
Sungguh merusak suasana ucapan pria itu! Namun Ben memang ingin Rose memanggilnya dengan panggilan yang hangat, seperti dengan menyebutkan namanya. Hanya saja lidah wanita itu sudah begitu fasih dalam menyebutkan kata tuan kepadanya. Malahan Rose merasa aneh jika dia harus merubah panggilannya terhadap tuan seramnya itu.
Rose meringis sambil menggaruk belakang kepalanya. Ia bingung bagaimana memulainya. Mungkin melakukan apa yang diinginkan tuan seramnya itu juga cukup baik bagi hubungan mereka. Tapi ia merasa lidahnya begitu kaku untuk menyebutkan nama orang itu.
"Be,, Ben!", terbata, pelan dan tidak yakin. Begitu suara Rose terdengar.
"Ulangi lagi!", pria itu menegaskan karena tidak puas.
"Ben,, Ben!", Rose mengulangi, suaranya masih tidak begitu keras.
"Ben!", serunya jelas ketika mata pria itu hampir keluar memelototinya.
"Bagus!", Ben mengacak rambut wanita itu gemas.
"Jadi mari kita ulang momen romantis kita yang tadi!", sambungnya lagi dengan begitu santainya.
Sedangkan Rose tiba-tiba menjatuhkan rahangnya, menganga dengan apa yang barusan ia dengar. Apakah semudah itu menciptakan suasana romantis baginya?! Memangnya semudah membalikkan telapak tangan apa?!
"Dasar pria besar merepotkan! Sudah bagus panggilan yang ku miliki untuknya! Tuan seram, bukannya itu lebih cocok untuk wajah dan perilakunya, kan!", sambil mengendurkan punggungnya, Rose menolehkan kepalanya ke samping. Ia menggerutu pelan dengan mulut setengah terbuka.
"Tuan seram?! Jadi kau menyebutku begitu, hem?", meskipun ucapan Rose terdengar tidak jelas, namun Ben masih dapat menangkap beberapa kata dengan telinganya. Sekarang ia menampakkan wajah protesnya.
"Ya habis! Memang sebutan itu cocok untukmu, kan! Kau itu memang menyeramkan ketika sedang marah! Hiiihh", Rose meringis ngeri.
"Kau pikir aku ini hantu! Mengapa wajahmu begitu?! Hah!", bukannya marah Ben malah menggelitik pinggangnya. Wanita itu tertawa sampai tidak tahan dan mengeluarkan air mata.
"Sudah cukup, Tuan! Ampun, tolong ampuni aku! Aku sudah tidak kuat tertawa lagi!", racau Rose sambil berusaha menyingkirkan tangan Ben dari pinggangnya. Jemari pria itu masih menari dengan lincah di sana. Namu sulit sekali disingkirkan.
"Tuan lagi, hah?! Katakan dengan benar! Sebutkan namaku!", semakin gemas saja pria itu menggelitik Rose yang sudah minta ampun kepadanya. Mungkin memang benar jika ia suka menindas seseorang, perasaan melihat lawan tak berdaya baginya sangat menyenangkan. Apalagi yang sedang di hadapinya adalah kekasihnya sendiri. Tempat tidur yang mereka tempati sampai bergoyang karena kehebohan yang mereka buat.
"Iya,, iya! Aku akan melakukannya! Tapi singkirkan dulu tanganmu!", kata Rose sambil menahan geli.
"Baik! Coba katakan!", Ben menarik tangannya dari pinggang wanita itu sambil berucap dengan wajah serius.
Atmosfer yang ada saat ini mendadak berubah. Rose sendiri merasakan kalut tawanya yang menggema langsung menghilang. Ia pun terbawa seriusnya wajah pria itu.
Tatapan Rose yang begitu mendalam, dibarengi dengan suara yang mantap, membuat Ben tertegun untuk beberapa saat. Ia menarik nafasnya. Lalu,, perlahan pria itu mengembangkan senyumannya sampai matanya menyipit. Begitu senang saat wanita itu menyebutkan namanya.
"Aku juga mencintaimu, Rose!", ucapnya sendu.
Tak perlu berpikir panjang lagi, sebuah ciuman ia buat dengan penuh perasaan. Ia berhenti sesaat untuk melihat lagi wajah cantik Rose dan membawanya ke dalam bayangan matanya yang sengaja terpejam. Sambil menikmati hangat di hatinya, Ben menelusupkan tangannya ke belakang leher wanita itu. Kemudian melanjutkan ciumannya dengan rasa yang lebih bergairah dan mendalam.
Rose ikuti setiap gerakan bibir Ben dengan kewalahan. Matanya yang terpejam benar-benar menikmati sentuhan handal lelaki itu di bibirnya. Ia pun mengalungkan tangannya di sekitar bahu pria itu. Baik Ben maupun Rose hanyut dalam indahnya tautan cinta mereka saat ini.
Di luar pintu, seseorang menjatuhkan tangannya dengan lemas. Beberapa cup kopi yang baru saja dibelinya pun berguncang di tangannya. Eric melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita pujaan hatinya sedang memadu kasih. Perasaan marah dan kecewa ia rasakan saat ini. Namun, Eric menyadari jika ia tidak berhak memiliki perasaan seperti itu. Sebab Rose memang bukan siapa-siapa untuk dirinya. Terlebih luka batin yang Rose rasakan penyebabnya adalah ayahnya sendiri. Maka dari itu, ia semakin merasa tak pantas untuk menemui wanita itu lagi.
Padahal, semula Eric sudah bisa menyemangati dirinya sendiri untuk bisa bertatap muka dengan Rose lagi di tengah semua rasa bersalahnya. Ia juga sudah meyakinkan dirinya bahwa pria yang baru saja datang bukanlah siapa-siapa bagi Rose. Makanya ia bermaksud membeli beberapa kopi untuk dua pria yang baru datang untuk sekadar mengakrabkan diri.
Namun sepertinya, jarak di antara mereka bertiga sudah terukir jelas sekarang. Eric sadar betul bahwa ia harus melangkah mundur. Bahkan mungkin ia tak pantas untuk sekali saja berperang memperjuangkan perasaan yang sudah ia simpan lama untuk wanita itu. Lagipula, perbuatan ayahnya di masa lalu terhadap Rose, selalu membayang-bayangi setiap langkahnya. Hingga yang ada selalu rasa bersalah setiap kali ia melihat wajah wanita itu.
Eric pun melangkah pergi setelah meletakkan empat cangkir kopi kemasan di bangku tunggu di luar ruangan. Ia melangkah dengan gontai sambil menundukkan kepalanya lesu.
Relly yang tak lama kemudian datang dari arah toilet pun hanya bisa memandang punggung pria itu dari jauh dengan prihatin. Pasti sangat menyedihkan merasakan patah hati. Kemudian ia menghela nafas, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang itu atau bahkan untuk dirinya sendiri.
Ia bersiap untuk berjaga di pintu kembali. Namun langkahnya berhenti di detik itu juga tatkala matanya disajikan adegan romantis dan sedikit panas antara bosnya dan juga nona itu. Kakinya reflek mundur.
"Sakit! Mataku sakit!", ia menggosok matanya dengan kencang karena sudah merasa tersakiti oleh adegan tadi.
"Ya Tuhan, tolong segera kirimkan jodoh untukku juga! Secepatnya jika bisa! Sekarang kalau perlu! Detik ini juga jika Kau mengizinkannya!", lalu pria itu menengadahkan kepalanya, berdoa dengan wajah menyedihkan namun kontras dengan isi doanya yang begitu serakah.
"Ini past dia yang membawanya!", untuk menghibur hati, Relly memilih untuk menyesap kopi yang ditinggalkan Eric di bangku tunggu. Kebetulan masih panas dan sepertinya bisa membantunya memikirkan masalah masa depannya yang tak kunjung terlihat hilalnya ini. Duduk sendirian, ia memandangi pasangan yang lewat beberapa kali di depannya. Baik yang masih muda maupun pasangan berumur, atau malah pasangan renta antara kakek dan nenek yang masih terlihat mesra. Yang jelas mereka semua telah membuat Relly yang sendirian semakin menderita.
Kembali ke dalam ruangan,
"Hentikan, Ben! Bagaimana pun juga statusku masih pasien sekarang!", seru Rose sambil tersengal. Di tengah pikirannya yang berkabut dann terbawa gairah, ia harus menghentikan aksi mereka lantaran masih sadar tentang dimana mereka saat ini.
"Baiklah! Ayo lanjutkan ketika kau sudah pulang!", pria itu berbisik di telinga Rose dengan suara menggoda. Lalu menautkan keningnya pada kening Rose yang sedikit berkeringat. Bagaimanapun juga ciuman panjang mereka telah membuat tubuh mereka terasa panas.
"Kau ini!", malu-malu wanita itu memukul bahu ben pelan. Meskipun ia juga mau, tapi tidak mungkin, kan, ia menunjukkannya secara jelas?!