Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Mencari Ben



"Ha,, halo!", sapa Rose dengan wajah ragu.


"Hey kau!! Apa kupingmu tuli, hah?! Sudah berapa lama aku menelpon tapi tidak kau angkat juga!", suara itu menggelegar hingga telinga Rose hampir benar-benar tuli dibuatnya. Ia menjauhkan ponsel itu agar suara yang memekik itu tak lagi menyakiti gendang telinganya.


Tunggu dulu,,, ia kembali melihat nama si pemanggil, dan itu masih nama yang sama. Tapi orang ini langsung berbicara seakan-akan ia sudah tau siapa yang akan mengangkatnya. Atau apakah orang ini sakit panas, hingga ia tiba-tiba marah-marah?! Rose mendesah sebelum meletakkan kembali ponsel itu ke telinganya.


"Halo!", sapanya lagi hati-hati.


"Hey, apa kau benar-benar tuli, makanya tidak menjawab pertanyaanku, hah!", orang di seberang sana masih diliputi emosinya. Dari suaranya sih dia seorang pria. Dan pria itu tengah membentaknya.


Huh, hati Rose dibuat panas seketika. Memangnya apa yang salah dengan dirinya?! Harusnya saat ini yang marah-marah itu dirinya karena sudah diganggu sejak belum membuka mata. Apalagi sekarang orang itu masih saja menjerit di seberang saluran sana.


"Hey, kau! Kau pikir kau siapa?! Pagi-pagi begini sudah marah-marah! Dan kau itu sudah mengganggu tidurku, tau! Jadi yang harusnya marah itu aku, bukan dirimu!", Rose membentak orang itu balik sambil mengerucutkan bibirnya. Ia juga kesal, biar orang itu tau.


"Pagi kau bilang?! Lihat keluar jendela! Matahari saja malu melihatmu baru saja membuka mata!", orang itu terdengar menggeram di sana.


Sebenarnya Rose kesal mendengar sindiran yang orang itu keluarkan dari mulutnya. Tapi ia tetap berusaha melirik jam dinding kamarnya. Oh betapa terkejutnya Rose, ini sudah jam sebelas. Dan untuk memastikan lagi, ia bangun dari tempat tidurnya untuk menyibak gorden yang masih menutupi jendelanya. Hah, ini benar-benar sudah siang ternyata. Rose menutup mulutnya tak percaya dengan rasa malu di hatinya. Ia meringis sendiri saat ini.


"Dan aku?! Apa kau tidak mengenali suaraku, heh!", pria itu sudah menurunkan nada suaranya. Tapi tetap saja terdengar kesal.


"Apa pentingnya aku untuk mengenali suaramu?! Memangnya kau siapa?! Presiden? Kakakku? Atau kekasihku! Cih! Tidak masuk di akal sekali!", Rose memutar bola matanya malas sambil mencibir. Ia benar-benar kesal dengan kepercayaan diri yang orang itu miliki.


"Anggap saja seperti itu!", lirih suara pria itu terdengar datar.


"Heh!", wanita itu mengernyit keheranan. Sebenarnya apa maksud pria itu bermain teka-teki seperti ini. Hih,,, benar-benar pusing Rose menghadapi orang itu.


"Lupakan! Dengar baik-baik!", Rose tetap memutar bola matanya malas saat pria itu memberinya perintah.


"Aku ini Ben. Benny Callary!", Rose membungkam mulutnya dengan mata yang menjadi bulat besar.


"Tu,, tuan!", gumam Rose lirih sambil menerka-nerka apa maksud dari semua ini.


"Sekarang aku sudah berada di markas. Ada sesuatu yang mendesak yang harus aku tangani sendiri. Entah kapan aku bisa kembali lagi ke sana, aku belum bisa memprediksi", terdengar helaan nafas dari pria itu. Seakan keputusan itu cukup berat ia ambil.


Mendengar penjelasan Ben, sesuatu langsung menghilang di dalam hatinya. Tangannya yang satu mengepal dan menempel di depan dada. Hatinya tiba-tiba mencelos seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Padahal baru semalam hubungan mereka membaik. Dan bahkan mereka saling,,,,


Ah, Rose enggan menyebutkannya meski dalam hati. Ia terlalu malu saat ini. Hatinya baru saja berbunga-bunga semalam, dan ia berharap pagi ini setelah ia membuka mata. Orang pertama yang akan ia lihat adalah Tuan itu. Setelah pertengkaran mereka berhari-hari, Rose harap setelah ini mereka akan menjadi akur ataupun lebih. Uppss,,, Rose memukul kepalanya yang baru saja berpikir lancang.


Tapi apa yang baru saja dikatakan pria ini, Rose berpikir jika dia pasti sedang dikerjai. Pasti pria itu sedang berbohong, pasti pria itu tengah bersembunyi di kamarnya, kan. Rose segera berlari keluar kamar dan langsung menerobos pintu kamar di sebelahnya. Itu kamar yang Ben tempati.


"Kau pasti bercanda kan, Tuan! Kau pasti sedang bersembunyi kan di dalam! Ayo cepat keluar, aku sudah berada di dalam kamarmu sekarang!", wanita itu belum bisa menerima jika ucapan Ben adalah nyata. Rose masih mengira Ben hanya menjahilinya saja.


"Kau cari sampai tangan dan kakimu lumpuh juga tidak akan ketemu! Aku benar-benar sudah kembali ke markas. Tadi gelap-gelap aku sudah berangkat ke sini", pria itu memberi penjelasan agar Rose mengerti tapi masih dengan gayanya yang angkuh dan kasar.


Wanita itu terduduk lemas di ranjang yang biasa Ben tempati. Matanya berubah sendu, garis lengkung bibirnya mengukir ke bawah. Hatinya merasa bersedih setelah memastikan bahwa laki-laki itu memang tidak ada di kamarnya. Hidungnya sudah kembang kempis menahan tangis. Tapi hey, mengapa ia jadi sesedih ini?! Apa orang itu sudah begitu berarti untuk dirinya kini?! Rose menghela nafas begitu panjang untuk mengatasi kegundahan hatinya.


"Jadi kau benar-benar pergi ya? Lalu nanti dengan siapa aku akan bertengkar? Dengan siapa lagi aku akan marah-marah?", wanita itu menatap sendu langit-langit kamar itu.


"Apa kau sudah begitu merindukan aku?! Padahal kita tidak bertemu baru beberapa jam saja!", Ben memiliki kesempatan untuk menggoda wanita itu dengan gaya acuhnya.


"Heh, mana ada!", Rose mengelak tapi bibirnya tersenyum.


"Akui saja!", sambil mendengarkan Rose memutar tubuhnya hingga kini ia berpindah posisi menjadi tengkurap.


"Apa yang harus aku akui, Tuan?! Jangan terlalu percaya diri!", Rose menutup mulutnya yang tersenyum lebar sambil menaik-turunkan kakinya di belakang.


"Dengar! Aku meninggalkan ponselku untuk kau gunakan. Aku lihat kau tidak memiliki alat komunikasi yang sangat penting ini, kan. Aku sudah mengaktifkan gps pada ponsel itu yang akan terhubung langsung ke ponsel yang aku pegang sekarang. Dan aku juga sudah menempelkan pelacak yang sama pada tas yang kau gunakan kemarin. Ingat, selama aku tidak ada jangan terlalu sering keluar rumah. Jika harus benar-benar keluar, maka bawa ponsel itu dan juga tas yang kemarin kau gunakan. Itu akan mempermudah aku untuk mengetahui lokasimu jika terjadi sesuatu seperti kemarin", Ben membuat pengaturan untuk adik temannya itu. Mengingat bagaimana kejadian penculikan kemarin, membuat hati Ben menjadi tidak tenang sebenarnya untuk meninggalkan rumah itu.


Si pria sedang sibuk memberikan arahan. Tapi si wanita malahan sedang tersenyum sendiri sambil menikmati suara si pria. Apalagi mendengar pria itu begitu cerewet dan lebih seperti sedang mengkhawatirkannya, maka hati Rose tetiba menjadi berbunga-bunga.


"Hey, kau ini mendengarkan atau tidak?! Kenapa dari tadi hanya diam saja!", bentakan Ben lantas membuat Rose kembali kesadarannya. Ia terperanjat hingga ponsel yang ia pegang terlepas dari tangannya dan jatuh ke ranjang.


-


-


-


-


-


-


ini dulu aja ya,, nanti masih ada satu lagi, kalo author udah selesai nulis langsung di post ya


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya