
Ini sudah satu minggu berlalu sejak Ben mengutus orangnya untuk mendatangi Baz secara langsung. Ia menyatakan keseriusannya dalam hal ini karena telah berani menyambangi sarang orang yang sekiranya belum tau dia akan menjadi kawan atau musuh.
Ia mengirimkan sesuatu yang akan mengubah jalan pikiran orang itu, bahkan mungkin membunuh segala rasa benci dan dendam yang dimilikinya selama bertahun-tahun ini. Jalan yang salah yang sudah ia tempuh, Ben harap orang itu mau memperbaikinya.
Tapi saat ini Ben termenung sendiri memikirkan apa benar langkah yang diambilnya saat ini. Satu tangannya mengusap dagu runcingnya dengan pandangan lurus ke depan. Yang ia takutkan adalah, bahwa orang itu tak dapat menangkap apa yang Ben maksud sehingga malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Ia tau, sangat sulit mengendalikan orang yang sudah memiliki hati yang terikat dengan pembalasan dendam dan juga sebuah pengkhianatan. Tapi hanya dengan begini orang itu harus tau bahwa selama ini ada sesuatu yang menutupi matanya sehingga ia hanya dibutakan oleh dendamnya sendiri.
"Tuan!", tanpa ia sadari Relly sudah masuk ke dalam ruangannya yang entah sejak kapan. Bawahannya itu datang untuk memberi laporan.
"Emmmnn?", Ben bergumam menyahuti panggilannya.
"Orang-orang kita sudah pulih sepenuhnya. Kerusakan-kerusakan yang ada juga telah selesai diperbaiki. Kita juga sudah menambah suplai senjata untuk berjaga-jaga. Dan orang Peterson itu sampai saat ini belum memberikan respon, Tuan!", Relly menyampaikan laporannya terkait keadaan terkini. Ben menanggapinya dengan anggukan, bahwa ia mengerti.
"Lalu bagaimana dengan musuh yang telah diajaknya bekerjasama?", tanya Ben lagi mengesampingkan pernyataan Relly tentang Baz Peterson itu.
"Mereka semua sudah habis kita bantai, Tuan!", sudut mulut Relly berkedut dengan menampilkan kepuasan yang dimiliki matanya.
"Berani mengusik, tau sendiri akibatnya!", ucap Ben dengan tatapan kejam bak raja iblis yang agung.
"Lalu apa yang akan kita lakukan pada orang itu, Tuan?", Relly sedikit geram pada bosnya karena masih memberikan hati pada orang yang bernama Baz itu. Yang telah berani mengusik ketenangan Geng Harimau Putih ini.
"Aku memiliki urusanku sendiri dengannya. Lagipula dia adalah Ketua Geng Elang Merah di negaranya. Kita tidak mungkin mengusik kelompok sekutu!", di negara ini Geng Elang Merah merupakan sekutunya. Baik kelompok itu maupun kelompok yang Ben ketuai memiliki kesamaan bidang, walaupun begitu mereka biasanya akan selalu akur sejak dulu. Jadi Ben tak ingin membuyarkan ketentraman yang sudah dibangun sejak lama ini.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan penyerangan kemarin? Bagaimana dengan teman-teman kita yang terluka? Bagaimana dengan kerusakan yang dia timbulkan?", sahut Relly masih tidak terima. Bagaimanapun juga kemarin itu adalah penyerangan besar-besaran terhadap markasnya. Markasnya telah diserang secara membabi buta oleh orang yang datang dan tak ada habisnya. Beruntung mereka masih bisa bertahan meski mengalami kerugian besar. Bahkan Relly sendiri juga mengalami cedera, meski ringan tapi biasanya serangan apapun tidak akan menembus kulit Relly apalagi Benny Callary. Jadi bisa dipastikan bahwa serangan kemarin tidaklah main-main. Itu juga yang membuat Relly geram.
"Itu adalah ulahnya sendiri. Tidak ada hubungannya dengan kelompoknya itu. Aku telah menyelidiki bahwa dia meminta musuh-musuh kita untuk melawan atas naman pribadi, tanpa membawa embel-embel jabatan yang dimilikinya", Ben memberi pengertian agar emosi Relly mereda. Ia sangat paham betapa marah dan geram bawahannya itu tentang penyerangan kemarin.
Relly diam, ia tak menjawab sepatah katapun. Bukan ia tak memiliki jawaban untuk ucapan bosnya itu. Tapi,, apa yang bos nya katakan memang benar. Dan dia sendiri juga tau masalah apa yang sebenarnya terjadi. Semua berawal dari sebuah aksi balas dendam yang salah sasaran.
"Apa kau meragukan keputusanku?", Ben mencondongkan tubuhnya. Ia menautkan jari-jemari tangannya untuk menyanggah dagunya. Pria itu menatap serius ke arah bawahannya.
"Tidak, Tuan! Saya tidak berani!", Relly menundukkan kepala. Lalu ia memilih untuk keluar dari ruangan itu. Menghindari perdebatan yang akan terjadi lagi antara dirinya dan juga bosnya. Karena bagaimanapun juga, ia masih merasa bahwa ucapannya adalah benar. Relly membela kawan-kawannya dan juga menyesali kerusakan markasnya yang sudah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
Rasanya ia membutuhkan vitamin untuk mengembalikan semangatnya hari ini. Selama berhari-hari ini, ia terlalu lelah mengurusi banyak hal. Ia memerlukan sesuatu yang membuat moodnya kembali bagus.
Pertama ia mengambil laptopnya dan diletakkannya di atas meja. Tapi setelah beberapa saat, masih urung ia menyalakannya juga, ia malahan terpaku menatapi laptop itu. Ben ragu untuk melakukan hal itu. Lalu ia memutuskan untuk mengambil ponselnya yang juga berada di atas meja.
ttut,, ttut,, ttut,,
"Aaakkkhhh", suara seorang wanita berteriak setelah sambungan telepon itu terhubung.
Di sana, Rose awalnya berpikir jika itu merupakan sebuah panggilan biasa. Tapi setelah menggeser tombol terima, ia tak kunjung mendengarkan suara maka Rose mengalihkan ponselnya ke hadapan wajahnya. Dan oh tidak,, itu adalah sebuah panggilan video.
Tak masalah jika Tuan seram itu yang menelpon, toh dia sendiri juga sudah sangat rindu karena sudah beberapa hari tidak saling bertukar kabar. Tapi yang menjadi masalah adalah apa yang ia kenakan saat ini. Dia baru saja selesai menyegarkan diri di kamar mandi. Dan yang lebih parahnya lagi adalah dia hanya menggunakan handuk yang melilit dari lutut sampai ke dada. Itu belum lagi dengan rambutnya yang basah. Oh astaga, dia sedang membuat jebakan untuk dirinya sendiri.
Ada lagi yang lebih menyebalkan, pria yang baru saja menghubunginya saat ini sedang menatap layar ponselnya dengan mulut menganga, mata membulat besar dan tanpa berkedip sedikitpun. Tatapannya mengisyaratkan kekaguman yang luar biasa.
"Waahh!", begitu suara yang keluar dari mulut Ben pada pesona Rose yang baru saja selesai mandi. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
"Tunggu,, tunggu sebentar!", Rose segera membanting ponselnya ke atas ranjang. Hingga layar di ponselnya menjadi gelap dalam pandangan Ben di seberang.
"Aku akan pakai baju dulu, tunggu sebentar!", teriak Rose kalang kabut menuju lemarinya.
"Jika aku melihatnya juga tidak masalah?! Kenapa kau jadi pelit sekali!", seru Ben seakan tak terima layar ponselnya dibuat hitam semua. Tapi nyatanya ia juga sedang mencoba menahan tawa.
"Diaammm!", teriak Rose sambil memakai pakaiannya dengan cepat.
Sambil menunggu wanita itu berpakaian, Ben sendiri kembali menyandarkan punggungnya ke sofa dengan bibir yang tak berhenti menyunggingkan senyumannya. Ia mengelus dadanya yang sedang berdebar sekarang. Juga merutuki juniornya yang mulai bereaksi hanya karena melihat wanita yang tidak sepenuhnya tanpa busana. Cepat sekali reaksi juniornya ini, padahal biasanya ia hanya biasa saja jika melihat wanita yang bahkan hampir telanjang di hadapannya.
Ia benar-benar membenarkan keputusannya kali ini karena tidak menyalakan laptopnya. Karena jika iya, maka entah bagaimana ia harus menanggapi juniornya yang sedang membandel ini. Penampakan yang akan ada di layar laptopnya itu pasti akan membuatnya pusing hingga ke dalam sana.
"Hah! Untung saja!", Ben kembali mengelus dadanya.