Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Pelukan hangat



Kicauan burung membangunkan seorang wanita yang tengah terbaring di ranjangnya. Mata Rose yang terasa berat mengerjap pelan. Samar hingga akhirnya jelas ia menatap langit-langit putih di atas tempatnya berbaring saat ini. Aroma khas dari tempat ini masuk ke rongga indera penciumannya. Akhirnya ia menoleh ke arah tangannya yang terasa nyeri karena tusukan sesuatu seperti jarum.


"Hah!", ia menghela nafas akhirnya setelah melihat tangannya tengah terhubung dengan jarum infus.


"Siapa yang membawaku ke rumah sakit?", gumamnya sendiri.


Rose mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang ia tempati. Ruangan itu tidak terlalu mewah namun juga hanya terdapat satu ranjang yang ia tempati saat ini. Sepertinya orang yang membawanya bukanlah orang yang biasa-biasa saja. Rose menjadi waspada saat pikirannya tiba-tiba memikirkan kemungkinan jika orang yang membawanya adalah Tuan Rogh. Tapi ia sendiri meyakini bahwa tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya saat ini.


kreett


Suara pintu dibuka membuatnya secara paksa segera mengumpulkan seluruh kesadarannya. Rose menatap waspada ke arah pintu itu. Ia bisa bernafas lega setelah mengetahuinya bahwa yang masuk ke dalam ruangannya adalah sosok seorang wanita paruh baya.


"Kau sudah siuman?", sapa wanita itu.


Rose belum ingin menjawab, ia masih dengan kediamannya, masih menatap awas ke arah wanita yang kini duduk di samping ranjangnya.


"Aku menemukanmu pingsan kemarin di pinggir pantai. Keadaanmu sangat kemah saat itu, jadi aku memutuskan untuk membawamu ke sini. Dokter bilang kau terkena hipotermia dan kelelahan. Aku tau kau bukan berasal dari negara ini. Dengan penampilanmu yang kacau saat aku menemukanmu, aku tidak berusaha untuk tau apa yang terjadi denganmu. Aku tidak akan bertanya jika kau tak ingin menjawab", wanita itu sangat pandai dalam membaca situasi. Ekspresi Rose yang waspada dan belum bersedia berbicara menyiratkan sebuah pengalaman buruk telah menimpanya hingga ia harus melakukan sebuah pelarian keras. Wanita itu mencoba menerka situasi yang terjadi adalah demikian. Maka dari itu ia tidak memaksa Rose untuk berbicara tentang hal-hal yang sangat menyakitkan baginya. Wanita itu mencoba mengambil kepercayaan Rose dengan cara seperti ini.


Jelas saja, pengalaman dijual oleh keluarga sendiri kepada pria yang seumuran dengan ayahnya, terlebih lagi lelaki yang ia kenal baik malahan adalah putra satu-satunya dari pria tua bangka itu. Lalu saat pelariannya gagal dan membutuhkan sosok ayahnya untuk melindunginya, di sana tak ada, di sana ia hanya bisa menghadapinya sendiri. Lalu melihat tawa kemenangan dari keluarga tirinya saat ia dibawa pergi. Hingga yang paling parah adalah saat ia hendak diperkosa oleh pria tua bangka yang akan menikahinya dan bahkan beberapa kali melakukan tindakan kekerasan.


Semua yang Rose hadapi adalah sebuah kenangan pahit yang membuatnya tak bisa mempercayai siapa pun saat ini. Kakaknya, saat itu yang ia sebut dalam hati adalah kakaknya. Tapi mau bagaimana, sudah sejak lama kakaknya pergi meninggalkan keluarganya. Dan penyesalan itu datang ketika semua ini terjadi, harusnya saat itu ia ikut saja dengan kakaknya pergi meninggalkan keluarga laknat yang telah membuatnya menderita hingga sedemikian rupa.


"Aku tak akan pernah kembali!", janji Rose dalam hatinya.


Air mata merembes saat ia memejamkan matanya dengan keras. Saat ia mengingat kembali semua kejadian yang membuatnya sangat-sangat menderita. Tapi demi kakaknya, demi bisa bertemu dengan kakaknya ia berjuang untuk tetap hidup dan tetap waras. Karena bagaimanapun juga jiwanya telah sedikit terguncang akibat pengalaman pahit yang tidak semua orang bisa menanggungnya.


"Menangislah, jika itu bisa membuatmu lebih baik!", wanita itu memberi saran sambil mengusap lembut pucuk kepala Rose.


Mendapat belaian itu membuat Rose langsung menumpahkan seluruh emosinya yang tertahan sejak lama, bukan sejak ia bertemu dengan Tuan Rogh, tapi sejak ayahnya memutuskan untuk menikahi Nyonya Mira dan akhirnya memiliki saudara tiri yang bernama Mirabel. Sejak saat itu hidupnya tak pernah bahagia, bahkan ia lupa bagaimana cara untuk bahagia. Jerit tangis yang keluar dari mulutnya terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Rose terus menangis meluapkan emosinya sampai tangannya meremas pakaiannya pada bagian dada. Yang ia lakukan sebenarnya adalah menekan rasa sakit yang diderita hatinya. Melodi isak tangis yang menyayat hati itu ikut membuat wanita paruh baya itu menitihkan air mata.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Wanita secantik ini menangis begitu pilu. Apa saja yang sebenarnya sudah ia lewati?!", gumam wanita itu sedih.


Segera ia merengkuh Rose ke dalam pelukannya. Tangis Rose bertambah keras. Bukan bertambah sedih, tapi ia juga merasa haru karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa merasakan hangatnya pelukan yang menenangkan. Bagai pelukan seorang ibu yang terasa aman dan nyaman saat kau berasa di dalamnya. Sudah 15 menit, 30 menit, bahkan sudah hampir satu jam Rose menangis di dalam pelukan wanita itu. Saat tangisnya mereda, ia menarik diri untuk melihat seberapa kacau ia telah menodai pakaian wanita itu dengan air matanya. Matanya membulat ketika ia melihat seluruh bahu bagian kirinya basah kuyup oleh air matanya.


"Maaf!", gumamnya lirih sambil menundukkan kepala.


"Jadi kau masih memikirkan pakaianku yang basah kuyup ini?!", ledek wanita itu mencoba mencairkan suasana.


"Maaf!", gumam Rose lagi merasa benar-benar menyesal.


Wanita itu menyodorkan Rose segelas air untuknya. Dan langsung disambar dan ditanggalkan seluruh isi gelas itu olehnya. Rasanya haus sekali, mungkin cairan di tubuhnya terkuras gara-gara air mata yang keluar tiada hentinya.


"Sudah lebih baik sekarang?", wanita itu tak menghiraukan permintaan maaf Rose tapi malah menanyakan keadaan Rose saat ini dengan tatapan mata yang begitu tulus.


"Ya!", jawab Rose pelan sambil menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih!", ucapnya lagi tapi saat ini Rose beranikan untuk mengangkat kepalanya menatap wanita yang telah berbaik hati mau menolongnya.


"Jangan berterima kasih sebelum kau benar-benar pulih!", ucap wanita itu tulus sambil membelai rambut pirang milik Rose.


"Siapa namamu?", tanyanya kini.


"Rose! Rose Benneth", jawab Rose pelan mungkin karena suaranya hampir habis setelah menangis begitu lama.


"Baiklah!", wanita itu menuruti kemauan Rose sambil mengulas senyumnya.


"Namaku Maya, kau bisa memanggilku Bibi Maya mulai sekarang. Apa kau punya tempat tinggal?".


Rose menggeleng lemah seraya menundukkan kepalanya. Jangankan tempat tinggal, bahkan dimana tempat ia berada saat ini saja ia tidak tau. Dan orang yang ia kenal juga baru hanya Bibi Maya seorang.


"Ah ya! Harusnya aku tidak perlu bertanya! Kau pasti tidak memiliki siapa pun di sini!", Bibi Maya terkekeh sendiri setelahnya.


"Lalu apa yang akan kau rencanakan ke depannya?", tanyanya kemudian.


"Entahlah!", Rose juga bingung. Ia tak tau langkah apa yang selanjutnya ia ambil. Saat ini bahkan ia tidak memiliki apapun untuk bertahan hidup.


"Aku ingin bekerja, tapi aku tidak memiliki apapun saat ini untuk melamar pekerjaan. Kartu identitas pun aku tidak memilikinya!", ucap Rose lirih. Bukan bermaksud untuk mengeluh, hanya saja begitulah situasi yang ia hadapi saat ini. Ia ingin bertahan hidup, tapi ia tak memiliki apapun untuk mulai bertahan hidup. Hanya seseorang yang memiliki kepercayaan kepadanya yang mau memberinya pekerjaan. Tapi siapa, Rose tak ingin berandai-andai.


"Tapi jika tidak berusaha siapa yang tau, kan?!", gumam Rose dalam hatinya.


"Bisakah Bibi memberiku pekerjaan?", takut-takut Rose bertanya sambil menundukkan kepalanya.


"Aku bisa melakukan pekerjaan apa pun. Asal tidak menjadi wanita murahan!", tambahnya lagi sambil menatap wajah Bibi Maya dalam.


"Ah, sepertinya dia memiliki masalah dengan hal semacam itu!", gumam Bibi Maya dalam hati.


"Jadi kau ingin bekerja?", tanya Bibi Maya ulang untuk memastikan keteguhan Rose saat ini.


"Ya!", jawab Rose singkat sambil mengangguk tegas.


"Baiklah! Besok akan kuberi kabar! Sekarang beristirahatlah! Besok aku akan datang lagi ke sini", Bibi Maya pamit undur diri. Sebelum pergi ia mengelus lembut kepala Rose dengan penuh kasih sayang.


"Jika sudah siap! Aku bersedia mendengarkan semua ceritamu nanti!", Bibi Maya tersenyum penuh teduh ke arah Rose.


"Terima kasih!", ucap Rose tulus untuk semua kebaikan yang Bibi Maya berikan pada ia yang merupakan orang asing yang ia temukan di pinggir pantai dan mau menyelamatkannya.


"Aku pulang dulu! Aku meninggalkan beberapa pekerjaan!", pamit Bibi Maya setelah itu benar-benar pergi meninggalkan Rose sendirian di kamar rawatnya.


-


-


-


-


-


Maaf ya updatenya sedikit dulu, karena author masih fokus untuk menyelesaikan kisahnya Ken dan Ana 😊


Jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya di sini dan di sana 😉


Dan terima kasih juga buat dukungannya selama ini ya


keep strong and healthy ya teman-teman 😘