
Tangan Rose meremas udara di usaha terakhirnya mencoba mengejar mobil itu. Tenggorokannya terasa sakit saking ia berteriak dengan kencangnya barusan. Rose berjongkok di tengah pintu keluar stasiun pengisian bahan bakar itu sambil menahan perasaan putus asa. Ia memejamkan matanya kuat-kuat sambil berpikir jalan apa yang harus ia ambil sekarang. Dirinya tersesat, ia sama sekali tidak tahu kemana arah dan tujuan yang harus ia ambil selanjutnya. Bahkan, ia tidak tahu dimana posisinya sekarang.
tin,,, tin,,
Suara klakson mobil dari arah belakang membuatnya kaget dan berjingkat. Wajah putus asa itu menoleh ke asal suara yang memekak telinganya.
"Minggir! Apakah kau sudah bosan hidup?!", seorang pria berumur menyembulkan kepalanya keluar dari jendela. Pria tersebut meneriakinya dengan intonasi yang amat tinggi. Urat di lehernya sampai terlihat menonjol keluar.
"Maaf, maaf!", gumam Rose beberapa kali sambil menundukkan kepalanya. Ia tak dapat berpikir banyak, sehingga Rose menyingkir dari sana masih dengan posisi jongkoknya. Seperti seekor katak berjalan.
Hembusan angin berpadu dengan desiran debu, mengibaskan rambut pirangnya ketika mobil itu melewatinya dengan tidak lambat. Rose berpegangan pada kedua lututnya yang ditekuk sambil terus berpikir. Tak peduli dengan apa pun yang akan terjadi padanya saat ini. Meskipun hempasan angin beserta debu yang menyapa wajahnya membuatnya tampak kusam.
***
"Maaf, Tuan! Bolehkah aku bertanya sesuatu?", tanya Relly sambil menunggu bosnya itu menghabiskan makan siangnya.
"Emmhh!", Ben hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan itu.
"Apa?", tanya Ben sekarang dengan nada tidak sabar. Tadi dia bilang ingin bertanya, tapi sekarang malahan menggelengkan kepala. Asistennya itu sungguh mengurangi nafsu makannya saja. Tidak jelas!
Masih ada sedikit gundukan nasi yang kira-kira bisa menjadi tiga suapan besar di mulutnya. Namun, karena selera makannya sudah berkurang, maka Ben menurunkan piring itu ke pangkuannya. Jauh dari mulutnya yang sedang sibuk mengunyah.
"Bertanya sekarang atau aku tembak lagi!", perintahnya keras dengan mulut terisi penuh.
"Tidak jadi , Tuan! Sungguh!", Relly melambaikan kedua tangannya di depan dengan gerakan sangat cepat. Bosnya ini memang bukan manusia biasa! Mana ada orang biasa yang memaksa orang lain untuk bertanya kepadanya! Kadang ia berpikir,, apakah bosnya ini terlalu cerdas sehingga sering berpikir dengan cara yang tidak biasa?! Relly sungguh kehilangan kata-kata.
"Cepat bertanya!", semburnya seraya menyemburkan beberapa butir nasi ke udara. Ben melemparkan piringnya dengan tidak sabar ke atas meja.
Relly berjingkat sambil memeluk tubuhnya sendiri saat mendengar bunyi keras yang tiba-tiba itu. Sepertinya ia sudah menguji kesabaran bosnya yang sedikit itu. Pria itu menjadi was-was saat ini.
"Katakan!", geram Ben setelah menelan semua makanannya. Tangannya bergerak ke arah pinggang dimana pistolnya berdiam di sana.
"Iya,,, iya baik, Tuan!", Relly kesusahan menelan salivanya ketika melihat tujuan tangan bosnya itu. Pria itu memohon di dalam hati supaya nyawanya kembali terselamatkan kali ini.
"Anu,, apakah kita,, kita tidak terlalu,, terlalu santai dalam pencarian Nona Rose sekarang ini, Tuan?!", inginnya cepat ia semburkan semua pertanyaan itu. Namun tenggorokannya tidak memperlancar setiap kata yang keluar. Jadilah ia bertanya pelan-pelan.
"Jadi sejak tadi kau bersantai?! Hah!", Ben bertanya balik dengan suara yang menggelegar seperti mengguncangkan seisi ruangan.
"Haishh!", Relly mendesah pelan ke samping. Sebenarnya siapa yang sedang menguji kesabaran siapa di sini!
"Tentu saja kami langsung bergerak dengan cepat dan efisien, Tuan! Tapi karena sekarang saya berada di sini , jadi saya belum meninjau perkembangan pencarian Nona Rose lagi secara langsung!", dengan sabar pria itu menjelaskan.
"Lalu kau menyalahkan aku karena telah memanggilmu ke sini?!", Ben mengerang di balik tatapan tajamnya.
Relly berbalik sebentar untuk meraup wajahnya dengan kasar. Apalagi sekarang?! Menyalahkan apa?! Ya ampun, Tuan! Sebenarnya bosnya itu terlalu bodoh atau terlalu pintar! Relly ingin sekali menangis atau sekadar melarikan diri dari hadapan bosnya itu. Namun sayang, di bawah tatapan yang seperti itu, kakinya serasa dipaku tak bisa bergerak kemana pun.
Ben lalu bangkit dari sofa. Membawa langkahnya mendekat ke arah Relly tanpa melepaskan tatapan tajamnya. Relly yang menyadari jika nyawanya diambang kematian kini tengah berkeringat dingin. Keringat yang seukuran biji jagung pun memenuhi dahi dan sebagian wajahnya.
"Ayo kita pergi, sekarang!", Ben menepuk bahu lelaki itu sambil lalu.
"Baik, Tuan! Ap,,, apa?!", seru Relly yang semula memejamkan matanya dengan ngeri, kini mendadak ia berbalik untuk memastikan sesuatu pada bosnya.
"Kau bilang kita tadi terlalu santai, kan?! Makanya ayo kita jalan sekarang!", ujar Ben santai seraya menghentikan langkahnya. Ia berhenti sebentar untuk menoleh, lalu bergerak lagi dengan wajah acuhnya. Meninggalkan Relly yang masih bergeming di tempat.
"Tuan,, Tuan mengajakku pergi bersama, kan?!", tanyanya pada diri sendiri. Ia acungkan jari telunjuknya ke hadapan wajahnya
"Tuan,,, Tuan,,,!", teriaknya setelah menyadari sesuatu lalu berbalik dan berlari. Ia mengejar langkah bosnya yang sudah berjarak sangat jauh dengannya.
Bagaimana ia tidak bingung?! Sejak terakhir kali ia tidak diajak untuk pergi bersama, Relly jadi merasa tidak dibutuhkan lagi oleh bosnya itu. Sehingga ia berpikir jika kali ini bosnya akan pergi sendiri juga. Tapi siapa yang tahu jika bosnya yang seram itu akan mengajaknya sekarang?! Bos dari kelompoknya ini memanglah bukan orang biasa. Sangat sulit ditebak jalan pikirannya. Sebentar kejam seperti iblis, sebentar kemudian moodnya membaik dengan sendirinya. Sepertinya Relly harus memperbanyak stok sabarnya dalam menghadapi bosnya yang luar biasa itu.
"Ikuti titik yang bergerak ini! Aku telah mengatur ponsel yang Rose pegang agar bisa selalu terdeteksi keberadaannya!", Ben melemparkan ponsel miliknya ke arah belakang begitu saja. Ia telah menyadari jika asistennya itu sudah berada tak jauh dari dirinya.
"Bai,, baik, Tuan!", jawabnya seraya mengejar langkah bosnya dan agar supaya ia bisa menangkap benda pipih yang baru saja diterbangkan itu.
Siksa saja terus dirinya ini! Gerutu Relly dalam hati. Perlakuan bosnya ini sungguh semena-mena. Jika sampai ponsel itu tidak bisa terselamatkan, bukankah akan ditukar dengan nyawanya?! Apakah bosnya itu sungguh tidak mementingkan keberadaan dirinya?! Relly mengusap benda pipih itu dengan wajah sedih. Dan,, bicara sejak tadi jika bosnya itu sudah tahu letak keberadaan Nona Rose saat ini! Mengapa masih harus memerintahkan mereka untuk mencari?! Huh pantas saja jika sikap bosnya itu sejak tadi cenderung santai! Ternyata ia sudah memiliki caranya sendiri! Dan tak henti-hentinya pria itu menggerutu di balik punggung kokoh bosnya.
dorr
Tiba-tiba Ben berbalik. Dan dengan gerakan ayang sangat cepat, ia melubangi dinding di sebelah Relly. Selesai itu, ia melanjutkan langkahnya lagi.
"Lanjutkan saja semua keluhanmu jika sekarang kepalamu ingin ku lubangi!", ujarnya memberi peringatan sembari berjalan.
Relly menipiskan bibirnya sambil memeluk ponsel milik Ben dengan begitu erat. Matanya membulat besar sambil menahan nafas di tenggorokan. Hari ini sudah berkali-kali ia merasa nyawanya berada diujung tanduk. Lelaki itu tidak menjawab peringatan bosnya sama sekali. Ia hanya melanjutkan langkahnya kembali dalam damai. Tidak keluar satu kata pun dari mulutnya, bahkan di dalam hati.
Pria bertopi koboi itu tersenyum di depan. Senang rasanya hatinya saat ini. Moodnya sudah benar-benar membaik setelah puas menyiksa asistennya itu. Sebenarnya ia tidak marah sama sekali kepada Relly sejak tadi. Tak ada alasan baginya untuk kesal kepada asisten yang selalu setia dan patuh kepadanya itu. Ia hanya sedang memperbaiki moodnya saja yang sedang tidak baik lantaran kucing kecilnya menghilang. Tapi,, dengan adanya ponsel di tangan Rose, ia begitu percaya diri jika wanita itu pasti akan bisa ia temukan secepat mungkin.
***
Wanita berambut pirang itu sudah berjalan berkilo-kilo jauhnya dari stasiun pengisian bahan bakar tadi. Ingin menghentikan taksi, tapi kemana pula tujuan yang harus ia sampaikan kepada supir yang mengemudikannya. Alhasil Rose memilih untuk berjalan sambil berpikir, memutar otaknya supaya dapat menemukan cara.
Atau,, bisa saja ia kembali ke rumah kakaknya saja! Tapi,, Rose benar-benar tidak tahu alamat pasti kediaman kakak lelakinya itu. Jika ia menelepon kakaknya itu dan minta seseorang untuk menjemputnya, tetap saja kakaknya akan melaporkan hal ini kepada Tuan seramnya. Sudah pasti ia tidak terhindarkan dari amukan si raja iblis itu. Rose pusing memikirkan hal ini karena akan berujung kepada akhiran yang sama.
Saking ia fokus berpikir, Rose sampai tidak sadar jika ia sudah berjalan sangat jauh dari tempat pertamanya memulai. Sampai akhirnya ia merasa kakinya cukup lelah, maka Rose mencari tempat baginya untuk mendudukkan diri. Ia memijat-mijat di sekitar lutut hingga ke betisnya yang terasa pegal sambil menoleh ke sekitar untuk memperhatikan keadaan.
"Ibu,, aku lapar!", seorang pengemis kecil mengeluh pada ibunya tak jauh dari tempat Rose berada.a
"Sabar, nak! Jika ada orang yang memberi uang pasti akan langsung ibu belikan makanan untukmu!", ibunya yang berpakaian sama lusuh dan kotornya mengelus kepala anak kecil itu sambil menahan air mata.
Rose menyingkirkan tali tas yang melingkari tubuhnya. Tas selempangnya ia letakkan di pangkuannya untuk ia timang. Rose mengintip isi di saku tasnya, berapa uang tunai yang ia miliki saat ini. Ternyata masih cukup jika ia berikan beberapa lembar kepada para pengemis itu. Rose tersenyum senang.
"Permisi! Ini,, belilah sesuatu untuk anakmu!", Rose menggeser duduknya mendekat ke arah mereka. Kemudian ia menyodorkan beberapa uang kertas dengan nominal tertinggi kepada ibunya.
"Terima kasih, Nona! Tapi ini terlalu banyak! Satu lembar saja sudah cukup untuk kami!", ibu itu tersenyum sungkan seraya mengambil satu lembar saja yang berada dipegangannya. Anak lelaki di sampingnya terus memperhatikan Rose dengan tatapan berbinar. Seperti ia sedang bertemu dengan malaikat penolongnya.
"Ambil saja! Mungkin kau bisa menggunakannya untuk menyambung hidupmu dan anakmu!", Rose tak henti menjulurkan tangannya ke depan. Berusaha keras agar ibu itu mau menerimanya.
"Baiklah,, terima kasih, Nona!", ibu pengemis itu mengangguk seraya tersenyum sopan. Ia mengambil semua uang yang berada di tangan Rose. Begitu pun dengan anaknya. Anak kecil itu mengangguk dengan penuh semangat. Membuat Rose tidak tahan untuk tidak tersenyum.
kruyukk,, kruyukk,,
"Haha,,, Mungkin aku terlalu lelah berjalan, makanya sekarang aku lapar lagi! Padahal tadi aku sudah makan siang!", Rose menggaruk tengkuknya dengan sedikit canggung dan malu. Memalukan sekali perutnya bernyanyi di saat seperti ini.
"Kalau begitu aku akan membelikan sesuatu! Kebetulan kami juga belum makan sejak pagi!", ucapan ibu pengemis itu membuat Rose menghentikan senyumannya. Ia lupa selalu ada orang yang tak seberuntung dirinya. Maka dari itu ia menanggapi ucapan ibu itu dengan senyum kaku.
"Nona tunggu di sini sebentar dengan anakku!", ujar ibu itu seraya meninggalkan ia dan juga anaknya.
"Siapa namamu?", tanya Rose memulai lebih dulu lantaran merasa canggung karena terus ditatap oleh anak kecil itu.
"Robi, Nona!", Rose mengangguk puas mendengar jawaban anak kecil itu. Melihat posturnya, ia jadi teringat dengan Bervan, keponakannya tersayang di rumah. TIba-tiba ia merasa rindu dengan versi mini kakaknya itu.
"Apakah Nona tersesat? Nona tidak tahu jalan pulang ke rumah?", tanya Robi dengan wajah polosnya. Rose juga mengangguk seraya mengusap kepala anak kecil itu. Ia tidak jijik sama sekali meskipun pengemis kecil itu terlihat kotor dan kumal.
"Nona kan sudah dewasa, kenapa bisa sampai tersesat?! Seharusnya Nona sudah hafal jalan pulang ke rumah Nona sendiri, kan!", mata anak kecil itu berkedip pelan beberapa kali.
"Kau ini pintar sekali bicara! Aku baru saja tertinggal oleh mobil temanku. Dan aku belum lama berada di sini, makanya aku belum hafal arah pulang ke rumahku!", Rose tergugu sendiri ketiak merasa penting menjelaskan hal ini kepada seorang anak kecil.
"Tapi Nona harus segera pulang ke rumah! Karena biasanya akan ada orang-orang jahat yang datang untuk menangkap orang-orang seperti kami! Nona jangan sampai tertangkap, ya!", Robi menjelaskan dengan perasaan tulus yang dapat Rose rasakan ketika anak kecil itu mengingatkannya akan bahaya. Ternyata hidup di jalanan memang tidak semudah itu.
"Orang jahat! Siapa? Lalu bagaimana bisa kau dan ibumu tidak sampai tertangkap oleh mereka?", Rose juga penasaran akan hal ini. Mungkinkah yang Robi maksud adalah orang-orang dari dinas sosial yang akan mengangkut mereka untuk dibawa pergi. Tapi bukannya mereka akan dibina di sana?! Sampai saat ini Rose hanya bisa berpikir an positif saja.
"Entahlah, aku juga tidak tahu siapa mereka! Yaang jelas, ibu bilang mereka semua adalah orang jahat! Biasanya aku dan ibu sudah mulai bersembunyi ke gang-gang kecil di pemukiman warga. Tapi karena kami belum mendapatkan uang sama sekali, dan aku sangat lapar, makanya aku dan ibu turun ke jalanan lagi berharap ada orang yang akan memberi kami uang atau makanan! Beruntung sekali aku dan ibu bertemu dengan Nona yang baik hati! Aku dan ibu jadi bisa makan sekarang! Terima kasih, Nona!", anak kecil itu tiba-tiba berdiri lalu membungkukkan badannya sedikit sambil berterima kasih.
"Hey,, hey,, tahu dari mana kau hal-hal seperti ini?!", Rose merasa geli sendiri melihat sikap dewasa anak kecil yang seharusnya tidak tahu tata krama seperi itu. Bukannya Rose mengecilkan status mereka yang hanya seorang pengemis, namun tetap saja itu menjadi hal lucu bagi dirinya ketika melihat anak kecil membungkukkan badannya seperti itu.
"Aku pernah melihatnya di televisi saat sedang mengemis di dekat restoran di sana!", jawab anak kecil itu tanpa ragu sambil menunjuk ke suatu arah dengan begitu semangatnya.
"Kataya begitu cara mengucapkan terima kasih!", tambahnya lagi dan berhasil membuat Rose tertawa geli.
"Setelah ibu kembali, lebih baik Nona ikut dengan kami dulu! Takutnya orang-orang itu datang lalu menangkap Nona!", sambungnya lagi saat melihat ibunya sudah berjalan mendekat ke arah mereka dengan sebuah kantung besar berisi makanan.
"Baiklah,, baiklah! Aku akan menurut kepadamu!", wanita itu kembali mengusap kepala Robi sambil tersenyum senang.
Yang baru dibicarakan pun datang. Wajah ibu pengemis itu berubah pucat bahkan saat ia belum mencapai anaknya. Beberapa mobil hitam berhenti bersamaan dengan sebuah truk besar di belakang mereka. Sayangnya, Rose dan Robi belum menyadari hal ini karena mereka terlalu asyik mengobrol berdua.
Pria-pria bertubuh kekar keluar dan segera menciduk semua tuna wisma di jalanan itu. Tak terkecuali Rose dan Robi yang sedang duduk di pinggir jalan itu.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! ", Robi melakukan perlawanan, namun dia hanyalah seorang pria kecil sehingga tenaganya tidak cukup untuk melawan. Dan Rose juga hanyalah seorang wanita yang tidak berbekal apa-apa. Meskipun ia melawan dengan keras, pada akhirnya wanita itu tertangkap juga.
Semua tuna wisma, para pengemis dan pengamen di jalanan itu di sapu bersih oleh pria-pria bertubuh kekar yang memakai kaca mata hitam. Mereka semua diangkut ke dalam truk kemudian di tutup dengan terpal, sehingga tidak akan terlihat apa isinya dari luar.
"Robi!", teriakan nyaring ibu pengemis itu tak luput dari pendengaran pria-pria itu. Ia sengaja melakukan hal itu supaya ikut dibawa. Karena apapun yang terjadi, ia ingin selalu bersama dengan anaknya.
πΆπΆπΆπΆπΆ
Ketika semua mobil itu pergi, suara nyaring bersenandung, namun tidak ada yang mendengar hal ini. Suaranya berasal dari sebuah selokan kering di sisi jalan. Nyatanya, itu adalah tas dan ponsel Rose yang tak sengaja terjatuh dari pangkuannya ketika ia ditarik paksa oleh para pria bertubuh kekar itu. Layar ponsel itu menghadap ke atas, menyala dan menampilkan nama si pemanggil.
Pria milikku nama yang melakukan panggilan itu. Namun sepertinya suara operator yang akan menjawab panggilan orang itu.
-
Hey, semuanya,,,
sahur ini aku temenin sama cerita babang ben yang aku buat sebanyak 25oo kata lebih ya teman-teman,, tadinya mau crazy up lagi,, tapi mata dan tangan ini sudah tak mampu lagi untuk bekerja,, lain waktu aku bikin yang lebih banyak lagi ya ,, semoga lancar ya puasanya π
keep strong and healthy ya teman-teman π