Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Sebuah permainan



Ketika suara ayam mulai berkokok, tiba-tiba secara serempak, kelompok lawan mundur teratur ke suatu arah. Lalu beberapa mobil dengan bak terbuka datang dan mereka yang masih berlari naik ke atasnya. Hingga semua mobil itu terisi penuh dan tak menyisakan rekan mereka sama sekali di belakang. Ada sekitar empat mobil dengan orang-orang yang duduk dan berdiri sambil terus melawan balik tembakan yang kelompok Ben berikan.


Ben sendiri sebagai ketua memimpin semua anak buahnya mengejar kelompok itu. Ben dan timnya masih menghujan orang-orang itu dengan tembakan bertubi-tubi. Sayangnya, mobil-mobil itu terus bergerak dan mereka kalah cepat dalam hal ini. Namun anehnya, gerakan lawan mereka sekarang lebih seperti sebuah pertahanan, mereka tidak lagi menembaki kelompok Ben dengan agresif. Hanya sebuah perlawanan untuk menangkis tembakan dari Ben dan kawanannya.


Lalu mendadak Ben mengerem larinya yang kencang di tengah angin fajar yang berkolabrasi dengan angin laut, sehingga membuat mantel panjangnya berkibar. Ben membenarkan letak topinya yang mulai goyah digoda hembusan angin. Tangannya memberi isyarat kepada semua rekannya di belakang untuk berhenti.


Tepat saat ini mereka berada di pinggir pelabuhan yang sepi. Mobil-mobil yang awalnya melaju dengan berjejer bersama, lalu membubarkan formasinya dan melaju semakin cepat lagi. Kemudian meninggalkan sebuah kontainer misterius yang warna dan logonya mirip dengan kontainer mereka yang ditukar saat itu.


Suara derap langkah semua orang yang berhenti bersambut dengan suara debur air laut ke pinggiran tembok kokoh pelabuhan itu. Mereka semua kompak dengan wajah bingungnya. Juga memiliki pertanyaan yang sama pada satu sama lainnya.


"Ada apa, Tuan? Kenapa kita berhenti?", salah satu anak buahnya bertanya mewakili yang lain.


Ben diam tanpa kata. Yang menjawab adalah sepoi angin kosong yang lewat di antara mereka. Karena Ben sendiri sama bingungnya. Ia belum mengetahui situasi jelasnya saat ini. Pria bertopi koboi itu menunggu Relly memberikan informasi.


"Mereka semua bergerak ke arah luar area pelabuhan, Tuan! Sepertinya tidak ada niatan mereka untuk kembali lagi!", yang baru saja ia sebut namanya di dalam hati pun memberikan laporannya. Ben kembali menyentuh telinganya yang terdapat benda kecil penghubung dirinya dan juga asistennya itu.


"Apa kau yakin?", tanyanya datar sambil memperhatikan kontainer besar yang berjarak dua puluh meter dari pandangan matanya itu.


"Benar, Tuan! Aku juga sudah memeriksa ulang seluruh area, tidak ada sesuatu yang mereka tinggalkan lagi selain mayat rekan mereka yang sudah tewas! Tidak ada lagi yang mencurigakan di area ini, Tuan!", Relly memberi laporan selengkapnya sambil memandangi puluhan monitor berukuran sedang di hadapannya. Dari sana ia bisa melihat pemandangan seluruh area pelabuhan itu. Ada satu orang anak buahnya yang ia tugaskan untuk membantu.


"Baik, aku mengerti!", sahut Ben sambil terus memandangi kontainer itu. Berarti mereka sudah bisa memastikan isinya.


Sekarang ia mempertanyakan kinerja otaknya untuk menganalisis semua situasi ini. Ia tak mempedulikan desas-desus para anak buahnya yang saling bertanya dan berspekulasi di belakang. Dia juga abaikan semua pertanyaan yang beberapa orang layangkan kepadanya. Pria bertopi koboi itu terlalu sibuk untuk berpikir saat ini.


Tatapan mata pria itu selalu dingin dan datar, namun sekarang terlihat sedingin es di kutub selatan. Wajah yang biasa acuh pun saat ini terlihat muram bak lukisan abstrak tak bertuan. Kuasanya sebagai raja iblis tengah dipermainkan oleh seseorang. Baru kali ini, baru pertama kali ia dibuat bingung seperti ini. Bahkan mereka tidak dapat menemukan info apa pun mengenai identitas orang-orang itu yang sebenarnya. Siapa orang di balik permainan ini?! Ya, ini adalah permainan yang memang diperuntukkan kepada dirinya. Pedang-pedang magis pun seolah keluar dari matanya yang menyipit dan menajam. Mungkin saja jika ada seseorang yang berada di hadapannya saat ini bisa langsung terbelah tubuhnya menjadi dua bagian.


"Periksa kontainer itu!", titahnya keluar dengan suara dingin.


"Baik, Tuan!", sekitar lima orang maju untuk membuka benda berbentuk balok itu. Sebuah balok raksasa yang pintunya digembok sampai tiga lapisan.


Pintu kontainer itu berhasil dibuka secara paksa dengan beberapa kali tembakan. Benar memang jika secara fisik balok besar itu mirip seperti milik mereka. Dan jika ia, berarti kawanan itu telah mengganti kunci gembok yang biasa mereka gunakan. Karena gembok besar itu terlihat bukan seperti milik mereka.


"Ini memang barang kita yang ditukar, Tuan!", salah satu dari lima orang itu berseru kepada Ben yang masih waspada di tempatnya. Ia masih berpikir jika ini adalah suatu kemungkinan yang merupakan sebuah jebakan yang lainnya.


Pria bertopi koboi itu mengangkat kelopak matanya semakin tinggi. Tapi wajahnya yang memang datar dan acuh, masih tetap ia buat seperti tadi. Sebenarnya ia sama terkejutnya dengan semua anak buahnya. Begitu pun dengan Relly. Sumpah demi apapun, baru kali ini mengeluarkan pertanyaan yang sama berulang kali! Siapa mereka dan apa tujuan mereka melakukan hal ini?! Jelas sekali jika ia dan kelompoknya saat ini tengah dipermainkan! Ben menggeram marah sampai meremas pistol di tangannya.


"Relly! Cek transaksi dengan klien yang memesan senjata-senjata ini?", mungkin saja mereka dapat menemukan bukti tertentu dari sana. Ben berpikir seperti itu di kepalanya.


"Periksa lebih teliti lagi apakah barang-barang itu asli atau tidak?!", kemudian ia berikan titahnya lagi kepada mereka semua.


"Semua ini asli, Tuan!", lapor seseorang denga suara keras.


"Tak ada masalah dengan transaksinya, Tuan! Mereka malah baru saja memberi kabar bahwa telah menerima barang dari kita", lalu Relly melapor dari earphone - nya.


"Apakah ada keluhan yang mereka sampaikan?", tanya Ben tenang. Meskipun begitu hatinya semakin berdebar menanti jawaban dari asistennya itu. Bisa saja jika senjata mainan yang ditukar itu yang dikirimkan kepada klien mereka. Jika memang begitu, maka ini benar-benar adalah sebuah permainan.


"Tidak ada keluhan. Mereka menyatakan puas dengan barang yang kita kirim!", suara Relly terdengar sedikit bersyukur.


Dan Ben berpikir jika ini juga merupakan sebuah permainan. Dia telah benar-benar dipermainkan kali ini. Tapi ia tidak dapat menemukan modus dibalik permainan ini. Peluhnya menetes bersamaan dengan lelahnya yang terasa sia-sia. Berarti ada seseorang yang secara sukarela mau menyumbangkan senjatanya untuk mereka tanpa menginginkan balasan.


Tapi cara ini terlalu nyentrik hingga menimbulkan beberapa korban. Peperangan panjang ini tentu sudah menggugurkan rekannya dan juga dari tim sana. Tidak! Kalau begitu ini bukan tindakan murah hati, Ben sudah terlalu banyak berpikir positif. Justru orang ini terlalu kejam hingga menumpahkan banyak darah hanya untuk permainannya saja. Dan semakin pula Ben menjadi waspada ketika memikirkan siapa gerangan orang dibalik ini semua.


***


Di suatu kamar hotel yang amat mewah. Nuansanya sengaja dibuat remang oleh penghuninya. Tak ada wujud fisik yang nampak, hanya nampak sebuah tangan ramping yang sedang memegangi tangkai gelas berisi anggur merah yang menggoda.


Tangan ramping nan mulus itu jelas adalah tangan seorang wanita. Ia duduk di sebuah sofa tunggal menghadap ke arah jendela kaca yang menampakkan kemegahan sebuah kota. Kota asing yang tidak berada di negara yang sama dengan Ben berada saat ini.


"Bagaimana?", suaranya bahkan terdengar merdu saat bertanya.


"Sudah selesai, Nona! Apa ada yang harus dilakukan lagi?", seorang wanita muda lainnya muncul di belakang kursi kebesaran yang ia tempati. Dari cara bicaranya terdengar seperti dia adalah seorang bawahan dari wanita dengan anggur merah di tangannya itu.


"Cukup! Untuk saat ini aku puas!", jawabnya sambil membuat anggur merah itu berdansa di dalam gelasnya.


"Kau boleh pergi!", perintahnya kemudian. Wanita yang berada di belakangnya pun segera undur diri tanpa berkata lagi.


Kini terdengar simfoni riang dari mulut wanita yang tak beranjak sedikitpun dari sofanya itu. Kakinya yang panjang bergerak-gerak seirama dengan melodi di mulutnya. Kaki putih nan mulus itu berbalut heels merah menyala, sama seperti warna anggur di tangannya.


-


...selamat malam semuanya,,...


selamat membaca ya,, jangan lupa sahur supaya puasanya lancar selalu 🙏