Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Sebenarnya dia lupa



"Tuan!", Rose berseru tidak terima.


Baru saja akan melawan, nyatanya Ben sudah menarik kerahnya dari belakang terlebih dahulu. Jadilah ia terseret begitu saja di belakang Tuan seramnya itu.


Di belakang punggung Ben, Rose melipat tanganya di depan dada sambil menampilkan wajah kesalnya. Sambil terseret langkah Ben yang panjang, ia terus-terusan berdecak kesal. Selalu saja seperti ini! Sebenarnya dia ini kekasihnya atau bukan, sih! Kenapa pria itu selalu saja bertindak kejam kepada dirinya!


***


Saat ini Ben, Rose dan juga Bervan berada di halaman belakang yang begitu asri dengan banyak tanaman. Mereka bertiga bermain bersama sudah selayaknya sebuah keluarga. Ada seorang ayah, seorang ibu dan juga ada seorang putra yang duduk sambil berjingkat-jingkat di pundak ayahnya. Saat ini Ben sedang memainkan perannya sebagai seorang ayah yang sedang membuat putranya itu, Bervan, seakan sedang terbang, dan kadang seperti sedang menaiki seekor kuda. Lalu ada Rose yang berjaga di sisinya, takut-takut sesuatu terjadi pada Bervan. Mereka bertiga tertawa bersama dengan begitu riangnya.


Setelah merasa agak berkeringat, Ben menurunkan anak kecil itu. Awalnya Bervan tidak mau karen aia masih belum puas berada di ketinggian itu. Duduk di bahu lelaki dewasa memang sangat mengasyikkan baginya. Biasanya ia juga suka melakukan hal itu bersama dengan Paman Baznya di rumah. Dan di sini ada Paman Ben yang juga mau mengajaknya bermain seperti ini, Bervan jadi merasa sangat senang. Karena anak kecil itu sempat berpikir bahwa datang ke sini akan membosankan.


"Bervan bermain dengan Bibi Rose dulu, ya!", ajak Rose seraya menggenggam tangan anak kecil itu.


"Iya! Ayo, Bibi!", anak kecil itu menjawab dengan begitu bersemangat seraya tersenyum lebar.


Rose membalas senyuman Bervan dengan senyum yang tak kalah sumringahnya. Senang sekali rasanya memiliki seorang keponakan. Ia jadi memiliki teman untuk bermain. Di samping itu ia juga ingin membiarkan Tuan seramnya itu untuk beristirahat sebentar. Dua orang dewasa itu saling bertukar pandang, mereka berbicara lewat tatapan matanya. Tak menunggu lama lagi, Rose lalu menarik pelan tangan Bervan, supaya anak itu juga berlari mengikutinya.


Pria bertopi koboi itu kemudian mendudukkan dirinya di kursi taman yang berada tepat di belakangnya. Ia memandangi Rose dan Bervan yang sedang berlarian dengan tatapan mata yang hangat.


"Heh! Aku seperti tidak mengenali diriku sendiri!", Ben tersenyum penuh ironi.


Nyatanya mana pernah semasa hidupnya ia berpikir bisa berlembut hati kepada seseorang, apalagi seorang anak kecil, yang bahkan tidak memiliki ikatan darah. Justru ia sempat berpikir jika hatinya sudah mati semenjak Ana memilih pria lain untuk ia cintai. Ia pikir jiwanya juga sudah beku sedingin balok es. Dengan semua pengalaman hidupnya yang bersimbah darah.


Tapi siapa sangka, jika banyak sekali perubahan terjadi selama periode ini. Ternyata bisa secepat itu ia merasakan jatuh cinta kembali! Lalu bersamaan dengan itu pula ia merasakan memiliki rumah untuk kembali pulang. Dan sekarang, ia merasakan hangatnya sebuah keluarga. Balok es yang begitu kokoh berdiam di dalam dirinya seakan mencair secara perlahan. Karena perlahan juga ia berlajar apa arti dari sebuah kasih sayang.


"Bibi, aku lelah! Tunggu sebentar!", Bervan berhenti berlari dengan nafas terengah-engah. Ia merunduk, sambil memegangi lututnya, berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin saat ini.


"Kau itu anak laki-laki! Harus kuat!", Rose menghentikan larinya. Meski sebenarnya nafasnya juga sudah terengah-engah.


Ia juga merasa lelah sebenarnya, tapi wanita itu tahu harus tetap terlihat bersemangat di depan Bervan. Supaya anak kecil itu tetap mau bermain dengannya. Urusan orang dewasa di dalam sana antara kakaknya dan Bella pasti akan memakan waktu lama.


"Memangnya siapa bilang aku lemah! Weee", Rose terkejut karena ternyata Bervan hanya mengerjainay saja. Anak kecil itu lalu melanjutkan larinya sambil menjulurkan lidahnya. Bervan puas menggoda bibinya itu.


"Kau itu benar-benar, ya! Lihat saja, Bibi akan menangkapmu nanti!", seru Rose seraya menegakkan punggungnya. Ia kemudian menyusul ketertinggalannya dari anak itu. Tunggu saja, Bervan! Bibi akan menangkapmu! Batinnya seraya tersenyum. Ia tidak akan kalah dengan anak kecil itu.


"Sudah, Bibi! Aku mengaku kalah! Aku sangat lelah sekarang!", anak kecil itu memohon sambil memegangi tangan Rose yang masih bertahan di pinggangnya.


"Benar yang kau katakan?! Tidak akan membohongi Bibi lagi?", Rose menyipitkan matanya pada anak kecil itu.


"Iya! Kali ini aku benar-benar lelah! Apakah Bibi ingin aku bersumpah?!", mata polos Bervan membuat Rose akhirnya melepaskan anak kecil itu. Dan lagi kenapa anak sekecil ini bisa berpikir sampai ke sana?! Oh sungguh! Keponakannnya ini pintar sekali! Rose semakin menyukai Bervan saja rasanya!


"Kalau begitu tunggu sebentar! Bibi akan mengambilkan minum untukmu!", anak kecil itu mengangguk setuju dengan begitu semangatnya. Bervan memang merasa sangat haus setelah pus bermain sejak tadi.


Tak lama Rose kembali dari arah dalam rumah. Ia membawa sebuah botol air dingin di tangannya. Ben yang tengah sibuk dengan ponselnya pun ia lewati begitu saja. Ia pikir, jika Tuan seramnya itu haus pasti akan memanggilnya nanti. Atau mungkin, ia akan mengambil minum untuk dirinya sendiri ke dalam rumah.


"Hey, kau! Kembali!", tiba-tiba saja Ben memanggilnya. Barulah setelah itu ia mengangkat kepalanya untuk menunjukkan wajah acuh khas miliknya itu.


Menghela nafas sebentar, wanita itu lalu membalikkan tubuhnya. Ia sepertinya tahu apa yang diinginkan pria itu. Tak perlu bicara lagi pikirnya, Rose langsung menyodorkan botol yang ketika disentuh menimbulkan hawa dingin itu.


"Kenapa kau tidak menawari aku? Kenapa kau jalan begitu saja seakan tidak melihatku? Memangnya aku ini patung? Atau batu besar? Kau tahu, aku juga lelah gara-gara menggendong anak itu tadi! Bisa-bisanya tidak menganggapku ada di sini!", panjang lebar Ben mengeluh seraya menerima botol air minum itu, lalu membukanya.


Iya, memang Tuan seramnya itu lebih cocok jadi patung atau pun batu taman yang besar! Lagipula mana ada laki-laki yang mulutnya cerewet seperti dia ini! Benar kan apa yang di katakan tadi, memang benar jika Tuan seramnya itu yang cerewet! Tapi Tuan seramnya itu masih berani mengatakan jika dirinyalah yang cerewet. Hey, Tuan! Tolong berkacalah! Rose mencibir dalam hati. Bahkan ia tak bisa menutupi wajahnya yang sedang mencibir itu saat melihat Tuan seramnya itu menyisakan hanya setengah dari isi botol air minum dingin itu.


"Kenapa wajahmu terlihat kesal?!", tanya Ben sambil menaikkan salah satu alisnya. Tangannya menyerahkan botol air minum itu kepada Rose.


"Tidak apa-apa!", Rose segera merapatkan bibirnya seraya menerima botol air minum itu. Ia sadar betul jika dirinya tidak bisa terang-terangan kesal di hadapan Tuan seramnya itu.


"Sepertinya kau minta dihukum, ya! Baru tadi aku memperingatkanmu untuk apa?!", Ben memajukan tubuhnya yang masih duduk di bangku taman itu. Kemudian dengan sengaja ia berbisik di samping tubuh wanita itu.


Punggung Rose langsung menegang. Ia akhirnya ingat peringatan yang diberikan oleh Tuan seramnya itu, bahwa ia harus selalu tersenyum. Tidak boleh memamerkan wajah cemberut atau pun kesal di hadapan lelaki itu. Seketika wanita itu langsung melebarkan lengkung bibirnya. Ia tersenyum lebar, namun seperti karet ban bekas yang ditarik paksa. Masih terlihat kaku.


"Kalau begitu, aku akan ke Bervan dulu! Dia mengatakan sangat haus, tadi!", dengan langkah seribu Rose langsung melarikan diri dari hadapan Tuan seramnya itu. Sebelum ia ditarik dan mendapatkan hukuman yang ia sendiri tidak dapat menebaknya.


Melihat wanita itu langsung berlari terbirit-birit, Ben jadi berpikir. Apakah dirinya ini sebegitu menyeramkannya?! Kenapa wanita itu langsung berlari begitu saja! Memangnya tadi ia sudah berkata apa, sehingga wanita itu segera kabur darinya! Sejujurnya Ben sendiri saja lupa! Jika saja Rose tahu apa yang ada di dalam pikiran Tuan seramnya itu saat ini, pasti wanita itu akan memutuskan untuk memaki orang ini saja!


Pria itu mengedikkan kedua bahunya, tak peduli. Lalu ia kembali menyalakan layar ponselnya. Ada beberapa hal yang masih harus ia periksa mengenai kelompok yang dipimpinnya. Dan terutama, tugas baru yang sekarang ia tugaskan langsung untuk dikerjakan oleh Relly. Apalagi jika bukan tentang setangkai bunga lili yang harus selalu baru setiap harinya. Lalu pria itu tersenyum sendiri setelah puas melihat hasil kerja Relly. Bunga lili putih itu selalu terlihat indah di meja kerjanya.