
Ben melepaskan pelukannya, kemudian menoleh. Sepertinya ia tahu siapa orang yang Rose maksud. Sama dengan Rose, bola matanya bergerak mencari sosok itu. Kemudian mereka sama-sama melihat ke arah Relly.
"Dia pergi beberapa saat yang lalu!", jawabnya sambil menunjuk ke arah pintu. Baiklah, memang hanya dia yang mengetahui hal itu. Karena sebelumnya sepasang kekasih itu sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Bahkan lupa jika masih ada makhluk lain berada satu atap bersama dengan mereka.
"Pergi?", Rose mengulangi hal ini dengan wajah lesu. Padahal ia belum mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Sebab, karena dialah Rose bisa terselamatkan dari jarum neraka yang siap menusuknya.
"Siapa dia?", sekarang terdengar dingin di suara Ben yang sebelumnya hangat. Ia menyatukan kedua alisnya, menatap tajam wanitanya.
Wanita itu kemudian terkekeh sambil menutup mulutnya. Dengan wajahnya yang masih sembab, Rose tertawa senang melihat wajah cemburu tuan seramnya itu.
"Diam!", tapi yang kena semprot malahan Relly yang juga ingin ikut tertawa. Ben menghunuskan pedang kasat mata kepada asistennya itu. Seketika,, Relly membungkam mulutnya dengan resleting tak terlihat, menguncinya, lalu membuang kunci itu ke sembarang arah. Ia menutup mulutnya sangat rapat sambil membelakangi bosnya itu. Sungguh kejam! Mengapa hanya dirinya saja yang dimarahi?! Padahal Nona Rose juga tertawa, bahkan lebih keras daripada dirinya! Relly menangisi dirinya sendiri saat ini.
"Kau sedang mengutukku di belakang sana, kan?!", mendengar hal itu, Relly segera membalikkan tubuhnya ke depan lagi.
"Tidak, Tuan! Saya tidak berani!", jawabnya sembari mengubah wajahnya ke mode kaku. Lalu ia membuat dirinya seperti seorang prajurit yang berdiri tegap.
"Apakah kau sudah terbiasa menindas bawahanmu, Tuan?!", Rose tertawa lagi melihat hal ini. Benar-benar lucu!
"Tertawalah!", pintanya dengan nada lembut. Ben pun melembutkan tatapannya pada Rose.
"Tuan!", wanita itu menghentikan tawanya kemudian melajukan tubuhnya dengan cepat untuk memeluk tuan seramnya. Ia tersenyum bahagia dengan buliran haru yang turut jatuh di pipinya.
Ben membalas pelukan wanitanya. Mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa kali ia juga daratkan kecupan ringan pada pucuk kepala wanita itu. Pria itu lega karena akhirnya Rose bisa tertawa, bisa menghilangkan rasa sakit yang menyiksa sebelumnya. Karena ia tahu bagaimana menyiksa hal itu ketika traumanya kambuh lagi. Bahkan dirinya pun bisa ikut tersiksa jika melihatnya secara langsung. Hanya dengan Rose lah dirinya bisa menjadi selemah itu.
Matanya sakit! Sekarang bukan hanya pipinya yang sakit, tapi matanya juga! Matanya ditusuk oleh adegan romantis yang membuat orang iri. Relly juga merasa jika selain mulutnya, sekarang matanya juga harus ditutup agar ia tidak melihat kejadian lebih lanjut yang membuatnya semakin tersiksa oleh rasa iri.
"Tuan, saya permisi dulu sebentar!", pamitnya sambil berbalik pergi.
"Kenapa tidak dari tadi?!", sahut Ben ketus yang membuat Relly menghentikan langkahnya sebentar.
Relly mengerutkan bibirnya. Ia turut berduka cita untuk dirinya sendiri. Sekarang ia merasa dunia begitu kejam, mengapa belum juga mengirimkan jodoh untuknya! Makanya hingga saat ini ia terus saja ditindas oleh bosnya yang kejam itu. Tak ingin menyahuti ucapan bosnya lagi, Relly berjalan keluar dengan wajah cemberut.
"Bisakah Tuan tidak terlalu kejam terhadapnya?", Rose pun merasa kasihan pada orang itu. Menurut penilaiannya, Ben terlihat sering sekali menindas asistennya itu.
"Bisa-bisanya kau memikirkan pria lain saat sedang bersamaku, hem?!", Ben mendinginkan suaranya. Menajamkan pandangan matanya, namun wanita itu malahan semakin melebarkan lengkung di bibirnya.
cup
"Kau sedang menyogokku, kan!", Ben memicingkan mata meskipun begitu semu di pipinya masih bertahan.
"Tidak mempan!", ia pun memalingkan wajahnya ke samping dengan cepat. Tapi sesekali ia mengintip lewat lirikannya. Ingin mengetahui reaksi wanita itu.
Bibir Rose merapat, namun senyumnya tak memudar. Ia malahan semakin gemas dengan tingkah malu-malu pria yang biasanya tanpa basa-basi akan langsung menyerangnya.
"Maafkan aku karena tidak mendengarkanmu Tuan!", Rose menangkup wajah Ben dan mengarahkannya kepadanya. Mereka berhadapan dengan jarak sangat dekat di wajah mereka.
"Aku tidak akan menjadi ceroboh lagi mulai sekarang. Aku akan selalu mendengarkan apapun yang kau katakan! Tidak bertemu denganmu setelah bertengkar kemarin membuat hatiku resah. Apalagi ketika aku mendengar kabar jika ada situasi genting yang harus kau hadapi, hatiku makin terasa tidak tenang. Makanya aku berniat menyusulmu. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Tuan!", wanita itu berbicara dengan matanya yang teduh dan tulus.
"Hingga aku tak mengira jika semuanya tidak sesuai dengan harapanku", seketika wajah Rose menjadi lesu.
"Sssttss! Sudah! Jangan diteruskan lagi!", Ben berdesis seraya menempatkan jari telunjuknya di bibir Rose. Ia pun menggeleng pelan sambil memejamkan matanya.
"Bukankah sudah aku katakan! Tidak akan ada lagi kejadian seperti ini! Aku akan berjanji dengan hidupku", katanya setulus hati membalas ketulusan yang Rose berikan padanya.
Mengetahui alasan wanita itu pergi karena dirinya, hati Ben tersentuh. Amarah dan hukuman yang sudah berniat ia berikan semestinya saat ini pudar. Semuanya tergantikan dengan perasaan cintanya yang semakin membesar kepada wanita itu.
"Ah ya! Orang itu,, ", Ben ragu untuk menyampaikan hal ini. Tapi Rose berhak tahu.
Air muka Rose berubah. Sekarang datar tak berekspresi. Ia hanya memperhatikan Ben dengan tatapan lurusnya. Ia juga memudarkan senyum di bibirnya. Walaupun dia juga ragu, tapi Rose masih ingin mendengarkan penjelasan Ben lebih lanjut. Karena Rose mulai menangkap siapa orang yang Ben bicarakan.
"Orang itu,, aku sudah bertemu dengannya! Dan aku sudah memberikan hukuman yang pantas untuk ia dapatkan! Dia akan membusuk di penjara!", kata Ben kejam sambil mengingat wajah menjijikan Tuan Rogh tadi. Ia ingin sekali membinasakannya, tapi ia yakin bukan itu yang Rose harapkan.
"Terima kasih, Tuan! Terima kasih!", Rose menghambur lagi ke pelukannya. Ia bersyukur karena beban traumanya bisa sembuh nanti. Juga ia bersyukur karena tuan seramnya tidak membunuh orang itu. Karena Rose masih merasa perlu balas budi terhadap putranya, Eric yang sudah membantunya dua kali. Rose menangis lagi meluapkan perasaan leganya.
"Apa pun akan aku lakukan untukmu!", seru Ben seraya melepaskan pelukan itu. Ben menyeka air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya. Mereka tersenyum bersama dalam lingkup perasaan bahagia yang tak terkira. Dalam tatapan hangat yang telah membalut luka di diri Rose sehingga sekarang menjadi membaik.
"Aku mencintaimu, Rose!", ketulusan di mata Ben merambat ke mata lawan bicaranya.
"Aku juga mencintaimu, Tuan!", sambut Rose dengan tatapan yang sama.
"Bisakah kau memanggil namaku mulai sekarang? Aku ini adalah kekasihmu bukan atasanmu!", di tengah suasana romantis itu tiba-tiba Ben mengeluh sambil merengut.