
Ketika malam menggantikan petang yang berbalut semburat jingga, makan malam di rumah itu pun dimulai. Bervan sibuk berceloteh ria dengan bibinya. Sedangkan Bella dan Victor menikmati makan malam mereka dalam keheningan.
Beberapa kali Victor menggeser pandangannya kepada wanita itu. Namun setiap kali itu juga Bella selalu mengalihkan pandangannya. Lelaki itu sungguh ingin menerka apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu sehingga Bella mengacuhkannya. Karena memang Bella enggan membuat orang lain mengetahui tentang bagaimana masih campur aduk perasaannya saat ini.
Rose memperhatikan hal ini dari tempat duduknya. Sambil terus menanggapi Bervan yang sedang bercerita tentang sekolah dan teman-temannya. Sambil tersenyum ke arah keponakannya itu, ia mengembuskan nafasnya pasrah. Setelah ini ia sudah tidak dapat ikut campur lagi. Sekarang semuanya bergantung mereka berdua sendiri.
***
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Bella mengajak putranya untuk beranjak tidur. Sampai setelah makan malam pun, Bervan masih bercerita dengan begitu serunya sampai Rose membawa anak itu ke kamarnya. Karena Bella masih ingin menghindari Victor, maka ia memilih untuk ikut ke sana.
"Ayo, Sayang! Sudah waktunya tidur! Bibi Rose juga harus beristirahat, kan!", Bella bangun dari tempat tidur sambil mengulurkan tangannya kepada Bervan.
"Ya?!", anak kecil itu langsung melirik ke arah jam berbentuk bulat yang berada di samping ranjang. Ah, benar saja! Rasanya baru sebentar dia berbicara banyak dengan bibinya. Sangat mengasyikkan waktu yang ia habiskan bersama bibinya sampai Bervan lupa waktu.
"Baiklah!", dengan enggan anak kecil itu turun dari tempat tidur sambil menggapai tangan ibunya.
"Selamat malam, Bibi!", Bervan melambaikan tangannya ketika ia dan Bella sudah sampai di ambang pintu kamar itu.
"Selamat malam!", Rose melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Bervan sampai pintu tertutup dan kedua ibu anak itu menghilang dari pandangan matanya.
***
Jangtungnya berdegub dan perasaannya gugup ketika ia sudah mencapai pintu kamar yang akan ditempatinya.
"Ayo, Ma!", Bervan menggoyang tangan ibunya yang masih bergeming. Tangannya sudah memegangi kenop pintu, tapi tidak digerakkan sama sekali.
"Ii,, iya!", jawab Bella sambil tersenyum kaku. Entah bagaimana nanti ia harus menghadapi keadaan di sana nanti?! Baiklah! Ia hanya harus berpura-pura tidak mengetahui apa-apa saja!
Ketika pintu kamar itu terbuka, hatinya langsung mencelos lega. Kamar itu kosong tak berpenghuni. Entah kemana sosok yang berada di pikirannya sejak tadi. Pintu kamar mandi terbuka dan tidak menampakkan satu bayangan pun. Setidaknya Bella memiliki waktu untuk menyiapkan perasaannya ketika harus berhadapan dan berdekatan dengan Victor nanti.
Wanita itu pun mengajak putranya untuk naik ke tempat tidur. Sebuah kebiasaan lama sebelum membawa putranya itu ke alam mimpi yang indah, mereka akan bernyanyi bersama untuk beberapa lagu. Dan untuk mencari rasa nyaman, Bervan akan merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya itu.
Setelah menyelesaikan lima lagu, perlahan anak kecil itu menutup matanya dan terlelap dengan wajah damai. Bella mengecup kening putranya sebelum mengangsur dirinya, merebahkan tubuhnya di samping anak kecil itu. Bella menempatkan Bervan di tengah ranjang. Menyisakan sebidang tempat untuk di tempati oleh Victor. Entah kemana perginya orang itu!
Bella mendesahkan nafasnya sebelum mulai memejamkan mata mengikuti putranya. Namun, sudah berusaha keras selama beberapa saat, matanya masih tidak mau berkompromi. Ia juga sudah merubah posisinya berulang kali berharap bisa tenggelam ke alam bawah sadarnya. Tapi tetap saja tidak berhasil. Pikiran dan hatinya terlalu gelisah saat ini.
kriet
Pintu kamar itu dibuka dari luar. Sebuah bayangan kursi roda bertuan bergerak masuk ke dalam kamar. Debaran jantung Bella pun semakin menjadi-jadi.
Victor sengaja memberi waktu kepada Bella. Setelah makan malam ia menghabiskan waktu di halaman belakang sambil menunggu beberapa saat setelah Bella memasuki kamar bersama Bervan. Ia memperkirakan wanita itu sengaja menghindarinya berkaitan dengan perasaan yang mereka miliki terhadap satu sama lain.
Dan benar saja, mereka berdua belum saling terbuka mengenai hal ini. Victor bisa mengerti hal ini karena memang mereka baru saja bertemu. Biar saja, ia akan mendapatkan hati wanita itu perlahan. Dulu, Bella yang berusaha untuk mendekati dirinya. Jadi sekarang, biar dia yang melakukannya. Yang jelas, dia harus sembuh dulu sekarang.
Sepasang roda bergulir sampai ke tepi ranjang yang lainnya. Sejujurnya Bella ingin mengacuhkan pria itu dan berpura-pura tidur saja. Namun hatinya tidak bisa melihat pria yang selalu ia cintai itu kesusahan. Dengan kondisinya yang seperti ini, pasti sulit untuk Victor berpindah tempat dari kursi roda itu ke ranjang.
"Biar ku bantu!", seperti capung yang terbang dengan cepat, Bella langsung melesat ke arah Victor berada. Ia sudah memegangi salah satu lengan lelaki itu untuk membantunya pindah ke ranjang.
"Terima kasih!", ucap lelaki itu kemudian, setelah tertegun untuk beberapa saat.
Bella membantu sampai Victor merebahkan dirinya di samping Bervan yang sudah tertidur lelap. Setelah itu ia selimuti lelaki yang sejak tadi tak lekang menatapnya dari waktu ke waktu. Namun Bella tak berani menatap Victor balik.
"Bella, apa kau menghindariku?", pria itu menahan tangannya, ketika Bella sudah selesai menyelimutinya dan akan berbalik.
Ia menipiskan bibirnya, menyentuh tangan yang memegangi pergelangan tangannya, lalu melepaskannya pelan. Hati Victor langsung nyeri mendapati penolakan ini. Mungkin saja hati Bella sudah berubah untuknya.
Namun ternyata, wanita itu hanya memindahkan kursi roda itu ke sudut. Lalu kembali lagi untuk duduk di tepi ranjang di sebelahnya. Hati Victor melonjak riang. Malahan wanita itu menggenggam jari-jemari tangannya dengan erat.
"Lekas sembuh! Karena setelah itu kita bisa memberi Bervan pengalaman memiliki keluarga yang sebenarnya! Jangan ragukan lagi perasaanku kepadamu! Perasaanku masih sama seperti dulu!", setelah meyakinkan dirinya sejak tadi, akhirnya Bella mau membuka hati dan menggerakkan mulutnya untuk berbicara. Kesalahpahaman ini harus diakhiri, dan cara yang terbaik adalah dengan memberikan penjelasan kepada Victor yang tengah kebingungan mengenai perasaannya.
Seperti memiliki kekuatan super yang mendadak merasuk ke dalam tubuhnya. Victor lalu mendudukkan dirinya dengan wajah bersemangat. Ia balik menggenggam kedua tangan wanita itu dengan perasaan haru. Matanya berkaca-kaca seperti mendapat sebuah anugerah yang begitu berharga.
"Aku hanya merasa tidak pantas karena diriku ini hanyalah seorang pesakitan sekarang. Sedangkan kau adalah wanita muda yang masih sangat cantik meski sudah memiliki seorang putra. Aku takut kau tidak mau menerima diriku yang seperti ini. Aku akan sangat merepotkan bagimu nanti. Aku takut,,, ", pria itu sampaikan keluh kesah yang mendiami hatinya selama ini. Ia lepaskan genggaman tangannya pada tangan wanita itu. Lalu Bella menyelanya.
"Memangnya kau pikir untuk apa aku sengaja datang ke sini?! Bahkan tanpa persetujuan darimu terlebih dahulu!", Bella mengguncang kedua lengan Victor dengan suara bergetar penuh emosi.
"Bukankah itu yang kau katakan kepada adikmu?! Emmhh,, maaf sebenarnya aku menguping pembicaraanmu dengan Rose siang tadi!", Bella menjawab pertanyaan yang tersirat di mata lelaki itu ketika ia dengan cepat melepaskan pelukannya. Wanita itu memaksakan senyumnya hingga terlihat kaku. Ia merasa sedikit tidak sopan dengan dirinya sendiri.
"Terima kasih, Bella! Terima kasih! Kata itu yang seharusnya aku sampaikan sejak dulu. Terima kasih!", Victor kembali memeluknya dengan perasaan haru yang luar biasa.
Benar, kata itu harusnya ia sampaikan sejak dulu. Terima kasih karena telah masuk ke dalam hatinya dan terus menjaga perasaannya hingga saat ini. Juga,, terima kasih telah mempertahankan benih yang ia tanamkan kala itu. Sehingga di masa kini, ia sudah memiliki sebuah keluarga kecil untuk dijaga dan dilindungi. Bella mengangguk dengan uraian air mata bahagia yang tak berhenti menetes.
"Tidurnya nyenyak sekali!", komentar pria itu ketika Bella mulai merebahkan diri di sisi ranjang yang lainnya. Victor memandangi wajah damai putranya itu dengan sebuah senyuman.
"Iya! Sepertinya dia kelelahan hari ini!", jawab Bella sambil menyelimuti dirinya.
"Victor!", serunya lagi saat ia sudah memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Bervan dan juga pria itu.
"Ya!", lelaki itu menggerakkan bola matanya untuk menatap Bella.
"Terima kasih karena sudah mengatakan aku cantik!", secepat itu juga Bella membalikkan tubuhnya, kembali membelakangi kedua pria berbeda versi itu. Wajahnya langsung merona karena malu. Tetap saja ia senang karena Victor bisa mengatakan hal manis seperti itu, meskipun itu terjadi di dalam pembicaraan serius mereka.
"Astaga dia masih mengingatnya!", gumam Victor sambil menutup mata dengan lengannya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tak berdaya.
"Jika mau, aku akan mengatakan kau cantik setiap hari!", kepalanya lalu menoleh sembari tersenyum memandangi punggung wanita yang ia yakini belum memejamkan matanya.
Ah, ya ampun! Apakah karena sakit, jadi pria itu menjadi pandai menggoda orang seperti ini?! Bella memegangi pipinya yang semakin menghangat sambil tersenyum malu-malu. Sedangkan Victor sendiri pun merasa bingung, bagaimana bisa keluar kalimat memalukan seperti itu dari mulutnya. Yang bahkan ia tidak pernah mempelajarinya selama ini.
Lelaki itu memperhatikan jendela kamar yang tidak tertutupi gorden. Langit malam itu mengapa terlihat indah sekali. Mungkin karena hatinya merasa lega lantaran semua kesalahpahaman antara dirinya dan juga Bella sudah terselesaikan. Paling-paling hanya pendekatan lagi yang harus ia lakukan untuk membiasakan dirinya dan juga diri wanita itu. Bagaimana pun juga mereka sudah berpisah setelah sekian lama. Pasti masih ada beberapa kecanggungan yang ada.
***
Di sisi lain rumah itu, di tingkat selanjutnya, di sebuah kamar yang penghuninya masih membuka mata. Entah sudah berapa lama ia mendudukkan dirinya di bingkai jendela yang sengaja ia buka itu. Ia pandangi langit malam itu sambil memeluk kedua lututnya. Rambut pirangnya yang bergelombang, berkibar, terbawa angin beberapa helai.
"Aku rindu!", gumam Rose sambil menenggelamkan wajahnya di antara lututnya yang ditekuk.
Padahal belum genap dua puluh empat jam mereka berpisah. Tapi sudah begini rasa rindu yang menggerogoti hatinya. Mungkin karena konflik yang belum terselesaikan di antara mereka, makanya Rose sangat ingin bertemu dengan Tuan seramnya itu. Apalagi ia dengar dari kakaknya jika saat ini Tuan seramnya sedang kembali ke markas karena ada masalah yang serius. Ia semakin mengkhawatirkan keselamatan orang itu. Rose masih ingin bertemu dengannya, menyelesaikan masalah ini dengan meminta maaf kepadanya. Maaf, karena Rose tidak mendengarkan Tuan seramnya.
Bulan yang tidak sempurna bentuk bulatnya, ia jadikan tempat sebagai curahan hatinya. Setiap kali ia merindukan Tuan seramnya itu, pasti ia akan berbicara dengan bulan. Meluapkan seluruh rindu yang membuncah, yang tak dapat ia tahan sendirian.
"Cepatlah kembali, Tuan!", gumamnya lagi setelah puas memandangi bulan di langit kelam bertabur bintang itu. Tiba-tiba hatinya resah. Rose memegangi dadanya, di bagian hatinya yang merasa tidak nyaman setelah memikirkan Tuan seramnya.
***
Di tempat dimana gerombolan orang sedang berkumpul di sebidang lahan kosong. Seorang pria bertopi koboi pun melakukan hal yang sama. Benny Callary, pria itu juga memandangi bulan yang sama sambil memikirkan wanita yang begitu dicintainya saat ini.
Ini kali kedua kala ia begitu merindukan wanita itu dan melakukan hal yang sama. Pria itu menitipkan pesan rindunya pada Rose melalui benda bulat itu. Ia mendesah tak berdaya saat ini karena tidak bisa mengobati rasa rindunya. Terlebih lagi kata kasar yang sudah ia lontarkan kepada wanita itu terus terngiang di telinganya sendiri. Sehingga makin besar pula keinginan orang itu untuk menemuinya. Ingin sekali ia memeluk wanita itu lalu meminta maaf kepadanya. Maaf telah menyakiti hatinya!
"Tuan, semuanya sudah siap!", ucap Relly yang baru saja berjalan mendekat.
Ben mengeratkan pegangannya pada senjata api yang berada di dalam genggaman tangannya. Dia memang bukanlah seorang pria biasa yang selalu ada waktu untuk memanjakan wanitanya. Saat ini ia memiliki tugas penting yang tak dapat ia tinggalkan. Kali ini Ben mendesah dengan nafas yang lebih berat lagi.
"Ya!", Ben maju tiga langkah di depan Relly.
"Yang lainnya menyebar ke titik yang sudah ditentukan! Relly kau pantau dari layar! Dan aku akan ada dalam bayangan kalian!", titah Ben kepada semua anak buah di hadapanya.
"Tapi, Tuan,,", Relly tidak terima dengan perintah ini karena ia lebih memilih untuk turun ke lapangan menjadi bayangan bosnya. Agar ia bisa selalu menjaga dan melindungi bosnya itu.
"Tidak ada bantahan! Aku hanya bisa mengandalkanmu, Relly!", Ben hanya meliriknya dengan tatapan dingin. Namun tersirat juga bahwa pria bertopi koboi itu paling bisa mengandalkan Relly untuk mengatur strategi dan analisis pertempuran dibandingkan anak buahnya yang lain. Jadi dari balik layar, Relly bisa memantau dan mengarahkan seluruh rekan-rekannya untuk membuat rencana yang mereka buat dapat berjalan mulus.
Sorak kesiapan terdengar serempak dari mulut puluhan orang dengan tato harimau di beberapa bagian tubuh mereka. Itu adalah identitas diri mereka ketika sudah sah menjadi anggota geng Harimau Putih. Relly pun mau tak mau harus menuruti perintah bosnya dengan penuh rasa tanggung jawab. Mereka semua harus mendapatkan orang-orang yang berani bermain api dengan kelompok mereka. Lalu semua orang pun pergi dan menuju tempat mereka masing-masing.
Ben kesampingkan perasaan rindunya terlebih dahulu setelah puas menatap rembulan itu. Sekarang yang ada di dalam dirinya adalah perasaan membara untuk menghabisi orang-orang yang telah meremehkan dirinya. Siapa mereka sebenarnya?!
***
Masih duduk di bingkai jendela kamarnya. Rose pun menyudahi curahan hatinya kepada sang rembulan. Ia bangkit dari sana, lalu ia tutup jendela kamarnya sambil membawa keresahannya itu ke dalam mimpinya nanti.
Semoga dia cepat kembali pulang! Itulah harapan terakhir yang terucap di dalam hatinya sebelum Rose menutup pandangan terhadap si dewi penyampai pesan rindunya, Dewi Candra.