Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Pria milikku



"Kenapa kau lama sekali?!", Victor ini sedang bertanya atau sedang menuduh. Tatapan pria ini begitu galak seperti seorang ayah yang sedang melindungi putrinya. Ia bahkan sedang berkacak pinggang di kursi rodanya.


"Hah!", Ben menghela nafasnya kasar malas meladeni teman lamanya itu.


"Aku habis buang air besar! Tiba-tiba perutku sakit!", dengan wajah acuh Ben mengatakan alibinya seraya mendudukkan diri di sofa di ruang tengah.


"Jangan bercanda, Ben! Aku serius", Victor mengikuti Ben di belakangnya.


"Aku juga serius! Apa wajahku seperti sedang bercanda?! Besok kau pasanglah cctv di setiap kamar agar kau tau semua pergerakan orang-orang", sahut Ben dengan wajah acuh tapi lebih kepada sangat menyebalkan bagi temannya itu.


"Baiklah, baiklah! Jadi sekarang kau sudah bisa menjelaskannya, kan?! Aku yakin kejadian sebenarnya tak sesimpel kau mengatakan bahwa kau mengajak adikku jalan-jalan. Pasti ada hal lainnya, kan?! Katakan, ada apa Ben? Apa yang sudah terjadi hari ini?", Victor tak bisa lagi menahan rasa khawatirnya saat ini. Seperti sesuatu sedang mengincar adiknya. Ia merasakan hal itu jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


"Ya, memang benar dugaanmu!", Ben mengangguk setuju sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia merasa tubuhnya sangat kaku malam ini. Karena belum juga ia sempat mengistirahatkan diri, pria ini sudah menanti sebuah cerita panjang darinya.


Ben menceritakan semua yang terjadi pada mereka berdua, dari pertama mereka belanja di swalayan hingga terus ke proses penculikan adiknya. Ben menyampaikan bahwa dirinya belum mengetahui siapa dalang di balik kejadian ini. Tapi, yang berbahaya adalah siapa yang menjadi target mereka. Dia adalah Rose, adiknya.


Ben menyarankan Victor untuk memberitahu adiknya itu untuk tidak lagi menggunakan rambut palsunya lagi. Karena sepertinya pun percuma, karena musuh yang mereka hadapi sepertinya sudah sangat mengenal Rose sebelumnya. Ben juga menyampaikan bahwa ia akan berangkat ke markas beberapa jam lagi. Tapi ia juga akan meninggalkan pengamanan yang ketat di sekitar rumah ini untuk menjaga Rose dan temannya itu tentunya.


"Victor, coba kau ingat-ingat siapa musuh terbesar yang kau miliki sebelumnya? Sepertinya ia sangat membencimu hingga begitu dia menargetkan adikmu seperti itu. Mengenai keluarga Peterson itu, apa kau ada ide?", Ben menjalin kedua jemari tangannya untuk menyangga dagunya. Ia menatap serius ke arah teman lamanya itu. Seperti ada sesuatu yang ditutupi oleh Victor saat ini.


"Aku merasa tidak memiliki musuh. Tapi jika mereka membenciku, itu pilihan yang mereka buat. Mengenai keluarga Peterson itu, aku tidak ada ide", sebisa mungkin Victor menutupi raut wajah kebohongannya. Lubuk hatinya pun bertanya-tanya sendiri kenapa ia jadi berurusan dengan keluarga itu lagi.


"Baiklah!", cepat atau lambat Ben pasti akan mengetahuinya. Setelah kembali ke markas ia akan menyelidiki ini semua. Ben yakin ada keterikatan besar yang membuat seseorang itu ingin sekali menghancurkan hidup Rose sebagai adik dari Victor.


"Kapan kau akan berangkat? Apa yang terjadi di markas sehingga kau harus kembali?", Victor ingin mengurangi rasa penasarannya.


"Aku juga belum tau, yang jelas Relly mengatakan jika ini adalah situasi darurat. Aku harus kembali untuk mengatasi masalah di sana. Kau harus menjaga adikmu dengan baik di sini. Setelah urusan di sana selesai, aku akan kembali lagi ke sini", ujar Ben dengan wajah seriusnya.


"Hey, sebenarnya siapa yang kakaknya di sini! Kenapa kau yang jadi lebih protektif terhadap adikku?! Apa yang terjadi kepada kalian seharian ini sehingga kau terlihat berbeda sekarang?", memang benar Victor merasakan ada yang berbeda dari diri Ben sebelumnya. Saat berangkat dan setelah pulang ini ada yang aneh dari pria itu. Namun Victor saat ini hanya bisa bertanya-tanya saja di dalam hatinya. Entah ini hanya perasaannya saja atau bagaimana, Victor belum mengetahuinya.


"Hoammm!! Aku lelah sekali hari ini! Aku mau tidur dulu sebentar, ya. Kau tau kan, beberapa jam lagi aku akan berangkat", memilih untuk tidak menjawab pertanyaan temannya. Ben beralasan klasik dengan mengatakan bahwa dirinya sudah mengantuk. Ia lalu beranjak dari sofa itu menuju ke arah tangga. Ia terus berjalan dengan acuhnya tanpa mempedulikan Victor yang masih terus memanggil namanya untuk minta diberi penjelasan.


"Orang itu pasti menyembunyikan sesuatu dariku!", Victor memegangi dagunya sambil berpikir. Ia menatap punggung temannya itu dengan pisau yang siap mengorek keseluruhan diri Ben. Rencananya adalah untuk mencari informasi yang ia bisa dari adiknya nanti saat dia sudah terbangun. Sekarang lebih baik bagi dirinya juga untuk mengistirahatkan diri.


Tapi tatapan matanya berubah sendu saat ia menggumamkan nama Peterson dengan mulutnya sendiri. Seperti ada batu besar yang menghantam dadanya hingga ia terasa sesak.


"Apakah dia baik-baik saja?", Victor membatin sendiri entah untuk siapa.


***


kriing,,, kriing,,, kriing


Berulang kali suara dering ponsel berbunyi di atas nakas di samping tempat tidur kecil itu. Seorang wanita terus menggeliat dengan mata yang sangat berat untuk ia buka. Ia terus melontarkan kekesalannya sambil bergumam tidak jelas.


Setelah 15 menit dering ponsel itu masih belum berhenti juga. Wanita itu kesal hingga ia menendang-nendang selimutnya ke sembarang arah masih dengan mata yang terpejam. Matanya terasa lengket untuk ia buka, sedangkan tubuhnya terasa remuk untuk ia ajak bangun. Ia masih ingin memejamkan matanya beberapa saat lagi. Tapi suara itu terus saja mengganggunya.


"Ini,,, ini kan sebuah ponsel?", Rose mengambil benda yang terus berdering itu. Ia membolak-balikkan ponsel yang ia pegang.


Setelah matanya berhasil terbuka lebar, barulah ia berusaha berpikir tentang benda itu. Ia bertanya-tanya benda milik siapa yang ia pegang ini. Rose berspekulasi bahwa ini adalah milik kakaknya, tapi mana mungkin kakaknya bisa naik ke atas mengingat kondisi kakaknya yang sedang sakit seperti itu. Atau mungkin ini milik Tuan itu, mengingat semalam ia tertidur saat di perjalanan pulang. Mungkin Tuan itu melupakan ponselnya saat ia membawa Rose ke kamarnya saat tertidur tadi malam.


Ahh,, tertidur? Sepanjang malam? Jadi semalam Tuan itu yang membawanya, bukan lebih tepatnya menggendongnya dari mobil sampai ke dalam kamarnya ini? Ya ampun, betapa memalukan sekali, pikir Rose. Wanita itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menggeleng keras. Ia jadi merasa tak enak hati sekarang. Pria itu pasti kelelahan karena telah membopongnya dengan jarak yang lumayan jauh. Uuuhh,,, membayangkan hal itu wajahnya menghangat. Wajah mereka pasti sangat dekat saat ia berada digendongannya. Ah, Rose jadi menyesal telah tertidur semalam.


kriing,,, kriing,,, kriing


Rose mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang ia pegang. Nama si pemanggilan membuatnya berpikir keras. Yang benar saja, mana mungkin Tuan itu menjadi pria macam-macam yang membuat kepalanya menjadi pening. Rose memukul-mukul kepalanya dengan satu tangan agar pikirannya jernih. Mungkin karena efek bangun tidur jadi ia salah membaca nama yang tertera di sana. Tapi itu tetap saja tidak berubah setelah berulang kali ia mengerjapkan matanya.


Pria milikku's calling


Rose menyipitkan matanya ke arah ponsel itu. Tangannya ragu untuk mengangkat panggilan yang tak berhenti sejak tadi. Rose hembuskan nafasnya berulang kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menggeser tombol jawab pada panggilan itu. Masa bodoh lah jika rahasia Tuan itu terbongkar olehnya. Ia akan menutup mulut dan membantunya menjaga rahasia besar ini.


"Ha,, halo!", sapa Rose dengan wajah ragu.


"Hey kau!! Apa kupingmu tuli, hah?! Sudah berapa lama aku menelpon tapi tidak kau angkat juga!", suara itu menggelegar hingga telinga Rose hampir benar-benar tuli dibuatnya. Ia menjauhkan ponsel itu agar suara yang memekik itu tak lagi menyakiti gendang telinganya.


-


-


-


-


-


**maafkan author ya yang belum sempat crazy up novel yang iniπŸ™


harap maklumlah dengan ibu rumah tangga dengan dua anak ini dan dua tuntutan novel yang harus dikerjakan setiap hari πŸ˜…πŸ€­β˜ΊοΈ


tapi aku tetep janji sama kalian kalo aku bakalan crazy up dalam waktu dekat 😁


didoakan aja ya teman-teman supaya semangatnya on terus πŸ˜‰


jangan lupa like, vote sama komentarnya ya teman-teman 😊


terima kasih,, semoga menghibur 😊😊😊


keep strong and healthy ya semuanya πŸ₯°**