
Rose pikir, Ben mempercayai pria itu. Rose pikir, Ben telah mengakui bahwa dirinya memang wanita murahan seperti apa yang dikatakan pria itu. Tapi kini, nyatanya malah Ben secara tak sadar mengucapkan bahwa Rose adalah wanitanya. Dan lagi juga seakan sangat amat tidak terima dengan apa yang pria itu ucapkan tentang dirinya.
Ben yang ia lihat tengah meluapkan emosinya. Tapi pria itu juga masih manusia, jika dibiarkan saja mungkin pria itu akan mati di tangan Ben sendiri. Rose masih punya hati nurani, ia juga tak ingin Ben mengotori tangannya untuk manusia kotor seperti pria itu. Maka ia segera berlari dan memeluk Ben dari belakang. Menahan tubuh pria itu agar tidak terus memukuli Tuan Rin yang sudah babak belur dibuatnya.
"Sudah, Tuan! Cukup!", Rose menangis di punggung Ben.
Pria eksentrik itu merasakan hangatnya pelukan Rose dari belakang tubuhnya. Rasa hangat itu meredam kobaran amarah yang kiranya akan sulit dipadamkan. Ben memejamkan matanya kuat-kuat sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia meraih tangan Rose yang melingkar di sekitar dadanya. Lalu ia memutar tubuhnya dan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Ia membelai lembut kepala Rose yang tengah menangis itu. Beberapa saat juga ia masih memejamkan matanya kuat-kuat. Sungguh pria yang toleransi kesabarannya tidak besar itu tidak bisa dengan mudah mengontrol emosinya. Ia bisa saja sudah membunuh pria itu jika saja Rose tidak menahan dirinya. Di tengah pelukan itu, keduanya saling meredam perasaan masing-masing. Rose tengah menghentikan rasa terkejutnya dengan ulah Ben yang membabi buta memukuli seseorang . Sedangkan Ben sendiri sedang menetralisir emosinya yang semula sudah membengkak di dadanya.
Sejujurnya Ben sendiri tak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Rasa ingin menjaga dan melindungi wanita ini begitu besar hadir di dalam hatinya. Rasa yang tak pernah ia rasakan meskipun begitu besarnya kasih sayang yang ia punya untuk Ana. Ben, pria eksentrik yang belum mengenal cinta, kini ia hanya sedang mengikuti nalurinya saja. Entah ini apa namanya, yang jelas ia akan mengikuti kata hatinya. Karena semenjak hadir dalam pernikahan Ana saat itu, ia sudah berjanji untuk bahagia.
"Kau!", Ben melepaskan pelukannya lalu menghadap ke arah Tuan Rin lagi. Pria yang wajahnya sudah tidak berbentuk dan memiliki warna kebiruan di sana-sini itu tengah meringis, merintih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Ingat baik-baik, jangan pernah mengusik wanita ini! Jika kau masih ingin berada di dalam, maka lindungi dia juga sebagaimana kau melindungi dirimu sendiri! Tapi jika kau sudah bosan hidup, maka katakanlah! Aku akan dengan senang hati mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri", mimik wajah pria itu bagai iblis jahat yang siap mengambil nyawa seseorang. Kejam dan tajam tatapan matanya.
Ben memperingati pria itu, jika ia masih ingin bergabung di dalam Geng Harimau Putih, maka ia harus menjaga Rose seperti ia menjaga dirinya sendiri. Tapi,, jika Tuan Rin masih menginginkan Rose atau berusaha melecehkannya, maka Ben akan turun tangan sendiri untuk membunuhnya.
"Ba,, baik, Tuan!", lirih suara Tuan Rin menjawab titah yang Ben berikan. Ia masih menahan nyeri di tubuhnya.
"Kalian!", kini matanya bergerak ke arah dua pengawal Tuan Rin yang sedari tadi saling memeluk satu sama lain.
"Urus dia! Obati lukanya!", mereka tidak berguna, bahkan ketika tuannya sedang disiksa mereka hanya meringkuk ketakutan di sisi lainnya. Ben yang masih mempunyai sedikit nurani mengingat Tuan Rin masih salah satu anggotanya, maka ia memerintahkan dua tikus itu untuk mengurus tuannya yang sudah menderita.
"Baik, Tuan!", jawab mereka serempak. Lalu segera memapah Tuan Rin yang sudah tak berdaya.
"Aku pergi dulu! Maaf telah merepotkanmu!", Ben hanya menolehkan kepalanya ke samping untuk berbicara dengan Manajer Toni.
"Jangan sungkan, Tuan! Saya akan selalu membantu jika Tuan membutuhkan!", jawab Manajer Toni seraya menundukkan tubuhnya untuk memberi hormat. Lagipula siapa yang akan membantah atau menolak permintaan pria yang sangat membahayakan ini. Tentu saja Manajer Toni akan patuh. Apalagi mengingat kedekatan Tuan Ben itu dengan Nona Ana dan mendiang Tuan Danu yang mempunyai tempat ini.
Ben meraih jari tangan Rose untuk ia jalin dengan jemari tangannya sendiri. Lalu dengan lembut ia menarik dan membawa tubuh wanita itu untuk mengikuti kemana langkahnya pergi. Sorot mata pria itu sudah kembali normal, sorot mata yang acuh dan dingin seperti biasanya. Hanya ketika ia menatap Rose sorot matanya melembut bagai sutra.
Rose yang berada di belakangnya pun jadi terus menatap ke arah jari tangannya yang saling bertautan dengan jari tangan milik Ben itu sendiri. Wajahnya jelas menampakkan kebingungan yang besar dengan tindakan impulsif pria itu. Rose tak mengerti, kenapa hari ini ia merasa pria itu terasa berbeda ketimbang diri Ben yang biasanya. Hari ini Ben terlihat begitu peduli kepada dirinya. Rose sampai terharu dan menitihkan air mata begitu mengingat ada orang yang begitu melindunginya seperti ini. Rose berjalan sambil menyeka buliran bening yang menggenang di ujung pelupuk matanya itu.
Mereka sudah sampai di area parkir. Ben masih menggenggam tangan Rose sepanjang kakinya melangkah menuju mobilnya. Dan Rose sendiri hanya pasrah saja mengikuti kemana laki-laki itu membawanya. Sejujurnya hatinya masih kacau saat ini mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
Hari ini bagai rollercoaster bagi Rose. Naik turun dengan terjalnya. Hatinya benar-benar diguncang habis-habisan seharian ini. Pertama di atas, lalu kemudian jatuh ke bawah bahkan sampai terjun bebas ke turunan yang paling menggelitik hatinya. Sesungguhnya kacau benar-benar kacau. Hanya saja ia merasa sedikit tenang karena ada seorang lelaki yang mau melindunginya sejak tadi. Bahkan pria itu terlihat begitu peduli bahkan tentang bagaimana Rose menyimpan perasaannya sendiri.
Rasanya ia masih harus mengucapkan banyak terimakasih kepada lelaki ini. Karena adanya pria itu, nyawa Rose masih utuh sampai detik ini. Karena adanya lelaki itu, jiwa raga Rose masih di tempatnya sampai saat ini. Dan karena pria itu, Rose jadi belajar untuk menghargai dirinya sendiri. Meski itu butuh waktu, karena yang paling sulit adalah memaafkan masa lalu dan diri kita sendiri.
Mereka sudah sampai di samping mobil yang Ben kendarai sejak pagi tadi. Rose masih sibuk dengan lamunannya saat Ben sudah mulai membukakan pintu untuk dirinya.
"Masuklah!", pinta Ben lembut sambil mengarahkan dagunya ke bagian dalam mobil.
Rose bergeming di tempatnya. Ia malahan menatap Ben lekat-lekat. Seperti ada sesuatu yang menumpuk di mulutnya untuk ia ucapkan.
"Ada apa?", Ben sedikit menarik Rose hingga kini mereka benar-benar berhadapan.
"Eemn,,, ada yang ingin aku katakan!", ucap Rose lirih sambil menundukkan kepalanya.
-
-
-
-
-
aku kasih satu lagi, tapi harap sabar ya teman-teman 😉
like, vote sama komentarnya jangan lupa ya,, terimakasih 😘