
"Apa kali ini kau meragukan ucapanku, hah?", tidak keras pertanyaan yang Ben ucapkan. Halus tapi tetap terdengar tajam dan menuntut.
"Saya tidak berani, Tuan! Kalau begitu saya permisi dulu!", buru-buru Relly undur diri dari ruangan itu. Di luar pintu ia mengumpat sendiri berkali-kali. Ya, ya, terserah bosnya memang mau bertingkah apa. Tapi ia pikir-pikir, memang setelah bertemu dengan adik dari Tuan Victor itu bosnya mulai gila. Uupss, konyol maksudnya. Jika Ben mendengar hal ini mungkin ia sudah akan ditodongkan pistol di depan kepalanya.
***
Seorang pria sedang termenung di tengah temaramnya malam. Tangannya meremas amplop yang baru saja didapatkannya. Pandangannya lurus ke depan dan juga tajam. Benda apa saja yang ada di hadapannya seperti siap terbelah oleh sinar laser yang keluar dari matanya.
Sebenarnya pria itu tengah mengumpat dalam hati saat ini. Ia tak menemukan jawaban dari pertanyaan yang tengah melilit otak dan pikirannya ini. Orang itu telah memberikannya sebuah teka-teki. Kepalanya menjadi berputar tak terkendali.
"Apa maksud orang itu sebenarnya?", gumam Baz sendiri.
Ben memberikannya sebuah nama dan satu kalimat untuknya.
*Ergy Cashel
Kita bisa jadi kawan atau lawan*
Hanya tulisan itu saja yang berada di dalam amplop itu. Tidak ada hal menarik lainnya. Dan sejak saat itu pula Baz telah memerintahkan orang-orangnya untuk menyelidiki nama yang Ben kirimkan untuknya.
Satu hari menjelang dan sebuah laporan telah siap di atas mejanya. Tapi sampai saat ini, sampai detik ini, begitu banyak keraguan dalam diri pria itu hingga ia belum menyentuh berkas itu barang sedikitpun. Bahkan lemnya masih merekat kuat seperti belum terbuka sama sekali.
Baz khawatir jika ini hanya manipulasi Ben saja untuk mengalihkan perhatiannya. Ia pikir jika Ben hanya menyalahkan orang lain saja atas apa yang telah menimpanya. Pasti Ben sedang berusaha membela temannya itu untuk berhenti menjadi target balas dendamnya.
Tapi memang ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ada sesuatu yang membuatnya resah dan terjadi pergolakan di dalam hatinya. Satu sisi ia ingin membuka apa isi laporan mengenai orang yang Ben katakan. Tapi di sisi lain, rasanya ia enggan untuk mempercayai kalimat yang Ben kirimkan untuknya.
"Aaakkkhhh!", Baz berteriak frustasi sampai menarik rambutnya dengan kasar. Ia juga bingung harus melampiaskan kacau hatinya kemana. Orang terdekatnya saat ini hanya Bella, adiknya. Tapi tidak mungkin juga ia menceritakan semua ini kepada adiknya itu. Sampai Baz sendiri sudah mengetahui duduk perkaranya dengan jelas, barulah ia akan mengatakannya pada Bella.
Ragu terus memberenggut hatinya. Tapi tangannya yang juga penasaran, akhirnya menyentuh ujung map yang menyimpan berkas laporan dengan amat rapih. Perlahan ia buka satu demi satu halaman yang ada di hadapannya. Wajah pria itu masih serius, hanya satu ekspresi itu yang ada di sana. Baz belum menampilkan ekspresi apapun saat ini.
Wajahnya sudah sangat masam karena emosinya yang mulai tak terkendali. Ia menyibak apapun yang ada di atas meja. Bahkan ia sampai memukul meja kayu hingga benda itu hampir terbelah dua. Dan tentu saja hal itu menimbulkan suara gaduh dari arah dalam.
Para pengawal sebenarnya penasaran dan juga khawatir dengan keadaan bosnya. Tapi mengingat temperamen bosnya yang sangat menakutkan, mereka memilih untuk bergeming di tempatnya masing-masing. Daripada mereka menjadi sok perhatian, yang ada malah nyawa mereka bisa saja melayang sebagai bahan pelampiasan.
Laporan itu berisi data pribadi orang yang Ben maksud, Ergy Chasel. Di adalah perdana menteri yang menjabat saat ini. Jadi kala itu ayahnya, Tuan Ander merupakan calon terkuat sebagai perdana menteri selanjutnya. Namun Tuan Ergy sejak lama juga menjadikan Tuan Ander sebagai saingannya, maka ia pun melakukan segala cara untuk menjatuhkan Tuan Ander dari daftar kandidat bakal calon perdana menteri selanjutnya. Apapun caranya Tuan Ergy sangat menginginkan posisi itu.
Informasi yang dulu ia terima adalah bahwa Victor memiliki dendam pribadi kepada keluarganya, sehingga ia melakukan semua usaha untuk menjatuhkan keluarga Peterson dan bahkan membunuh ayahnya. Entah darimana informasi itu berasal. Tapi karena saat itu Baz terlalu emosi, sehingga ia tidak mencari tau lebih jelas tentang hal ini. Malahan termakan hingga mendarah daging dendamnya pada Victor yang seharusnya tidak bersalah.
Sekali lagi Baz memukul meja di hadapannya namun dengan sedikit kekuatan. Ia harus memastikan sesuatu sekarang juga. Pria itu tidak dapat menunda hal ini lagi. Ia telah salah paham pada seseorang selama bertahun-tahun lamanya. Tapi saat ini hanya ada dua kemungkinan. Pertama, informasi yang didapat dahulu kala telah dimanipulasi. Atau kedua, memang Ben yang membuat-buat hal ini untuk melindungi teman lamanya itu.
Baz menyambar mantel jasnya dengan terburu-buru. Ia keluar ruangan seraya memberikan titah.
"Siapkan jet pribadiku! Ada tempat yang harus aku tuju. Selama aku tidak ada, jaga adik dan keponakan ku baik-baik seperti kalian menjaga nyawa kalian sendiri. Mengerti?", pria itu hanya menghentikan langkahnya beberapa detik saja. Lalu ia melanjutkan langkahnya bersama satu orang di belakangnya.
Semua yang ada di sana akhirnya bisa bernafas lega. Tekanan yang mereka rasakan telah hilang bersama semilir angin malam yang merasuk hingga ke tulang.
***
Baz sudah duduk di pesawatnya. Ia akan melakukan penerbangan ke negara dimana Ben berada. Karena saat ini Baz sendiri masih menetap di kediaman lamanya di negara F, yang juga merupakan tempat Rose dan Victor berasal. Ia duduk sambil memainkan kuku jarinya dengan gelisah. Masalah ini tidak bisa ia kesampingkan. Ia benar-benar harus segera menyelesaikannya.
Tadi dia sudah menelepon Bella, adiknya untuk memberi kabar bahwasanya ia memiliki urusan mendadak ke luar kota selama beberapa hari. Dan ia juga sudah berpesan untuk baik-baik di rumah bersama Bervan, anaknya. Tak memiliki ayah, maka Baz berperan besar menggantikan posisi itu sementara waktu ini. Jadi saat mendengar anak kecil itu merajuk kesal karena akan ditinggal pergi oleh pamannya, hati Baz pun menjadi luluh lantak karena memang ia juga belum tau akan memakan waktu berapa lama ia di sana.
Tapi ini belum saatnya. Nanti,, nanti ketika semua masalah ini sudah terungkap dengan jelas. Barulah ia akan memutuskan untuk melakukan tindakan apa yang paling pantas untuk semuanya. Terutama untuk adiknya yang paling menderita selama ini.
"Heh! Ku harap perjalananku kali ini tidak akan sia-sia", pria itu mendesah untuk mengurangi pikirannya yang carut marut.