
Rose menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Ia menoleh ke arah pengawalnya dengan tatapan menuduh sambil menyipitkan mata.
"Ini pasti ulahmu, kan!", Rose menunjuk ke arah wajah pengawal itu dari posisi duduknya.
"Maaf, Nona! Saya hanya tidak tega melihat Nona bersedih seperti ini. Karena bagaimanapun juga saya pernah menjadi rekan Tuan Victor, jadi saya memiliki perasaan saya sendiri karena iba dengan musibah yang sedang Nona alami saat ini", pengawal itu berkata jujur apa adanya. Suaranya yang tulus membuat hati Rose mengembang dan hangat, seperti sebuah roti yang baru saja diangkat dari oven.
"Terimakasih!", tiba-tiba Rose berdiri seraya menepuk bahu pengawal itu dengan keras. Ia juga menerbitkan senyuman tulus di bibirnya lalu segera melangkah meninggalkan pengawal itu juga akhirnya mematung di sana.
***
Rose kembali ke ruangan dimana Baz dirawat. Saat ia memasuki ruangan, dilihatnya seorang perawat tengah melepaskan jarum infus yang terhubung ke tangan pria itu. Ia juga melihat nampan yang tadi berisi makanan sudah ludes semua. Dan wajah pria itupun sudah terlihat lebih segar sekarang.
"Kenapa infusnya dilepas, Suster?", tanya Rose penasaran sambil berjalan mendekat ke ranjang.
"Dokter baru saja mengecek kondisi Tuan ini, dan hasilnya sudah jauh lebih baik. Tuan ini sudah diperbolehkan pulang, hanya saja harus merawat bekas jahitannya dengan baik. Jangan sampai terkena air dulu agar cepat kering", suster itu menjelaskan sambil merapikan peralatan medis yang tadi dibawanya. juga bekas sepaket infusan yang tadi dipakai untuk Baz.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Nona, Tuan!", suster itu tersenyum seraya pamit meninggalkan ruangan.
"Kau dengarkan apa yang suster tadi katakan! Jangan buat usahaku sia-sia karena telah menyelamatkanmu", wanita itu menasehati seraya mendudukkan tubuhnya di kursi di samping ranjang.
"Ya!", Baz menundukkan kepalanya seraya menjawab dengan ragu.
"Hah! Tugasku sudah selesai, jadi aku harus pergi sekarang!", Rose menghela nafasnya sebelum mengatakan kalimat perpisahan itu. Ia tersenyum namun pandangannya terasa kosong. Matanya yang sembab juga tertangkap oleh pandangan Baz saat ini.
Wanita itu beranjak berdiri dan memulai langkahnya yang terasa berat. Ia menyeret kakinya menyusuri lantai ruangan itu menuju pintu sambil menundukkan kepala. Tapi saat membuka pintu, sebuah tangan sudah membukanya terlebih dahulu. Dari arah belakangnya, tangan itu terulur.
Ia menoleh ke belakang dan melihat tubuh Baz sudah berdiri tepat di belakangnya. Wajah mereka tepat saling berhadapan. Rose menengadah untuk melihat siapa orang di belakangnya. Sedangkan Baz seakan sudah siap untuk menatap wajah wanita itu.
Sejenak Baz terpana oleh kecantikan yang Rose punya. Sangat menyejukkan hatinya. Dadanya yang memiliki jantung di dalamnya pun berdebar tiba-tiba. Ia buru-buru menyingkir ke samping sebelum Rose menyadari sesuatu dengan dirinya. Dan wanita itu hanya menatapnya dengan kebingungan. Sebisa mungkin Baz tetap memasang wajah datarnya. Ia lalu membukakan pintu untuk wanita itu.
"Kau sudah ingin pulang?", tanya Rose seraya melangkahkan kaki keluar dari ruangan tadi.
"Ya!", Baz menyesuaikan dirinya untuk berada di samping wanita itu sehingga langkah mereka menjadi beriringan.
"Memangnya dimana rumahmu?", Rose berusaha ramah pada orang yang berada di sebelahnya. Meskipun sebenarnya menuju pulangnya ia ke rumah ini, pikirannya kembali terusik oleh masalah hal tes pencocokan tulang sumsum dirinya dan juga kakaknya, Victor.
"Sangat jauh!", jawab Baz singkat.
"Begitukah? Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?", wanita itu masih berusaha berbasa-basi karena pria itu masih menyamai langkahnya.
"Tidak tau!", Rose sedikit mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Baz yang singkat-singkat itu.
Baz tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan kasir. Sedangkan Rose baru berhenti setelah beberapa langkah merasa tidak ada lagi orang yang mengiringinya sejak tadi. Adapun pengawalnya yang berada tak jauh dari tempat Rose berdiri. Pria tegap itu terus mengawasi.
Rose menoleh dan ternyata ia melihat Baz sedang bertanya mengenai biaya pengobatannya. Ah! Rose menepuk jidatnya. Wanita itu lupa bahwa ia belum membayar tagihan itu untuknya. Dalam membantu seseorang, ia merasa harus totalitas tentunya. Ia pun berjalan mendekat ke arah Baz yang sedang berbicara dengan seorang kasir.
Dilihatnya kening pria itu berkerut seperti sedang menjelaskan sesuatu. Sekilas Rose mendengar kasir mengatakan bahwa mereka tidak menerima alasan apapun. Lalu hati Rose makin penasaran dibuatnya.
"Ada apa?", tanya Rose dengan suara rendahnya menyela perbincangan di antara dua orang itu.
"Begini, Nona! Tuan ini tidak bisa membayar tagihannya dengan alasan dompetnya hilang. Dan maaf sekali jika kamu tidak bisa menerima alasan seperti itu!", jelas kasir itu dengan nada tegas.
"Dompetku benar-benar hilang. Aku tidak mengantongi uang sama sekali!", Rose menangkap bahwa pria itu benar-benar jujur saat ini. Tak ada keraguan sama sekali pada raut wajah itu.
"Maafkan aku! Harusnya aku yang melakukan hal ini. Payah sekali, aku malahan tidak total dalam membantumu", Rose terkekeh sendiri mengingat keteledorannya.
Baz tertegun lagi memandangi wanita di sebelahnya ini. Tenggorokannya makin kelu untuk mengucapkan beribu terima kasih pada wanita itu. Orang yang pernah dia usahakan kehancuran hidupnya, saat ini malahan sedang berbaik hati menolongnya sampai akhir. Wanita itu benar-benar memiliki kecantikan pada paras dan hatinya. Membuat Baz menjadi makin takjub padanya.
"Sudah! Ayo pergi!", ajak Rose seraya memasukkan kartu yang telah diberikan kakaknya dan Rose bebas menggunakannya. Ia sudah lega sekarang, karena telah membantu pria yang kesulitan itu sampai selesai. Bebannya terasa hilang sekarang.
Tapi baru bergerak satu langkah, tangan Rose sudah dicekal oleh pria yang sedang menundukkan kepalanya.
"Terimakasih!", ucap Baz setelah mengangkat kepalanya. Meski pria itu tidak tersenyum, tapi Rose tau jika Baz tulus dengan ucapannya.
"Jangan dipikirkan! Sesama manusia kita harus saling membantu, bukan!", Rose tersenyum riang seraya menepuk lengan pria itu. Lalu memulai langkahnya terlebih dahulu meninggalkan Baz yang sedang mematung sambil memandang bekas tangan Rose yang menyentuh lengannya tadi. Ia bahkan juga ikut menyentuh tempat itu dengan sudut bibir yang berkedut.
Baz melihat Rose sudah berdiri di depan lobby rumah sakit. Sebuah kegelisahan nampak pada diri wanita itu. Namun Baz tidak mengetahui apa penyebabnya. Kadang pandangan matanya sendu, kadang juga kosong. Pria itu mendekat dan kembali mensejajarkan dirinya berdiri di samping si wanita.
"Kau sudah mau pulang?", tanya Baz tak berani menoleh ke arahnya.
"Emmhh,,, iya! Tapi,,,, ", Rose ragu mengatakan pemikirannya saat ini. Sudut matanya menangkap sosok pengawalnya yang berjalan makin mendekat ke arahnya. Namun Baz tidak mengetahui hal ini.
"Aku benar-benar berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan dan membantuku tadi! Aku berhutang banyak budi terhadapmu!", ada hal-hal yang tersirat yang Baz sampaikan lewat kalimat itu.
Bukan tentang saat ini saja. Tapi juga tentang masa lalu dimana hidup wanita itu tidak cukup beruntung dibandingkan yang lainnya. Dimana hidup wanita itu hampir hancur oleh ulahnya, meski tidak secara langsung dulu. Jadi ini tentang semuanya, semua kesalahan yang telah ia perbuat dan dibalas dengan kebaikan nyata seorang manusia.
Di tengah keseriusannya mengucapkan rasa syukur dsn terima kasihnya pada Rose, tangan pria itu tiba-tiba dicengkeram kuat. Baz menoleh, ia melihat tatapan mata wanita itu penuh harap. Tapi juga menyimpan banyak kekacauan di dalam hatinya. Matanya seolah bertanya apa yang dilakukan wanita ini padanya.
"Jika kau berterima kasih padaku, maka untuk sekali ini saja, tolong bantu aku! Aku ingin kabur dari orang itu", mata Rose mengarah pada pantulan bayangan pengawalnya di kaca pintu rumah sakit itu. Si pengawal berjalan lurus ke depan hingga sudah berjarak beberapa meter lagi dari mereka.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?", mata pria itu mengikuti petunjuk dari arah bola mata Rose bergerak.