu yang ia rasakan di mulutnya saat ini.


Ternyata apa yang Ben ucapkan adalah begini maksudnya. Memang membuat orang ketagihan untuk terus melahapnya. Baz jadi tak bisa menghentikan tangannya untuk terus menyendok makanan itu sampai lenyap semua dari piringnya.


Melihat hal itu, Ben jadi tersenyum puas hingga menimbulkan wajah congkaknya. Kue ini memang favoritnya, dan semua orang yang datang untuk menemuinya juga harus mencicipi kue ini hingga menjadi gila untuk meminta lagi dan lagi. Padahal Ben tidak melakukan apapun pada kue itu. Karena kenyataannya kue itu memang benar-benar enak.


"Baiklah, lupakan tentang kuenya! Jadi apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini?", Ben kembali memasang wajah seriusnya. Bahkan pria itu telah mencondongkan tubuhnya ke depan sangat menantikan jawaban dari orang di depannya.


"Ini tentang surat yang kau kirim tempo hari!", Baz menautkan jari jemarinya sambil memajukan lagi tubuhnya ke depan.


Ben sudah menduga hal ini. Jadi dia dengan sabar menunggu Baz mengucapkan semua yang ingin dikatakan kepadanya. Ben menghela nafas seraya menyandarkan kembali punggungnya ke sofa untuk membuat dirinya lebih rileks dan santai sambil mendengar semua ungkapan Baz padanya.


Baz mulai menceritakan kepada Ben semua yang diketahuinya. Tentang cerita awal bagaimana ia bisa sampai begitu membenci Victor hingga memutuskan untuk membalaskan dendamnya. Lalu mengenai surat yang Ben kirim, Baz juga sudah menggali informasi itu lebih dalam lagi. Informasi yang membuatnya menanam kecewa begitu besar pada dirinya sendiri jika memang kenyataannya memang benar begitu adanya.


"Tapi,,, sebelum aku mempercayai semua itu, aku ingin kau memberikan aku bukti yang kuat sebagai dasar agar aku benar-benar menghentikan balas dendam yang salah ini. Dan,,, jika aku menemukan bahwa semua ini hanya trik kotormu saja agar aku berhenti mengganggu temanmu itu, lihat apa yang bisa aku lakukan pada kalian semua nanti!", kedua pria itu saling melemparkan sengatan listrik pada tatapan mata mereka yang bertemu. Sikap Ben masih santai, tapi dari tatapannya ia siap menerima tantangan yang Baz berikan untuknya. Ia tidak takut karena memang ia memiliki semua yang Baz inginkan di tangannya.


"Aku yakin bahwa kau adalah pria tangguh dan hebat. Kau telah menggunakan instingmu hingga membawamu ke sini, kan?! Tentu kau tau sendiri bahwa jauh di dalam lubuk hatimu yang telah gelap itu kau mempercayai apa yang akan kau lihat setelah ini. Aku tidak berharap kau akan percaya kepadaku, itu terserah pada dirimu. Tugasku hanya meluruskan semua hal yang selama ini sudah dibelokkan dari jalannya sehingga menutupi mata hatimu", sahut Ben lugas seraya menyesap kopinya. Ia tak ragu sama sekali untuk mengatakan hal itu. Ia juga memiliki tujuannya sendiri untuk memprovokasi orang itu.


Serasa ditampar keras wajah Baz saat ini. Perkataan yang Ben ucapkan itu sungguh mengena ke dalam hatinya. Sindiran Ben halus, namun mampu melukai semua kegelapan hatinya selama ini. Bahkan dengan begitu mulai timbul sedikit penyesalan kepada beberapa orang yang tidak semestinya menanggung derita mereka selama ini.


Selama perenungannya, Baz tidak menyadari jika Ben sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mejanya. Ia menarik laci meja itu lalu mendorongnya kembali setelah mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.


"Karena kau sudah membuat keputusan, maka perhatikan ini baik-baik!", Ben sudah duduk lagi di tempatnya. Menyambungkan sebuah flashdisk ke laptopnya, lalu ia hadapkan benda itu ke arah wajah Baz yang sudah menanti dengan wajah penasarannya.


Sungguh ia berharap Baz akan segera menyadari semua ini, lalu yang terpenting adalan bahwa nyawa Rose akan terselamatkan karenanya. Karena memang itulah tujuan Ben yang sebenarnya.


Layar datar itu mulai memutar sebuah suara, itu adalah kumpulan percakapan antara Victor dengan orang yang memberinya pekerjaan yang berujung dengan kemalangan itu. Semua terdengar jelas, membuat Baz juga kembali mengingat masa lalunya bersama Victor kala itu. Jelas sudah bahwa Victor hanya menerima pekerjaan itu untuk memata-matainya saja.


Tapi,,, suatu percakapan dimana Tuan itu memerintahkan Victor untuk melenyapkan ayahnya dan mengancam atas nama adiknya membuat Baz geram dibuatnya. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, tapi emosinya sedikit mereda karena ia mendengar bahwa Victor terdengar keberatan dengan permintaan orang itu.


"Tahan emosimu! Jangan sampai kau malah menghancurkan laptopku!", peringatan Ben berkumandang di telinga Baz saat melihat wajah pria itu sudah memerah saat ini. Bukannya Ben pelit, ia bisa saja membeli laptop baru untuknya. Tapi dari laptop itu dia bisa melepas rindunya pada Rose dengan hanya menyalakannya saja. Lalu gambar wanita itu dengan segala pergerakannya akan nampak di layar monitornya. Ben hanya tidak rela mengenai masalah itu saja. Itu sangat penting baginya.


"Maaf! Aku terlalu emosi tadi!", sikap Baz yang tegang kini sedikit melunak.


"Dalam kecelakaan ayahmu, Victor tidak sepenuhnya bersalah. Meskipun orang pertama yang mereka lihat adalah dia. Tapi sesungguhnya Victor sendiri adalah korban. Ia tidak memiliki pilihan saat itu. Orang itu begitu licik hingga menjebak temanku sampai sebegini dalam terjerumus ke dalam intriknya. Baz , temanku telah difitnah selama ini!", Ben tiba-tiba berdiri lalu membalikkan badan untuk membelakangi Baz yang masih duduk termangu di sofa.


"Tapi bagaimana bisa seperti ini! Semua orang sudah jelas bahwa Victor adalah penyebab kematian ayahku dan mencelakai adikku yang berada di dalam satu mobil bersama ayah. Dia mencoba membunuh seluruh keluargaku!", ucap Baz bersemangat dengan fakta yang baru saja didengarnya.


"Tenang saja! Untuk masalah itu aku juga memiliki jawabannya!", Ben kembali meletakkan sebuah flashdisk di atas meja itu.