Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Pertemuan kembali



Mentari nan cerah di ufuk timur sana mulai menyinari pagi harinya para umat di muka bumi ini. Cahaya yang menghangatkan ketika pagi menelusup ke dalam melewati sisi-sisi jendela kamar yang tak tertutup gorden, membuat sepasang mata mengerjap akibat silaunya. Tangannya bergerak lemah menutupi matanya yang masih berat untuk ia buka. Butuh beberapa saat hingga akhirnya ia bisa mengumpulkan segenap kesadarannya. Ben bangun dari tidur nyenyaknya. Saat ini ia tinggal di hotel masih di sekitar pusat kota.


Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing. Tangannya bergerak memijit sedikit dahinya untuk mengurangi pening yang mendera. Tangannya yang satu lagi terasa berat saat ia akan menggerakkannya. Kepalanya menoleh ke arah itu, dan benar saja seorang wanita yang sepertinya tanpa busana tengah tertidur sambil memeluk dirinya dan tangannya digunakan wanita itu untuk dijadikan bantalan. Ben melihat ke arah dirinya, keadaannya ternyata sama dengan wanita itu. Mereka sama-sama tanpa busana dengan hanya selimut putih yang menutupi tubuh mereka.


Ben masih memijit keningnya sambil mengingat-ingat apa yang terjadi malam tadi. Ah ya dia ingat, semalam dia sangat mabuk dan wanita penghiburnya mengantarkan Ben ke kamar hotelnya. Lalu sudah tau sendiri apa yang terjadi selanjutnya dengan melihat pakaian mereka yang berantakan dimana-mana. Tapi biasanya Ben akan langsung memerintahkan setiap wanita yang ia bayar untuk langsung pergi setelah kegiatan mereka. Mungkin semalam Ben terlalu mabuk hingga ia tak menyadarinya. Pria itu lalu menyingkirkan tubuh wanita itu dengan kasar hingga wanita itu terbangun dari lelapnya.


"Ah, Tuan!", wanita itu berusaha bertahan sambil mencengkram selimut yang ia pakai karena hampir saja terjatuh ke lantai. Ben tak pernah lembut memperlakukan siapapun bahkan seorang wanita sekalipun, karena selama ini hanya Ana yang ia perlakukan seperti seorang manusia.


"Kenapa kau belum pergi juga?!", ucap Ben pelan namun dengan auranya yang kuat membuat kalimat itu terdengar tajam dan menohok.


"Bukankah aku sudah membayarmu!", ucap Ben lagi tak kalah menyeramkannya.


"Aku terlalu lelah, Tuan! Semalam Tuan tidak memberikan diriku kesempatan untuk beristirahat sedikit pun. Aku sangat menyukai stamina Tuan yang sangat prima!", dengan tidak tau malunya wanita itu malah mendekati Ben lagi. Lalu memeluk lengan Ben dan menggesekkan bagian depan dirinya ke lengan itu dengan tatapan menggoda.


"Mungkin Tuan menginginkannya lagi di pagi hari yang cerah ini?!", tambahnya lagi membuat sebuah penawaran yang menggiurkan sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Cih!", Ben membuang muka sebelum mengucapkan kalimat tajamnya. Ia berusaha menahan kesabarannya yang tak banyak. Bukan rasa ingin memiliki lagi, tapi rasa jijik yang memenuhi tatapan dirinya kepada wanita itu. Ben tak pernah bermain dua kali dengan wanita yang sama. Ya begitulah, semua wanita hanya pemuas nafsu baginya, tidak lebih.


"Kau tau, sebelumnya tak pernah ada yang berani membantah ucapanku!", Ben menyentak dagu wanita itu dengan dua jarinya. Dengan wajah yang menghadap ke arah Ben, wanita itu masih terus saja tersenyum tanpa mengerti maksud dari apa yang Ben ucapkan padanya.


"Karena biasanya yang membantah ucapanku akan langsung kuhabisi!", Ben berbisik ditelinga wanita itu dan jemari yang tadinya berada di dagu kini telah turun ke leher dan mencekiknya.


"Dalam hitungan ketiga kau sudah harus lenyap dari hadapanku!", ucap Ben sambil merapatkan giginya. Ekspresinya, wajahnya yang berada sangat dekat dengan wajah wanita itu benar-benar membuat nyali siapapun ciut.


"Satu!", Ben mulai menghitung dengan suara keras sambil menjauhkan tubuhnya.


Wanita itu menarik nafas dalam-dalam lalu bergegas memungut setiap helai pakaiannya. Dia memakai pakaian itu secepat kilat.


"Dua!", hitungan kembali dilanjutkan oleh Ben tanpa melihat ke arah wanita itu.


Jelas wanita itu makin kalang kabut. Tanpa mempedulikan penampilannya yang masih kacau. Ia segera mengambil tasnya dan melesat ke arah pintu kamar dengan wajah pucat karena Ben kini tengah memainkan pistol kecilnya. Pikirnya hanya harus segera berlari keluar dari tempat ini secepat mungkin. Ia masih menyayangi nyawanya saat ini.


"Tiga!".


"Brrakk!", bertepatan itu pula pintu kamar itu ditutup dengan keras.


"Huh!", lelaki itu membuang nafasnya lewat mulut. Lega juga akhirnya setelah menyingkirkan satu masalah yang membuatnya bertambah pusing.


"Relly! Kau masih ingat kan kita harus menemui wanita itu!", ucap Ben dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Setelah mendapat jawaban. Ia segera menutup sambungan teleponnya. Lalu ia lempar ponsel itu ke sembarang arah. Ben masih merasai kepalanya yang terasa berat akibat aksi mabuknya semalam.


***


Seperti biasa, Ben pergi berdua tanpa seorang supir. Dan seperti biasanya pula Relly duduk di belakang kemudi. Tapi tak seperti biasanya bagi Ben, karena kali ini pria ini kelihatan banyak melamun di sepanjang perjalanan.


"Apakah Tuan baik-baik saja?", tanya Relly akhirnya tak tahan dengan kediaman tuannya itu.


"Emmhh!", Ben hanya berdehem sambil memandang keluar jendela.


"Kau perhatian sekali. Aku takut jatuh cinta padamu!", ucap Ben datar masih dengan pandangan yang terarah keluar.


"Berapa lama lagi kita sampai?", tanya Ben pada asistennya itu.


"Sekitar 30 menit lagi, Tuan. Apa Tuan memerlukan sesuatu?", tanya Relly bermaksud perhatian.


"Aku perlu kau untuk,,, diam!", Ben menekankan pada kata terakhirnya. Masih dengan tanpa menoleh, kalimatnya malah terdengar makin kejam.


jleb


Sangat menohok perintah tuannya itu. Relly langsung mengunci mulut dengan kunci tak kasat mata, lalu ia buang kunci itu keluar jendela mobilnya.


"Oke, kali ini aku harus benar-benar diam!", batin Relly.


Akhirnya hanya tangan dan juga kakinya yang bekerja, mengemudikan mobil itu, melesat agar cepat sampai di tempat tujuan. Dan Ben masih menikmati kegiatannya yang tak berubah sejak tadi. Berdiam diri, sambil menatap kosong keluar jendela mobilnya.


"Kenapa aku bisa semabuk itu semalam?!", gumam Ben dalam hatinya.


***


Seorang pelayan menyambut kedatangan Ben dan juga Relly di depan pintu villa. Kebetulan dia sedang bertugas membersihkan teras villa yang amat luas itu. Ben tak menjawab, hanya Relly yang membalasnya. Namun pelayan itu sempat terheran-heran pasalnya tak ada pemberitahuan bahwa mereka akan kedatangan tamu hari ini. Terlebih lagi, dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, pelayan itu bisa menilai bahwa Ben dan Relly bukanlah orang sembarangan.


"Silahkan duduk Tuan, saya akan ambilkan minum dulu!", pelayan itu menghela tangannya ke arah sofa mempersilahkan tamunya duduk di sana. Dan itu juga alibinya untuk mencari tau tentang identitas dan tujuan tamu itu datang ke villa ini. Ia akan bertanya pada kepala pelayan nanti, Bibi Maya. Ya, beliau adalah kepala pelayan di villa ini. Dan dialah yang telah membawa Rose untuk bekerja di sini.


***


"Ada apa?", tanya Rose yang baru saja masuk ke dalam dapur. Pelayan tadi dan juga Bibi Maya terlihat mondar-mandir tak karuan.


"Ada tamu rupanya? Sepertinya kalian sedang sibuk. Bagaimana jika aku yang mengantarkan minuman ini?", dengan senang hati Rose menawarkan dirinya untuk membawa dan menyajikan minuman yang telah selesai dibuat sejak tadi.


"Tidaaakk!", seru Bibi Maya dan pelayan itu bersamaan.


-


-


-


-


-


-


okeh, kisahnya Ben dan Rose segera dimulai,,jadi ikutin terus ya cerita ini,, dan maaf ya kalo updatenya masih sedikit-sedikit,, karena ceritanya Ana sama Ken beluk selesai di sana. Buat yang penasaran sama ceritanya Ana dan Ken bisa baca novel perdana aku yang judulnya "wanita pertama presdir" ya teman-teman 😊 karena di sana ceritanya Ben dan Rose dimulai


Jadi jangan lupa buat selalu dukung karya-karya aku ya dengan cara kasih like, vote sama komentar kalian.. okeh 😉


Love you teman-teman 😘


Keep strong and healthy ya 🥰