Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Bertemu bos



Ben berjalan cepat meninggalkan Rose di belakang sambil membenarkan posisi topinya yang tidak salah sama sekali. Bukan apa-apa, ia juga sedang merasakan hangat yang menjalar di sekitar wajahnya. Belum lagi jantungnya tiba-tiba memompa lebih cepat dari biasanya. Hal memalukan ini, Ben tak ingin wanita itu melihatnya. Sungguh menjatuhkan harga diri seorang ketua geng mafia. Ben tak pernah takluk oleh siapapun, apalagi yang namanya wanita.


"Hey, Tuan! Tunggu aku!", terdengar teriakan itu. Akhirnya Ben pun kembali mengalah dengan menghentikan langkahnya. Hah, ia tak akan ceroboh lagi kali ini. Ia ingat masih ada seseorang yang mengintai mereka.


"Bayar di kasir! Waktumu sudah habis!", perintah Ben dingin sambil menyambar keranjang yang berada di tangan Rose. Ia buru-buru maju membuat dirinya satu langkah di depan Rose agar wanita itu tidak melihat bagaimana keadaan wajahnya saat ini.


"Haish! Kenapa tidak dari tadi saja kau membawakan keranjangnya! Huh!", gerutu Rose di belakang punggungnya sambil mengerucutkan bibirnya. Ia memegangi pipinya lagi, merasakan hangat yang masih menjalar.


Keduanya sudah terlihat mengantri di kasir. Mereka mendapat giliran ketiga atau yang terakhir dimulai dari pelanggan yang sedang melakukan proses pembayaran di kasir itu. Tak ada yang mengantri lagi setelah mereka. Ben masih setia memegangi keranjang belanja mereka. Dan Rose terlihat mengedarkan pandangannya ke sekitar kasir yang terdapat beberapa rak berisi makanan ringan.


Rencana B


Pria misterius yang terus membuntuti Ben dan Rose mengirim pesan lagi kepada teman-temannya di luar. Lalu dua orang masuk dengan santai berbaur dengan pelanggan yang lainnya. Mereka sempat adu pandang dengan pria misterius yang pertama. Dan pria itu pun mengangguk kecil memberi isyarat.


Kedua orang yang baru saja masuk langsung menuju ujung lorong yang sepi. Salah satu di antaranya menyalakan korek api tepat pada detektor kebakaran di atas atap lorong itu. Tak butuh waktu lama, detektor kebakaran itu pun langsung membuat alarm kebakaran berbunyi dan kran air si atas atap pun otomatis terbuka menyiram seisi swalayan itu. Seluruh pengunjung menjadi kalang kabut dibuatnya. Semua orang di sana jadi berbondong untuk menyelamatkan diri mereka.


Ben menyadari ada seseorang yang sengaja memicu alarm itu berbunyi sehingga menimbulkan kekacauan seperti ini. Ia memindai ke sekitar tempatnya berdiri mencari seseorang yang mungkin mencurigakan menurutnya.


Pria misterius yang pertama hampir saja terlihat oleh Ben saat ia bersembunyi di balik rak di lorong tak jauh dari tempat Ben berdiri. Ia menghela nafas lega karena ternyata Ben tak melihatnya.


"Pegang tanganku kuat-kuat!", ucap Ben pada Rose yang sedang ketakutan sambil mengedarkan pandangan kepada orang-orang yang berlari keluar dengan terbirit-birit hingga menimbulkan kekacauan di dalam swalayan itu.


Seseorang mendekat dari belakang, lalu tangannya membekap Rose dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Pria pertama menariknya ke belakang hingga pegangan tangannya pada Ben terlepas perlahan namun Ben tak menyadarinya. Rose masih berusaha menggapai sweater yang Ben kenakan selagi kesadarannya belum terenggut sepenuhnya.


"Tuan! Tuan!", Rose menjerit di dalam bekapan tangan itu. Usahanya memanggil Ben sudah pasti sia-sia karena tak akan ada yang mendengarnya berteriak di sana, di saat mulutnya sedang terbekap seperti itu. Air matanya pun banjir seketika karena kenyataan buruk telah hadir di depan matanya. Hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.


Pria itu menggendong Rose yang sudah tidak sadarkan diri. Dan pria satunya lagi memukul tengkuk belakang Ben dengan sebatang kayu hingga ia tersungkur ke lantai. Kesempatan ini pun ketiganya gunakan untuk segera melarikan diri dari tempat itu. Mereka berlari sampai ke tempat mobil mereka terparkir. Memanfaatkan keadaan yang sedang riuh dan kacau agar tidak menjadi pusat perhatian. Pria itu memasukkan Rose ke dalam mobil, lalu semenit kemudian mereka tancap gas meninggalkan tempat itu.


Ben yang masih tersungkur di lantai berusaha memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia menggelengkan kepalanya kuat untuk mengembalikan kesadarannya secara penuh meski sambil menahan sakit yang mendera kepala belakangnya. Perlahan ia berdiri sambil terus memegangi kepalanya yang sakit.


Ben mengedarkan pandangannya yang masih sedikit buram. Bahkan untuk berdiri pun tubuhnya terasa melayang. Pria itu menyambar air mineral yang berada di keranjangnya. Dengan cepat ia meneguk hampir satu botol langsung. Kesadarannya pun kembali sepenuhnya, lalu segera ia mencari keberadaan Rose di sana. Tapi sayangnya yang ia lihat hanya kekacauan dari orang-orang yang panik berusaha keluar dari tempat itu dengan tidak sabar.


"Sial!", Ben mengumpat kesal. Bagaimana bisa ia sampai kecolongan seperti ini?! Ben jadi kesal sendiri dibuatnya.


Ah, Ben ingat. Tadi, begitu ia mengatakan ada seseorang yang mengawasi mereka, Ben langsung menempelkan sebuah micro gps dibalik tas Rose tanpa sepengetahuan wanita itu. Hal itu ia lakukan jika terjadi hal-hal tak terduga lainnya seperti sekarang ini. Untunglah masih ada harapan.


Pria itu berusaha berjalan keluar sambil menahan pening di kepalanya. Sambil berjalan tangannya terus bergerak memijit kepala belakangnya yang terasa sakit dan nyeri. Setelah masuk ke dalam mobil, Ben mengeluarkan ponselnya. Ia segera mencari posisi Rose saat ini. Titik merah menunjukkan lokasi Rose berada. Belum jauh dari sini tapi terus bergerak konstan. Ben menghidupkan mesin mobilnya, lalu melesat mengikuti titik merah itu bergerak.


Di pertengahan jalan ia memikirkan sesuatu. Ini tentang Victor. Ia tidak ingin kakak dari perempuan yang sedang menghilang itu menjadi khawatir karena akan berpengaruh terhadap penyakitnya. Ben memutar otaknya dengan cepat.


"Sepertinya kucing kecil itu tidak memiliki ponsel!", Ben mengingat-ingat selama beberapa hari ini tinggal bersama ia tidak pernah melihat Rose mengeluarkan ponselnya. Mudah-mudahan saja asumsinya benar. Jika begitu maka ini adalah hal baik.


***


Aku dan Rose tidak jadi berbelanja. Makan sianglah duluan. Jangan menunggu kami, kami akan makan siang di luar. Adikmu merengek minta diajak jalan-jalan. Maaf jika nanti kami pulang agak larut.


Di rumah, Victor membaca pesan yang Ben kirimkan kepadanya. Ia terlihat begitu gembira saat ini. Pikirnya, adik dan temannya itu menjadi semakin akrab saja. Tapi memang inilah yang ia harapkan. Paling tidak saat dirinya sudah tiada nanti, Rose masih memiliki seseorang untuknya bergantung. Entah itu sebagai kakak, atau jika beruntung mereka bisa saling mencinta.


"Saya akan memerintahkan pelayan untuk memasak makan siang untuk Anda", Paman Alex undur diri meninggalkan tuannya yang belum bisa berhenti melengkungkan senyumnya. Padahal ia tidak tau keadaan apa yang tengah mereka hadapi saat ini.


***


Rose tersadar dalam keadaan tangan dan kaki terikat pada sebuah kursi tunggal, mulutnya pun disekap dengan lakban. Perlahan ia mengerjapkan matanya yang masih buram pun juga sama dengan pikirannya yang masih linglung. Ia berusaha mengingat kejadian terakhir yang ia alami sebelum tak sadarkan diri. Sambil mengingat, ia juga mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ini tidak benar, tempat ini bukan tempat dimana dia terakhir kali berada.


"Tuan!", Rose berteriak histeris namun suaranya hanya tertahan di tenggorokan karena mulutnya saat ini sedang diperban. Ia mulai menangis kembali. Ia tidak tau dimana kini ia berada, siapa yang menyekapnya, dan atas dasar apa mereka menculiknya seperti ini. Pikiran Rose berkecamuk namun tak juga menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya.


Saat ini ia tengah berada di sebuah ruangan yang terlihat seperti sudah terbengkalai. Ruangan itu minim cahaya dan udara sehingga menjadi pengap dan lembab. Cat dinding sudah sangat pudar dan mengelupas, bahkan atap-atapnya sebagian sudah jatuh ke bawah. Rose bergidik di tengah tangisnya. Tempat ini sungguh menyeramkan baginya.


brrak


Pintu yang berada tak jauh darinya pun terbuka dengan keras dari luar ruangan. Seperti didobrak dengan tidak sabar.


Seorang pria menggunakan mantel coklat panjang dan juga hoodie yang menutupi kepalanya memasuki ruangan itu bersama kelima pria yang tadi sudah menculiknya. Pria yang sepertinya bertindak sebagai bos mereka itu terlihat misterius karena wajahnya tidak terlihat sepenuhnya. Hanya sebuah seringai yang jelas menatap Rose seakan meremehkan.


"Bos, apakah benar ini orangnya?", tanya pemimpin dari kelima pria tadi pada bos mereka yang sedang berjalan mengelilingi Rose dengan wajah tenang tapi matanya terus memindai. Aura bosnya ini sangat berbahaya, hingga rasanya Rose ingin kabur dari sana sekarang juga. Sayangnya lagi-lagi kondisinya sungguh tak berdaya. Ia tak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk berteriak pun ia tak bisa.


"Benar!", bosnya itu menarik paksa rambut palsu yang Rose gunakan hingga wanita itu memekik saking terkejutnya.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya ๐Ÿฅฐ