Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Kau adalah milikku



Dengan segera pria itu menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir rasa gugupnya yang menderanya secara tiba-tiba. Ben keluar sambil membawa Rose di dalam gendongannya. Wajahnya juga sudah kaku seperti biasanya. Ia berusaha bertindak setenang mungkin agar Victor tidak mencurigai apapun terhadapnya.


"Kemana saja kau sampai tengah malam begini baru pulang? Kau bawa kemana saja adikku?", serbu Victor dengan pertanyaan yang menuntut.


Iya, iya, Ben paham jika orang itu sedang mengkhawatirkan adiknya. Tapi hey, bahkan dirinya pun belum menginjakkan kaki di teras rumah sekalipun. Pria ini benar-benar keterlaluan. Ben memasang wajah sebalnya.


"Bagaimana jika aku letakkan di sini saja adikmu ini agar aku bisa langsung menjelaskan semuanya kepadamu!", wajah Ben acuh tapi tatapannya jelas tidak suka. Apa dia tidak tau jika adiknya ini berat?! Bisa kram tangannya jika lama-lama meladeni kakak yang cerewet ini. Biarkanlah dirinya membawa adiknya ini ke kamarnya, barulah mereka berbicara. Pria ini sungguh tidak sabar.


"Baiklah, aku akan menunggumu di ruang tengah", putus Victor akhirnya setelah menghela nafas. Iya juga ya, saat ini temannya itu sedang menggendong adiknya di tangannya. Jika ia sibuk menuntut jawaban dari Ben, maka mungkin pria itu akan marah. Semua orang jelas tau jika kesabaran pria itu tidaklah banyak. Hehe,, Victor menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu memutar kursi rodanya untuk membuntuti Ben dari belakang untuk masuk ke dalam rumah.


"Tunggu dulu!", seruan Victor mengagetkan Ben hingga ia menghentikan langkahnya saat akan menaiki tangga.


Apa lagi? Begitu kira-kira arti tatapan tajam Ben yang sangat tidak sabaran.


"Kenapa pakaian kalian berbeda dengan saat berangkat? Kau,,, kau apakan adikku? Kau bawa kemana dia?", sedikit takut tapi Victor sudah dipenuhi pertanyaan di dalam benaknya. Ia tidak bisa berhenti khawatir tentang adiknya itu. Karena bagaimanapun juga mereka baru saja bertemu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa adiknya itu.


"Kau tau kan jika ini akan semakin berat?! Atau ku lempar saja adikmu ke bawah, bagaimana?", dengan gaya tidak sabar Ben menggertak temannya itu.


"Baiklah! Baiklah! Aku akan menunggu!", Victor pasrah dengan rasa penasarannya. Ia harus bersabar sebentar lagi saja untuk mendengar laporan dari teman lamanya itu.


Salah satu sudut bibir Ben tertarik ke atas saat ia menolehkan kepalanya lurus ke depan sambil mulai melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga menuju kamar wanita ini. Akhirnya ia bisa terlepas juga dari cerewetnya kakak dari wanita ini. Pusing kepala Ben mendengar banyaknya pertanyaan yang datang dari mulutnya itu. Tapi, ia juga punya pemikiran sendiri untuk bisa cepat-cepat sampai di kamar wanita ini. Ben menyeringai di tengah langkahnya.


***


Sebenarnya hanya alasan Ben saja mengatakan jika Rose itu berat digendongnya. Padahal tidak sama sekali. Ia merasa tubuh wanita ini kurang berisi sedikit lagi, hehe. Ben berulang kali mengulum bibirnya saat sedang berpikir yang aneh-aneh. Dengan mudah salah satu tangannya sudah membuka tuas pintu kamar wanita itu. Ben masuk lalu menutup pintu kamar itu dengan tendangan salah satu kakinya.


Hah, benar-benar wanita ini seperti orang mati saat sudah tertidur. Awas saja ya, ia akan membuat perhitungan karena telah membuat Ben menggendongnya sejauh itu. Dari halaman sampai ke atas itu juga bukan jarak yang dekat. Meskipun tubuh wanita itu tidak cukup berat, tapi tetap saja bisa membuat tangan dan pinggangnya terasa pegal.


Sambil memandangi wajah pulas milik Rose, Ben meregangkan otot-ototnya yang mulai terasa sehabis menggendong wanita itu. Ya, masalah perhitungan itu Ben pasti akan melakukannya. Tapi mengingat hal itu, Ben juga jadi ingat bahwa ia harus meninggalkan wanita ini besok. Bahkan sebelum terang dia harus sudah berangkat. Dan mungkin ini adalah kali terakhirnya melihat si wanita ini sebelum keberangkatannya.


Perasaan tak rela hadir di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya ia enggan untuk datang ke markas. Padahal dari kabar yang Relly berikan keadaannya sedang serius di sana. Dan mereka membutuhkan Ben untuk mendampingi mereka saat ini


Setelah puas memandangi wajah cantik wanita itu. Perlahan Ben mendekat ke arah wajahnya. Ben harus menuntaskan apa yang tadi ia lakukan saat di dalam mobilnya. Pria itu tersenyum kecil sebelum melakukan melakukan aktivitasnya. Dan,,,


"Beeenn! Kenapa kau lama sekali?!", teriak Victor dari lantai bawah. Pria itu seakan tak peduli bahwa ini sudah tengah malam dan suaranya itu akan mengganggu para pelayannya yang sudah tertidur pulas.


Masih dengan wajah yang begitu dekat, Ben mengorek telinganya dengan satu jarinya sambil meringis kesal. Pria ini benar-benar mengganggu saja.


Ia tak peduli jika nanti kakak dari wanita ini akan berteriak lagi. Yang terpenting adalah ia harus menyelesaikan misinya kali ini terlebih dahulu. Ben menempatkan bibirnya pada bibir manis yang sudah membuatnya kecanduan itu. Ia memberi saya dorongan yang menjadikan itu sebuah kecupan. Lalu untuk beberapa saat ia bermain-main menikmati manisnya bibir mungil merah muda itu.


"Emmhh, Tuan! Kau mencuri ciumanku lagi, ya!", suara parau itu terdengar sesaat setelah Ben menghentikan aktivitasnya.


Pria itu tersenyum saat melihat mata wanita itu yang masih terpejam dengan kuat. Yah, sepertinya dia memang hobi mengigau di setiap tidurnya.


"Ya, kau harus membersihkan aku! Bersihkan aku dengan ciumanmu! Emmh,,,, ", sedikit melenguh wanita itu segera berbalik sambil memeluk guling di sebelahnya.


"Aku akan pergi untuk waktu yang belum ditentukan. Hey wanita, kau harus bisa menjaga dirimu, oke!", tatapan mata Ben begitu hangat saat memandangi punggung Rose.


"Kau adalah milikku! Ya, milikku! Sebelum aku tau apa yang aku rasakan saat ini, maka kau hanya harus berada di sisiku! Aku tak akan membiarkan orang lain mendekatimu, heh! Ingat, kau adalah milikku. Milik Benny Callary!", Ben mengakhiri ucapannya dengan memberi satu kecupan lagi di pucuk kepala Rose.


Pria itupun kemudian memulai langkahnya untuk meninggalkan wanita itu dengan mimpinya yang entah apa. Tapi sepertinya Rose sedang memimpikan dirinya. Ben pun tersenyum puas bersamaan dengan pintu yang ditutupnya rapat.


Ya, Ben akan memastikan dulu apa yang sebenarnya ia rasakan tentang wanita itu. Perasaan apakah ini, Ben juga penasaran. Pasalnya, saat ia memiliki perasaan kepada Ana pun tak seperti ini rasanya. Ini terasa berbeda. Meskipun sudah bertahun-tahun lamanya ia memendam perasaan terhadap wanita yang kini telah ia anggap sebagai adiknya itu, tapi dengan Rose itu terasa berbeda. Ada perasaan yang mengembang di dadanya, ada hati yang berdesir di dalam sini, juga jantungnya yang selalu berdebar saat berdekatan dengan wanita itu. Ini berbeda,,, Ben terus berkutat dengan pikirannya.


Maka dari itu, selagi dia pergi. Biar dia sendiri juga menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Tapi juga sebelum itu, Ben telah mencap Rose sebagai miliknya. Dan seperti Ana, Ben akan menjaga Rose dari jauh. Ia akan mengirim orang-orang untuk selalu menjaganya. Dan lagi terutama dari pria-pria yang berusaha mendekati wanita itu. Ben tak ingin kejadian Ana dan Ken terulang lagi. Meskipun mungkin pertemuan mereka adalah takdir. Tapi walau begitu, Ben telah menjadikan hal itu sebagai pelajaran. Maka ia akan semakin memperketat penjagaannya terhadap wanita yang kini menjadi targetnya. Tak boleh ada pria yang menyentuhnya walau hanya seujung kuku pun.


Dan lagi mengingat kejadian apa yang mereka alami siang ini. Ben tentu akan mendiskusikan hal ini dengan Victor di bawah. Dan ya, ia masih belum tau dalang dibalik penculikan Rose tadi. Sekembali ia ke markas, ia akan menyelidiki ini semuanya. Instingnya mengatakan masalah ini tak menjadi segampang ini. Ini akan lebih rumit dari yang awalnya Ben bayangkan. Berhentinya Ben dengan semua pemikirannya, bersamaan dengan langkahnya yang selesai menuruni anak tangga.


"Kenapa kau lama sekali?!", Victor ini sedang bertanya atau sedang menuduh. Tatapan pria ini begitu galak seperti seorang ayah yang sedang melindungi putrinya. Ia bahkan sedang berkacak pinggang di kursi rodanya.


"Hah!", Ben menghela nafasnya kasar malas meladeni teman lamanya itu.


"Aku habis buang air besar! Tiba-tiba perutku sakit!", dengan wajah acuh Ben mengatakan alibinya seraya mendudukkan diri di sofa di ruang tengah.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya ben dan rose dimulai. dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya ben dan rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


**jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya