
Sepanjang perjalanan menuju bandara ini, Rose terus mengerucutkan bibirnya. Wajahnya merengut kesal masih tidak terima dengan alasan konyol Tuan seramnya itu. Tapi selama itu pula Ben tidak menggubris wanita itu sama sekali. Ia hanya sesekali melirik dan menyembunyikan senyumannya.
Sekitar tiga puluh menit lagi mereka akan sampai, tapi Rose masih belum juga mengubah wajahnya. Ben mendesah, menetralisir perasaan tidak sabarnya. Hanya dengan menghadapi wanita ini ia harus selalu berkompromi dengan dirinya sendiri. Coba saja ada orang lain yang menguji kesabarannya! Tidak akan bertahan lima menit, lalu habis sudah riwayatnya. Wanita ini benar-benar! Ben menggeleng pelan seraya memutar bola matanya.
"Tuan, kenapa berhenti? Apa ada yang salah dengan mobilnya?", Rose menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan. Pasalnya mobil yang Ben kendarai tiba-tiba saja menepi, padahal ia tidak merasa ada yang salah sama sekali sejak perjalanan mereka tadi.
"Ya, memang ada yang salah!", jawab Ben dingin seraya melepas sabuk pengamannya.
Rose semakin mencari-cari apa masalah dengan mobil itu. Wajahnya melihat sampai keluar jendela. Bermaksud memastikan badan mobil ataupun ban mobil mereka. Ia hendak membuka kaca mobil itu. Tapi tangannya sudah terlebih dulu dicegah.
"Di sini yang salah!", lalu Ben memegangi rahang wanita itu dengan sedikit kekuatan agar tidak menyakitinya. Dan ia sentuhkan bibirnya pada bibir Rose. Yang entah mengapa kali ini rasanya lebih manis daripada biasanya.
Karena ini adalah sebuah hukuman, maka dari itu Ben tidak melepaskan Rose begitu saja. Ia melahap bibir wanita itu dengan rakusnya. Apalagi rasa manis dari lipstik yang belum lama disapukan wanita itu ke bibirnya. Makin dan makin membuat ketagihan saja.
Meskipun pria itu menutup matanya saat mereka berciuman. Tapi Rose merasakan ciuman pria itu lebih ganas daripada biasanya, bahkan daripada tadi pagi. Bibirnya bahkan hampir terasa kebas sekarang. Walaupun terasa nikmat dan memabukkan, tapi ia tidak bisa terlena di tempat seperti ini. Hey, Tuan! Saat ini kita sedang berada di pinggir jalan! Wanita itu berteriak di dalam hatinya.
Sekuat tenaga ia mendorong dada Tuan seramnya yang sekeras batu itu. Perlu banyak usaha ternyata hingga tubuh orang itu akhirnya menambah jarak dengan dirinya. Hingga akhirnya hanya suara nafas yang naik-turun dengan cepat terdengar di anatara keduanya.
"Tuan! Kita ini sekarang masih berada di tepi jalan!", wanita itu memperingati sebisanya. Semampunya di sisa nafas yang masih tersengal.
"Lalu apa masalahnya?! Atau kau mau aku mencari tempat agar kita bisa melanjutkannya lagi dengan yang lebih intim?!", ucap Ben hanya dengan satu lirikan saja sambil kembali duduk dengan benar.
"Tidak! Tidak!", buru-buru saja wanita itu menjawab sambil bergidik ngeri. Rose benar-benar tidak tahu harus berkata apa dengan Tuan seramnya yang terlalu frontal itu. Ucapannya terlalu fulgar untuk ia dengar, meskipun saat ini mereka adalah sepasang kekasih, tapi tidak harus diucapkan dengan begitu jelas juga, kan!
"Yang tadi itu adalah peringatan karena wajahmu jelek sepanjang jalan tadi! Jika kau masih berani memasang wajah seperti itu lagi! Maka aku tidak akan segan memutar balik jalan kita dan menuju suatu tempat yang memang kau inginkan!", lalu pria itu berucap lagi sambil memasang sabuk pengamannya. Jelas saja suara itu mendominasi dan memiliki nada ancaman di dalamnya. Belum lagi Rose tahu jika Tuan seramnya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Rose menggigit kuku jarinya sambil meilhat ke arah Tuan seramnya itu dengan wajah ngeri. Siapa juga yang menginginkan hal itu terjadi?! Sebenarnya siapa yang menginginkannya di sini?! Katakan saja jika Tuan seramnya itu sedang mencari solusi untuk masalahnya sendiri, kan?! Siapa coba yang sedang mencari-cari kesempatan di sini?! Sungguh hal ini membuatnya menjadi sakit kepala tiba-tiba.
"Aku suka rasa bibirmu yang sekarang!", ucap Ben lagi seraya menjalankan mobilnya. Pria itu menyembunyikan senyum puasnya dengan mengelap sekitar bibirnya yang basah akibat ulahnya sendiri tadi.
"Ha?", Rose membuka mulutnya dengan tatapan bingung. Sungguh ia kehabisan kata-kata untuk Tuan seramnya itu. Apalagi sekarang? Kenapa mendadak wajah seramnya jadi menggemaskan begitu saat mengomentari bibirnya?! Jika tingkah orang itu seperti orang normal saja, mungkin ia sudah akan mencium pipi pria itu.
Tapi karena Tuan seramnya itu sungguh luar biasa dan di luar dugaan, maka lebih baik ia diam saja. Menyelamatkan diri sendiri lebih baik daripada harus menjadi santapan Tuan seramya yang rakus lagi. Tapi ia akan mengingat hal ini, dan menjadikan lipstik yang ia pakai sekarang sebagai favoritnya. Karena kelihatannya Tuan seramnya itu menyukai rasa yang ditinggalkan dari pewarna bibir ini.
"Tersenyumlah! Aku suka senyummu!", pria itu berbicara lagi dengan wajah seriusnya karena sedang mengemudi.
"Sudah berhenti! Jangan senyum-senyum terus! Maksudku senyum yang biasa saja!", dan ucapan terakhir pria itu langsung menggugurkan semua bunga yang saat ini sedang bermekaran di hatinya. Rose langsung merengut lagi, kesal karena sikap Tuan seramnya yang suka berubah-ubah seenaknya itu.
"Oh! Jadi kau berencana untuk dihukum lagi ya, ternyata!", suara dingin Ben membangkitkan bulu kuduknya.
"Ten,, tentu saja tidak, Tuan! Mana ada seperti itu!", Rose meringis tak berdaya sambil melambaikan kedua tangannya di depan dada. Mana mungkin ia mau dihukum lagi di saat seperti ini. Hukum saja ketika mereka sudah sampai di rumah nanti!
"Uupss!", ia pun memukul kepalanya sendiri yang sudah berani berpikir terlalu berani. Habis mau bagaimana lagi! Meskipun otaknya menolak sentuhan pria itu, tapi tubunya selalu tak berdaya dan menerima saja setiap kali Tuan seramnya itu menyentuhnya. Hihi!
"Ayo, senyum! Sepertinya aku harus terus membuatmu belajar untuk lebih disiplin lagi!", Ben melirik dengan suara acuh khasnya. Ia menunggu wanita di sebelahnya itu melengkungkan bibirnya.
"Ya,, ya! Tersenyum tinggal tersenyum! Kenapa harus pakai hukuman segala!", setelah menggerutu pelan pun sebisa mungkin Rose menaikkan sudut bibirnya secukupnya. Tapi karena senyumannya tidak ikhlas, jadilah yang terlihat hanyalah senyuman kaku saja.
"Senyum yang benar!", perintah Ben lagi merasa dipaksakan senyuman di bibir wanita itu.
"Hish! Ini,, begini! Sudah benar belum?!", wanita itu mengarahkan wajahnya ke arah Ben, agar pria itu dapat melihat dengan jelas senyum yang seperti keinginannya itu. Agar pria itu puas dan bisa menilai secara langsung. Huh! Membuat hatinya kesal saja!
cup
"Senyum tinggal senyum! Tidak usah marah-marah!", Ben mencuri kecupan dari bibir Rose setelah wanita itu selesia bicara. Telinganya lama-lama bisa sakit jika mendengar wanita itu terus mengeluarkan suaranya.
"Lihat ke depan! Senyum yang benar!", lalu ia tolehkan ke depan kepala wanita yang sekarang mematung itu. Bibirnya pun akhirnya leluasa melengkung lebar ketika berhasil membuat wanita itu bungkam.
Sedangkan dalam hati, Rose benar-benar dibuat naik-turun bahagianya. Sebentar dibuat kesal, sebentar dibuat senang, kesal lagi, senang lagi, hingga sekarang ia bingung harus bagaimana dengan ekspresi wajahnya. Bahagiakah?Atau menangiskah dengan tingkah Tuan seramya yang selalu di luar dugaan itu?! Akhirnya hanya tatapan kosong ke arah jalanan yang bisa ia tampilkan. Ia masih belum bisa berpikir banyak saat ini. Otaknya terlalu kosong!
-
-
-
**segini dulu ya teman-teman,, nanti kita lanjut lagi dengan cerita Bella๐
selamat membaca semuanya ๐**