Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Tomat



"Apalagi yang kau butuhkan?", tanya Ben tak sabar sambil mengekori Rose di belakangnya. Sedari tadi hanya beberapa barang saja yang masuk ke dalam keranjang itu. Rose hanya memilih dan terus memilih. Apa wanita itu tidak tau jika ia hanya punya stok kesabaran yang hanya sedikit saja. Tapi mau marah atau meluapkan kekesalannya sekarang pun tak ada gunanya. Saat ini mereka berada di tempat umum. Tak mungkin juga Ben membuat malu dirinya sendiri.


"Sebentar! Aku tidak akan lama!", ucapan Rose seperti sebuah mantra. Yang telah ia ucapkan berulang kali hingga pria itu rasanya sudah hapal. Setiap sedang melihat-lihat, Rose pasti akan memberikan jawaban yang sama seperti itu. Tapi bukan bermaksud berlama-lama, hanya saja Rose terlalu gembira untuk melihat banyak hal. Dan terutama berbelanja sendiri seperti ini. Sudah sangat lama ia tak pernah merasakan kebebasan yang seperti ini. Ia terlalu gembira, hanya saja Ben tidak mengetahuinya.


Pria misterius tadi terus membuntuti mereka dengan jarak yang agak jauh supaya Ben tidak menyadari kehadirannya. Berbeda dengan Rose yang mungkin tidak akan peka terhadap keberadaannya. Ia terus mengawasi, tapi tangannya mencoba mengirimkan sebuah pesan kepada rekannya yang lain di luar.


Target telah terlihat. Bersiaplah.


Begitu isi pesan yang ia kirimkan kepada seseorang yang tengah duduk di mobil hitam tepat di belakang mobil yang Ben parkir.


"Ingat, target kita adalah yang wanita. Jika prianya melawan, lenyapkan saja!", perintah pria yang duduk di kursi depan setelah membaca pesan yang rekannya kirim.


Mereka begitu percaya diri bahwa aksi mereka akan berhasil. Ada empat orang di dalam mobil itu. Dan yang di depan terlihat seperti pemimpin mereka. Mereka semua menyeringai penuh kemenangan, padahal perang saja belum dimulai. Tapi sayangnya di dalam pesan itu, rekannya tidak menjelaskan bahwa wanita yang menjadi targetnya sedang bersama orang yang paling disegani di dunia bawah di negara ini. Wanita itu sedang bersama Benny Callary.


***


"Iya, sebentar lagi!", kali ini Rose menjawab dengan begitu kesalnya. Pria ini sungguh tidak sabaran. Apa dia tidak tau, jika belanja adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa diburu-buru oleh pria.


"Kau lama sekali seperti keong! Aku akan menunggu di mobil saja!", ucap Ben ketus. Kesabarannya sudah habis. Ia sudah tidak dapat menunggu Rose lebih lama lagi. Ia juga tak ingin membuat malu jika nanti amarahnya tak bisa ditahan lagi.


"Yasudah!", jawab Rose acuh sambil meneruskan melihat-lihat di sana dengan riangnya karena tak ada lagi pengganggu di belakangnya.


Ben yang melihat itu pun rasanya ingin mendaratkan sebuah pukulan mentah ke arah kepala wanita itu. Jika saja Rose itu pria, mungkin sudah ia ajak bertarung di luar sana. Ben sudah sangat kesal sekarang. Lalu dengan acuhnya pria itu pun berjalan menjauh dari Rose. Meninggalkan wanita itu di belakangnya.


Si pria misterius pun merasa ini adalah sebuah kesempatan. Tangannya sudah mengeluarkan sapu tangan, dan sepertinya benda itu sudah diberikan obat bius. Pria itu mulai mendekat.


Sudah beberapa langkah jarak pria itu dengannya, Rose menyadari sesuatu hal. Dan ia segera menyusul Ben yang sudah mulai berjalan menjauh. Pria itu pun mendesis kesal karena rencananya gagal. Tapi tenang saja, mereka masih memiliki rencana lainnya di luar.


"Hey, Tuan! Tunggu! Tunggu aku!", Rose berlari kecil seraya berteriak memanggil Ben.


Pria eksentrik itu tak menghentikan langkahnya, tapi hanya memperlambat gerakannya. Bibirnya mencibir mendengar Rose memanggilnya.


"Tuan!", Rose segera meraih lengan pria itu untuk ia peluk. Dengan wajah khawatir Rose mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Memindai sesuatu yang sepertinya akan membahayakan dirinya. Tapi Ben masih tetap acuh dan malah berusaha melepaskan tangan Rose yang menempel di lengannya.


"Tuan!", Rose merajuk manja sambil menempelkan wajahnya di lengan itu dan memeluknya makin erat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memasang wajah imut seperti anak kucing yang tak ingin lepas dari kaki majikannya. Ia memohon agar Ben tak meninggalkannya.


"Kau bilang tadi ada seseorang yang mengawasi kita, bukan?! Lalu apa kau tega meninggalkan aku sendirian!", Rose memasang wajah memelasnya bercampur wajah imutnya yang benar-benar tak mampu Ben tolak permintaannya. Terlebih alasan itu, mengapa Ben bisa begitu ceroboh dengan melupakan hal penting seperti itu. Tujuan utamanya ikut ke tempat ini adalah untuk melindungi adik temannya ini. Tapi salah sendiri Rose telah menguji kesabaran Ben yang tak sedikit itu, pria itu pun jadi melupakan hal ini sejenak. Ben memijit sedikit dahinya sambil membuang muka ke arah lain. Ia juga memejamkan matanya kuat-kuat untuk menetralisir perasaan kesalnya saat ini.


"Jika kau tidak ingin ditinggalkan. Maka aku beri waktu kau lima menit", Ben menunduk memberi kesempatan kepada Rose untuk menyelesaikan kegiatannya. Tak peduli waktu yang ia berikan, Rose harus menuruti perkataannya atau tidak sama sekali. Wanita ini telah menguji kesabarannya sejak tadi. Jadi tak ada salahnya bukan memberinya sedikit pelajaran.


"Li,,ma,,me,,nit?!", tanya Rose terbata.


"Ya!", jawab Ben dengan acuhnya bahkan terlihat sedikit sombong wajahnya. Seakan tak peduli dengan kesusahan apa yang akan Rose derita.


"Baiklah! Ayo!", jangan Ben pikir ia akan menderita sendiri. Rose juga memiliki pikirannya sendiri. Ia masih memeluk lengan Ben, menariknya ke sana-sini untuk mengambil barang-barang yang ia butuhkan.


Pria itu terus terseret oleh tarikan tangan Rose dengan wajah setengah kesal. Ya Tuhan, baru kali ini dia benar-benar dikerjai oleh seorang wanita. Jika Rose ini seorang pria, Ben pasti sudah akan menembaknya karena sudah berani membuat kesal seorang ketua geng mafia.


Akhirnya mereka berhenti di depan stand sayuran. Rose mengambil beberapa sayuran lainnya, sedangkan Ben masih berdiri acuh dengan lengan yang terus dipegangi oleh wanita di sebelahnya. Rose merasa kesulitan karena hanya bekerja dengan satu tangan. Ia mendengus kesal sambil memperhatikan Ben yang tidak memiliki rasa peka sama sekali.


"Apa?", pria itu menoleh karena merasa Rose memperhatikannya.


"Waktumu tinggal dua menit lagi!", lanjut Ben dengan acuhnya sambil membuang muka.


"Kalau begitu lepas tanganmu ini, lalu kerjakan dengan cepat!", Ben kembali menoleh lalu menjawab dengan congkaknya.


"Tidak akan! Jika aku lepas, Tuan akan meninggalkan aku lagi nanti. Aku sangat takut sekarang, Tuan!", Rose tetap pada pendiriannya. Toh ia juga punya alasan yang kuat sehingga Ben tak akan menolaknya.


"Merepotkan saja!", Ben mendengus kesal. Tapi permintaan Rose tetap ia jalankan.


"Aduh Tuan, tolong pilih tomat-tomat yang segar!", ucap Rose tak sabar lalu ikut memilih beberapa tomat yang lebih baik.


"Jika kau menyuruhku memilih senjata yang bagus tentu aku sangat bisa. Tapi jika kau menyuruhku memilih tomat, menurutmu apa aku bisa?! Lagipula mereka terlihat sama saja kan, merah semua!", seru Ben tak terima.


"Lihat! Seperti ini baru benar. Tomatnya merah segar, tanpa lubang hitam dan tidak ada bagian yang busuk sedikitpun", Rose menunjukkan tomat yang ia pegang ke depan wajah Ben.


Mau tak mau pria itu melihatnya. Tapi tak lama matanya malahan mengarah ke mata bening milik wanita yang sedang memegangnya. Dan mereka pun bersitatap cukup lama. Wajah keduanya lama-lama berubah merah, sama merahnya dengan tomat yang sedang Rose pegang.


Uhukk..uhukk..


Mendengar seseorang batuk di belakang mereka. Keduanya pun akhirnya tersadar. Namun tangan Rose masih melayang memegang tomat di udara. Mereka masih memiliki kecanggungan masing-masing. Hingga Ben memilih untuk mengakhirinya.


Pria itu mendorong tomat yang Rose pegang ke dahinya. Lalu ia berbicara sangat dekat di depan wajah si wanita.


"Waktumu habis!", lalu pria itu segera berbalik dan meninggalkannya.


Rose terkesiap, kesadarannya akhirnya benar-benar pulih kali ini. Ia langsung memegangi pipinya yang terasa hangat.


"Pasti warnanya sudah sama seperti dirimu!", Ohh malunya aku!!!", Rose berbicara dengan tomat yang ia pegang, merajuk tentang bagaimana warna pipinya saat ini. Lalu kesal sendiri di tempatnya.


"Hey Tuan, tunggu aku!", teriaknya pada Ben setelah melihat pria itu mulai menjauh.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya ๐Ÿฅฐ