
"Kemana perginya kucing kecil itu?! Ia bahkan belum sepenuhnya mengetahui jalanan seluruh kota!", Ben begitu frustasi sambil menghidupkan mobilnya.
Ia menghidupkan pendeteksi gps yang ia tanamkan pada ponsel yang Rose pegang. Hatinya sedikit lega karena titiknya mengatakan bahwa Rose masih berada di dalam kota. Bahkan titik itu terus bergerak perlahan. Ben pikir itu tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Rose mengambil hasil tes pagi tadi.
Setelah deru mesin terdengar, buru-buru pria itu tancap gas. Ben sengaja memilih mobil sport putih agar ia bisa memaksimalkan kecepatannya untuk menemukan kucing kecil itu. Makin hari makin liar saja!
***
Butuh waktu setidaknya tiga jam untuk Ben sampai pada posisi dimana Rose berada saat ini. Markasnya juga bukan berada di pusat kota. Itu juga masih di pinggir kota yang lainnya. Jadi diperkirakan akan menjelang sore ia sampai di sana. Tapi melihat arah pergerakan titik itu, nampaknya Rose mulai bergerak ke arah rumah.
Di tengah perjalanan panjang yang mengkhawatirkan itu, Ben bisa sedikit lega. Hanya sedikit saja, sangat sedikit. Karena paling tidak titik itu tidak bergerak ke tempat yang tidak diketahuinya.
"Lihat saja kau nanti!", matanya nyalang penuh tekad sembari merapalkan kata-katanya yang bernada kesal.
Ben bersumpah dalam hati jika nanti ia sudah bertemu dengan kucing kecil itu, maka ia akan memberikan hukuman yang tidak ringan. Sehingga wanita itu akan mengingat untuk tidak berperilaku sembarangan lagi.
Memegangi bibirnya yang terasa kering, ia jadi memiliki ide gila untuk menghukum si kucing kecil yang telah membuatnya meninggalkan Relly. Senyumnya samar memiliki kelicikan di permukaannya. Sungguh ia sangat menantikan untuk menghukum kucing kecilnya yang mulai liar itu.
***
Selesai dari taman, Rose dan Baz memutuskan untuk mengisi perut mereka dulu sebelum mereka benar-benar pulang. Sejak melangkah meninggalkan taman, wajah Rose menjadi berseri-seri. Jejak kesedihannya yang tak surut sejak dari rumah sakit tiba-tiba menghilang begitu saja. Kini yang berada di hadapan Baz adalah Rose yang begitu ceria.
"Sepertinya suasana hatimu sudah berubah, ya? Kau sudah tidak sedih lagi sekarang?", tanya pria itu diakhir suapannya.
Yang Baz harapkan adalah itu disebabkan oleh dirinya. Ia akan sangat merasa berterima kasih pada Rose, jika karena dirinya Rose bisa menghilangkan kesedihan yang sejak tadi Baz selalu lihat di wajahnya. Meskipun wanita itu pandai menutupinya.
"Benarkah? Tapi aku merasa biasa saja!", jawab Rose santai sambil meneruskan makannya.
Apa terlalu kelihatan?! Rose jadi malu sendiri saat ini. Ternyata hanya dengan memikirkan Tuan seram itu ia jadi bisa tersenyum lagi sekarang. Masalah tentang kakaknya biar ia simpan dulu untuk saat ini. Tersenyum lebih menyenangkan pikir Rose. Dan lagi, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Tuan seram itu. Menyerahkan barang-barang yang baru saja dibeli untuknya, ia menjadi sangat gugup memikirkan hal itu. Rose terkekeh sendiri.
"Apakah ada yang lucu?", suara Baz memecah bayangan yang ada di dalam benaknya. Rose berhenti tertawa seketika. Dan tersadar bahwa dirinya baru saja bertingkah konyol.
"Ti,, tidak ada!", hampir saja Rose tersedak dengan makanannya. Ia menutupi mulut dan sebagian wajahnya yang memerah karena malu baru saja tertangkap basah.
🎶🎶🎶🎶
Ponsel Baz berdering. Dan entah nomer siapa yang menghubunginya saat ini. Tapi,, ia merasa harus mengangkatnya sekarang. Mungkin saja itu hal penting untuknya.
"Aku akan telepon dulu!", Baz pamit untuk berbicara dengan ponselnya. Satu anggukan ia dapatkan dari Rose. Lalu dirinya segera menyingkir agak jauh dari wanita itu.
Rose mengedikkan kedua bahunya dengan wajah santai seakan tak peduli. Toh memang itu bukan urusannya, kan. Yang menjadi urusannya saat ini adalah memuaskan perutnya untuk diisi dengan makanan enak yang berada di hadapannya ini.
Hanya beberapa menit saja dan Baz sudah kembali duduk di hadapannya. Rose sekilas memandangi pria yang kemudian duduk lagi di hadapannya. Tapi ia lebih peduli untuk meneruskan makannya. Urusan pria itu bukan urusannya. Dan lagi mereka baru saja kenal. Hidangan di meja lebih menarik perhatian Rose saat ini.
Seakan ditanya dengan lirikan yang hanya sekilas itu, Baz menjelaskan siapa yang meneleponnya tadi. Ia mengucapkan rasa syukurnya karena ternyata dompetnya tertinggal di club yang ia kunjungi semalam. Dan pelayan yang membangunkannya itu baru saja memberi kabar jika dompet Baz aman bersama dengannya. Baz sangat bersyukur karena ia jadi tidak perlu repot-repot mengurus ini-itu yang merepotkan menurutnya.
Rose hanya ber'oh ria sambil terus melanjutkan makannya. Wajahnya seolah sangat peduli saat menanggapi cerita Baz tadi. Tapi yang dia lakukan sebenarnya hanyalah sebuah sopan santun dalam meladeni lawan bicaranya. Entah kenapa dengan Baz, Rose merasa tidak harus terlalu peduli untuk berurusan lebih jauh dengannya. Tapi untuk berteman, Rose tulus akan melakukan hal itu. Tapi tidak untuk merasakan hal-hal yang lebih mendalam lagi.
"Setelah ini kau mau kemana lagi?", Baz merasa siap untuk menemani wanita itu sampai Rose sendiri merasa cukup puas untuk bermain di luar.
"Tidak, sepertinya aku ingin langsung pulang saja! Kakak pasti mengkhawatirkan aku", Rose pun mengakhiri makannya. Perutnya sudah terisi penuh sekarang.
"Oh! Sayang sekali!", wajah Baz tiba-tiba berubah sendu. Rasanya ia belum puas bertemu dengan wanita ini. Masih kurang waktu yang mereka habiskan sejak pagi tadi. Baz merasa ingin bersama dengan Rose terus menerus.
"Hah! Ada apa?", Rose terkejut dengan reaksi Baz. Ia pikir ada sesuatu hal penting yang harus mereka lakukan atau juga ada hal penting lainnya yang terlupakan.
"Ah tidak apa-apa!", Baz tersadar jika dirinya baru saja mengeluarkan kata-kata yang membuat wanita itu kebingungan. Ia menggaruk ujung alisnya yang tak gatal seraya tersenyum canggung.
"Emhh,,, Rose! Bolehkah aku mengantarmu pulang? Tidak baik bukan jika kau pulang sendirian. Sepertinya keadaannya tidak cukup aman sampai kau saja harus pergi dengan membawa pengawal bersama denganmu", entah darimana Baz dapat selancar itu mengungkapkan alasan untuk ia tetap bisa bersama dengan Rose lebih lama. Meskipun awalnya gugup.
"Tapi,, tapi kan kau tidak punya uang! Maaf, bukan bermaksud merendahkanmu. Tapi sebaliknya, aku yang harusnya membantumu untuk membayar biaya taksimu nanti. Sudah ku bilang kan tadi. Kita ini teman, jadi jangan terlalu sungkan!", bukan bermaksud untuk menolak. Tapi Rose tulus hanya mengkhawatirkan pria yang kehilangan dompet itu.
"Jangan khawatir! Bukankah dompetku sudah ketemu. Aku bisa membayar taksinya nanti sekalian dia mengantarku ke club untuk mengambil dompetku yang tertinggal", Baz kembali beralasan. Ia pikir, Rose tidak cukup peka untuk mengetahui bahwa ia masih ingin bersamanya. Tak apalah, yang penting keinginannya bisa tercapai.
"Baiklah, terserah! Asal tidak merepotkanmu saja!", Rose mengedikkan bahunya lagi dengan ekspresi tidak peduli. Ia malas berdebat, jadi biarkan saja pria itu mengambil keputusan. Hal itu juga tidak merugikan baginya. Kapan lagi ia bisa diantar dan dibayarkan ongkos taksi oleh seorang pria.