Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Dua buah tas belanja



"Ya ampun, Kakak!", Rose makin malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menggeleng di dalamnya.


Rasanya ia ingin sekali memarahi kakaknya itu sekarang juga, tapi mau bagaimana perasaannya sedang campur aduk sekarang. Apalagi ia menjadi tidak enak hati pada Tuan seram itu. Padahal ini adalah momen yang sangat membahagiakan, tapi langsung dirusak begitu saja oleh perintah konyol kakaknya itu.


"Katakan pada Tuanmu, jangan ganggu kami!", Ben menguarkan aura dinginnya saat memberi perintah itu. Paman Alex yang tadinya sudah akan menuruni tangga pun berhenti dan ia sempatkan menoleh. Pria paruh baya itu tak menjawab tapi hanya mengangguk lalu melanjutkan lagi langkahnya ke lantai bawah.


kruuk,, kruuk,, kruuk,,


Suara perut yang nyaring berdendang milik salah satu di antara kedua insan yang masih berdiri di lorong lantai dua itu.


"Tuan,,,,!", Rose mengulum bibirnya ke dalam saat mendengar teriakan para cacing dari perut milikTuan seramnya itu.


Wajah pria itu berubah gelap, bercampur warna hijau, kelabu dan merah karena malu. Bagaimana bisa di situasi seperti ini malahan terjadi hal memalukan seperti ini?! Ben sangat membenci hal ini. Tapi masih ada Rose yang sedang tertawa geli di hadapannya saat ini. Melihat tawa renyah yang suah lama tak menghiasi matanya ini, membuat hati lelaki itu terasa penuh. Namun tidak dengan perutnya saat ini.


"Aku belum makan sejak tadi pagi!", Ben menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal sama sekali sambil tersenyum kaku. Yasudah mau bagaimana lagi jika ia sudah tertangkap basah seperti ini. toh hal konyol ini pun menerbitkan lengkungan indah pada bibir wanita itu.


"Benarkah?!", Rose membulatkan matanya juga memaku wajahnya menatap Ben dengan sangat serius. Tawanya langsung berhenti.


"Apakah ada gunanya aku berbohong saat ini?", pria itu memajukan wajahnya hingga wajah keduanya kembali berdekatan saat ini.


Rona merah kembali menodai pipi keduanya. Saling menatap dengan rasa canggung, namun juga tetap begitu intens menusuk ke dalam bola mata masing-masing.


"Ba,, baiklah sepertinya lebih baik kita makan dulu sekarang! Kebetulan makanan yang Tuan berikan tadi belum aku habiskan", mengusir jejak rasa canggungnya, Rose menarik tangan Ben menuju kamarnya.


Dan pria itu tersenyum indah luar biasa. Matanya berbinar penuh dengan cahaya saat menatap tangannya yang saat ini sedang digenggam oleh tangan mungil wanita imut ini. Ben membiarkan saja dirinya terbawa oleh ajakan wanita yang sedang menyembunyikan perasaan malunya. Sekilas ia melihat pipi Rose yang sudah seperti jambu. Merah muda dan juga manis.


***


Rose hanya duduk bersandar pada kepala ranjangnya. Sedangkan yang bekerja hanyalah mulutnya yang terus bergerak untuk mengunyah. Lalu dari mana makanan itu bisa masuk ke dalam mulutnya?! Tentu saja dari tangan Ben yang senantiasa menyuapinya sejak awal mereka makan.


Bukan atas keinginan Rose, tapi itu atas dasar keinginan pria itu sendiri Ben sedang ingin memanjakan wanita ini untuk menebus rasa bersalahnya sore tadi.


Makanan di nampan itu susdah hampir habis, tapi rasanya masih ada yang kurang dalam pikiran pria itu. Ben merasa belum mendapatkan penjelasan apa-apa tentang bagaimana ia bisa menjadi salah paham seperti tadi.


"Emmhh,, apa?", mulutnya yang penuh menyahuti panggilan Ben. Wajah polosnya jelas bahwa saat ini Rose tidak mengetahui akan kemana arah pembicaraan ini.


"Apakah,,, apakah,,, Hah sudahlah, lupakan saja!", Ben mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam saja. Ia tidak ingin merusak suasana yang baru saja membaik ini. Dan mereka belum juga saling meluapkan rasa rindu mereka masing-masing yang terus membuncah di setiap malamnya.


"Ayo cepat habiskan makanannya!", Ben membelokkan arah tujuan ucapannya tadi. Tak ingin membahas ke arah sana lagi. Mungkin semua pertanyaan yang menjadi gelombang besar di dalam otaknya itu, akan ia biarkan hingga terpecah sendiri menjadi ombak kecil yang tak menyakiti.


"Dia adalah teman yang baru saja ku kenal!", Rose tiba-tiba membuka suaranya. Membuat Ben mengangkat kepala untuk menatapnya.


Wanita itu sadar betul jika memang ini yang diharapkan oleh Tuan seramnya itu. Sebuah penjelasan panjang hingga orang itu tak memiliki keraguan lagi padanya. Dan sepertinya memang karena hal inilah kejadian menyakitkan seperti sore tadi terjadi. Pria itu membutuhkan penjelasan. Dan lagi, Rose tak ingin ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.


Ben tak menguarkan satu kata pun dari mulutnya. Ia biarkan indera pendengarannya hanyut dalam lantunan cerita yang terdengar mengasyikan bagi diri wanita itu. Lelaki itu mendengarkan dengan penuh seksama. Menatap lekat wajah wanita itu menilai jejak kejujuran yang terkandung di dalam setiap ucapannya.


"Wahh! Kau baik sekali, ya! Sampai-sampai mau membelikan lelaki itu pakaian dan mentraktirnya makan siang! Aku saja tidak pernah!", Ben mendengus tak bisa menutupi kekesalannya. Sambil mengakhiri suapan terakhirnya lelaki itu menolehkan kepalanya menggerutu pelan. Sindirannya tajam sudah seperti seorang perempuan saja. Dan hal itu membuat Rose tertawa geli.


"Jadi kau cemburu, Tuan?!", wanita itu menggoda Ben. Menarik dagu pria itu hingga mulutnya sedikit terbuka dengan tatapan tidak siap.


"Aku,, aku tidak,,,!", pria itu masih sempat menjawab namun terhenti kemudian.


cup


Rose tak tahan untuk menghadiahi pria itu dengan sebuah kecupan. Jadi memang benar semua peristiwa yang terjadi sore tadi didasari oleh rasa cemburu dan amarah yang menggila yang dimiliki oleh pria itu. Jika pria itu bisa memiliki rasa cemburu yang begitu besar, maka berarti bagaimana besarnya rasa cinta yang pria itu miliki untuknya.


"Sejak tadi kau membawa tas belanja itu kemana-mana. Lalu apakah Tuan sudah melihat isinya?", Ben melirik ke arah dua tas belanja yang kini sedang berdiri di lantai menatap mereka berdua dengan begitu serius.


"Heh! Aku bukan penguntit!", Ben menarik wajahnya menjauh hingga dua jari milik waita itu terlepas dari wajahnya. Ada tatapan tidak suka saat kemudian Ben menoleh ke arah dua buah bungkusan itu. Pria itu menyipitkan mata seakan menembakkan sinar laser yang dapat membuat dua bungkusan itu hancur.


"Yakin tidak ingin tau apa isinya?", Rose juga menjauhkan tubuhnya. Benar-benar bersandar sambil melipat tangannya di depan. Menaik-turunkan alisnya memandang pria itu dengan tatapan yang menantang.


"Bukan urusanku! Dan tidak ada untungnya untukku!", Ben kembali mendengus dengan khas gaya angkuhnya.


Tapi matanya tidak bisa membohongi keinginan murni dari dalam hatinya yang sebenarnya menyimpan rasa penasaran yang tinggi sejak tadi. Bahkan Rose saja yang tidak tau jika tadi setelah mandi, Ben hampir saja membuka isi bungkusan itu. Pria itu melirik dengan penuh minat pada dua buah tas belanja itu.