
Benny Callary, pria bertopi koboi itu baru saja memarkirkan mobilnya. Ia merogoh saku kemejanya untuk mengambil ponsel miliknya. Pria itu harus menghubungi seseorang dulu.
"Tidak bisa dihubungi! Mungkin sebentar lagi!", gumamnya sendiri seraya memasukkan kembali ponselnya.
"Aku baru saja menelepon Bella, tapi tidak bisa! Jika dilihat dari waktunya, mungkin pesawatnya sedang mendarat sekarang!", Ben memberi penjelasan kepada wanita di sampingnya meski tidak ditanya. Karena nyatanya, Rose menanyainya dengan perubahan bentuk wajahnya yang sudah seperti tanda tanya. Pria itu melihat ke arah jam tangannya, waktunya pas dan mereka tidak terlambat.
"Ooohhh!", dan ia juga jadi ikut melihat ke arah jam tangannya sendiri, meski tak tahu tujuannya. Wanita itu mengangguk seraya ber'oh ria tanpa suara. Ia jadi paham kenapa Tuan seramnya itu berbicara sendiri barusan. Baguslah, mereka tidak terlambat.
"Ya sudah, ayo turun! Kita menunggu di dalam saja!", ajak Ben pada Rose seraya membuka pintu mobil di sisinya.
"Ya, ya! Benar begitu!", jawab Rose semangat. Ia langsung membuka pintu mobil di sisinya juga. Tentu saja karena ia tak ingin berlama-lama di dalam mobil itu bersama Tuan seramnya. Pasti akan ada hal aneh yang terjadi di antara mereka.
"Tunggu dulu!", tangannya mendadak ditahan. Benarkan! Lebih dari satu detik saja pasti akan terjadi hal aneh di antara mereka! Sekali saja Rose memejamkan matanya dengan sangat keras, sebelum ia menoleh ke arah belakang. Dan bersamaan dengan itu juga tangannya terlepas dari pintu mobil, sudah ditarik oleh Tuan seramnya.
"Duduk yang benar!", perintah Ben tegas.
Tiba-tiba Rose merasa tegang dan gugup. Begitu saja tubuhnya menegang dan duduk tegak dengan gerakan kaku. Hanya bola matanya saja yang bergerak melirik ke arah Ben seakan bertanya. Apa mau Tuannya seramnya itu?!
"Buka dulu sabuk pengamanmu, baru kau turun! Ceroboh sekali kau ini!", omel pria itu seraya melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkari tubuh Rose.
Tidak tahu saja Tuan seramnya itu jika dia itu lupa saking bersemangatnya untuk keluar dari dalam ruangan sempit yang mengurung mereka bersama saat ini. Rose membatin dan mencibir di dalam hatinya. Tapi dengan patuhnya ia diam saja ketika tangan Ben sedang bekerja.
Huh! Namun wajah pria itu sangat dekat! Rasanya sulit sekali bernafas. Jika begini ia jadi harus bernafas dengan hati-hati agar tidak menjadi sebuah kesalahan lagi. Tapi coba lihat wajah tampan Tuan seramnya itu! Mata Rose tidak bisa disiplin memandang lurus ke depan. Bola matanya bergerak kemana wajah itu bergerak. Wajah tampan Tuan seramnya itu benar-benar membuatnya makin kesulitan bernafas. Tangannya saja sudah gatal untuk ia sentuhkan di sana, tapi ia tahan. Bibirnya sudah ingin maju untuk menyentuh bibir seksi itu, tapi ia tahan juga. Otak warasnya masih bekerja untuk memperingatinya, jangan melakukan hal bodoh yang akan dia sesali!
"Katakan saja jika kau ingin menciumku!", bisiknya di telinga Rose setelah selesai melepaskan sabuk pengaman wanita itu. Sekilas Ben melirik wajah wanita yang jelas-jelas terlihat tegang itu. Sudut bibirnya berkedut kecil.
"Tidak! Siapa juga yang mau menciummu, Tuan!", reflek Rose mendorong dada Ben menjauh.
"Jadi kau tidak mau menciumku?!", pria itu menahan tangan Rose di dadanya seraya menampilkan wajah seramnya.
Wanita itu ingin menarik tangannya, namun rasanya sangat sulit. Tangannya seperti dipasung menggunakan batu. Hey, Tuan! Bukankah seharusnya ini merupakan adegan romantis?! Namun yang ia rasakan saat ini sudah seperti bagian dari adegan dan film thriller atau horor. Rose masih selalu merasa tidak tahan dengan seramnya wajah khas Tuan seramnya itu. Ia masih begitu merinding sampai saat ini.
"Hemmhh?", pria itu mengerang. Kembali bertanya dengan mata yang sengaja ia bulatkan hingga hampir keluar.
"Iya, mau, mau! Aku mau mencium, Tuan!", jawab Rose dengan wajah ngerinya. Ia mengangguk dengan cepat berulang kali.
"Lalu kenapa kau masih diam saja?! Ayo cium!", Ben memerintah seraya memajukan wajahnya.
Rose meringis menanggapi perintah itu! Bukannya tidak mau! Tapi bagaimana ia memiliki minat untuk mencium Tuan seramnya itu jika pria itu saja masih menampilkan wajah yang seram seperti itu. Jikadia masih orang normal mungkin ia tidak berpikir lagi untuk kabur meninggalkan Tuan seramnya.
"Baiklah, kalau begitu tut,, tutup mata Tuan!", susah payah ia bicara karena kering rasanya tenggorokannya saat ini.
"Hemm!", lelaki itu kembali mengerang, lalu menurut dengan menutup matanya.
"Ayo, cepat!", perintah Ben lagi dengan suara tidka sabar.
"Iya,, iya! Tunggu sebentar!", Rose merasa jika saat ini ia sudah seperti baru pertama kali akan mencium pria ini saja. Padahal sudah beberapa kali, dan bahkan sudah berulang kali juga ia dikelabuhi. Tapi tetap saja jantungnya berdetak tak karuan begini.
cup
"Sudah!", ia menjauhkan bibirnya setelah berhasil mengecup bibir pria itu selama beberapa detik. Sebab ia tahu, jika hanya kecupan ringan saja maka itu tidak akan cukup bagi Tuan seramnya itu.
"Kurang!", seru lelaki itu kemudian dengan ketidakpuasannya.
"Iya,, iya! Baiklah!" jika sudah begini tentu saja Rose sudah tahu apa yang diinginkan pria itu.
Ia memajukan tubuhnya di tempat duduk itu. Menyentuhkan bibirnya untuk beberapa saat, lalu ia mulai nikmati bibir pria itu.
Ben membuka matanya sambil menaikkan sedikit lengkung di sudut bibirnya. Kedua tangan yang masih ia genggam di depan dadanya, ia lingkarkan ke lehernya. Ia raih pinggang wanita itu dan mereka tenggelam dalam permainan itu dalam waktu yang cukup lama.
"Sudah! Ayo kita keluar!", ucap Ben begitu saja setelah melepaskan ciuman panjang mereka. Ia membuka pintu mobil di sisinya seraya mengusap bibirnya yang basah. Sambil melangkah keluar, pria itu tersenyum puas.
"Hah!", dengan nafas yang masih memburu, Rose masih termangu di tempatnya. Pikirannya masih linglung, bahkan ia tak bergerak sama sekali.
tok,, tok,, tok
Wanita itu baru pulih kesadarannya setelah mendengar suara ketukan pada kaca jendela di sampingnya. Terlihat di luar Ben menggerakkan kepalanya ke samping mengajaknya untuk segera pergi dari sana.
"Ah ya!", dan sebenarnya masih setengah sadar saat ia membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
"Ayo! Sepertinya dia sudah sampai!", ajak Ben pada Rose yang baru saja menutup pintu mobilnya.
"Iya, baiklah!", wanita itu mengangguk setuju seraya menyamai langkahnya dengan langkah panjang Tuan seramnya itu.
"Tapi sebaiknya kau bersihkan bibirmu dulu!", bisik Ben sambil tersenyum lucu. Kemudian ia melanjutkan langkahnya tak peduli jika kemudian Rose malahan berhenti.
"Dasar menyebalkan!", seru Rose agak keras setelah menyadari apa yang Ben maksud.
Sambil mengejar ketertinggalannya dari langkah pria itu, Rose mengambil ponselnya supaya ia bisa berkaca melihat bagaimana berantakan di bibirnya yang memang masih terasa basah. Sambil merengut kesal, ia mengusap bibirnya dengan kasar dari jejak peninggalan kegiatan mereka tadi.
***
"Apa semua wanita jika sudah masuk toilet itu pasti akan lama?!", pria yang kesabarannya terbatas itu terus marah-marah sendiri. Ia berjalan mondar-mandir sambil berkacak pinggang.
Ben sudah menelepon Bella. Dan benar sesuai dugaan jika Bella dan putranya baru saja mendarat. Jadi mereka sepakat untuk bertemu di area anak-anak. Sambil menunggu Ben menghampirinya, Bella bisa mengajak putranya bermain di sana.
Dan di tengah perjalanan, Rose tiba-tiba mengatakan ingin pergi ke toilet terlebih dulu. Ia ingin membuang hajat kecilnya yang sudah tidak tertahankan lagi. Dan beginilah jadinya, pria bertopi koboi itu melakukan hal membosankan dan mengesalkan ini untuk pertama kalinya. Menunggu seorang wanita di depan toilet. Padahal baru lima menit, tapi rasanya sudah setahun ia menunggu wanita itu.
brak
Dan tak sengaja ia menabrak seseorang karena berjalan tanpa melihat ke depan. Beruntunglah orang yang ia tabrak masih sempat ia tangkap. Jika tidak mungkin tubuh wanita itu sudah tersungkur ke lantai lantaran berbenturan dengan tubuh pria yang seperti batu karang.
"Maaf!", seru Ben sambil membantu wanita itu berdiri kembali. Wajah pria itu seperti biasa, acuh dan tidak ramah. Hanya suaranya saja yang saat ini terdengar cukup sopan.
"Tidak apa-apa!", kepala wanita itu menengadah. Menatap Ben dengan penuh penghayatan di balik kaca mata hitamnya.
"Kalau begitu Anda sudah bisa melepas kemeja Saya, kan!", mata Ben melirik ke bawah dengan wajah dinginnya, ke arah tangan wanita itu yang masih mencengkeram kemejanya di bagian depan.
"Oh ya, maaf!", wanita itu menarik tangannya malu-malu.
"Nona! Nona tidak apa-apa?!", lalu datanglah seorang wanita lagi menghampiri wanita yang tadi ditabraknya. Wanita itu kelihatan mengecek apakah nonanya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
Ben tidak ingin berurusan lebih jauh lagi. Ia merasa agak risih dengan sikap wanita itu tadi. Maka dari itu ia melipir ke arah pintu toilet sambil berharap wanita yang ia tunggu akan segera keluar. Setelah berdecak beberapa kali, barulah sosok pirang itu muncul.
"Maaf aku lama!", seru Rose dengan wajah tidak berdosanya.
"Lebih satu detik saja, mungkin aku sudah meninggalkanmu di sini!", meskipun mulut pria itu mengomel, tapi tangannya tetap merangkul bahu Rose seraya membimbingnya untuk berjalan bersama. Buru-buru meninggalkan tempat itu. Karena Ben tahu, sampai saat ini wanita yang tadi ditabraknya itu masih memperhatikan ke arah dirinya. Ben merasa tidak nyaman.
Rose tersenyum senang, ia pikir Tuan seramnya itu akan marah-marah. Karena ia tahu hanya sedikit kesabaran yang orang itu punya. Namun ada hal lain yang membuat hatinya mengganjal, ia merasa seseorang sedang memperhatikan ke arah mereka. Rose menoleh, namun tak mendapati siapa pun melihat ke arah mereka. Semuanya terasa normal, karena memang ini merupakan tempat umum yang memiliki keramaian. Mungkin itu hanya perasaannya saja, jadi ia mengesampingkan hal itu dan memilih untuk melanjutkan langkahnya dengan riang.
"Benar Nona tidak apa-apa?!", tanya wanita yang sekiranya adalah asisten dari wanita cantik itu.
"Benar! Tapi itu tadi! Sekarang aku tidak baik-baik saja!", wanita cantik itu menjawab sambil memandangi punggung Ben dan Rose yang kian menjauh.
"Dimana yang tidak nyaman, Nona?", tanya asisten wanita itu terlihat khawatir. Ia mengira nonanya itu merasa sakit di bagian tertentu setelah bertabrakan dengan seorang pria aneh tadi.
"Hatiku yang tidak nyaman! Aku menginginkan pria itu! Dan aku harus bisa mendapatkannya! Harus!", wajah halusnya tidak sejalan dengan tatapan tajam yang menguliti di matanya. Mata wanita itu terlihat kejam.
Asisten wanita itu melihat ke arah pandangan mata nonanya. Akhirnya ia mengerti maksud dari ucapan nonanya itu. Tapi ini sungguh sebuah kebetulan sekali. Karena sudah sejak lama, nonanya itu tidak tertarik terhadap seorang lelaki.
"Cari tahu tentang pria itu! Berikan informasinya secepat mungkin kepadaku!", wanita cantik itu memberi titah sambil melanjutkan langkahnya.
"Ayo, cepat! Pesawat kita sebentar lagi akan berangkat!", serunya lagi pada orangnya yang masih tertinggal di belakang.
"Baik, Nona!", asistennya itu menjawab agak keras lalu setengah berlari untuk mengekori nonanya yang berjalan bak model, begitu anggun dengan langkah kaki yang panjang.
Liburannya telah usai. Tidak ada yang menyenangkan selama liburannya itu. Tapi kesan yang ia miliki malahan berada benar-benar di ujung perjalanannya. Nanti, ia akan ke sini lagi dengan tujuan yang berbeda. Bukan lagi berlibur, tapi berburu! Berburu lelaki itu!
***
"Kau masih di sana?", Ben menelepon Bella. Ia ingin memberitahukan posisinya saat ini.
"Ya, masih! Apakah kau sudah dekat?", tanya Bella balik pada sambungan telepon itu. Ia sempatkan tersenyum pada Bervan yang tengah asyik bermain.
"Ya, kami sudah dekat! Ada seseorang yang begitu gugup karena akan bertemu denganmu dan putramu sampai dia harus bolak-balik ke toilet!", Ben berbicara dengan ponselnya, tapi matanya melirik ke samping, jelas sedang menyindir wanita yang berada di dalam rangkulannya itu.
"Benarkah?!", Bella menutup mulutnya yang tertawa kecil. Tentu saja ia tahu jika itu bukanlah Victor. Karena dengan kondisinya yang saat ini ia tahu, tidak mungkin untuk bepergian jauh. Sudah jelas jika itu adalah adiknya. Ia juga jadi tidak sabar untuk bertemu dengan adik dari lelaki itu. Karena kakaknya bilang wanita itu sangat menyenangkan.
"Ah,, aku sudah melihatmu! Lihatlah ke arah jam tiga! Aku memakai topi koboi bersama dengan seorang wanita!", Ben memberikan informasi mengenai dirinya. Ia juga sudah mengetahui wajah Bella, karena Baz tadi sudah mengiriminya foto jelas adik dan keponakannya itu.
Bella menutup sambungan teleponnya seraya melambaikan tangan ke arah mereka. Wajah sumringahnya terlihat sangat jelas dan malahan membuat Rose semakin gugup. Ada anak kecil di sebelahnya. Anak itu tampan sekali, dan sangat mirip dengan wajah kakaknya sewaktu kecil.
Oh sungguh, rasanya hati wanita itu hangat sekali menyambut kedatangan anggota keluarga baru ini. Saking terharunya air matanya sampai merembes keluar. Ia tidak pernah merasa memiliki keluarga setelah ayahnya menikah lagi. Setelah datang ke negara ini dan bertemu kakaknya, rasanya senang sekali karena makin bertambah saja keluarga yang ia miliki.
Ben yang menyadari hal itu pun mengeratkan rangkulannya seraya tersenyum. Mereka bertukar senyum, senyum yang mendamaikan hati. Karena sebenarnya bukan hanya Rose saja yang senang. Ben pun begitu, setelah bertemu Victor, ia jadi memiliki keluarga dan rumah untuknya pulang, selain markasnya, tentu. Dan dengan kedatangan Bella dan putranya, berarti bertambah juga anggota keluarga bagi dirinya.
-
-
nah,, akhirnya bisa update juga ya teman-teman
sekali lagi mohon maaf ya karena udh lama banget ga update 🙏 yang udh baca novel pertama aku pasti tahu penyebabnya,, aku ga bisa ninggalin tanggung jawab aku sebagai ibu rumah tangga soalnya,, maafkan aku ya teman-teman semua 🙏
jadi ya begini, nulis pun nunggu semuanya tidur dulu,, biar ada ketenangan 😅
Oh iya,,,
Selamat hari wanita internasional ya buat semuanya 👏👏😊😊😊